Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Matahari telah terbenam dan lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala dengan sangat indah dari balik kaca penthouse Ardi.
Ardi berdiri di depan cermin besar di kamarnya sambil merapikan kemeja hitam mahalnya.
Dia bisa melihat otot-otot tubuhnya kini terbentuk sangat sempurna berkat sistem keterampilan yang baru saja dia beli semalam.
"Sistem ini benar-benar mengubahku menjadi manusia super dalam semalam," gumam Ardi tersenyum puas.
Malam ini dia berencana mengunjungi Klub Olympus yang merupakan kelab malam paling eksklusif di Jakarta untuk mengetes kemampuan barunya.
Ardi mengambil kunci mobil Ferrari-nya dan turun menuju area parkir VVIP menggunakan lift khususnya.
Vroom!
Mesin V8 Ferrari SF90 hitamnya meraung keras membelah jalanan malam ibu kota yang padat.
Hanya butuh dua puluh menit bagi Ardi untuk tiba di depan pintu masuk Klub Olympus yang sangat mewah.
Deretan mobil mahal dari Porsche hingga Lamborghini sudah terparkir rapi di halaman kelab tersebut.
Namun kedatangan Ferrari edisi terbatas milik Ardi tetap menjadi pusat perhatian semua mata di sana.
Ardi keluar dari mobilnya dan menyerahkan kuncinya kepada petugas valet yang langsung menunduk sangat hormat padanya.
Suara dentuman musik elektronik yang sangat keras langsung menyambutnya saat pintu utama kelab terbuka.
Ardi berjalan santai memasuki area kelab yang dipenuhi oleh para pemuda-pemudi dari kalangan elit dan pewaris kaya raya.
Dia duduk di salah satu sofa VIP yang kebetulan kosong dan langsung didatangi oleh seorang pelayan wanita.
Pelayan wanita itu masih sangat muda, wajahnya cantik natural namun matanya terlihat sangat kelelahan.
"Selamat malam Tuan, Anda ingin memesan minuman apa hari ini?" sapa pelayan itu sambil menyodorkan buku menu yang tebal.
"Bawakan aku minuman non-alkohol apa saja yang paling segar menurutmu," jawab Ardi santai tanpa membuka buku menu itu.
"Baik Tuan, mohon tunggu sebentar," ucap pelayan bernama Lidya itu sambil menunduk sopan untuk pamit.
Namun saat Lidya baru saja berbalik badan, dia tidak sengaja menabrak tubuh seorang pria berjas merah yang sedang mabuk berat berjalan terhuyung.
Gelas berisi minuman keras di tangan pria itu tumpah dan membasahi kemeja mahalnya hingga kotor.
Prang!
Pria berjas merah itu langsung membanting gelasnya ke lantai dengan wajah sangat marah.
"Dasar pelayan buta tidak berguna!" bentak pria itu dengan suara keras yang berhasil mengalahkan suara musik kelab.
"Maafkan saya Tuan Bastian, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya," ucap Lidya ketakutan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Pria bernama Bastian itu adalah putra bungsu dari konglomerat Grup Rajawali yang terkenal arogan dan suka menindas.
"Maaf kau bilang? Kemeja ini harganya puluhan juta rupiah dan kau baru saja merusaknya!" teriak Bastian sambil menunjuk kasar wajah Lidya.
"Bahkan jika kau menjual ginjalmu malam ini, kau tidak akan mampu menggantinya dasar wanita miskin!" tambahnya tanpa belas kasihan.
Beberapa penjaga keamanan kelab langsung mendekat, namun mereka mematung dan tidak berani ikut campur melihat siapa tamu yang sedang marah itu.
"Saya mohon ampun Tuan, tolong potong saja gaji saya bulan ini," tangis Lidya yang kini berlutut memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar.
Bastian tertawa sinis dan menarik rambut Lidya dengan sangat kasar hingga wanita malang itu meringis kesakitan.
"Gaji pelayan rendahan sepertimu tidak ada harganya sama sekali bagiku," bisik Bastian tepat di dekat telinga Lidya.
