Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SEMBILAN
...Awas... Area plus... plus... Plus..ayooo yang belum cukup umur.. jangan nakal 🤣🤣....
...****************...
Seketika, tubuh Amara menegang kaku di atas kasur. Sensasi keras, tegap, dan sangat panas mendadak menekan tepat di bagian selangkangannya dari balik kain jubah mandi Zain yang agak tersingkap.
Amara membelalak kaget. Raut wajahnya yang tadinya merona kini diwarnai rasa ciut dan cemas yang mendalam. Ukuran dan tekanan yang menegang di bawah sana membuatnya sadar betapa bahayanya situasi mereka saat ini.
Aduh... Ya Tuhan, apa aku bisa kabur dari kamar ini malam ini? cemas Amara membatin histeris.
"Kak... Zain..." cicit Amara dengan suara yang amat pelan dan bergetar pasrah.
Sensasi suara desahan lirih dari bibir Amara yang bengkak itu bertindak bagaikan minyak yang disiramkan ke dalam kobaran api di dalam dada Zain. Tubuh tegap pria itu semakin menegang keras, terutama adik kecilnya yang sudah sangat sesak sekali.
’Sialan! Amara, kenapa kamu harus mengeluarkan suara mendesah lembut seperti itu di depan mukaku? Itu membuatku semakin hilang kendali penuh, Amara!’
"Kak Zain..." Amara mencoba mengerahkan tenaganya untuk memprotes dan mendorong bahu tegap suaminya, menyadari situasi yang kian berbahaya.
Namun, suara batin Zain kembali menjerit memilukan tepat di dalam benak Amara.
’Amara... Maafkan aku untuk malam ini. Maafkan aku karena aku sudah benar-benar tidak kuat lagi menahannya... Aku menginginkanmu, Mara!’
Mendengar jeritan batin yang dipenuhi kepasrahan dan gairah liar itu, seluruh tubuh Amara merosot lemas di atas kasur. Keberaniannya untuk melawan menguap tanpa sisa.
"Kak Za—"
Emmpphhh!
Zain tidak memberi ruang untuk Amara menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya kembali menyambar bibir Amara dalam pagutan yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh penguasaan. Sebelah tangan tegap Zain menyusup ke atas, menyambar kedua pergelangan tangan Amara, lalu menguncinya rapat di atas kepala gadis itu di atas bantal.
Tali jubah mandi Zain terlepas sepenuhnya, menyingkap dada bidang dan perut berototnya yang tegas tanpa tertutup sehelai kain pun. Zain melepaskan ciumannya sejenak, menundukkan kepala untuk menatap raut wajah istrinya yang telah terkunci rapat di bawah tubuhnya.
’Tuhan... Lihatlah betapa indahnya istriku ini... Wajahnya yang pucat kini merona begitu cantik di bawah terkaman tubuhku. Kulit lehernya yang mulus ini... Dinding dadanya yang naik turun memburu... Semuanya membuat darahku mendidih hebat!’
Amara mendengarkan pujian batin itu dengan dada yang berdebar kencang. Air mata keharuan dan gairah menetes tipis di sudut matanya.
Zain menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas yang membakar di sepanjang garis rahang Amara, merambat turun ke leher jenjang istrinya yang harum. Setiap kali bibir Zain menyesap kulit mulusnya, erangan halus tak sadar meluncur dari tenggorokan Amara.
’Suara desahannya... Suaranya sangat merdu dan nikmat! Aku ingin mendengar suara ini terus bernyanyi menyebut namaku sepanjang malam ini! Aku menyukai setiap inci dari tubuh kecil ini. Tidak ada satu pun bagian dari dirimu yang tidak membuatku gila, Amara!’
Jemari tegap Zain yang bebas merayap turun, menyingkap baju tidur lembut yang dikenakan Amara hingga kain itu terlepas melantai. Dalam hitungan detik, sekat-sekat pakaian di antara mereka runtuh sepenuhnya. Kedua tubuh yang telah bertahun-tahun terpisah oleh dinding es yang kaku itu kini menyatu kembali tanpa sehelai benang pun yang menghalangi.
Amara mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi saat jemari tegap Zain mulai meraba dan memijat lembut area terlarang di dadanya. Gesekan hangat dan intens itu mengirimkan sengatan listrik yang memabukkan ke seluruh saraf tubuh Amara.
