Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"I-ini..." Lin Daye tidak menyangka, kemarin sudah mendapatkan daging dari kakak nya dan sekarang juga mendapatkan daging.
Bahkan dengan Kakak nya yang sebelumnya pendiam pun dia hanya bisa mendapatkan daging beberapa minggu sekali. Kakak nya yang sekarang benar-benar hebat dan dermawan.
"Cepatlah pergi" Lin Chen melambaikan tangannya dengan malas menyuruh nya cepat-cepat enyah.
"Baik, baik... Kakak, terimakasih banyak!" Lin Daye tersenyum senang, lalu langsung berlari pergi. Istrinya pasti akan senang!
Chi Yao menatap kepergian Lin Daye, lalu menatap suaminya. Saat pandangan keduanya tanpa sengaja bertemu, ia buru-buru menghadap bumi.
Lin Chen menatap nya lekat dan mendekat kan wajahnya. "Apakah... Tanah itu begitu enak di pandang di banding aku?"
Chi Yao. "!?"
Lin Chen tersenyum. "Hah, habisnya kamu lebih sering menatap tanah daripada suamimu. Kita ini sudah menjadi suami istri loh~"
Gluk~
Chi Yao juga tidak tahu kenapa, namun setiap menatap suaminya. Sesuatu yang tidak bisa di kendalikan sering terjadi pada tubuhnya, jantung berdebar, pipi memerah, tubuh memanas dan pikiran kotor yang sempat di dengar kini terus berputar seperti kaset iblis di kepalanya.
Lin Chen tersenyum lalu berhenti menatap Chi Yao. "Sudahlah, apa boleh buat jika tanah lebih enak di pandang daripada suamimu."
Chi Yao mendongak dengan sedikit perasaan bersalah, "bukan begitu--"
Namun siapa sangka pandangan mereka ternyata langsung bertemu, dan yang membuat nya lebih terkejut adalah tubuh nya di peluk suaminya.
Chi Yao terbengong.
"Bagaimana? Suamimu tampan bukan?" Lin Chen mengedipkan matanya bertingkah genit dan nakal.
[ Tuan, tingkah genit mu ini kelihatan tidak cocok dengan tubuh besar mu. Terlihat menggelikan ]
'Enyah!!'
Kemudian, Lin Chen mengangkat tubuh Chi Yao dan menggendong nya ala bridal style. Seketika gadis itu terkejut, dan langsung tersadar. "S-suami..."
"Rumah kita masih cukup jauh, matahari semakin tenggelam dan udara semakin dingin. Gendong saja oke!"
"Tapi--"
"Dengar, ada dua manfaat dari suamimu menggendong mu. Pertama, kita akan sampai di rumah sebelum malam. Kedua, kita akan merasa hangat."
Lin Chen berbisik. "Aku kedinginan, butuh kehangatan. Tubuh mu sangat hangat, nyaman sekali~"
Dengan wajah memerah malu, akhirnya Chi Yao tidak menolak lagi. "Peluk erat aku"
"??"
Lin Chen dengan senyum tipis langsung berlari membuat Chi Yao terkejut dan refleks memeluk erat tubuh Lin Chen.
Sampai di rumah, Chi Yao segera minta di turunkan.
"Baiklah sudah sampai"
Chi Yao menghela napas lega, "terimakasih suami"
Lin Chen hanya tersenyum.
Chi Yao terdiam, suaminya masih diam berdiri, tidak terlihat akan masuk. "Masuk?" Tanya Chi Yao bingung.
Lin Chen tersenyum, dan mengangguk. Tangannya mempersilahkan Chi Yao jalan lebih dulu.
Chi Yao merasa agak bingung dengan sikap suaminya, apakah dia menyinggung nya? Namun akhirnya dia mengangguk dan berjalan di depan suaminya.
Baru dua langkah berjalan...
Plak!
"Sama-sama!" Lin Chen tersenyum lalu berlari ke dalam rumah.
Wajah Chi Yao memerah dengan perasaan campur aduk yang sulit di jelaskan, s-suami nya ini... Apakah dia dosa mengatakan nya mesum!
