Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.
Seketika rasa sakit kembali menghujam dalam diri Violet.
Bahkan sekarang ini Violet merasa dirinya begitu konyol.
"Ya Tuhan, apakah seperti ini model laki-laki yang selama ini aku cintai dengan tulus," gumam Violet dalam hatinya dengan perasaan rumit.
Violet merasa jika semua yang dikatakan oleh Romeo benar, dirinya terlalu bodoh.
Romeo said : Gampang dibodohi dengan cinta.
"Dengar Violet, sekarang ini Kak Felix itu milikku. Harusnya kamu itu sadar diri, gak usah ngejar-ngejar dia lagi. Kamu itu sudah miskin, sudah pernah melahirkan. Kenapa kamu itu masih sombong," kata Marina dengan suara pedas yang memekakkan telinga.
Violet memandang Marina dengan tatapan mata berkaca-kaca.
Mengingat kebersamaannya bersama Marina sejak SMP, ternyata kebaikan Marina hanya semu.
Violet mencoba memperbaiki situasi, matanya berkaca-kaca memandang Marina yang kini bersikap dingin.
"Marina kenapa kamu asal menuduhku, ingat waktu kita berbagi segalanya, buku, makanan, bahkan rahasia paling dalam?" suaranya bergetar, mencoba mengingatkan Marina tentang persahabatan mereka yang dulu begitu erat.
Namun Marina tetap tak bergeming, matanya menatap tajam ke arah Violet, seolah menembus kalbu.
"Itu dulu ... Sebenarnya persahabatan itu aku lakukan dengan terpaksa. Karena kau itu pintar, selama ini hanya kau saja menganggap ku sahabat!" suara Marina meninggi, bahkan Violet seperti sudah tidak mengenali sahabatnya itu.
Violet memandang Marina penuh kekecewaan.
"Semua orang disekolah ini tidak ada yang mau berteman denganmu selain aku. Karena aku akui, aku bodoh. Membutuhkan nilai banyak, hanya berteman denganmu. Aku gak perlu susah- susah."
Violet merasakan dada nya sesak, napasnya tercekat. Dia menggigit bibir, berusaha keras menahan air mata yang hendak jatuh.
"Marina, kenapa kamu berubah begini? Ucapanmu pasti bohong kan! Agar aku menjauh dari Felix, tenang aku pasti menjauh darinya tapi tolong!"
"Felix hanya pemain wanita, dia itu ..." Ucapan Violet terhenti.
"Cukup, jangan pernah jelek-jelekin Felix di depanku. Kamulah yang busuk, miskin gak tau diri, berani masuk ke dalam kamar Felix dan naik ke ranjangnya. Kamu berharap setelah melahirkan, kamu bisa menggunakan anakmu untkm mengancam Felix, agar membuat mu memiliki status sosial seperti ku dan hidup enak bergelimpangan harta. Gak usah mimpi, kami orang kaya walaupun tidak sepintar dirimu, tapi kami punya perhitungan. Akhirnya kamu yang rugi, kamu pantas mendapatkan karma itu," jelas Marina dengan tuduhan yang tidak mendasar.
Violet hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Air mata terus luruh dari kedua kelopak matanya.
Violet pikir selama ini Marina tulus, ternyata dia juga sama saja.
Rasa sakit menghujam dirinya. Marina masih terus mengatainya dengan kata-kata buruk.
Violet limbung.
"Apa yang kalian semua lakukan dengan merundungnya? Pergi kalian dari sini," kata Yohan Draken seraya membantu Violet yang gemetar ketakutan berdiri.
Kedua bola mata Felix memicing tajam, Yohan Draken adalah murid laki-laki yang selama ini selalu mengejar Violet, tapi Violet selalu menghindar karena begitu mencintai Felix.
"Violet, kamu gak papa."
"Makasih banyak Yohan," sahut Violet lembut seraya menatap Yohan, interaksi itu membuat kedua bola mata Felix membulat sempurna.
