Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — TAMU YANG DATANG TIBA-TIBA
BAB 16 — TAMU YANG DATANG TIBA-TIBA
Beifeng Yao masih duduk santai di atas sebuah batu besar. Kakinya menggantung bebas di udara, sesekali digoyangkan ke depan dan belakang untuk mengusir bosan.
Di tangan kanannya, ada sebuah pisang yang sudah setengah terkupas. Bagi Beifeng Yao, pisang adalah salah satu buah paling normal yang bisa dia makan di tempat ini, mengingat buah itu tumbuh langsung dari taman surga. Entah kenapa, dari sekian banyak buah aneh dan ajaib yang pernah dia temui sepanjang hidupnya, pisang tetap menjadi salah satu makanan favorit yang tak pernah membosankan.
Sambil pelan-pelan mengupas sisa kulitnya, Beifeng Yao memperhatikan keributan yang terjadi tidak jauh dari tempatnya duduk. Di lembah bawah sana, sekawanan siluman serigala sedang terlibat pertarungan sengit dengan para siluman tikus. Suara geraman buas, teriakan marah, dan dentuman benda-benda yang hancur terdengar bersahutan memecah keheningan.
bukannya takut atau terganggu, Beifeng Yao malah tertawa geli melihat pemandangan itu. "Haha... mereka jelek sekali," gumamnya sendiri.
Dia kemudian menggigit pisangnya dengan santai. Matanya tetap tertuju pada pertarungan di bawah sana seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi. Ketika salah satu siluman serigala terlempar akibat pukulan lawan dan jatuh bergedebuk ke tanah, Beifeng Yao langsung tertawa lebih keras.
"Hahaha!"
Tiba-tiba, embusan angin yang cukup kencang melewati tempatnya duduk. Rambut panjang Beifeng Yao bergerak berantakan tertiup angin. Namun, dia sama sekali tidak mempedulikannya. Kakinya masih saja bergoyang santai menikmati tontonan gratis di bawah sana.
Sampai akhirnya, sebuah suara berat terdengar dari arah belakangnya.
"Apa yang kau lihat, Utara?"
Beifeng Yao tidak langsung menoleh. Dia sudah mengenali pemilik suara itu. "Itu," jawabnya singkat sambil menunjuk ke arah keributan di bawah sana menggunakan pisang yang masih dipegangnya. "Tikus dan serigala masih saja berkelahi."
Suaranya terdengar sangat santai, seolah pertarungan hidup dan mati puluhan siluman di bawah sana hanyalah kejadian biasa yang tidak penting. Dia bahkan kembali menggigit pisangnya dengan tenang. Namun, beberapa detik kemudian, Beifeng Yao perlahan-lahan menolehkan kepalanya. Senyum jenaka masih menghiasi wajahnya.
Tapi kemudian, senyum itu mendadak hilang. Wajahnya mendadak kaku. Dia terdiam seribu bahasa.
Pluk.
Pisang di genggamannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah. Beifeng Yao menatap tidak percaya pada sosok yang kini berdiri tegak di belakangnya.
"Azazil..."
Azazil yang ditatap seperti itu hanya mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Kaget lihat aku?"
Beifeng Yao masih terpaku menatap tamunya selama beberapa detik. Kemudian, dia mendengus kecil dan membuang muka. "Dih, datang-datang marah."
"Aku tidak marah," balas Azazil datar.
"Kau jelas-jelas marah."
"Aku hanya bertanya."
"Caramu bertanya seperti orang marah," sahut Beifeng Yao tidak mau kalah.
Azazil hanya bisa menghela napas panjang menghadapi tingkahnya. Sementara itu, perhatian Beifeng Yao justru teralih ke bawah batu. Dia melihat pisangnya yang kini tergeletak pasrah di atas tanah.
Dengan terburu-buru dia turun dari batu besar itu, mengambil pisang tersebut, lalu memeriksa bagian yang sedikit kotor terkena tanah. Wajahnya langsung berubah cemberut dan kesal.
"Pisangku..." ratapnya.
