Kegagalan dari Cinta Pertama terkadang membuat kita terpuruk dan sulit untuk memulai cinta yang baru ... Perasaan takut gagal, kecewa dan sedih kembali terus menghantui.
Begitu juga dengan Intan, kegagalan Cinta Pertamanya membuat ia trauma hingga ia menutup rapat hatinya. Ia membangun sebuah pintu besi yang sangat kokoh.
Lantas, adakah sosok yang mampu mendobrak pintu besi dari hati Intan?
Update tiap hari pkl 05.00 dan 17.00 WIB😁✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Apakah aku melakukan kesalahan saat memilih jadi populer?.."
Setelah selesai urusan dengan dokter Intan berusaha berjalan sendiri walau tertatih, tentu dengan sigap Setya mendekatinya dan membantu memapahnya. Saat di depan UKS ada beberapa murid yang kebetulan melintas dan mulai berbisik-bisik. Intan sama sekali merasa tak nyaman dibuatnya.
"Tunggu! Kak, aku rasa lebih baik Ifa yang membantuku. Kak Setya dan Kak Bayu bisa beristirahat dulu. Terima kasih atas bantuannya tadi." Ucap Intan menghentikan langkah mereka semua.
"Kenapa?" Tanya Ifa yang mulai mendekati Intan menggantikan Setya untuk memapahnya.
"Kak Setya dan Kak Bayu terlalu mencolok. Sudah banyak murid yang berbisik dan salah paham. Aku gak ingin jadi pusat perhatian lagi ... Maaf." Ucap Intan sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi, kami tak akan berada jauh dari kalian. Sehingga, jika kalian perlu kami, kami bisa langsung datang ... Nanti, kita bertemu di parkiran ya." Ucap Setya lembut sebelum beranjak pergi dengan Bayu.
"Tan, sepertinya kak Setya ..."
"Hentikan ucapanmu ... Maaf, tapi aku tak ingin menduga-duga. Kak Setya bilang, seiring berjalannya waktu aku akan menemukan jawabannya sendiri. Jadi, ku mohon jangan memberikanku harapan lebih lagi." Ucap Intan memotong perkataan Ifa. Ifa hanya megangguk meniyakan.
Intan dan Ifa memilih duduk di salah satu sudut lapangan utama dibawah pohon besar yang rindang, sambil menunggu OSIS mengumumkan hadiah pemenang. Intan melihat masih banyak murid yang melihatnya lalu berbisik-bisik. Entah, apa yang mereka pikirkan. Namun, itu sangat menganggu Intan. Ia merasa sedang dibully seperti SMP dulu. Itu membuatnya tak nyaman.
Seperti yang dikatakan Setya sebelumnya. Ia dan Bayu memilih duduk tak jauh dari mereka, dan dari posisi mereka sangat jelas untuk memperhatikan Intan san Ifa. Setya juga mengamati ketidaknyamanan Intan. Ia sedikit khawatir tentang itu, karna ia yakin saat ini Intan teringat masa lalunya saat dibully dulu.
Apakah aku melakukan kesalahan saat memilih jadi populer? Bukannya Intan melihatku, aku malah membuatnya merasa tak nyaman dan selalu teringat akan masa lalunya ...
Setya merutuki keputusannya dulu untuk menjadi populer. Sebelumnya saat SMP dia hanyalah murid biasa. Ia juga tak suka terlalu mencolok. Namun, di SMA dia memutuskan untuk menonjolkan diri, agar Intan langsung bisa melihatnya. Namun, pilihan untuk populer itu sepertinya salah.
"Hei, kalian uda dapet hadiah belum?" Tanya Toni yang tiba-tiba ikut bergabung dan duduk disebelah Intan.
"Kamu liat kita bawa hadiah enggak? Kalau ada mata dilihat dong." Seru Ifa sinis. Intan hanya tersenyum dibuatnya, sedangkan Toni terlihat kesal dengan jawaban Ifa.
"Wah, kakimu kenapa?" Seru Toni saat melihat kaki Intan yang diperban.
"Hanya sedikit terkilir. Beberapa hari lagi pasti sembuh." Jelas Intan tenang.
"Dasar selalu ceroboh. Kamu kan bukan anak kecil lagi, kenapa bisa terklir. Haissh!" Omel Toni. Intan tak menjawab dan memilih mengabaikan Toni.
"Dia sudah seperti ibu-ibu yang mengomeli anaknya." Bisik Ifa pada Intan.
"Ya. Bahkan bundaku kalah cerewet dibandingkan dia." Balas Intan yang juga berbisik.
"Hei.!!" Seru Toni yang kesal, karna omelannya tak didengarkan. Ia malah melihat Intan dan Ifa saling berbisik.
"Intan, akhirnya aku menemukanmu... Kamu tak apa? Aku mendengar beberapa murid bilang kalau kamu digendong kak Setya saat kembali ke sekolah tadi. Kamu kenapa?" Tanya Dharma yang tiba-tiba datang bersama Linda yang tak sengaja berpapasan dengan Dharma sebelumnya untuk bertanya dimana Intan. Akhirnya, Linda memilih ikut mencari untuk menanyakan keadaan Intan.
Setya memperhatikan itu dari tempatnya. Tangannya mengepal erat melihat kedua pria yang mengelilingi Intan itu.
Rasanya aku ingin menyingkirkan serangga-serangga pengganggu itu!!
"Aku tak menyangka berita itu akan cepat menyebar ... Aku hanya terkilir pak ketu, Linda ... Dan kebetulan kak Setya ada disana akhirnya dia membantuku." Terang Intan. Ifa yang memang sudah tau kalau Dharma dan Toni menyukai Intan pun merasa was-was dengan langkah yang mereka akan ambil.
