Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Tak perlu khawatir
Airyn yang kaget, refleks menerbangkan bola air di tangannya tepat ke arah sosok yang memanggil namanya dari arah belakang.
BYURRR!
Gadis itu dengan sigap berbalik, dan seketika matanya melotot horor mendapati Profesor Alistair berdiri memaku dengan pakaian yang sudah basah kuyup akibat ulahnya.
"M-maafkan saya, Profesor!" seru Airyn panik, bergegas berlari menghampiri sang rektor dengan wajah menunduk dalam-dalam. Astaga, hal bodoh apa lagi yang kulakukan kali ini?! batin Airyn meratapi nasib.
Namun, Profesor Alistair sama sekali tidak murka. Ia hanya menyunggingkan senyum santai seraya mengusap cipratan air yang mengenai wajahnya.
"Tidak apa-apa, Airyn. Pakaian basah kan bisa diganti nanti," ujar Alistair lembut tanpa nada amarah sedikit pun.
Airyn yang merasa sangat bersalah berinisiatif menawarkan bantuan. Menerapkan metode yang sama seperti saat mengeringkan rambut Flora sebelumnya, ia memfokuskan Aether-nya.
"S-saya bantu keringkan, Profesor," ujar Airyn, pelan.
Dengan jemari yang cekatan, Airyn menarik setiap bulir kelembapan dari serat pakaian tebal sang profesor. Hanya dalam hitungan detik, jubah Profesor Alistair kembali kering sempurna tanpa menyisakan jejak basah sedikit pun.
"Wah... ini pertama kalinya aku melihat seorang Aetherist air memanfaatkan kemampuan elemennya secara praktis seperti ini," puji Alistair terkagum-kagum.
Airyn meringis canggung—tidak tahu apakah itu pujian tulus atau sekadar penghalusan karena tidak ada Aetherist air lain yang pernah menyiramkan bola air ke baju sang rektor.
"Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Profesor," ujar Airyn seraya membungkukkan badan dan menundukkan kepala dalam-dalam.
"Sudahlah, jangan dimasukkan ke dalam hati. Aku juga yang bersalah karena mengejutkanmu dari belakang," hibur Alistair. Ia lalu mengamati Airyn lekat-lekat.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau belum tidur, Airyn? Ini sudah sangat larut."
"Ah... saya belum bisa tidur, Profesor. Jadi saya memutuskan untuk berkeliling sebentar," terang Airyn jujur. "Biasanya kalau gelisah di rumah, saya akan pergi ke laut atau air terjun. Makanya saat melihat kolam air mancur ini..." Airyn mendadak menghentikan kalimatnya saat menyadari dirinya sudah berceloteh terlalu panjang.
"Oh, begitu. Air mancur yang indah, bukan? Keberadaannya bahkan sudah ada jauh sebelum bangunan akademi ini didirikan," tutur Alistair lembut. Airyn tersenyum tipis mendengarnya.
"Mau mengobrol sebentar?" tawar Alistair.
Airyn mengangguk patuh dan mengekor di belakang langkah sang profesor. Mereka berjalan menuju sebuah bangku kayu panjang yang bernaung di bawah rindangnya pohon mahoni di sudut taman air mancur.
Keduanya duduk ditemani hembusan angin malam yang membelai sejuk. Airyn menengadahkan pandangannya ke atas. Langit di atas mereka hanya berupa bentangan gelap pekat tanpa kehadiran pendar bulan atau hamparan bintang.
"Atmosfer di atas sana dirancang dengan sihir pelindung yang canggih. Mampu mensimulasikan pergantian siang dan malam secara teratur, meskipun kita tidak bisa melihat wujud matahari atau bintang secara langsung," terang Alistair saat mendapati Airyn menatap langit dengan raut menerawang.
Airyn mengangguk paham. Berada puluhan meter di bawah permukaan tanah, tentu membuat keberadaan benda langit menjadi hal yang mustahil.
"Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu, ada masalah?" tanya Alistair penuh perhatian.
"Sepertinya raut wajah memang tidak bisa disembunyikan, Profesor" sahut Airyn membalas dengan senyuman pahit.
Sang profesor mengangguk pelan. Airyn menghela napas panjang sebelum memberanikan diri membuka suara.
"Ini berhubungan dengan Nenek saya, Profesor... Apakah benar Ratu Lylian dari Tidebay yang menjadi penyebab hancurnya Aliansi Aetherist dan memisahkan Asteria dari delapan wilayah lainnya?" tanya Airyn dengan mata berbinar penuh harap. Ia menantikan jawaban dari sang rektor.
Profesor Alistair terdiam sejenak. Sorot matanya menerawang menembus kegelapan malam.
"Hmm... Aku tidak bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah secara mutlak, Airyn. Aku bahkan masih sangat kecil saat peristiwa itu terjadi," sahut Alistair jujur.
Dada Airyn seketika dihinggapi rasa kecewa. Kepada siapa lagi ia harus mencari kebenaran jika orang tertua di akademi ini pun tidak memiliki jawaban pasti? Tak mungkin ia bertanya pada Raja Horus yang sudah pasti akan menyudutkan neneknya.
"Namun satu hal yang kupahami..." Alistair menjeda ucapannya, "Ratu Lylian adalah sosok yang luar biasa hebat dan tangguh. Seorang wanita yang sanggup berdiri tegap dan menumbangkan para penguasa pria di benua ini."
Airyn tersenyum haru. Pengakuan itu selaras dengan catatan naskah kuno yang ia, Flora, dan William temukan di perpustakaan tadi sore.