Azazil menatap makhluk di depannya dengan pandangan tidak percaya. "Yang kau pikirkan cuma pisang?"
Beifeng Yao mendongak dan mengangguk mantap. "Iya."
Azazil memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Utara..."
"Hm?"
"Kau masih sama saja."
Tanpa rasa bersalah, Beifeng Yao kembali memanjat dan duduk di atas batu besar. "Memangnya aku harus berubah?"
Azazil tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru ikut melangkah maju dan duduk di samping Utara. Keduanya kemudian sama-sama melemparkan pandangan ke arah pertarungan para siluman di lembah. Utara masih sedikit sewot dan cemberut karena pisang kesukaannya jatuh.
"Sayang sekali," gumamnya pelan sambil melirik nanar ke arah pisang yang tadi dia ambil.
Azazil sama sekali tidak mempedulikan gerutuannya. Tatapannya lurus dan tajam tertuju ke bawah. Para siluman serigala dan siluman tikus masih saja saling serang dengan brutal.
Beberapa dari mereka sudah berubah ke wujud binatang asli mereka yang mengerikan, sementara yang lain masih menggunakan wujud setengah manusia.
Azazil memperhatikan pergerakan mereka cukup lama.
"Menarik," ucapnya tiba-tiba.
Utara langsung menolehkan wajahnya dengan cepat. "Apa yang menarik?"
Azazil tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya justru terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman misterius. "Bukan apa-apa." Dia kembali menatap ke arah keributan di bawah. "Cuma aku tahu harus berbuat apa."
Utara mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Jangan-jangan kau mau ikut permainan mereka, ya?"
Azazil meliriknya sekilas. "Bisa jadi."
Mendengar hal itu, Utara langsung memasang wajah penasaran yang amat sangat. "Untuk apa?"
Azazil tersenyum kecil. "Ini pasti seru."
"Seru bagaimana?" selidik Utara lagi.
Azazil tidak langsung menjawab rasa penasaran itu.
Tatapannya masih terkunci pada para siluman yang sedang baku hantam. "Untuk masalah manusia."
Utara menjadi semakin bingung dibuatnya. "Masalah manusia?"
Azazil mengangguk pelan.
"Iya."
Utara memiringkan kepalanya, mencoba mencerna kata-kata itu. "Aku tidak mengerti."
"Memang belum waktunya kau mengerti."
"Dih," gerutu Utara sambil mencibirkan bibirnya. Dia kembali mengayun-ayunkan kakinya di pinggir batu. "Kau kalau bicara suka bikin penasaran."
Azazil tertawa kecil mendengar protes itu. "Bagus."
"Bagus apanya?"
"Berarti rencanaku berhasil."
Utara langsung memicingkan mata dan menatapnya penuh curiga. "Jangan macam-macam."
Azazil hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Beberapa saat kemudian, Azazil berdiri dari duduknya. "Aku turun sebentar."
Utara menoleh mendongak. "Mau ke mana?"
"Ikut bermain."
"Jangan bikin masalah," pesan Utara.
Azazil hanya tersenyum penuh arti. "Tidak janji."
Sebelum Utara sempat membalas kalimat itu, tubuh Azazil sudah memudar dan menghilang dari atas batu. Dalam sekejap mata, dia sudah muncul kembali di tengah-tengah keributan di lembah bawah. Namun kali ini penampilannya sudah berubah total; dia menyamar menjadi salah satu siluman dari Klan Serigala.
Utara yang masih duduk santai di atas batu hanya bisa memandang dari kejauhan. "Hm..." gumamnya pelan. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan temannya itu. Yang p penting baginya adalah Azazil tidak mengganggu.
Sementara itu di bawah sana, Azazil mulai bergerak lincah di antara kerumunan para siluman serigala. Dia tidak langsung ikut menyerang lawan. Sesekali dia hanya berpura-pura ikut berteriak garang, lalu melangkah mundur dengan cerdik ketika ada siluman tikus yang datang menyerang.
