Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Hutan Kabut Hijau
Gerbang batu raksasa terbuka sepenuhnya.
Kabut tipis perlahan mengalir keluar dari dalam hutan, menyelimuti jalan setapak yang dipenuhi pepohonan tinggi.
Hembusan angin membawa aroma tanah basah bercampur dedaunan liar.
Suasananya begitu tenang.
Namun ketenangan itulah yang membuat banyak peserta merasa tidak nyaman.
Xu Canghai berdiri di depan gerbang sambil memandang seluruh peserta.
Ekspresinya serius.
"Mulai dari kalian memasuki Hutan Kabut Hijau, ujian tahap kedua resmi dimulai."
Suaranya bergema memenuhi seluruh alun-alun.
Tidak seorang pun berbicara.
Semua peserta mendengarkan dengan saksama.
"Di dalam hutan terdapat lima puluh bendera giok."
Seorang murid sekte membuka sebuah peti kayu.
Di dalamnya tersusun puluhan bendera kecil berwarna hijau.
Xu Canghai melanjutkan.
"Setiap kelompok hanya perlu membawa kembali satu bendera."
Beberapa peserta tampak lega.
Namun Xu Canghai mengangkat telunjuknya.
"Tetapi..."
Satu kata itu kembali membuat suasana menegang.
"Tidak semua bendera berada di tempat yang mudah dijangkau."
"Ada yang tergantung di tebing."
"Ada yang tersembunyi di dalam gua."
"Ada pula yang dijaga oleh Binatang Iblis tingkat rendah yang sengaja kami biarkan tetap hidup."
Bisikan langsung terdengar dari berbagai arah.
Xu Canghai tidak menghentikannya.
Ia justru membiarkan para peserta mencerna informasi tersebut.
Beberapa saat kemudian ia kembali berbicara.
"Kalian bebas memilih cara mendapatkan bendera."
"Kalian boleh bertarung."
"Kalian boleh menghindar."
"Kalian boleh bekerja sama dengan kelompok lain."
"Atau..."
Tatapannya menyapu seluruh peserta.
"...kalian juga boleh saling merebut."
Kalimat terakhir itu membuat seluruh lapangan kembali sunyi.
Bahkan Han Lei yang selama ini terlihat tenang ikut mengerutkan kening.
Sementara Zhao Mingze mengepalkan tangannya perlahan.
Xu Canghai mengamati reaksi mereka satu per satu.
Kemudian ia berkata dengan nada datar.
"Di dunia kultivasi, kepercayaan adalah sesuatu yang mahal."
"Hari ini kami ingin melihat bagaimana kalian mengambil keputusan ketika dihadapkan pada kepentingan sendiri dan kepentingan kelompok."
Kelompok tiga belas segera berkumpul.
Han Lei menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan.
Ia mengeluarkan sebuah ranting kecil lalu menggambar di atas tanah.
"Sebelum masuk, kita harus menyamakan cara berpikir."
Ia menggambar sebuah lingkaran sederhana.
"Tujuan kita bukan menjadi kelompok tercepat."
Kemudian ia memberi tanda silang pada salah satu sisi lingkaran.
"Tujuan kita adalah kembali berlima."
Sun Qiao mengangguk pelan.
Luo Xin tetap memperhatikan gambar di tanah.
Sementara Zhao Mingze melipat kedua tangannya.
"Kalau ada kelompok lain mencoba merebut bendera kita?"
Han Lei menjawab tanpa ragu.
"Kalau bisa dihindari, kita menghindar."
"Kalau tidak bisa..."
Tatapannya berubah tajam.
".. kita bertarung."
Semua mengangguk.
Hanya Bai Hu yang masih diam.
Han Lei menoleh kepadanya.
"Bai Hu, apa kau memikirkan sesuatu?"
Bai Hu tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih mengarah ke dalam hutan.
Kabut yang bergerak perlahan membuat jalan setapak di depan mereka hanya terlihat beberapa puluh meter.
Setelah beberapa saat ia berjongkok.
Tangannya mengambil segenggam tanah.
