NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Akan Musnah

Ponsel Savira bergetar, menampilkan pesan singkat berisi alamat gudang tua dari nomor tidak dikenal.

Layar itu berpendar biru di tengah ruangan yang gelap. Savira menyambar gawai tersebut dengan gerakan sigap, jemarinya menyapu layar untuk membuka untaian pesan yang datang tiba-tiba. Koordinat geografis itu mengarah ke sebuah kawasan industri terbengkalai di ujung utara kota, sebuah zona mati yang jarang disentuh patroli kepolisian.

Sebuah baris kalimat muncul di bawah koordinat tersebut: "Saya punya dokumen asli yang kalian cari. Datang sendiri jika ingin kebenaran. Jangan bawa siapa-siapa."

Jantung Savira berdetak menabrak dinding dada, namun bukan karena ketakutan, melainkan oleh dorongan urgensi yang membakar jiwanya. Rasa manis permen stroberi yang tersisa di lidahnya mendadak terasa hambar. Ia menelan sisa permen itu dengan kasar, membiarkan rasa lapar akan kebenaran mengambil alih akal sehatnya.

Jari-jarinya gemetar sesaat sebelum ia mengetik balasan singkat.

Ia harus mendapatkan dokumen itu malam ini. Jika Bidan Kartika jatuh ke tangan preman suruhan Nadia, segalanya akan musnah menjadi abu.

Savira melirik Aaron yang masih membelakangi dirinya, sibuk merapikan pengaturan sistem keamanan apartemen yang telah ia retas sebelumnya. Pria itu menaruh seluruh fokus pada pertahanan perimeter fisik, memastikan tidak ada agen Wijaya yang berani menginjakkan kaki di lantai koridor ini.

Aaron adalah perlindungan paling mutlak yang bisa ia miliki. Namun, Aaron juga merupakan rintangan terbesar bagi agensi taktis yang ingin ia jalankan. Jika ia meminta izin, pria posesif itu akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menyisir gudang tua tersebut, yang justru akan memicu baku tembak dan menakuti Bidan Kartika hingga melarikan diri lebih jauh.

Savira memilih jalur sunyi.

Ia berjalan mundur tanpa suara, langkahnya tidak berderak sama sekali di atas lantai kayu yang licin. Matanya terus terfokus pada Aaron yang masih memunggungi dirinya, tenggelam dalam deretan kode digital di layar laptop.

Savira menyelinap masuk ke dalam kamar tidur utama yang gelap. Jantungnya berdentum keras, suaranya memenuhi rongga telinganya sendiri seolah sebuah drum perang yang ditabuh kencang. Ia segera mengganti pakaian almamaternya dengan jaket kulit hitam yang ia sembunyikan di balik lemari.

Sebuah pisau lipat kecil terselip di balik saku jaket, senjata satu-satunya untuk berjaga-jaga. Ia tidak butuh bantuan Aaron. Ia hanya butuh kecepatan dan ketepatan waktu.

Gadis itu berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke gang belakang apartemen. Ia membukanya perlahan, mengabaikan udara dingin yang menghantam wajahnya saat ia memanjat keluar ke atas pipa besi yang berkarat.

Di bawah sana, bayangan barisan pengawal Aaron berdiri bagai patung di depan pintu utama apartemen. Mereka tidak akan pernah melihat Savira yang kini memanjat turun melalui jalur pembuangan air di sisi gedung.

Ia menyelinap keluar lewat jendela apartemennya, mengelabui barisan pengawal ketat yang dipasang oleh Aaron.

Sepatu ketsnya mendarat tanpa suara di atas permukaan aspal yang basah oleh hujan. Savira menarik napas panjang, aroma melati samar dari pakaiannya bersatu dengan bau debu kota yang mencekik. Ia tahu ia sedang melangkah masuk ke dalam zona bahaya yang tidak memiliki peta, namun rasa haus untuk menjatuhkan Wijaya Dharma dari tahta sosiopatnya jauh lebih besar dari logika keselamatan dirinya.

Ia menarik tudung jaket hingga menutupi sebagian wajahnya. Langkahnya bergerak cepat, membelah keremangan malam menuju titik koordinat yang ditentukan oleh sang bidan.

Jarak tempuh ke gudang tua itu memakan waktu dua puluh menit dengan taksi gelap yang ia cegat di persimpangan jalan besar. Selama perjalanan, Savira mematikan semua fitur pelacak pada ponselnya, memutus hubungan digital dengan dunia Aaron. Ia kini benar-benar menjadi hantu yang berjalan di tengah kota yang tidur.

Gudang tua itu menjulang di hadapannya bagai monster beton raksasa yang menelan sisa cahaya bulan. Cat dindingnya mengelupas, menampakkan struktur bata yang rapuh dan ditumbuhi lumut hitam. Bau besi berkarat dan air yang membusuk menguar kuat dari dalam bangunan tersebut.

Savira berhenti tepat di balik pilar besi yang berkarat. Ia tidak langsung masuk. Matanya memicing, menyisir setiap celah jendela kaca yang pecah di lantai dua.

Di sana, sebuah lampu senter berkedip dua kali sebagai tanda rahasia.

Detik berikutnya, Savira melihat sekelompok pria berjaket kulit kusam keluar dari sebuah mobil van hitam yang terparkir di sisi belakang gudang. Mereka adalah orang yang sama dengan yang tadi ditemui Nadia di gang sempit. Para preman itu bergerak dalam formasi rapi, senjata api tersembunyi di balik balik pinggang celana mereka.

Darah di nadi Savira mendidih dingin. Mereka tidak ada di sana untuk bernegosiasi.

Nadia telah menipu Bidan Kartika, atau mungkin bidan itu sendiri adalah bagian dari permainan Wijaya untuk memancing Savira masuk ke dalam jebakan maut. Savira tidak membiarkan kecemasan melumpuhkan geraknya. Ia memutar rute menuju pintu masuk samping yang tertutup tumpukan palet kayu, memilih untuk menyerang lewat jalur yang tidak diduga oleh para preman tersebut.

Ia menarik napas dalam, membiarkan insting bertahan hidup yang ia latih di masa depan mengambil alih kendali tubuhnya.

Di tempat lain, di ruang kerja yang sunyi, Wijaya Dharma sedang menatap layar monitor dengan tatapan yang sangat damai. Ia mengawasi pergerakan titik koordinat Savira yang baru saja muncul kembali di atas peta digital. Pria paruh baya itu menyesap teh chamomile-nya dengan penuh keanggunan, menikmati setiap detik drama yang ia mainkan di atas papan catur kehidupan.

Wijaya tidak perlu berteriak untuk menghancurkan putrinya. Ia hanya perlu membiarkan setiap bidak melangkah menuju kehancuran yang telah ia desain.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!