NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Mas Duda

Kepincut Cinta Mas Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Bad Boy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AzZura02

Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.

Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.

Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.

Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 - Sebuah Foto

Sheyra sedang sibuk memasak di dapur Alvaro. Sedangkan Lyra menggambar sendirian di meja makan yang berada di dekat dapur. Sesekali Sheyra melihat ke arah Lyra untuk memastikan bahwa gadis kecil itu baik-baik saja. Tidak sekalipun Lyra lepas dari pandangan Sheyra.

“Garam di mana ya?” gumam Sheyra sembari membuka satu persatu rak yang ada di depannya. Sheyra berpikir akan membuatkan Lyra dan Alvaro bubur untuk makan siang. Sheyra berani memakai dapur Alvaro karena cowok itu sendiri yang telah mengizinkannya.

Alasan Sheyra memilih bubur untuk menu masakannya adalah karena pembuatannya yang simple dan tidak terlalu membutuhkan banyak bahan. Ia hanya mengambil sedikit bahan yang ada di kulkas Alvaro.

Sheyra tersenyum senang saat menemukan wadah berisi garam yang sedang ia cari. Dengan cepat ia langsung memasukkan dua sendok teh garam lalu mengaduk bubur buatannya. Tidak lupa Sheyra juga menambahkan irisan wortel, jagung, kacang polong, dan sayuran lainnya.

“Lyra! Mau minum susu dulu?” tanya Sheyra mengeraskan suaranya agar Lyra dapat mendengarnya. Sedangkan tangannya sibuk mengaduk bubur yang sebentar lagi akan matang.

“Iya Kak Ei.” jawab Lyra dengan cepat. Matanya tetap terfokus pada gambar di depannya. Tangan mungilnya sibuk mewarnai gambar matahari dengan pelan dan hati-hati agar tidak keluar garis.

Beberapa menit kemudian Sheyra datang memberikan segelas susu kepada Lyra. Melihat kedatangan Sheyra membuat Lyra menghentikan aktivitasnya. Lyra tersenyum manis sambil menerima segelas susu tersebut, “Makasih Kak Ei!”

Sheyra mengangguk. Ia juga ikut tersenyum ketika melihat Lyra meminum susu itu hingga menyisakan setengahnya. Kemudian ia mengelus kepala Lyra dengan lembut. Matanya melihat ke arah gambar Lyra, “Wah bagusnya. Pintar.” puji Sheyra.

Mendengar pujian dari Sheyra membuat Lyra tersenyum malu-malu. Ia terlihat bangga dengan hasil karyanya. “Makasih Kak.” serunya terdengar riang.

“Oh ya, Kakak mau kembali lagi ke dapur ya. Lyra tetap di sini. Kalo butuh apa-apa nanti panggil Kakak, Oke?” ujar Sheyra yang segera dibalas anggukan oleh Lyra.

Sheyra kembali ke dapur meninggalkan Lyra sendirian. Bubur buatannya telah matang. Sheyra mencoba sedikit bubur itu untuk memastikan apakah rasanya sudah pas atau belum. Seketika ia tersenyum ketika buburnya terasa enak. Ia berharap semoga Lyra dan Alvaro akan menyukainya.

Sheyra mengambilkan bubur itu untuk Lyra dan dirinya. Sedangkan untuk Alvaro, ia akan mengambilkan nanti. Sheyra berjalan ke arah meja makan dengan piring di kedua tangannya. Ia meletakkan satu piring di depan Lyra dan satu di depannya.

“Lyra makan dulu yaa. Cobain bubur bikinan Kak Shey.” perintah Sheyra lalu ia duduk tepat di depan Lyra.

Lyra mengangguk, “iyaa!” seru Lyra antusias. Ia menutup buku gambar dan crayonnya. Fokusnya kini tertuju pada bubur yang memiliki penampilan menggugah selera itu.

Lyra menyendok bubur itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Sheyra menatap Lyra dengan penuh harap. Ia menunggu reaksi Lyra, ia berharap bahwa gadis kecil itu akan memuji masakannya.

Setelah menelan makanannya, mata Lyra tiba-tiba membulat. Ia tersenyum manis. Lyra sangat menyukai rasa bubur ini. “Enyakkkk!! Kak Ei pintar!” seru Lyra sembari menggoyangkan kepalanya pertanda bahwa ia menyukai makanannya.

Sheyra tertawa kecil. Ah, lucunya. Sheyra merasa sangat gemas dengan Lyra. “Hahaha makasih cantik. Habiskan ya buburnya. Kak Shey juga makan ini.” pinta Sheyra sembari mulai menyantap makanannya.

Mereka berdua terlihat sedang menikmati makanannya. Sesekali terdengar suara candaan di antaranya yang disusul dengan suara gelak tawa. Sheyra melihat Lyra dengan perasaan yang senang. Syukurlah gadis kecil itu sudah tidak menangis seperti tadi. Sepertinya moodnya sudah membaik. Ia hanya berharap agar Alvaro segera sembuh.