Ia menggosoknya perlahan di antara jari-jarinya.
Kemudian mengangkat beberapa lembar daun yang jatuh di dekat kakinya.
Han Lei tampak heran.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Seseorang pernah berkata bahwa sebelum memasuki tempat asing, lihat tanah sekitar, dan tumbuhan di sekitar "
Ia melanjutkan dengan suara tenang.
"Tempat yang terlihat aman belum tentu benar-benar aman. Tanah yang terlalu lembap bisa berarti ada aliran air di bawahnya. Daun yang rusak bisa menjadi tanda adanya Binatang Iblis yang sering lewat. Bau tertentu bahkan bisa menunjukkan keberadaan tanaman beracun."
Sun Qiao dan Han Lei memperhatikan Bai Hu beberapa saat.
Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
"Sepertinya kelompok kita benar-benar mendapatkan orang yang menarik."
Bai Hu tertawa kecil.
"Aku hanya tidak ingin mati karena ceroboh."
Ucapan itu membuat semua anggota kelompok ikut tersenyum.
Anak berbadan gemuk itu tidak sedang bercanda.
Ia benar-benar serius.
Justru karena selalu mengamati hal-hal kecil itulah Bai Hu mampu melihat sesuatu yang luput dari perhatian orang lain.
Di kejauhan...
Xu Canghai memperhatikan kelompok tiga belas dari atas panggung.
Sudut bibirnya kembali terangkat.
"Anak itu cukup menarik"
Ia mengangguk pelan.
"Menarik... mari kita lihat seberapa jauh kau bisa melangkah, Feng Bai Hu."
Xu Canghai mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Tatapannya menyapu seluruh kelompok yang telah bersiap di depan gerbang hutan.
Dengan suara yang dipenuhi Qi, ia berkata dengan tegas,
"Ingat baik-baik. Di dalam Hutan Kabut Hijau, kalian tidak akan menemukan seorang tetua pun yang datang menyelamatkan ketika menghadapi bahaya. Kalian hanya memiliki tiga hal untuk diandalkan."
Ia mengangkat satu jari.
"Kemampuan."
Jari kedua terangkat.
"Rekan."
Kemudian jari ketiga.
"Dan keputusan yang kalian ambil."
Tatapannya berubah semakin tajam.
"Kesalahan kecil sering kali lebih mematikan daripada Binatang Iblis yang kuat. Jangan meremehkan apa pun yang kalian lihat di dalam hutan."
Begitu kalimat terakhir selesai...
Xu Canghai mengibaskan lengan bajunya.
"Ujian dimulai!"
Seketika puluhan kelompok berlari memasuki Hutan Kabut Hijau.
Suara langkah kaki memenuhi jalan setapak.
Ada yang berlari secepat mungkin karena ingin menjadi kelompok pertama menemukan bendera.
Ada pula yang bergerak perlahan sambil terus mengamati sekitar.
Han Lei tidak langsung bergerak.
Ia justru memandang keempat rekannya.
"Kita tidak perlu terburu-buru."
Zhao Mingze langsung mengerutkan kening.
"Kalau terlalu lambat, kelompok lain akan lebih dulu mengambil semua bendera."
Han Lei menggeleng pelan.
Ia menunjuk beberapa kelompok yang berlari paling depan.
"Lihat mereka."
Semua mengikuti arah jarinya.
Tidak sampai seratus langkah dari gerbang...
Tiga kelompok yang berlari paling cepat tiba-tiba berhenti.
Salah seorang peserta berteriak.
"Hati-hati!"
Detik berikutnya...
Brak!
Tanah di depan mereka amblas.
Lubang sedalam belasan meter muncul begitu saja.
Beberapa peserta yang terlambat berhenti langsung tergelincir.
Untungnya rekan-rekan mereka berhasil menarik tangan mereka tepat waktu.
Suasana langsung berubah kacau.
Melihat kejadian itu, Han Lei mengembuskan napas panjang.
"Karena itulah aku tidak ingin terburu-buru."
Sun Qiao menelan ludah.