"Bukankah selama ini aku sudah melarang mu untuk dekat dengan laki-laki selain aku, apa jangan-jangan orang yang menampung mu adalah Yohan," gumam Felix dalam hatinya.
Mengingat kekuasaan dan kekayaan keluarga Draken juga kuat dikota ini.
"Aku akan memberikan pelajaran padamu Violet," imbuh Felix.
Tak berselang lama ibu guru Anita datang ...
"Apa yang terjadi?" teriakan Bu Anita membuat semua murid yang berdiri disana bergidik.
Karena Anita memang terkenal sebagai guru killer yang sangat disiplin, bahkan dia tidak menerima suap apapun.
Anita begitu berani, karena di belakangnya ada Romeo.
Romeo sebagai kepala keluarga Handoyo dan pemilik saham terbesar di SMA Taruna.
Romeo tahu jika Anita itu sosok yang jujur, jadi selalu percaya dengan apa yang Anita katakan atau apa yang menjadi keputusan Anita.
Saat Anita berjalan mendekat, tiba-tiba Violet malah pingsan.
Yohan dan Felix sama-sama sana ingin menggendong Violet.
Keduanya saling menjauhkan tangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Anita.
Tatapan tajamnya menoleh ke arah Felix dan Marina bergantian.
Jika Marina nampak ketakutan, hal berbeda ditunjukkan oleh Felix.
Dia terlihat tidak peduli sama sekali.
Felix menjauhkan tangan Yohan, sementara Yohan juga menjauhkan tangan Felix dari tubuh Violet.
Keduanya saling menatap dengan tatapan yang terlihat sengit.
"Yohan, sekarang bantu ibu bawa Violet ke UKS!" Titah Anita.
Yohan menoleh ke arah Anita, lalu menjawab disertai anggukan.
Saat kembali menoleh ke arah Violet, ternyata tubuh Violet sudah diangkat oleh Felix.
"Felix!!" teriak Marina marah.
Sementara Felix tampak acuh dan tidak peduli, dia malah berjalan cepat meninggalkan calon tunangannya itu.
Tanpa sadar kedua tangan Marina terkepal, sementara Yohan sendiri nampak membereskan beberapa perlengkapan menulis milik Violet atas perintah Anita.
"Nanti kamu antarkan tas Violet ke UKS, tapi sebelum itu ibu minta tolong!" Anita nampak mengambil uang dari dalam dompet miliknya.
"Baik, Bu jangan sungkan! Tapi lebih baik simpan saja uangnya. Saya bukanlah orang yang kekurangan uang," kata Yohan sopan.
Anita menarik kembali tangannya.
Siapa yang tidak tahu Yohan dari keluarga Draken?
Semua guru disini tahu tentang Yohan, tapi semuanya tutup mulut tentang identitas asli Yohan berserta umurnya.
"Tolong belikan Violet teh hangat sama makanan manis di kantin! Ibu tahu, sekarang ini tubuhnya masih lemah pasca melahirkan."
Yohan membalas dengan anggukan, lalu dia berbalik dengan membawa tas violet keluar dari ruangan itu.
Saat keluar, beberapa orang yang menguping dari balik pintu ada yang terjatuh.
Tapi Yohan tidak peduli, dia malah menatap bawahan Felix dan Marina dengan tatapan dingin penuh permusuhan.
Yohan sangat mencintai Violet dengan sangat tulus, tapi walaupun bersedia menerima Violet apa adanya.
Rasa sakit tetap saja menghampiri Yohan, jika ada yang membahas perihal Violet yang pernah melahirkan.
"Dan kamu Marina, ayo ikut ibu ke ruang guru! Ibu tahu, kamu tadi menampar Violet-kan!"
Ucapan Anita langsung membuat Marina menggeleng- gelengkan kepalanya.
'Bagaimana Bu Anita bisa tahu?'
Sebuah pertanyaan mengganjal didalam benak Marina.