Sheyra telah menghabiskan makanannya sedangkan makanan Lyra masih ada setengahnya. Gadis kecil itu masih memakan makanannya. Sheyra beranjak dari tempat duduknya, “Lyra di sini saja ya. Habiskan makanannya. Kak Shey mau ngantar makanan buat Papa.”

“Iya Kak Ei.” jawab Lyra dengan cepat.

“Jangan kemana-mana ya. Kak Shey pergi sebentar saja.” ucap Sheyra memberi peringatan.

Lyra mengangguk cepat, “Iyaaa!” serunya mengerti.

“Anak pintar.” puji Sheyra kemudian ia pergi meninggalkan Lyra sendirian. Sheyra mengambilkan sepiring bubur untuk Alvaro di dapur. Ketika melihat air hangat tiba-tiba terlintas di pikiran Sheyra untuk membawanya juga. Sesuai dengan cerita Lyra yang berkata bahwa badan Alvaro terasa panas, mungkin air hangat ini bisa membantu menurunkan demam Alvaro. Tidak lupa Sheyra juga memasukkan sapu tangannya ke dalam saku. Sapu tangan yang nantinya berniat akan ia gunakan untuk mengompres Alvaro.

Setelah menyiapkan apa saja yang akan dia bawa, Sheyra berjalan meninggalkan dapur untuk menuju ke kamar Alvaro. Sesuai instruksi Lyra, kamar Papanya ada di lantai dua. Sebuah kamar dengan pintu berwarna coklat. Sheyra menaiki anak tangga dengan hati-hati. Tangan kirinya membawa semangkuk bubur sedangkan tangan kanannya membawa sebaskom kecil air hangat. Ia berjalan begitu pelan agar bawaannya tidak jatuh.

Sheyra berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat. Sepertinya ini adalah kamar Alvaro. Ia berpikir tidak akan masuk ke dalamnya. Ia berharap Alvaro membukakan pintu dan datang untuk mengambil makanan dan air hangat ini dari tangannya.

Sheyra kesusahan untuk mengetuk pintu sehingga ia menaruh baskom yang berisi air hangat itu di lantai. “Al, ini gue.” panggil Sheyra sembari mengetuk pintu kamar Alvaro.

Ia mengetuk sambil memanggil nama Alvaro berulang kali. Namun sama sekali tidak ada jawaban. Karena tidak mendengar respon apapun, tiba-tiba rasa khawatir merasuki diri Sheyra. “Al, di dalam lo gak kenapa kenapa kan?!” seru Sheyra mengeraskan suaranya. Ia memanggil nama Alvaro berkali-kali namun tetap tidak ada jawaban.

“Hah, bisa gila gue. Gue harus pastiin lo gak kenapa kenapa.” gumam Sheyra. Reflek ia langsung memegang gagang pintu. Seketika pintu itu langsung terbuka. Ternyata pintunya tidak terkunci.

“Maaf Al, gue harus nganterin semua ini ke lo. Gue harus lihat keadaan lo. Permisi ya. Sorry kalo gue lancang. Permisi.” seru Sheyra berharap Alvaro akan mendengarnya. Ia melangkahkan kakinya ragu-ragu.

Sheyra melihat sekeliling kamar Alvaro. Kamarnya begitu remang-remang karena Alvaro tidak menyalakan lampu ataupun membuka tirai jendela kamarnya. Sepertinya ia benar-benar ingin istirahat.

Mata Sheyra menangkap sosok Alvaro yang sedang tertidur di ranjangnya. Dengan segera ia menghampiri Alvaro. Sheyra meletakkan semangkok bubur di atas meja dekat ranjang Alvaro. Tiba-tiba mata Sheyra terfokus pada beberapa foto yang terpajang di sana.

Ada foto Alvaro, Lyra dan foto seorang wanita cantik. Siapa dia? Sheyra terdiam dan terpaku memandangi foto itu. Wanita itu sedang berpose sambil tersenyum manis ke arah kamera. Sedetik kemudian Sheyra langsung menyadari bahwa mungkin itu adalah foto mendiang istri Alvaro atau Ibu dari Lyra. Sheyra tersenyum sedih. Ia merasa kasihan, pasti Alvaro selalu merindukan wanita itu. Begitu pula dengan Lyra.

Setelah itu pandangan Sheyra beralih ke Alvaro. Ia menatap wajah Alvaro yang tengah tertidur pulas. “Secapek apa Al sampe lo tidur bisa senyenyak ini? Bahkan lo gak denger gue panggil-panggil.” gumam Sheyra pelan.

Sheyra memandangi wajah Alvaro untuk beberapa detik. Sheyra terkesima, Alvaro benar-benar tampan. Saat sedang tertidur seperti ini, Alvaro terlihat begitu polos.

Ketika menyadari pikirannya sendiri, Sheyra segera menggeleng cepat. “Gue gak boleh mikir aneh-aneh!” Sheyra menampar pipinya pelan. “Gue harus fokus.” ujarnya sembari menghela nafas.

“Al bangun. Al.” panggil Sheyra mencoba membangunkan Alvaro.

^^^Bersambung….^^^

1
Cici Sri Yunita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!