Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan
1 Hari Berlalu...
Pukul 10:00 Pagi.
Akira sedang bersandar di tembok sambil berdiri melihat Kisaragi dan Lumina yang sedang berlatih.
Namun, semakin ia melihat mereka berdua ada sesuatu yang dirasakan Akira.
"Kenapa... aku bisa tau serangannya dengan jelas? Padahal aku tidak tau cara bela diri," pikirnya.
Akira mengamati Kisaragi yang sedang berduel dengan tangan kosong melawan Lumina.
Di setiap gerakan Lumina, Akira merasa bisa memprediksinya dan tau cara membalasnya.
"Apa aku hanya sok bisa ya." gumamnya.
Ding...
[Skill Bifurcation meningkat 10% > 12%]
"Skill ini... Saat habis melawan iblis juga meningkat, tapi aku sekarang gak ngapa-ngapain—" gumamnya.
Akira terhenti karena teringat sesuatu.
"Tidak, kalau dipikir lagi, iblis itu gak mati, dan notifnya muncul saat aku bicara sama Nako. Apa skill ini ada hubungannya dengan mereka ya." Akira menatap ke arah Lumina dengan perasaan penasaran akan sesuatu.
"Daripada hanya diam, kurasa teoriku harus dicoba," gumamnya.
Akira berjalan ke arah Akira yang sedang berlatih tanding, saat sudah dekat, dia memanggil Lumina.
Lumina yang dipanggil pun berhenti berlatih tanding dengan Kisaragi.
"Ada apa?"
"Maaf mengganggu waktu latihannya, tapi apa aku boleh duel sekali denganmu?"
"Seorang Mage mau duel tangan kosong dengan Knight?!" pikir Kisaragi.
"Eh?! ta-tapi..." jawab Lumina khawatir.
"Kalau aku terluka jangan dipermasalahkan, itu salahku sendiri." Akira menatap ke arah Kisagi, "Apa kamu keberatan?"
"Ti-tidak kok, jika hanya sebentar kurasa tidak masalah."
"Terimakasih, kalau gitu..."
Akira dan Lumina pun saling berhadapan sambil memasang kuda-kuda, di tengah-tengah mereka ada Kisaragi yang menjadi wasit.
Kisaragi mengangkat tangannya dan berkata,
"Dalam hitungan, 3... 2... 1!!"
Begitu tangannya turun mereka berdua masih diam tidak bergerak, Kisaragi yang melihatnya hanya bisa kebingungan.
"Aku tau dia akan membatasi kekuatannya, tapi..."
FWOOSSHH!
Lumina melesat maju dengan tangan mengelap siap memukul dengan tangan kanannya.
Akira dengan sigap menghidari serangannya ke samping dan mencoba balas memukul.
BAK!
Pukulan Akira di tahan dengan pergelangan Tangan Lumina.
"Kaki."
Akira menyadari Lumina akan mengincar Kakinya, dengan reflek ia mencoba menendang duluan, namun Lumina sadar dan langsung mundur.
Mereka berdua pun saling bertatapan dalam diam.
"A-apa ini?! Kenapa mereka berdua terlihat setara?!" pikir Kisaragi.
Akira mencoba menyerang maju, dengan cepat serangannya di tahan dan Lumina membalas serangannya.
BAK! BAK!
"Kanan, Kiri, Atas."
Akira menangkis setiap pukulan Lumina dengan Akurat, sampai—
WOOSSHHH!
"Langsung dari depan?!" pikir Akira.
Pukulan Lumina mengarah langsung ke arah wajah Akira, namun belum sampai menyentuh wajahnya Lumina berhenti, mereka berdua pun hanya saling bertatapan dalam diam.
"Ha-hasilnya... seri!"
Di pandangan Kisaragi dia melihat pukulan Lumina yang berhenti tepat di wajah Akira dan Kaki Akira yang berhenti tepat di sebelah Lumina.
Lumina dengan cepat menurunkan tangannya dan sedikit mundur.
"Ma-maaf saya kebablasan." tanpa sadar Lumina berbicara formal kembali pada Akira.
"Tidak apa-apa, lalu terimakasih juga untuk waktunya, Lumina, Kisaragi, aku pergi ke dalam dulu."
"Ah iya." jawab Kisaragi sambil melihat Akira yang perlahan semakin jauh dan masuk ke dalam Rumah.
Kisaragi mengalihkan perhatiannya dan melihat Lumina.
"Kalau begitu, apa bisa kita lanjut—"
Kisaragi berhenti berbicara ketika melihat Lumina seperti diam mematung.
"Kak Lumina?"
Lumina yang sadar di panggil, langsung bergerak kembali dan menjawab,
"Oh iya, ayo kita lanjutkan."
"Kenapa jantungku berdetak kencang lagi? apa luka yang dulu belum pulih sepenuhnya?" pikir Lumina.
......................
Disisi lain, Akira yang sudah masuk ke dalam rumah, melihat sistem yang sedari tadi ada didepannya.
[Skill Bifurcation Meningkat 12% > 17%]
"Sepertinya teoriku benar, tapi... apa penyebabnya perlu suatu hal khusus." pikirnya.