Akhirnya, disisa waktu pengumuman hadiah itu Toni, Dharma dan Linda bergabung dengan Intan dan Ifa. Tak terasa acara pun berakhir dan para murid mulai berhambur meninggalkan sekolah.
"Kamu pulang naik apa?" Tanya Toni dan Dharma bersamaan. Kemudian keduanya saling menatap tajam.
"Biar aku antar!" Seru Toni dan Dharma bersamaan lagi. Aura persaingan seketika menyelimuti mereka.
Linda yang melihat itu pun menjadi cemburu. Sedangkan Ifa melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Setya dan Bayu.
"Tidak perlu repot. Rumah kalian kan berbeda arah denganku." Tolak Intan.
"Itu tak masalah buatku." Dharma.
"Aku ada urusan juga didaerah rumahmu." Toni.
"Tapi ..."
"Maaf mengecewakan semuanya. Aku yang akan mengantarkan Intan. Lagipula, arah rumah kami sama." Ucap Setya yang sudah berdiri disebelah Intan untuk membantu memapahnya.
"Kami teman sekelasnya, tidak baik untuk merepotkan kakak kelas." Ucap Dharma masih mencoba.
"Motor kakak kan tinggi, dengan kaki yang seperti itu Intan akan kesulitan untuk naik." Seru Toni juga mencoba mencari kekurangan Setya.
"Itu tak menjadi masalah. Aku akan membantunya naik. Dan aku merasa sama sekali tidak direpotkan." Jawab Setya santai.
"Toni, Pak Ketu, maaf ... Tapi, aku sudah berjanji. Jadi, kalian tak perlu repot ... Oh ya, Pak Ketu juga bisa kasih tumpangan ke Linda saja, kebetulan arah rumah kalian sama bukan?" Tanya Intan.
"Ah, tidak perlu repot. Aku bisa naik bus seperti biasa." Tolak Linda pura-pura.
"Baiklah. Tak apa aku akan mengantarkan Linda." Ucap Dharma tersenyum pada Intan seolah menunjukkan bahwa dia berhati besar.
"Ehm, maaf merepotkan dan terima kasih." Jawab Linda seolah merasa tak enak, namun sebenarnya dia sangat senang sekarang.
"Aku pulang!" Seru Toni yang memilih meninggalkan mereka lebih dulu.
"Kalau begitu aku juga pulang duluan. Cepat sembuh ya." Ucap Dharma lembut sebelum pergi bersama Linda.
"Ayo.." Ajak Setya, kemudian memapah Intan perlahan.
Bayu dan Ifa mengikuti dari belakang. Ifa tersenyum saat Intan tidak berusaha menolak lagi tadi.
"Sepertinya kamu bahagia sekali?" Tanya Bayu.
"Ya, ku rasa Intan sudah mulai menyukai kak Setya. Lihatlah dia tak berusaha menolak lagi tadi. Aku ikut senang rasanya. Semoga mereka segera bersama." Ucap Ifa sambil menutup mata seakan berdo'a. Bayu mengamati itu dengan senyuman. Ia sangat kagum dengan ketulusan Ifa.
"Kamu pulang naik apa?" Tanya Bayu.
"Bus."
"Aku antar saja. Rumah kita juga searah." Ucap Bayu lembut.
"Ta-Tapi ..."
"Tidak ada penolakan." Seru Bayu, sambil menarik tangan Ifa menuju ke sepeda motornya berada.
Disisi lain, Intan tengah kebingungan untuk menaiki sepeda Setya seperti yang dikatakan Toni. Kondisi kakinya membuat Intan tak leluasa bergerak. Namun, dengan sigap Setya mengangkat Intan dan mendudukkannya di sepeda motornya.
"Ahh." Teriak Intan terkejut dengan yang dilakukan Setya. Ia memegang bahu Setya dengan kuat saat Setya mengangkat tubuhnya.
"Maaf ... Sekarang sudah beres." Ucap Setya setelah mendudukkan Intan di sepeda motornya. Kemudian, ia dengan perlahan juga mulai menaiki sepeda motornya sendiri.
Bayu dan Ifa yang melihat apa yang dilakukan Setya pun hanya tersenyum dibuatnya.
"Apa kamu mau aku angkat juga?" Goda Bayu.
"Tak perlu, terima kasih. Kaki ku baik-baik saja." Seru Ifa dengan pipi yang mulai memerah. Bayu tersenyum puas melihat respon itu dari Ifa.
"Kami pulang duluan." Pamit Setya.
"Bagaimana dengan kamu Fa?" Tanya Intan.
"Aku akan mengantarkannya. Jangan khawatir, aku akan pastikan dia pulang sampai di rumah dengan selamat." Jawab Toni percaya diri.
"Baiklah. Terima kasih kak. Tolong jaga Ifa." Ucap Intan, sebelum Setya mulai menarik gas meninggalkan sekolah.
Setelah Setya dan Intan pergi, Bayu dan Ifa pun juga menyusul untuk pulang meninggalkan sekolah. Di sudut sekolah, ternyata Indah dan Rini mengawasi mereka dari tadi. Tatapan benci, marah dan cemburu terpancar dari sorot mata dan ekpresi mereka.
"Apa hubungan mereka dengan Setya dan Bayu?!" Seru Rini penuh tanda tanya.
"Apa bagusnya mereka, hah? Aku jauh lebih cantik daripada dia!!" Teriak Indah marah.
.
.
.
Bersambung..
krna ak gak suka dgn perselingkuhan
dtunggu updatenya ka
ak pikir kmu gak kan nulis cerita lagi sekian lama menghilang hemm...
ywdh semangat bwt cerita baru yg pastinya seru juga yaaa semangat
aku tunggu ka hehe