Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tiga tahun berlalu di gubuk kecil di tepi Hutan Qingluo.
Desa Qingluo bukan tempat yang istimewa. Penduduknya sebagian besar petani dan pemburu, hidup dari hasil ladang gandum dan buruan hutan yang semakin hari semakin sulit didapat. Tidak ada kultivator yang tinggal di sana. Tidak ada sekte yang mengawasi wilayah itu secara langsung. Hanya kehidupan sederhana yang berjalan sesuai musim.
Bagi penduduk desa, Mo Tianxia adalah anak yang tenang. Terlalu tenang, menurut sebagian dari mereka.
Anak-anak seusianya menangis ketika terjatuh. Mo Tianxia hanya melihat lukanya, mengukur seberapa dalam, lalu berdiri kembali tanpa suara.
Anak-anak seusianya takut pada gelap. Mo Tianxia justru sering duduk di depan gubuk pada malam hari, menatap bintang-bintang dengan ekspresi yang sulit dibaca oleh orang dewasa sekalipun.
Su Wan pernah bertanya suatu malam, "Tianxia, kenapa kau suka menatap langit?"
Mo Tianxia kecil menoleh, tersenyum kecil—senyuman yang menurut Su Wan terlihat terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"Karena langit tidak berubah, Ibu," jawabnya. "Aku suka hal-hal yang tidak berubah."
Su Wan tidak sepenuhnya mengerti maksud jawaban itu, tetapi ia membiarkannya. Anaknya memang berbeda. Namun ia berbeda dengan cara yang baik—tidak pernah rewel, selalu membantu sebisanya, dan memiliki kesabaran yang jarang dimiliki anak-anak lain.
Yang tidak diketahui Su Wan, dan tidak akan pernah ia ketahui, adalah bahwa di balik mata anak kecil itu tersimpan ingatan tentang seribu dua ratus tahun kehidupan.
'Aneh,' pikir Mo Tianxia, mengamati tangannya sendiri yang masih terlalu kecil untuk memegang pisau dapur dengan benar. 'Aku pernah menggenggam pedang yang bisa membelah gunung. Sekarang aku bahkan kesulitan memegang sendok.'
Ia tidak merasa kesal karenanya. Ia hanya merasa... geli. Seperti menonton lelucon yang hanya bisa ia mengerti sendiri.
Selama tiga tahun ini, ia sengaja tidak menunjukkan apa pun yang mencurigakan. Ia bergerak selambat anak seusianya. Ia berbicara sesederhana anak seusianya, meski kadang ia harus menahan diri agar tidak menggunakan kosakata yang terlalu rumit untuk anak berusia tiga tahun.
Namun ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Matanya.
Ketika Mo Tianxia mengamati sesuatu—cara api membakar kayu, cara air mengalir di sungai kecil dekat desa, cara burung terbang melawan arah angin—matanya berubah. Tidak ada rasa takjub kekanak-kanakan di sana. Yang ada hanyalah analisis yang tenang, seolah ia sedang membaca ulang sesuatu yang sudah ia pahami sejak lama.
Chen—seorang tabib tua yang sesekali mampir ke desa untuk mengobati penduduk—pernah memperhatikan hal ini ketika mengunjungi keluarga Mo Feng.
Ia menatap mata bocah kecil itu cukup lama, lalu menggelengkan kepala sendiri.
"Bukan apa-apa," gumamnya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Hanya anak yang cerdas."
Ia tidak tahu betapa dekatnya ia dengan kebenaran—dan betapa jauhnya juga.
Mo Tianxia mendengar gumaman itu dari seberang ruangan. Ia hanya tersenyum kecil, kembali menundukkan kepala ke arah mainan kayu sederhana yang sedang ia mainkan, berpura-pura tidak mendengar apa pun.
'Sedikit lagi,' pikirnya. 'Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.'
Ribuan tahun kesabaran seorang kultivator di puncak dunia, kini digunakan untuk menunggu tubuhnya sendiri tumbuh cukup besar untuk memegang pedang kayu dengan benar.
Namun entah kenapa, ia tidak keberatan.