NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERINGATAN GAIB DAN BONEKA DARI KEGELAPAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 25: Peringatan Gaib dan Boneka dari Kegelapan

Malam semakin larut, namun di kediaman Kiki ketegangan masih terasa begitu pekat. Hawa panas yang tak wajar kian menyengat, menyelimuti seluruh sudut ruangan tersebut.

Pak Ustaz Ahmad merogoh saku baju kokonya, mengeluarkan seuntai tasbih yang sering ia gunakan untuk berzikir. Ia lalu memperbaiki posisi duduknya, bergeser hingga kini berhadapan langsung dengan Kiki.

"Nak Kiki! Sekarang cerita bagaimana hal ini bisa terjadi. Makhluk seperti itu tidak akan menyerang kalau tidak ada kaitannya sama Nak Kiki. Sebaiknya Nak Kiki jujur saja, jangan ditutup-tutupi. Masalah ini tidak akan selesai kalau Nak Kiki tidak mau jujur sama kami," pinta Ustaz Ahmad dengan nada lembut namun tegas.

"Sudah, Nak, jujur saja. Ibu dan Bapak tidak akan marah. Jangan ditutup-tutupi apa yang telah kamu lakukan," potong Ibu Siti, ibu dari Kiki, seraya mengelus lembut punggung sang anak.

Mendengar desakan dari Ustaz Ahmad, hal yang paling ia hindari akhirnya terucap juga. Pertanyaan itu seakan menembus jauh ke dalam relung hatinya. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Kiki, sementara jemarinya meremas kuat baju yang ia kenakan. Bibirnya terbuka sedikit, kata-kata sudah di ujung lidah namun tertahan di tenggorokan.

Namun, tepat saat Kiki hendak membuka mulut, tiba-tiba... BRAK!

Suara benda jatuh yang amat keras dari arah dapur menggema di dalam rumah, memecah keheningan. Bunyi itu membuat semua orang di ruangan tersentak kaget luar biasa. Seolah ada kekuatan gaib yang sengaja memberi isyarat keras kepada Kiki agar menutup rapat mulutnya.

Ancamannya sampai. Kiki sadar betul bahwa itu adalah peringatan dari si dukun agar ia tetap bungkam. Bibirnya yang tadi terbuka kini kembali terkatup rapat, kata-kata yang nyaris keluar ia telan kembali bulat-bulat.

"Astaghfirullahaladzim!" teriak semua orang di ruangan itu secara serentak.

"Suara apa itu, Pak? Sepertinya dari arah dapur!" tanya Ibu Siti, matanya menatap tajam ke arah lorong dapur yang gelap.

"Tidak tahu, Bu, kan dari tadi Bapak di sini! Tunggu, Bapak periksa dulu," sahut Pak Jajang seraya bangkit dari duduknya.

Tepat saat hendak melangkah, bahu Pak Jajang ditarik dari belakang oleh Ustaz Ahmad. "Stop, Pak! Jangan diteruskan. Di saat seperti ini kita tidak boleh terburu-buru!"

Mendapat peringatan itu, Pak Jajang segera membalikkan badannya. "Lalu bagaimana ini, Ustaz? Rumah saya kenapa sekarang banyak hal-hal aneh?!" keluh Pak Jajang dengan nada frustrasi, kedua tangannya terangkat pasrah ke udara.

Namun, beda halnya dengan Kiki yang justru memilih berlari dan meringkuk di pojokan ruangan. Tubuhnya menggigil hebat dan wajahnya pucat pasi; Kiki mulai dihantam badai trauma luar biasa yang melumpuhkan jiwanya. Kedua lengannya ia silangkan erat di depan dada, seperti mencoba melindungi diri dari sesuatu yang tak kasat mata.

Di saat Kiki perlahan mulai menemukan jalan menuju cahaya kebenaran dan bantuan, nasib berbeda dialami oleh Dea. Gadis itu memilih bungkam seribu bahasa karena kini separuh jiwanya telah dikuasai kegelapan.

Kala itu, di kediaman keluarga Dea, mereka bertiga tengah menyantap makan malam bersama. Namun, Dea sama sekali tidak menyentuh makanan di piringnya. Ia hanya menatap nanar piring di hadapannya dengan tatapan kosong tanpa ekspresi, sendok di tangannya tergeletak diam tanpa pernah terangkat sekali pun.

"Nak, kamu kenapa? Kok nasinya tidak dimakan? Kamu tidak suka, ya? Apa mau Ibu buatkan nasi goreng kesukaanmu?" tanya Ibu Nengsih heran melihat tingkah anak gadisnya.

Dea tidak menjawab pertanyaan sang ibu. Ia justru melemparkan tatapan mata yang tajam dan dingin ke arah ibunya.

"Nak! Kamu sakit? Jawab Ibu, Nak!" lanjut Ibu Nengsih yang mulai mengkhawatirkan kondisi anaknya.

Namun, lagi-lagi teguran sang ibu diabaikan begitu saja. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Dea beranjak dari tempat duduknya, melangkah pergi, dan memilih kembali mengurung diri di dalam kamar.

Tentu saja perubahan sikap Dea yang begitu drastis menyisakan tanda tanya besar di benak kedua orang tuanya.

"Tuh kan, Pak! Bapak lihat sendiri, ada yang aneh sama anak kita! Bapak lakukan sesuatu dong, jangan diam saja!" cerocos Ibu Nengsih panik.

"Iya, terus Bapak harus lakukan apa? Itu kan pekerjaan Ibu untuk menjaga anak. Pekerjaan Bapak cuma cari nafkah untuk Ibu dan anak kita," sahut Pak Wawan santai tanpa beban.

"Enak saja kalau ngomong!" protes Ibu Nengsih seraya mencubit keras lengan suaminya. "Dea kan anak Bapak juga! Kalau tidak ada Bapak, mana mungkin ada Dea. Sekali-kali bantu Ibu dong, jangan cuma mengandalkan Ibu terus!" lanjut Ibu Nengsih ketus.

"Bapak bukannya tidak mau membantu Ibu. Tapi kan biasanya anak perempuan lebih terbuka sama ibunya dibanding sama bapaknya. Alangkah baiknya Ibu saja, kalau sesama perempuan mungkin bisanya lebih kena ke hati, apalagi kalau soal urusan hati," jelas Pak Wawan.

"Nanti kalau Ibu tidak berhasil, baru Bapak yang coba tanya ke Dea," lanjut Pak Wawan seraya kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.

Mendengar jawaban dari sang suami yang dirasa tidak memuaskan, Ibu Nengsih hanya bisa pasrah. "Ya sudah, terserah Bapak! Ibu lagi... Ibu lagi yang harus ngurus anak!" gerutu Ibu Nengsih seraya melanjutkan makan malamnya dengan gusar, sendoknya mengaduk-aduk nasi di piring tanpa benar-benar berniat menyuapnya.

Di saat kedua orang tuanya sibuk bersitegang mengenai cara menangani Dea, hal yang jauh lebih mengerikan justru sedang terjadi di dalam kamar. Dea tengah duduk di depan meja riasnya. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di dalam cermin. Sesekali, sebuah senyuman tipis dan dingin terukir di wajahnya—seakan tubuhnya kini tak lebih dari sebuah boneka yang dikendalikan oleh kekuatan jahat dari jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!