seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan James.
"biar aku bantu."
Tangan James terulur ingin membantu Neta, tapi dengan cepat Neta menolak ukuran tangan James.
"aku bisa sendiri."
Ucap Neta berusaha keluar dengan langkah tertatih, James yang melihat Neta berjalan perlahan dengan sigap mengambil alih infus di tangan kanan Neta.
kedua mata Neta menatap tangan James yang kini sudah memegang infus di tangannya, helaan nafas terdengar dari Neta, kini Neta hanya bisa pasrah melihat James yang bersih keras ingin membantunya.
Neta berjalan mendahului James, sedangkan James berjalan pelan mengikuti langkah Neta.
"bisa jalan kak...?" ucap Niko melihat Neta berjalan perlahan.
"hmm..."
Neta mendudukan dirinya di atas brangkar, dia ingin merebahkan dirinya saat tiba tiba merasakan kembali pusing di kepalanya.
"dasar, sudah aku bilang jangan di paksakan kalau masih lemas."
Gerutu Niko kesal sambil berjalan mendekati Neta, Niko menggambil botol infus di tangan James dan segera meletakkan di tiang di samping tempat tidur Neta.
"apa kata dokter...?"
Tanya James sambil menarik kursi di samping brangkar Neta, tatapan mata James terarah menatap Niko yang berdiri tepat di depannya dengan jarak Neta berada di tengah tengah mereka.
"sementara diagnosa dokter hanya terdiam, tapi besuk akan di lakukan pemeriksaan secara detail lagi."
Niko memasangkan selimut untuk menutupi tubuh bagian bawah Neta, melihat perhatian dari Niko untuk Neta, James merasa sangat bersalah.
"maafkan aku nik, seharusnya aku secepatnya datang untuk menjenguk Neta."
Rasa sesal James membuat Neta semakin bersalah telah merepotkan adik dan sahabatnya.
"tidak apa apa James, kamu tidak usah merasa bersalah. Aku baik baik saja sekarang, di sini juga sudah ada Niko yang menemaniku."
kedua mata james menatap wajah pucat Neta, perasaan bersalah seketika menyelimuti hati dan pikiran James, melihat sahabatnya yang kini terbaring lemah di rumah sakit.
"kamu pulanglah, biar Niko yang menemaniku di sini. Untuk besuk aku akan hubungi mbak lia, mungkin selama beberapa hari aku tidak bisa masuk kerja."
Neta yang bekerja di perusahaan James merasa tidak enak, karena sakitnya dia tidak bisa bekerja seperti hari hari biasa.
"kamu tidak usah kawatir, kamu istirahatlah. Biar aku yang bilang sama lia, jika kamu sedang di rawat di rumah sakit."
Tangan James terulur perlahan membenarkan rambut Neta yang terlihat berantakan, decak kan dari Niko terdengar sampai menyadarkan James akan kesalahannya.
"CK.. Beruntung kak Neta kerja di perusahaan James. Andai kak Neta kerja di perusahaan lain, mungkin kak Neta sulit dapat ijin seperti ini."
Ucapan Niko terdengar sedang menyindir Neta dan James, merasa ucapannya tepat sasaran Niko tersenyum samar melihat ke arah James dan juga Neta.
"ngaco kamu, di mana pun aku bekerja pasti akan sama saja."
Neta mengangkat tubuhnya, dia berusaha duduk dan menyandarkan kepalanya di atas sandaran ranjang.
"tidurlah, hari sudah larut. Aku akan pulang, besuk aku akan datang lagi ke sini untuk menemanimu menggantikan Niko."
James menghentikan gerakkan Neta, mendengar perintah James entah kenapa Neta menjadi tunduk akan semua perkataannya.
"hmm.. thank's James, kamu sudah nyempetin ke sini buat jenguk aku."
Kedua netra cantik milik Neta menatap James dengan tatapan satunya, seakan James dapat melihat aura kesedihan di sana.
"hmm... Kalau gitu aku pergi dulu."
Seperti biasa James akan mengecup singkat kening Neta, sedangkan Niko yang melihat keintiman kedua sahabat masa kecil itu berdesis kecil.