"Kalau kita ikut berlari tadi..."
Han Lei mengangguk.
"Mungkin sekarang kita sudah berada di dasar lubang itu."
Bai Hu sama sekali tidak tampak terkejut.
Sejak tadi ia justru memperhatikan lubang tersebut.
Ia mengambil sepotong ranting kering, lalu berjalan beberapa langkah mendekatinya.
Han Lei langsung memanggilnya.
"Bai Hu, jangan terlalu dekat!"
Bai Hu mengangkat tangan memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia melempar ranting itu ke dasar lubang.
Beberapa saat kemudian terdengar suara patahan kayu.
Lalu...
Keheningan.
Bai Hu berjongkok di tepi lubang.
Tatapannya mengamati tanah di sekelilingnya.
Kemudian ia mengambil segenggam tanah dan menggosoknya perlahan.
Luo Xin yang memperhatikannya sejak tadi akhirnya bertanya,
"Apa yang kau lihat?"
Bai Hu menunjuk bekas tanah yang retak.
"Lubang ini bukan jebakan buatan."
Han Lei ikut mendekat.
"Maksudmu?"
"Kalau jebakan buatan manusia, pinggirannya akan rapi. Tanah di sini rapuh karena bagian bawahnya kosong sejak lama."
Ia menunjuk akar pohon yang menggantung.
"Lihat akar ini. Sudah lama tidak menempel pada tanah. Berarti rongga di bawahnya terbentuk jauh sebelum ujian dimulai."
Sun Qiao membelalakkan mata.
"Aku sama sekali tidak memperhatikan itu."
Bai Hu tersenyum.
"Karena kita terlalu fokus ke depan , dan tidak memperhatikan sekeliling kita."
Han Lei mengangguk.
Semakin lama ia bersama Bai Hu...
Semakin ia sadar bahwa pengetahuan anak itu jauh lebih luas daripada yang terlihat.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Kabut semakin tebal.
Sinar matahari mulai sulit menembus sela-sela pepohonan.
Suasana hutan berubah semakin sunyi.
Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar pelan.
Tidak lama kemudian...
Bai Hu kembali berhenti.
Kali ini ia menatap sebuah semak di sisi jalan.
Tatapannya menyipit.
Kemudian ia berjalan mendekat.
Zhao Mingze mulai kehilangan kesabaran.
Dengan nada sedikit kesal ia berkata,
"Bai Hu, sejak masuk hutan kau terus berhenti. Kalau begini terus, kita akan tertinggal."
Bai Hu tidak membalas.
Ia justru memisahkan beberapa daun semak dengan hati-hati.
Di balik semak itu...
Tumbuh tiga batang tanaman berwarna hijau tua dengan bunga kecil berwarna emas.
Mata Sun Qiao langsung membesar.
"Itu..."
Bai Hu tersenyum.
"Rumput Inti Embun."
Sun Qiao langsung mengangguk berulang kali.
"Benar! Ayahku pernah menunjukkan tanaman ini. Tanaman ini bisa digunakan untuk membuat Pil Pemulih Qi Tingkat Rendah."
Han Lei menatap Bai Hu dengan kagum.
"Kau menemukannya hanya dengan sekali melihat?"
Bai Hu menggeleng.
Ia menunjuk beberapa jejak di tanah.
"Bukan karena melihat tanamannya."
Kemudian ia menunjuk batang pohon di atas mereka.
"Aku melihat embun di daun pohon itu tidak menguap, padahal matahari sudah cukup tinggi. Berarti di bawahnya pasti ada tanaman yang menyerap Qi air."
Semua terdiam.
Bahkan Zhao Mingze yang sejak tadi bersikap dingin mulai memperhatikan Bai Hu dengan tatapan berbeda.
Anak itu...Ia benar-benar menggunakan ilmu yang dipelajarinya.
Bai Hu memetik tanaman itu dengan sangat hati-hati.
Tidak satu pun akar yang rusak.
Ia kemudian menyerahkannya kepada Sun Qiao.
Sun Qiao tertegun.