Di sela-sela kekacauan itu, Azazil mendekati salah satu siluman serigala. "Hei! Kalian sebenarnya bertarung karena apa?" tanya Azazil memprovokasi.
Salah satu siluman serigala yang sedang sibuk melayangkan pukulan ke arah lawannya menjawab dengan nada sangat kesal, "Karena mereka menghalangi pencarian kami!"
"Pencarian apa?" kejar Azazil lagi.
Siluman serigala itu menghentikan gerakannya sebentar untuk bernapas.
"Mencari seorang wanita!"
Azazil mengerutkan keningnya. Rencananya membuahkan hasil. "Seorang wanita?"
"Iya!"
Tiba-tiba, seorang siluman tikus yang kebetulan mendengar percakapan mereka langsung ikut berteriak lantang, "Siluman wanita misterius!"
Mendengar hal itu, Azazil mulai memperhatikan situasi dengan lebih serius. "Siluman wanita misterius?"
"Benar!" jawab siluman serigala tadi. "Kami diperintahkan untuk mencarinya!"
"Siapa yang memerintahkan?" tanya Azazil menyelidik.
"Pemimpin kami!"
Azazil mengangguk-angguk pelan. Jadi ini alasan sebenarnya mengapa mereka berkelahi di tempat ini. Para siluman serigala ternyata bukan sekadar sedang memperluas wilayah kekuasaan mereka. Mereka sedang menjalankan misi besar untuk mencari seseorang. Seorang siluman wanita misterius.
Azazil menolehkan kepalanya ke arah atas bukit. Dari kejauhan, tampak Utara masih saja duduk santai di atas batu besar sambil menggoyangkan kakinya tanpa beban. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa ciri-ciri dirinya bahkan belum sempat disebut oleh para siluman ini.
Azazil tersenyum tipis. "Menarik." Dia kemudian kembali bertanya kepada siluman serigala di dekatnya. "Seperti apa wanita yang kalian cari?"
"Entahlah. Kami hanya tahu dari sebuah lukisan."
"Lukisan?"
"Ya. Pemimpin kami memilikinya."
Informasi baru ini membuat Azazil semakin tertarik.
Namun sebelum dia sempat mengorek informasi lebih jauh, seekor siluman tikus tiba-tiba melompat dan menyerangnya dari samping.
"Hei! Jangan mengobrol saat bertarung!" teriak siluman tikus itu garang.
Buk!
Dengan gerakan kilat, Azazil menahan pukulan mentah itu hanya dengan satu tangan. Kemudian, dia menatap siluman tikus tersebut dengan wajah sedingin es tanpa ekspresi.
"Aku sedang mencari informasi," ucap Azazil pelan.
Siluman tikus itu seketika bengong dan melongo melihat serangannya ditahan dengan begitu mudah.
"Informasi apa?"
Azazil menyunggingkan senyuman tipis. "Tidak penting."
Tanpa membuang waktu, Azazil kemudian mendorong tubuh siluman tikus itu dengan satu sentakan kuat hingga terlempar beberapa meter ke belakang dan menabrak tanah.
Dari atas batu besar di bukit, Utara yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Katanya cuma mau mencari informasi," gumamnya sendiri.
Dia kembali mengayunkan kakinya yang menggantung. "Kenapa malah ikut berkelahi?"
Sementara itu di arena pertempuran, Azazil merasa sudah mendapatkan semua potongan informasi yang dia butuhkan.
Seorang wanita misterius, sebuah lukisan petunjuk, dan seluruh Klan Serigala Perak yang kini sedang bergerak memburunya.
Azazil menatap ke arah langit luas. Senyum di wajahnya kini terpahat semakin jelas dan tajam. "Jadi... ini masalahnya."
Di atas bukit sana, Utara masih menikmati semilir angin dengan santai. Dia benar-benar belum menyadari bahwa seluruh keributan besar para siluman ini perlahan-lahan mulai mengarah dan mengincar dirinya.
Dan Azazil? Sang tamu misterius itu justru baru saja menemukan mainan baru sesuatu yang sangat sempurna untuk menyempurnakan rencana besarnya terhadap dunia manusia.