"aku titip Neta nik, besuk sepulang kerja aku akan kesini buat gantiin kamu jaga Neta."
Tepukan di pundak kekar Niko menandakan jika James akan menepati ucapannya.
"jangan kawatir James, aku yang seharusnya ada buat jagain dia."
Tanpa menjawab ucapan yang terdengar menyindir James, perlahan James berbalik dan berjalan pelan pergi dari ruang inap Neta.
Melihat kepergian James Neta tiba tiba menepuk tangan Niko kasar.
"kamu enggak sopan, kenapa dari tadi kakak dengar ucapan kamu sedikit kasar sama James."
Suara Neta terdengar kecewa dengan semua ucapan Niko, Neta merasa jika Niko sedikit kesal dengan James tadi.
"kakak tahu, sebelum aku datang ke apartemen kak Neta. Aku hubungi James dan meminta dia untuk datang ke apartemen kak Neta, tapi apa yang aku lihat setelah datang menemui kak Neta...? Kamu sendiri kak, kamu lemah dengan kondisi sakitmu. Apa aku tidak boleh kesal dan kecewa dengan James, hah... Mungkin saja dia sibuk dengan kekasihnya dan lebih mementingkan kekasihnya dari pada menjenguk kamu kak."
Neta terdiam, sekarang dia terlihat sedang mencerna semua ucapan Niko.
"dan kamu tahu kak, aku merasa setelah James menjalin hubungan dengan Clara. Hubungan kalian semakin lama semakin jauh dan terasa sangat asing, entah karena James sibuk dengan Clara atau karena memang James sudah tidak ingin dekat dan menganggap kakak menjadi sahabatnya."
rasa kesal Niko masih dia rasakan, dia ingin menumpahkan isi kepalanya di depan Neta. Niko berharap Neta menyadari akan sikap James selama ini.
"sudahlah nik, aku mau istirahat. lebih baik kamu lanjutin tidur kamu, hari sudah semakin larut."
Neta menarik selimutnya menutupi semua tubuh lemahnya, dia hanya menyisakan tangan yang tertancap jarum infus serta kepala yang dia sandarkan di bantal berwarna putih di bawah kepalanya.
Melihat Neta yang menutup kedua matanya, Niko menghela nafasnya. Dia memilih menuruti ucapan Neta untuk segera beristirahat, malam ini Niko akan menemani Neta di rumah sakit.
Sedangkan James yang baru saja keluar dari rumah sakit tidak memilih pulang ke apartemennya, dia malam ini akan menginap di apartemen Neta.
Setelah memarkirkan mobilnya, James menggambil baju dan celana miliknya yang sudah ada di dalam jok belakang.
James tipe cowok yang perfeksionis, dia akan menyiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri sebelum orang lain yang akan menyiapkan untuk dirinya.
James berjalan sedikit cepat, suasana apartemen yang terlihat sepi membuat James mempercepat langkah kakinya.
Pintu apartemen Neta yang tertutup menjadi tanda jika sesudah kepergian james tidak ada satupun yang masuk ke apartemen Neta selain dirinya.
Bau parfum ruangan menusuk indra penciuman James, wangi yang menyegarkan segera merilekskan pikiran kalut James.
James berjalan menuju ke kamar Neta, malam ini dia akan beristirahat di kamar milik Neta tanpa harus ijin ke yang punya.
sudah menjadi kebiasaan Neta dan James, mereka akan selalu berbagi tempat atau apapun. bisa di bilang sahabat rasa keluarga, itulah James dan Neta.
sebelum tidur James membersihkan tubuhnya, dia mengganti pakaiannya dengan piyama yang sudah dia siapkan.
tubuh lelah James dia baringkan di ranjangnya king size milik Neta, bau parfum khas milik Neta dapat James cium dengan sangat jelas.
"hmm... Neta, kita malam ini tidur bersama ya...? Walau cuma bau parfummu yang menemaniku di sini."
Senyum James terulas samar, perlahan kedua mata James tertutup sempurna, kini dia berada di alam mimpi bersama parfum Neta yang menemaninya.