"Tapi jika kau mau menemaniku bersenang-senang di kamar atas malam ini, aku akan melupakan kejadian ini," rayu Bastian dengan tatapan mesum yang menjijikkan.
"T-tidak Tuan, saya hanya pelayan biasa di sini, tolong lepaskan saya," tolak Lidya meronta-ronta sambil menangis ketakutan.
Bastian seketika marah besar karena merasa harga dirinya ditolak mentah-mentah di depan teman-temannya yang sedang menonton.
Plak!
Sebuah tamparan keras dari Bastian mendarat di pipi Lidya hingga wanita itu terjerembap membentur lantai.
"Wanita murahan sok jual mahal, seret dia ke ruanganku sekarang juga!" perintah Bastian pada dua pengawal berbadan besar di belakangnya.
Kedua pengawal bayaran itu langsung maju dan mencengkeram lengan Lidya secara paksa untuk mengangkatnya.
"Lepaskan aku! Tolong, siapa saja tolong bantu aku!" jerit Lidya dengan air mata bercucuran menatap sekeliling.
Semua pengunjung kelab hanya diam menunduk dan membuang muka, tidak ada yang berani mencari masalah dengan pewaris Grup Rajawali tersebut.
Ardi yang sedari tadi duduk tenang di sofanya akhirnya meletakkan ponselnya ke atas meja kaca.
"Ternyata di tempat mewah seperti ini pun masih banyak sampah masyarakat yang berkeliaran bebas," ucap Ardi dengan suara sedang namun sangat tajam.
Suara musik di kelab itu kebetulan sedang berganti lagu sehingga ucapan Ardi bergema sangat jelas di area VIP tersebut.
Bastian langsung menoleh mencari sumber suara yang berani menghinanya secara terang-terangan itu.
"Siapa bajingan yang berani bicara sembarangan barusan hah!" teriak Bastian dengan wajah merah padam mencari sosok Ardi.
Ardi berdiri perlahan dari sofanya dan berjalan mendekati Bastian dengan kedua tangan bersarang santai di saku celana.
"Aku yang mengatakannya, lalu kau mau apa anak manja?" jawab Ardi menatap tajam langsung ke sepasang mata Bastian.
Bastian memindai penampilan Ardi dari atas ke bawah lalu tertawa meremehkan dengan keras.
"Kau pasti orang kaya baru yang tidak tahu aturan dan kasta di kota ini ya," ejek Bastian sambil berkacak pinggang angkuh.
"Berani sekali kau mencampuri urusan pribadi Tuan Muda Bastian dari Grup Rajawali!" tambah salah satu teman Bastian ikut memanaskan suasana.
"Grup Rajawali? Aku bahkan belum pernah mendengar nama perusahaan kecil itu dalam hidupku," jawab Ardi dengan senyum yang sangat merendahkan.
Wajah Bastian seketika berubah menjadi sangat buas karena harga diri keluarganya diinjak-injak di depan umum.
"Hajar mulut sombongnya itu sampai giginya rontok semua ke lantai!" perintah Bastian pada dua pengawalnya sambil menunjuk Ardi.
Kedua pengawal bertubuh kekar itu langsung melepaskan Lidya dan menerjang buas ke arah Ardi.
Pengawal pertama mengayunkan pukulan tangan kanannya dengan keras mengincar rahang wajah Ardi.
Bagi mata pengunjung biasa, pukulan itu terlihat sangat cepat dan mematikan.
Namun bagi Ardi yang sudah memiliki keahlian Grandmaster MMA dari Sistem, gerakan pengawal itu terlihat selambat siput berjalan.
Ardi hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri dengan santai untuk menghindari pukulan tersebut.
Brak!
Ardi langsung membalas dengan sebuah tendangan lutut yang sangat telak ke arah ulu hati pengawal itu.
Pengawal berbadan besar itu matanya langsung melotot putih dan pingsan seketika di lantai tanpa sempat berteriak.
Pengawal kedua terkejut setengah mati melihat rekannya tumbang dalam satu detik, namun dia tetap nekat maju menyerang Ardi dari belakang.