"Untukku?"
Bai Hu mengangguk.
"Kau lebih memahami tanaman obat dibanding kami. Simpan saja. Mungkin nanti berguna."
Sun Qiao menerima tanaman itu dengan kedua tangan.
Wajahnya dipenuhi rasa haru.
"Terima kasih..."
Han Lei tersenyum puas.
Baru beberapa ratus meter memasuki hutan...
Kelompok mereka sudah mulai saling melengkapi.
Namun...
Tidak seorang pun di antara mereka menyadari...
Dari balik pepohonan yang tertutup kabut...
Sepasang mata hijau sedang mengawasi setiap gerakan mereka.
Dan pemilik mata itu...
Bukan manusia.
------
Kabut di dalam hutan semakin tebal.
Cahaya matahari yang tadi masih mampu menembus sela-sela dedaunan kini hanya menyisakan semburat putih redup di atas kepala mereka.
Suasana berubah jauh lebih sunyi.
Tidak terdengar lagi suara kelompok lain.
Seolah-olah Mereka benar-benar sendirian.
Han Lei mengangkat tangan memberi isyarat agar semua berhenti.
Ia menatap sekeliling dengan waspada.
Kemudian berbicara dengan suara pelan.
"Mulai sekarang kita kurangi berbicara terlalu keras. Kabut seperti ini bisa menjadi tempat bagi Binatang Iblis untuk menyergap mangsanya."
Luo Xin menganggukkan kepala.
Pedangnya perlahan keluar beberapa senti dari sarung.
Sementara Zhao Mingze mulai memperhatikan setiap sudut hutan.
Hanya Bai Hu yang masih berjongkok di dekat sebuah pohon.
Tangannya menyentuh batang pohon yang penuh bekas goresan.
Ia mengusap bekas itu menggunakan ujung jarinya.
Ekspresinya perlahan berubah serius.
Han Lei menyadarinya.
Ia berjalan mendekat.
"Ada sesuatu?"
Bai Hu menunjuk bekas cakar yang memanjang hampir satu meter.
"Lihat bekas ini."
Semua segera mendekat.
Sun Qiao mengerutkan kening.
"Bukankah ini hanya bekas cakar Binatang Iblis?"
Bai Hu menggeleng perlahan.
"Bukan itu."
Ia mengambil ranting kecil, lalu menunjuk bagian bawah bekas cakar.
"Kalau bekasnya masih tajam seperti ini, berarti ini belum lama."
Kemudian ia menunjuk lumut yang terkelupas.
"Lumutnya juga belum tumbuh kembali."
Han Lei mulai memahami maksudnya.
"Berarti Binatang Iblis itu baru saja lewat?"
Bai Hu mengangguk.
"Kemungkinan besar kurang dari setengah hari."
Suasana langsung berubah tegang.
Zhao Mingze menggenggam gagang pedangnya lebih erat.
"Bukankah para tetua mengatakan wilayah luar sudah dibersihkan?"
Bai Hu tersenyum tipis.
"Dibersihkan bukan berarti tidak ada seekor pun yang tersisa."
"Lagipula..."
Ia menatap jauh ke dalam kabut.
"...Binatang Iblis juga bisa berpindah tempat."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Kali ini langkah mereka jauh lebih hati-hati.
Tidak ada lagi yang berbicara.
Beberapa puluh napas kemudian...
Bai Hu kembali mengangkat tangannya.
"Berhenti."
Semua langsung menghentikan langkah.
Han Lei bertanya pelan.
"Apa lagi?"
Bai Hu mengangkat telunjuknya ke depan bibir.
Memberi isyarat agar semua diam.
Beberapa detik berlalu.
Awalnya mereka tidak mendengar apa pun.
Namun perlahan...
Terdengar suara ranting patah.
Krek...
Krek...
Suaranya pelan.
Tetapi jelas berasal dari arah depan.
Han Lei memberi isyarat.
Luo Xin bergerak ke sisi kiri.
Zhao Mingze mengambil posisi di kanan.
Sun Qiao mundur ke belakang mereka.
