Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jiang Yuan vs Tang Wu
Di tengah hutan yang sunyi, hanya suara angin malam yang berdesir di antara pepohonan. Namun ketenangan itu sirna oleh ketegangan yang memenuhi udara di antara keempat orang yang saling berhadapan.
Tang Wu berdiri dengan sikap sombong di hadapan Jiang Yuan. Kedua tangannya terlipat di dada, matanya yang tajam menatap pemuda di depannya dengan penuh penghinaan. Di sampingnya, Tang San dan Tang Ling bersiap dengan Dou Qi yang mulai berkobar di sekujur tubuh mereka.
"Bocah," ucap Tang Wu, suaranya dingin dan meremehkan. "Kau benar-benar cari mati. Hanya karena berhasil mengejutkan kami dengan ledakan tadi, kau pikir kau bisa melawan kami bertiga?"
Jiang Yuan hanya membentuk segaris senyuman tipis di sudut bibirnya. Senyuman yang tidak mencapai matanya, hanya sebuah ekspresi dingin yang penuh perhitungan.
"Hanya dengan kalian?" Satu tangannya terangkat pelan, jari-jarinya terbuka seolah menantang. "Juga ingin mengalahkanku?"
Tang San menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan retakan kecil di permukaan tanah. Wajahnya yang kekar memerah karena amarah.
"Bajingan! Jangan sombong, bocah! Kau hanya seorang kultivator Ranah Dou Shi yang baru saja mencapai tingkat itu! Aku sudah bertahun-tahun berada di Ranah Da Dou Shi!"
Tang Ling juga sudah bersiap, tubuhnya merendah sedikit dengan kedua tangannya terbentuk menjadi cakar. Matanya yang tajam menatap Jiang Yuan seperti elang mengintai mangsa.
"Hanya Ranah Dou Shi juga berani menantang kami bertiga?" ucapnya dengan nada mencibir. "Kau sudah bosan hidup, kah?"
Jiang Yuan tidak menjawab. Ia sempat menoleh ke belakang sejenak, memastikan bahwa Ruan Mei dan Feng Yun sudah pergi jauh. Hanya kegelapan hutan yang ia lihat di belakangnya, tanpa jejak kedua wanita itu.
'Tidak ada orang di tempat ini,' pikirnya dalam hati. 'Tidak ada yang akan melihat.'
Ia kembali menghadap ketiga musuhnya. Kali ini, senyuman di bibirnya melebar sedikit.
"Tidak ada orang di tempat ini..." ulangnya dengan suara rendah. "...tidak ada yang akan menyelamatkan kalian."
Alis Tang Ling terangkat tinggi. Ia menatap Jiang Yuan seolah pemuda itu baru saja mengucapkan kata-kata gila.
"Maksudmu kau mau mengalahkan kami?" tanyanya dengan nada tidak percaya. "Mimpi! Kau bahkan tidak mencapai setengah dari kekuatanku!"
"Jangan banyak omong!" perintah Tang Wu, suaranya tegas dan penuh amarah. "Bunuh bocah itu sekarang juga!"
Perintah itu seperti pemicu. Tang Ling dan Tang San langsung melesat maju dengan kecepatan penuh. Dou Qi mereka berkobar terang di malam hari, meninggalkan jejak energi berkilau di belakang mereka.
"Jangan salahkan aku, bocah!" seru Tang San, tinjunya yang dilapisi api merah menyala siap menghantam.
"Matilah!" teriak Tang Ling, cakarnya yang berkilauan emas mengarah tepat ke leher Jiang Yuan.
Namun, tepat saat serangan mereka hampir menyentuh tubuh Jiang Yuan, Dou Qi dari tubuh pemuda itu tiba-tiba menguat. Gelombang energi dingin yang luar biasa menyembur keluar dari pori-pori kulitnya, menyapu sekitar seperti badai musim dingin yang tiba-tiba datang.
Hawa dingin es langsung menyapu seluruh area. Suhu udara turun drastis dalam sekejap. Embun beku mulai terbentuk di permukaan dedaunan dan ranting-ranting pohon.
Tang Wu yang merasakan perubahan itu langsung mundur dengan cepat. Matanya membelalak tidak percaya saat ia melihat kedua tangan anak buahnya yang masih terangkat mulai dilapisi oleh lapisan es yang tebal.
Ia menghentakkan Dou Qi-nya untuk menahan serangan dingin itu, namun ujung jarinya sempat sedikit membeku sebelum akhirnya pecah.
Ledakan!
Ledakan Dou Qi dingin terjadi. Gelombang es menyapu seluruh hutan di sekitar mereka. Pepohonan besar membeku seketika, batang-batangnya berkilauan seperti kristal raksasa di bawah cahaya rembulan. Tanah di bawah kaki mereka juga membeku, berubah menjadi hamparan es yang licin dan berkilau.
Tang Ling dan Tang San, yang berada tepat di pusat ledakan, tidak sempat melarikan diri.
Dalam sekejap mata, tubuh mereka tertutup oleh lapisan es tebal yang mengeras dengan cepat. Ekspresi terkejut masih terpampang jelas di wajah mereka saat es membekukan mereka dalam posisi menyerang.
Tang Wu yang melihat itu merasa tidak percaya. Matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka karena terkejut. Ia menatap Jiang Yuan dengan ekspresi yang bercampur antara kemarahan dan ketakutan yang tak terbantahkan.