......................
2 Hari Semenjak Pelatihan Kisaragi dan Amane...
Pukul 02:00 Siang Hari.
“Huahh~ lelah sekali…” Amane menunduk dengan kedua tangannya yang memegang lutut.
“Namanya latihan pasti begitu.” ucap Nako.
BUK!
Suara adu tinju terdengar tak jauh dari mereka.
Suara itu dari Kisaragi dan Amane yang masih berlatih dengan tangan kosong.
Amane berdiri melihat ke arah Kisaragi sambil bergumam,
“Aku seperti tak pernah Lihat mereka beristirahat saat latihan.”
BRAK!
Kisaragi dijatuhkan oleh Lumina.
“Maaf.” ucap Lumina sambil mengulurkan tangannya.
“Kak Lumina benar-benar kuat ya.” Kisaragi memegang tangan Lumina lalu berdiri.
“Kau juga semakin kuat.”
Amane yang melihat Kisaragi, bergumam,
“Rasanya mereka sudah sangat terbiasa ya.”
“Kenapa kau gak memanggilku begitu juga?” ucap Nako dengan muka berseri-seri.
“Kalau Yumeno, kurasa cocoknya…” Perlahan Amane mendekati Nako.
“Adik kecil~” Amane mengelus kepala Nako sambil tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.
“Aku bukan adik kecil!” Nako menyingkirkan tangan Amane dari kepalanya.
“Ehh~ padahal kamu seimut ini, aku jadi ingin memelukmu deh.” Amane mencoba membuka lebar kedua tangannya sambil mencoba memeluk Nako.
Brak!
Nako menghindari pelukan Amane hingga Amane terjatuh.
“Aduh…” Amane bangun dan duduk di tanah, “Kenapa menghindar?”
“Mana mau aku!” Nako melipat tangannya sambil menghindari tatapan Amane.
“Ehh… sayang sekali~”
Nako melihat ke arah Amane lalu berkata,
“Daripada itu—” Nako tiba-tiba terdiam ketika melihat sesuatu di pipi Amane.
“Apa itu? Apa kamu terluka pas jatuh? coba kulihat.” Perlahan Nako mendekat ke arah Amane dan mencoba mengamatinya lebih jelas.
Belum sempat mengamatinya, Amane langsung berdiri dengan cepat dan menutupi pipinya.
“Ah i-ini hanya luka lecet, sepertinya aku terluka saat jatuh, tapi bukan salahmu kok.” ucapan Amane terdengar terburu buru seperti khawatir akan sesuatu.
“Mana tunjukan, aku mungkin bisa menyembuhkannya.” ucap Nako.
“Ti-tidak usah, aku akan mengobatinya di kamar, tunggu aku ya!” Amane berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nako yang masih kebingungan dengan tingkah laku Amane.
Tidak jauh dari situ Kisaragi yang sedang menyeka keringat dengan tangannya melihat Amane berlari masuk kedalam rumah.
“Dia kenapa?” gumamnya.
“Ada apa?” tanya Lumina.
“Bukan apa-apa, sebaiknya kita lanjut berlatih.”
......................
Disisi lain, Akira sedang duduk di sofa, sibuk menatap status sistemnya, lalu ia melihat Amane yang terburu-buru masuk,
“Kau kenapa?”
“Ti-tidak apa-apa, a-aku hanya ingin ke kamar sebentar.” Amane berjalan miring dan sedikit berkeringat sambil tersenyum panik melewati Akira.
“Kalau butuh sesuatu bilang aku saja.”
“Y-ya terimakasih, aku ke atas dulu.” Amane langsung bergegas ke atas dengan cepat.
Akira yang melihatnya hanya kebingungan sambil bergumam,
“Rasanya… dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”
Akira menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Tidak, aku tidak boleh asal berasumsi.”
......................
Hari Ketiga Latihan Kisaragi Dan Amane.
Pukul 03:00 Sore Hari.
Semuanya pada berkumpul di ruang Tamu untuk istirahat setelah latihan yang panjang.
“Bagaimana latihan kalian? Kisaragi, Amane.” tanya Akira.
“Aku berlatih banyak berkat Kak Lumina.” ucap Kisaragi.
“Aku juga! Yumeno mengajariku banyak hal.”
“Baguslah, lalu aku punya sesuatu untuk kalian semua.” Akira menatap sistem yang membuka Inventory lalu memencet sesuatu.
Seketika muncul banyak camilan di meja.
“Owah! Apa ini buat kami?” tanya Nako sambil menatap camilan di meja.
“Tentu, kalian bebas makan sepuasnya.”
Nako langsung mengambil beberapa camilan dan memakannya.
Lumina yang terlihat tidak enakan, mengambil juga.
“Wahh! terimakasih ya Yoshikawa.” Amane tersenyum dan mengambil salah satu camilan dengan tangannya.
Kisaragi yang berada di sebelahnya, seperti melihat sesuatu di tangan Amane yang sebelumnya tertutup lengan panjangnya sedikit terangkat, membuatnya sedikit terkejut namun tidak menunjukannya.
