NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:957
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Arghh!!"

 

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang kesakitan. Sera langsung menoleh ke arahnya, begitu pun dengan Sean—sehingga mereka berdua belum sempat saling bertatap muka.

Suasana pernikahan yang tadinya tenang seketika menjadi heboh.

"Apa yang terjadi?" tanya Sera sembari menghampiri wanita itu.

"Sepertinya saya akan melahirkan..." Jawabnya menahan rasa sakit.

"Melahirkan?!" Sera segera berjongkok untuk memeriksa wanita tersebut.

Sean juga ikut menghampiri wanita yang baru saja menjadi istrinya itu. Pria itu berdiri tepat di belakang Sera, namun belum sempat melihat wajah wanita tersebut.

Sera menunduk fokus memeriksa, sehingga Sean tidak bisa melihat wajah istrinya karena tertutup jilbab yang dikenakan Sera saat upacara.

Tak lama kemudian, wanita itu kembali berteriak. Tangan Sera tiba-tiba basah oleh cairan.

"Ya ampun... Ketubannya sudah pecah!" seru Sera. "Cepat, telepon ambulans!" teriaknya minta tolong.

"Aduh... Sakit sekali... Tolong aku..."

"Sabar ya, Bu. Tenang. Tarik napas, lalu hembuskan secara pelan-pelan. Lakukan terus ya," Sera menenangkan wanita tersebut.

"Untung ada Dokter Sera di sini."

"Kok mau melahirkan masih di rumah? Sudah tahu akan melahirkan kenapa tidak segera ke rumah sakit saja," terdengar bisik-bisik warga yang berkumpul di sekitar mereka.

"Tolong Bapak, Ibu... Mohon beri ruang sedikit pada Ibu ini," ucap Sera. Ia sama sekali tidak peduli bahwa gaun pengantin putihnya kini sudah bercampur dengan cairan ketuban dan darah.

Tak lama kemudian, ambulans tiba. Sera ikut membantu mengangkat wanita tersebut. Tim medis segera memindahkan ibu itu ke dalam ambulans.

"Ini nanti yang mau tangani siapa?" tanya salah satu petugas.

"Tim rumah sakit. Lantas siapa lagi?" jawab Sera dengan tegas.

"Aduh... Saya ragu, Bu. Karena hari ini banyak sekali ibu yang melahirkan di rumah sakit. Dokter di sana sedang sibuk menangani banyak pasien, mungkin tidak ada tenaga medis yang tersisa untuk ibu ini. Apalagi ibu ini sepertinya akan melahirkan sebentar lagi," ujar perawat dengan cemas.

Sera langsung menjawab, "Saya akan menangani."

"Tunggu... Apa ibu mampu menangani persalinan pasien?" tanya perawat itu ragu.

"Tentu saja dia mampu! Dia bukan sekadar dokter, tapi juga dokter senior di rumah sakit besar di kota!" sahut salah satu warga yang berdiri di dekat mereka, merasa kesal karena ibu hamil itu sudah mau melahirkan tapi masih saja tim medis banyak sekali pertanyaannya.

"Aduh... Rasanya bayi ini sudah mau keluar..." seru wanita tersebut lagi.

"Baiklah, kalau begitu kita berangkat!"

Sama sekali tidak peduli bahwa ia belum sempat bertukar cincin dengan suaminya, Sera segera naik ke dalam ambulans dan meninggalkan Sean yang hanya bisa berdiri diam menatap kepergiannya.

Akhirnya Buk Sumi dan beberapa tetangga lainnya tetap melanjutkan acara sibuk melayani para tamu hingga acara selesai.

Menjelang sore hari, Sera belum juga kembali. Nenek Susi menghampiri Sean yang sedang duduk di ruang tengah, di mana para tamu sudah bubar semua.

"Sean, masuklah ke kamar istrimu untuk beristirahat," ujar Nenek Susi.

"Nanti saja, Nek." jawab Sean sambil tersenyum tipis.

"Benar, pergilah istirahat. Pasti sebentar lagi istrimu pulang," sahut Adiguna yang melihat putranya hanya duduk diam dengan wajah datar.

Adiguna bisa melihat bahwa putranya hanya terpaksa menjalani pernikahan karena keinginannya, namun ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.

Meskipun sempat terlintas dipikirannya: Apakah putranya benar-benar menyukai lawan jenis? Namun ia yakin Sean tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Lagipula Sean dulu sudah menolak anggapan tersebut secara tegas, jadi tidak ada yang perlu diragukan lagi.

 

"Maafkan cucu Nenek ya, Sean. Saat upacara tadi, dia malah memilih membantu orang lain dan meninggalkanmu di sini." Nenek tampak canggung tidak enak dengan menantu cucunya itu.

"Tidak apa-apa, Nek. Saya bisa memakluminya," jawab Sean dengan tenang.

"Oh ya... Kamu sudah melihat wajah istrimu belum, Sean?" tanya Nenek Susi.

Sean terdiam sejenak, karena sebenarnya ia belum sempat melihat wajah wanita yang baru saja menjadi istrinya. Ia menggeleng pelan.

"Belum, Nek."

"Tidak apa-apa. Ayo, Nenek akan mengantarmu ke kamarnya, dan Nenek akan menunjukkkan fotonya," ajak Nenek Susi semangat.

Adiguna di sampingnya memberi isyarat agar putranya mengikuti keinginan Nenek Susi.

Sean menarik napas panjang, lalu mengikuti langkah wanita tua itu masuk ke dalam kamar Sera.

Sebenarnya, secara pribadi Adiguna sendiri belum pernah melihat wajah sosok menantunya itu.

 

Di rumah sakit, Sera sudah selesai membantu ibu tersebut melahirkan dengan selamat.

Namun karena ia belum siap bertemu dengan suaminya, ia memilih tidak segera pulang.

Ia masih duduk di ruang tunggu, termenung mencari cara agar bisa menghindari suaminya dan tidak dibawa pulang ke kediaman pria yang bahkan namanya pun belum dia tahu.

Sera memegang ponselnya dengan bingung. Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus berbuat apa... Tuhan, tolong tunjukkan jalan untukku.

Orang-orang yang lewat sesekali meliriknya, karena dia masih mengenakan gaun pengantin putih namun duduk sendirian dengan wajah cemas.

Sera membuka ponsel dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari kakaknya. Astaga... Kakak menelponku sejak tadi. Ia mencoba menelepon kembali, namun tidak ada yang mengangkat.

Kakak ke mana ya? batinnya cemas. Ia terus mencoba menghubungi, namun tetap tidak terjawab. Perasaannya mulai tidak enak, akhirnya ia memutuskan menelepon ke rumah.

Seorang pembantu mengangkat telepon.

"Halo, Non Sera?"

"Iya, Bi. Kakak ada di rumah tidak?"

"Oh, Non Sarah... Non sejak pagi tadi sudah keluar dan belum pernah pulang."

"Belum pulang? Tadi dia ada bilang mau kemana nggak?"

"Tadi katanya mau melamar pekerjaan, Non,"

Perasaannya semakin cemas. Ia sangat khawatir—takut hal buruk menimpa kakaknya, terutama takut jika Sarah bertemu dengan Adrian lagi.

 

"Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba menghubungi Kakak dulu ya."

Panggilan pun selesai dan dia langsung menghubungi nomor sang kakak. Sekali lagi, panggilannya tidak diangkat.

Tidak... Aku harus pulang ke kota sekarang juga. Aku merasa ada sesuatu yang buruk telah menimpa Kakak.

Saat hendak keluar dari rumah sakit, pikirannya kembali teringat pada sosok suaminya yang masih menunggunya di rumah nenek.

Ah, sudahlah. Nanti saja aku beri alasan. Yang terpenting sekarang aku mau cari kakak! Gumamnya.

Sera segera memesan Grab, tak peduli dengan jumlah bayaran yang mungkin jauh lebih besar jika dibandingkan naik bus.

 

Di rumah nenek, Sean sudah masuk ke kamar istrinya. Pria itu mengamati ruangan yang sangat rapi dan teratur. Buku-buku yang sangat banyak tersusun rapi di satu dinding, sepertinya istrinya sangat suka membaca—koleksi buku itu dikumpulkan sejak masa sekolah hingga ia menjadi dokter seperti sekarang.

"Kamu lihat kan? Dia sangat rajin dan suka belajar," ujar Nenek Susi dengan bangga.

Sean juga memperhatikan kasur, dinding, dan setiap yang ada dikamar sederhana itu sangat bersih.

Nenek Susi mengambil sebuah foto yang berada di atas meja kecil dekat kasur.

"Ini foto istrimu. Yang satu rambutnya lurus, namanya Sarah Slavanya. Sedangkan yang rambutnya keriting bergelombang adalah istrimu, namanya Sera Slavina."

Sean melihat foto itu dan langsung terkejut.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!