Bokong nya... Bekas tamparan dan remasan itu masih terasa di pikiran nya. Namun tiba-tiba dia ingat salah satu petuah bibi Zhao, yang berbunyi: "Jika suamimu menampar bokong mu, maka itu artinya dia menginginkan mu. Percayalah, itu adalah pengalaman ku"
Kasus wajah memerah itu kini bertambah dengan kasus jantung berdebar dan tubuh memanas.
Setelah selsai makan malam, Bai Xue dengan santai langsung masuk ke kamarnya. Lin Chen menggeleng kan kepalanya, hidup perempuan ini benar-benar nyaman sekali. Makan paling banyak, tidur paling rajin, kerja paling sulit. Namun anehnya dia merasa tidak bisa memarahi, entah kenapa, auranya ini tidak bisa di abaikan.
Meskipun dia termasuk tipe dominan, namun dominasi nya tidak sekuat Bai Xue. Entah Bai Xue ini seorang pejuang atau seorang pendekar, tekanan nya benar-benar terasa nyata. Namun bukan berarti dia takut.
"Chi Yao, biar kami yang membersihkan piring. Kamu sudah menemani suami siang sampai sore ini, pasti sangat lelah." Ucap An Roro.
Chi Yao menggeleng, "tidak perlu. Aku ingin sekalian membersihkan diri dan mencoba bak mandi baru" senyum Chi Yao.
"Wah, kalau begitu kamu harus mencobanya. Rasanya benar-benar nyaman dan luas! Aku saja sampai bisa berenang dengan bebas!"
Lin Chen membiarkan suasana hangat percakapan itu tercipta di antara ketiga istrinya, dia dengan pelan dan tanpa di sadari berjalan pergi--- memasuki kamar Bai Xue.
"Mau apa kesini? Bukankah sekarang jadwalnya Chi Yao?" Bai Xue melirik Lin Chen dengan malas, dia tetap nyaman di memeluk selimut bulu angsa nya.
Sudut bibir Lin Chen terangkat ke atas, ia berjalan dan duduk di samping Bai Xue yang berbaring. "Aku pikir istriku ini ingin menghindari tanggungjawab dan hanya ingin menjadi leluhur di rumah ku"
Lin Chen mengusap rambut Bai Xue, perempuan itu membiarkan nya. Bai Xue menatap Lin Chen dengan senyum tipis yang terangkat, dalam sekali gerakan Lin Chen langsung di tarik nya hingga wajah mereka hampir menempel.
"Suami tidak sabar ya? Tapi bagaimana lagi, meskipun kamu merusak aturan nya dan meniduri Zhilan terlebih dahulu dan bukan Chi Yao, tapi aku ini mengikuti aturan~ "
"Suami tenang saja, milikmu yang mereka sebut besar itu akan aku puaskan~" Tangan Bai Xue mengelus wajah Lin Chen sampai pada bibirnya.
"Tapi suami juga jangan sampai buat aku kecewa..." Bai Xue menatap nya, hingga tatapan nya turun ke bawah sana sambil memberikan senyum seolah mengejek.
Tatapan itu terasa seperti melecehkan Lin Chen, bibir yang seolah mengejek itu seolah meremehkan adik bontot nya.
Lin Chen terdiam tak percaya, ini wanita zaman kuno? Astaga~ Ternyata cegil juga ada di zaman kunoa ini. Wajah Lin Chen memerah, namun memerah bukan karena malu... Tapi karena tubuhnya memanas dan napasnya memburu.
Bai Xue mengernyitkan keningnya, sedetik kemudian matanya melebar saat wajah di hadapannya tak sungkan-sungkan melahap bibir nya.
Kedua tangan nya mulai di cengkram erat dan Bai Xue kesulitan menggunakan kakinya untuk menendang nya.
Bai Xue. "!!!"
Beberapa detik berlalu Lin Chen melepaskan ciumannya dengan bibir yang memerah mengeluarkan darah.
Ia menjilat darah di bibirnya sambil menatap nya dengan sorot mata yang terlihat gila. "Aku ingin melahap mu sekarang, tapi karena kamu bermain dengan aturan.. Aku akan menemani mu mengikuti aturan."
Lin Chen tersenyum memasang wajah seperti orang gila brengsek lalu berjalan keluar.
Napas Bai Xue masih tidak stabil, dia mengusap bibirnya yang dan menemukan noda darah. Lalu tanpa di duga menjilat nya. "Manis,, suami yang menarik~ "