“Kanon…”
“Hemm?” Kanon yang sedang menyantap camilan melihat ke arah Kisaragi.
Kisaragi menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Bukan apa-apa.”
Amane yang mendengarnya hanya kebingungan dan lanjut memakan camilan.
......................
Pukul 08:00 malam hari.
Tok! tok!
“Kanon, apa kau didalam?” ucap Kisaragi.
Cklek!
Pintu terbuka dan memperlihatkan Amane.
“Ayame? Ada apa?”
“Boleh aku masuk ke dalam?”
“Eh? boleh sih.”
Setelah itu Kisaragi masuk dan duduk bersama dengan Amane di tepi kasur.
“Apa kamu menyembunyikan sesuatu?” tanya Kisaragi sambil menatap Amane.
Mendengar pertanyaan Kisaragi, membuatnya terkejut hingga membalas pertanyaannya dengan gagap,
“A-apa maksudmu?”
Kisaragi memegang tangan Amane yang memakai lengan panjang, lalu mengangkat lengan baju Amane sedikit.
Tidak ada yang aneh setelah mengangkat lengan bajunya, lalu Kisaragi mencoba memegang lengan Amane dengan jarinya.
Setelah itu jari Kisaragi terlihat tertumpuk makeup yang tebal, dan di lengan Amane terlihat sebuah bekas luka yang sudah lama.
“Awalnya aku agak ragu, tapi apa ini?” tanya Kisaragi sambil menatap Amane.
“Bu-bukan apa-apa.” tatapan Amane menghindar dari Kisaragi.
“Jawab!” teriak Kisaragi.
Amane sedikit terkejut mendengar Kisaragi berteriak, lalu Amane menatap Kisaragi.
“Kamu selalu memperhatikanku, tapi—” Kisaragi menunduk, menghindari tatapan Amane.
“Aku bahkan tidak tau apa-apa tentangmu.” Kisaragi berbicara dengan nada rendah sambil melihat luka di tangan Amane.
Amane yang mendengar perkataan Kisaragi hanya bisa terdiam bingung harus menjawab apa.
“...”
“Ti-tidak apa-apa kok, dengan kamu menjadi temanku saja itu sudah cukup,” ucap Amane sambil tersenyum.
“Kenapa?” pikir Amane.
“Aku tidak mau menanyakan sesuatu tentang apa yang terjadi padamu, tapi, seandainya kamu butuh sesuatu, kamu bisa mengandalkan ku,” ucap Kisaragi yang masih memegang lengan Amane dan menatap Amane.
“Tentu.” Amane tersenyum, “Kita kan teman.”
“Kenapa?” pikir Amane.
“Aku jadi ingat saat pertama kali kamu berbicara denganku.” ucap Kisaragi.
“Ka-kamu masih mengingatnya?” tanya Kisaragi dengan gagap.
“Kenapa?! Kenapa?!” pikir Amane.
“Tentu saja, bagaimana bisa aku lupa.”
“Duh~ aku malu banget kalo mengingatnya.”
“Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?!” pikir Amane.
“Kenapa malu, menurutku saat itu—”
“Kisaragi, jangan dibahas dong~”
“Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?!” pikir Amane.
Kisaragi tersenyum mendengar Kanon dan berkata.
“Ya baiklah, tapi Kanon, apa kau ingat saat dulu…”
......................
Pukul 10:00 Malam Hari.
“Itu bener benar menyenangkan, lain kali kita berbincang lagi, Kanon.” ucap Kisaragi yang sudah berada di luar kamar.
“Tentu saja, kalau begitu aku ingin istirahat dulu ya.” ucap Amane sambil memegang pintu.
“Ya, selamat malam.”
“Selamat malam juga.”
Cklek!
Begitu pintu tertutup Amane bersandar di pintu dengan kedua tangan di belakang.
“Kenapa?! Kenapa?! “Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?!”
“Hah…”
Separuh wajah Amane seolah tertutup bayangan, ia berjalan ke arah kasur dan langsung berbaring menatap ke langit-langit.
“Aku benar-benar tidak mengerti...” Amane menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kenapa harus sekarang… kau membuatku harus berpikir dua kali lagi…”
......................
Disisi lain, Akira sedang berada dikamarnya, duduk di kursi sambil menatap layar Monitor Komputernya.
“Hmm…”
Tangan kiri Akira menjadi tumpuan pipinya sedangkan tangan kanannya sedang menscroll mouse, melihat sebuah artikel tentang para Pahlawan.
“Rata-rata pahlawan Rank S sudah menyentuh level 200, aku ketinggalan jauh…” gumamnya.
Ding...
[Pengumuman Pada Seluruh Pahlawan Bumi]
[Monster dengan Tingkat Bahaya S sudah ditempatkan di seluruh negara sebagai jalan pintas para Pahlawan untuk berkembang dengan cepat]
“Hal yang gak kuketahui lagi… tingkat bahayanya juga tinggi, mungkin aku gak bakal lawan Monster itu, lebih baik pelan-pelan asal berhasil,” gumamnya.