Formasi kecil terbentuk tanpa perlu banyak bicara.
Bai Hu memperhatikan semuanya.
Di dalam hati ia mengangguk pelan.
"Mereka belajar cukup cepat."
Suara itu semakin dekat.
Daun-daun semak mulai bergoyang.
Semua orang menahan napas.
Zhao Mingze perlahan menghunus pedangnya.
Han Lei menurunkan pusat gravitasinya.
Luo Xin sudah siap menyerang kapan saja.
Tiba-tiba...
Seekor kelinci putih melompat keluar dari balik semak.
Semua langsung terpaku.
Kelinci itu memandang mereka beberapa saat.
Kemudian melompat santai menuju arah lain.
Suasana mendadak menjadi canggung.
Sun Qiao mengembuskan napas panjang.
"Aku benar-benar mengira kita akan diserang."
Han Lei tertawa kecil sambil memasukkan kembali goloknya.
"Setidaknya kita tahu refleks kita tidak buruk."
Namun...Bai Hu justru tidak tertawa.
Tatapannya masih mengikuti arah kelinci itu pergi.
Zhao Mingze memperhatikannya.
"Ada apa?"
Bai Hu menjawab pelan.
"Kelinci itu."
"Apa?"
"Kau merasa aneh tidak?" imbuh Bai Hu
Semua kembali menoleh.
Namun kelinci itu sudah menghilang di balik kabut.
Han Lei mengernyit.
"Maksudmu?"
Bai Hu mengusap dagunya.
"Kelinci biasa memiliki pendengaran yang sangat tajam. Saat melihat lima orang bersenjata, seharusnya ia langsung lari sekencang mungkin."
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya semakin serius.
"Tapi tadi....ia justru berhenti, melihat kita beberapa detik, baru kemudian pergi."
Sun Qiao mulai merinding.
"Apa itu berarti..."
Bai Hu mengangguk pelan.
"Ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada kita."
Kalimat itu membuat wajah semua orang berubah.
Belum sempat mereka berbicara...
Tiba-tiba terdengar suara geraman rendah dari balik pepohonan.
Grrrrrr...
Suara itu berat.
berasal dari beberapa arah sekaligus.
Han Lei langsung berteriak pelan.
"Semua merapat!"
Kelima orang itu segera membentuk lingkaran kecil.
Mata mereka bergerak ke segala arah.
Kabut yang sejak tadi tampak tenang...
Kini perlahan bergoyang.
Satu bayangan muncul di sebelah kiri.
Disusul bayangan kedua di belakang.
Kemudian bayangan ketiga di sisi kanan.
Sepasang mata hijau perlahan menyala dari balik kabut.
Lalu sepasang lagi.
Dan sepasang lagi.
Zhao Mingze menelan ludah.
Dengan suara pelan ia berkata,
".ituuu..Serigala Kabut."
Han Lei menggenggam goloknya semakin erat.
Namun Bai Hu menggeleng perlahan.
Tatapannya tertuju jauh ke belakang kawanan itu.
Dengan suara yang tetap tenang ia berkata,
"Bukan itu yang harus kita khawatirkan."
Semua menoleh.
Di balik kabut yang semakin tebal...
Muncul sosok yang jauh lebih besar.
Tingginya hampir menyamai seekor kuda.
Bulu abu-abunya dipenuhi bekas luka.
Di dahinya terdapat satu tanduk hitam pendek.
Sepasang matanya memancarkan cahaya hijau gelap.
Begitu melihat kemunculannya...
Kawanan Serigala Kabut langsung menundukkan kepala dan memberi jalan.
Han Lei merasakan tenggorokannya mengering.
Ia mengenali Binatang Iblis itu.
Dengan suara pelan ia berkata,
"...Pemimpin kawanan Serigala Kabut Tingkat Dua."
Suasana berubah menjadi sangat mencekam.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
mereka semua sadar...Pertarungan pertama mereka di Hutan Kabut Hijau adalah dengan Kawanan Serigala Kabut ini...
Baru saja dimulai
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut