NovelToon NovelToon
Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update tiap hari dijam 12.00 WIB.

Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.

Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.

Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.

Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kidung Malam di Lorong Sunyi

Lorong sempit di belakang menara lonceng kuno Kota Gerbang Langit mendadak membeku dalam keheningan yang mencekam. Bau amis darah yang menguap dari jasad kultivator Paviliun Bayangan Langit bercampur dengan embun malam yang dingin. Pemimpin faksi misterius itu berdiri kaku, matanya melotot lebar menatap anak buahnya yang tergeletak tak bernyawa tanpa sempat memberikan perlawanan berarti.

Xian Lin, sang rubah malam, duduk dengan anggun di atas lantai batu, menjilat ujung cakunya yang bersih dari noda darah. Mata ketiga di dahi makhluk kecil itu masih menyisakan pendar cahaya biru galaksi yang menatap tajam ke arah sisa anggota Paviliun Bayangan Langit yang tersisa. Kecepatan dan presisi serangan rubah itu benar-benar di luar nalar, melampaui kemampuan tangkap mata kultivator tingkat tinggi.

"B-binatang terkutuk apa ini...?" rintih sang pemimpin paviliun dengan suara bergetar, mundur dua langkah ke belakang sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menyadari bahwa informasi yang beredar di Benua Abadi tentang sang pendekar buta sangatlah kurang. Ji Mo-Xian bukan hanya memiliki kekuatan mengerikan di dalam dirinya, tetapi ia juga dikelilingi oleh entitas misterius yang mematikan.

Ji Mo-Xian berdiri tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Seruling giok naga purba di tangan kanannya memancarkan pendar cahaya biru lembut yang menyinari kain sutra hitam di matanya.

"Kalian mengira Paviliun Bayangan Langit bisa bergerak tanpa terdeteksi di dalam bayang-bayang kota ini," ucap Ji Mo-Xian dengan nada datar, dingin, dan menusuk langsung ke dalam kesadaran musuhnya. "Tetapi di hadapan kematian, bayang-bayang paling gelap sekalipun tidak akan bisa menyembunyikan kalian."

Sebelum pemimpin paviliun itu sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk memohon ampun, Ji Mo-Xian meniupkan napas pertamanya ke dalam seruling giok.

FZZZRT—KENCENG!

Gelombang sonik berwarna biru transparan melesat bagaikan bilah angin tak kasat mata di dalam lorong yang sempit itu. Suara tiupan seruling tersebut bergema rendah namun mematikan, langsung menembus pertahanan energi empat kultivator tersisa dari Paviliun Bayangan Langit.

CRACK! BARRR!

Keempat pengikut bayangan itu mendadak kaku. Tulang belulang di sekujur tubuh mereka remuk berkeping-keping dari dalam seketika. Sebelum jasad mereka menyentuh tanah, gelombang sonik tersebut merubah mereka menjadi debu halus yang langsung buyar ditiup angin malam.

Pemimpin Paviliun Bayangan Langit menjadi satu-satunya yang tersisa. Lututnya melemas hingga ia jatuh berlutut di atas batu pualam yang dingin. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya akibat tekanan gelombang sonik yang nyaris meremukkan organ dalamnya. Ia menengadahkan wajahnya, menatap sosok Ji Mo-Xian dengan keputusasaan yang mutlak.

"A-ampuni aku... Senior..." rintih pria itu terbata-bata. "Kami hanya diperintah... kami hanya bidak dari aliansi bayangan yang lebih besar di pusat Benua Abadi..."

Ji Mo-Xian melangkah tenang mendekati pria yang berlutut itu. Langkah sepatunya berderit pelan di atas tanah berbatu. Ia berhenti tepat di hadapan sang pemimpin paviliun, menundukkan kepalanya sedikit.

"Siapa di balik aliansi bayangan itu?" tanya Ji Mo-Xian datar.

Pria itu menelan ludah dengan susah payah, napasnya tersengal-sengal. "Mereka... mereka adalah para Tetua Utama dari Paviliun Langit Kegelapan... mereka mengincar mata dewa naga air untuk membuka segel gerbang dunia purba..."

Begitu kalimat itu terucap, tubuh pemimpin paviliun itu tiba-tiba kejang. Dari dadanya, muncul pendar cahaya hitam legam yang melilit jantungnya—sebuah meterai kutukan kematian yang dipasang oleh atasannya agar rahasia tidak pernah bocor.

BZZZRT!

Dalam sepersekian detik, kutukan itu meledak dari dalam, menghancurkan raga pria tersebut menjadi abu hitam tanpa menyisakan sisa. Ji Mo-Xian mundur selangkah dengan tenang, menghindari debu sisa ledakan kutukan tersebut.

Lin Su menutup mulutnya karena terkejut melihat musuh mereka tewas oleh kutukan dari organisasinya sendiri. "Tuan Muda... mereka bahkan memasang meterai kematian pada pengikutnya sendiri agar tidak bisa diinterogasi."

Ji Mo-Xian menyimpan kembali seruling gioknya ke dalam lipatan jubah. Ia menoleh sedikit ke arah Lin Su, lalu mengusap kepala Xian Lin yang kembali melompat ringan ke bahunya.

"Itu membuktikan satu hal, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian tenang. "Kehadiran kita di Benua Abadi telah menarik perhatian pihak-pihak yang jauh lebih berbahaya daripada sekte-sekte fana di Tiga Benua. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai."

Xian Lin mengeluarkan suara dengkuran kecil, matanya menatap tajam ke arah menara utama istana sekte yang menjulang tinggi di kejauhan, seolah menantang siapa pun yang berani mencoba mengganggu perjalanan mereka berikutnya.

Keesokan paginya, berita mengenai musnahnya kelompok elite Paviliun Bayangan Langit di lorong menara lonceng menyebar bagaikan api liar di seluruh penjuru Kota Gerbang Langit. Para tetua dan murid Sekte Phoenix Es yang tersisa semakin diliputi rasa ngeri yang mendalam. Tidak ada lagi yang berani keluar berpatroli atau mencari masalah dengan sang pendekar buta.

Ji Mo-Xian, Lin Su, dan Xian Lin berjalan berdampingan keluar dari gerbang barat Kota Gerbang Langit, melangkah mantap menyusuri jalan setapak pegunungan yang langsung mengarah ke jantung Benua Abadi—ke tempat di mana rahasia terdalam tentang segel gerbang dunia purba dan asal-usul mata dewa naga air menunggu untuk diungkap.

1
Iskandar Muda
seru cerita ny ..
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: makasih kak🤩🤩 akan lebih seru selanjutnya karena Ji Mo-Xian akan berpetualang menjelajahi dunia dewa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!