"Eeuuhh... Kak Zain..." rintih Amara terengah-engah, matanya terpejam erat menahan gelombang nikmat yang menyiksa.
’Ya, seperti itu, Mara... Sebut namaku! Sentuhan kulitmu ini terasa sangat halus bagaikan sutra... Aku selalu bermimpi untuk bisa memeluk dan meremas tubuh indahmu ini setiap malam tanpa ada rasa takut atau malu!’
Zain memposisikan tubuh tegapnya di antara kedua paha Amara yang telah terbuka pasrah. Pria itu menahan napasnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata Amara yang berkabut oleh gairah yang membakar. Tangannya yang bergetar lembut memegang pinggul kecil Amara, menyajikannya untuk penyatuan yang sesungguhnya.
"Amara... Tatap mataku," bisik Zain dengan suara yang teramat sangat serak dan dalam.
Amara membuka kelopak matanya yang berat, menatap tepat ke dalam telaga hitam mata suaminya yang sarat akan dahaga cinta yang mendalam.
’Aku mencintaimu, Amara... Sungguh, demi Tuhan aku sangat mencintaimu! Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan pria kaku dan dingin yang bodoh ini!’
Suara hati yang teramat jujur, polos, dan penuh pengakuan itu bergema begitu jernih di dalam benak Amara. Tangis haru Amara pecah seketika. Tanpa ragu lagi, Amara melingkarkan kedua kakinya di pinggang tegap Zain, merengkuh leher suaminya dan memajukan tubuhnya.
"Lakukan, Kak Zain... Aku milikmu," bisik Amara tulus di depan bibir Zain.
Penyatuan itu terjadi secara perlahan namun pasti. Erangan nikmat dan desahan napas yang saling memburu memenuhi keheningan kamar tidur bernuansa abu-abu tersebut. Zain memompa tubuhnya dengan ritme yang teratur, bertenaga, namun penuh dengan kelembutan yang menjaga agar tidak melukai tubuh kecil istrinya.
’Nikmat sekali... Penyatuan ini terasa sangat hangat dan sempurna! Terimakasih Tuhan... Terimakasih telah memberikan wanita seindah ini untuk menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Tidak akan pernah!’
Setiap kali dorongan tubuh Zain menyatu, jeritan batin pria itu terus melantunkan pujian, rasa cinta, dan pemujaan yang mendalam atas setiap inci tubuh Amara. Amara meremas punggung tegap Zain yang berpeluh, menancapkan kuku-kukunya di sana sembari menikmati setiap gelombang gairah yang membawanya terbang tinggi ke puncak kenikmatan.
Penyatuan malam itu berlangsung panjang dan membara, meleburkan dua jiwa yang akhirnya menemukan muara cintanya di balik dinding kesunyian yang telah hancur.
Sinar matahari pagi menerobos tipis dari sela gorden jendela kamar utama, membiaskan cahaya keemasan di atas kasur yang berantakan.
Amara terbangun perlahan dari lelapnya yang teramat nyenyak. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan lemas, namun ada kehangatan yang amat nyaman melingkupi dadanya. Ia berada di dalam dekapan erat lengan tegap Zain. Pria itu masih tertidur lelap di sisinya tanpa mengenakan pakaian, dengan wajah tampan yang terlihat begitu tenang dan polos tanpa topeng es.
Amara menyunggingkan senyum manis, mengulurkan jemarinya untuk membelai lembut garis rahang tegap suaminya.
Namun, tepat saat Amara hendak menarik tangannya kembali, kelopak mata Zain bergerak tipis lalu terbuka perlahan. Manik mata kelam milik sang profesor menatap lurus ke dalam mata Amara.
Zain tidak bersuara sepatah kata pun. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Amara, memeluk pinggang istrinya semakin erat seolah tak ingin melepaskannya.
Tetapi, di detik yang sama, sebuah gema suara batin yang teramat sangat jernih mendadak kembali meledak riuh di dalam kepala Amara, suara batin yang membuat mata Amara seketika membelalak lebar dan napasnya tertahan kaku.
’Terima kasih untuk semalam, Istriku... Tapi ada satu hal penting yang belum sempat kuberitahukan padamu. Jika bukan karena Arbara kakakmu, yang merencanakan penjebakan indah itu, mungkin aku tak ada disisimu saat ini.’
Deg.