"Benar, Profesor! Nenek pasti sosok yang sangat luar biasa. Aku... aku juga ingin menjadi sekuat beliau!" tegas Airyn dengan binar mata yang kembali menyala.
"Pertahankan tekad dan semangat membara itu, Airyn. Jangan biarkan rumor tentang nenekmu membuat kamu lemah," tutur Alistair lembut namun sarat penegasan.
Airyn mengangguk mantap.
"Baiklah, malam makin larut dan dingin. Kau harus segera beristirahat. Bukankah besok pagi ada jadwal latihan fisik?"
"Benar, Profesor. Saya akan kembali ke kamar sekarang. Terima kasih banyak atas waktu dan obrolannya," pamit Airyn seraya membungkuk hormat, lalu berbalik melangkah menelusuri lorong menuju blok asrama.
Alistair menatap lekat-lekat bayangan punggung Airyn yang perlahan menyatu dengan kegelapan koridor. "Jadilah kuat, Airyn... Dunia ini akan membutuhkanmu," bisiknya lirih ditelan angin malam.
Krit... Krit...
"Airyn!"
Dengan suara berbisik, Flora mengguncang pelan bahu Airyn saat pendengarannya menangkap gesekan derit langkah kaki di koridor luar kamar mereka.
Airyn yang terbangun membuka matanya dan mengumpulkan kesadaran. Ia duduk di tepi ranjang, menepuk-nepuk pelan kedua pipinya untuk mengusir sisa kantuk. Pandangannya menajam saat mendengar suara kenop pintu yang diutak-atik dari luar.
"A-Airyn... a-apa itu?" bisik Flora ketakutan. Ia buru-buru memanjat ke ranjang Airyn dan bersembunyi di balik punggung sahabatnya.
Airyn mengisyaratkan Flora untuk diam. Dengan langkah tanpa suara, ia berjingkat mendekati pintu, mengokohkan kuda-kudanya seraya mengepalkan tangan—siap melepaskan pukulan jika ada penyusup yang menerobos. Flora mengekor ketakutan sambil meremas ujung piyama Airyn.
KLAK! KLIK!
Suara kunci diputar dari luar.
Sreeek...
Pintu kayu terbuka sedikit, membiarkan pendar cahaya koridor menerobos masuk. Airyn yang sudah bersiap melayangkan hantaman mendadak menghentikan gerakannya saat melihat sebingkai kepala muncul dari celah pintu.
"Hei! Cepat ganti baju olahraga kalian!"
Ternyata itu Emery! Gadis bersurai cokelat itu hanya tersenyum saat melihat Airyn dan Flora yang sudah bangun.
Airyn dan Flora mengembuskan napas lega yang panjang. Keduanya mengangguk paham lalu bergegas berganti pakaian menggunakan seragam olahraga resmi akademi—setelan navy bergaris putih lengkap dengan lambang akademi Asteria di bagian dada.
Saat melangkah keluar kamar, Stella sudah berdiri bersandar di dinding koridor dengan raut wajah tertekuk, masih memejamkan mata menahan kantuk berat.
"Emery, bagaimana bisa kau memegang kunci kamar kami?" tanya Airyn heran.
"Oh! Profesor Seraphina memberikan kunci ini padaku kemarin sore. Mulai hari ini, aku bertugas sebagai penanggung jawab untuk membangunkan kalian setiap pagi!" jawab Emery bangga seraya memamerkan kunci di jarinya.
Emery lalu menarik lengan Stella yang masih setengah tertidur menuju tangga utama. Para murid pria sudah berdiri berbaris menanti di pelataran tangga.
William yang melihat kehadiran Airyn langsung melambaikan tangannya ramah. Namun Airyn, yang masih teringat ulah William yang mengacak-acak rambutnya semalam, memilih memalingkan wajah dan berdiri agak jauh dari pemuda bersurai nila itu.
Flora yang memperhatikan interaksi tersebut memiringkan kepalanya bingung—ada apa sebenarnya dengan kedua sahabatnya ini?
Tak berapa lama, Profesor Ignatius melangkah menaiki tangga dengan peluit tersangkut di leher dan topi latihan terpasang rapi.
"Selamat pagi, Anak-Anak!" sapa Ignatius ceria seperti biasa, meski surya belum memancarkan pendar sedikit pun. "Hari ini kita hanya akan melakukan pemanasan ringan. Ayo berlari!"
PRRRIIIITT!
Ignatius memutar badan dan melesat menuruni tangga. Kedelapan Aetherist muda mau tidak mau merapatkan barisan dan mengekor berlari menuruni tangga menuju gerbang luar akademi. Sang profesor membawa mereka berlari mengitari pagar pembatas luar kompleks akademi.
"Hei Airyn! Kau masih marah soal kejadian semalam?" William dengan napas terengah-engah, berusaha menyamakan tempo lari di samping Airyn.
Airyn awalnya memilih membisu, namun karena William terus menempel di sisinya, ia akhirnya melirik sinis. "Jauh-jauh dariku! Nanti kau malah mengacak-acak rambutku lagi!"
William yang mendengar alasan itu seketika terkekeh pelan. "Baiklah, baiklah! Aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," sahut William menyunggingkan senyum tulus.
Airyn menghela napas lalu mengangguk tipis—tanda perbaikan di antara mereka. Flora yang berlari di belakang ikut tersenyum lega menyaksikan kedua temannya kembali akur.
Namun di tengah derap langkah mereka yang kian memburu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu berapa kilometer lagi Profesor Ignatius akan memaksa mereka mengitari kompleks ini.