NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Terima Kasih

Empat hari setelah makan malam di rumah keluarga Halim, Keira menerima surel yang membuatnya melompat dari kursi.

Subjeknya pendek: Draf Surat Rekomendasi.

Keira membaca lampirannya sekali, lalu sekali lagi karena tidak percaya Profesor Adrian benar-benar menulis kalimat sebaik itu tentang dirinya. Di paragraf kedua, sang profesor menyebut ketelitian Keira dalam menerjemahkan bukan sekadar kemampuan bahasa, melainkan kepekaan membaca manusia. Pujian itu membuat tenggorokannya yang sejak pagi agak serak terasa makin tercekat.

Tangannya refleks membuka kontak Vanessa. Namun sebelum sempat menekan tombol panggil, matanya justru beralih ke pintu apartemen.

Orang pertama yang ingin ia beri tahu ternyata berada di seberang koridor.

Keira mengambil laptop, menyambar kardigan dari sandaran kursi, lalu mengetuk pintu unit 8A dengan tiga ketukan cepat.

Reynard membuka pintu bahkan sebelum ia sempat mengetuk untuk keempat kalinya. Kaos hitamnya sederhana, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya langsung berubah waspada saat melihat Keira terengah-engah.

"Kenapa, Ci Kei?"

"Aku dapat!"

"Dapat apa?"

"Surat rekomendasi dari Profesor Adrian. Maksudku, baru draf, tapi dia benar-benar mau merekomendasikan aku untuk program magang itu. Lihat, cepat."

Keira mengangkat laptop seperti sedang membawa piala. Reynard menatap wajahnya beberapa detik, lalu senyum perlahan muncul di bibirnya.

"Masuk dulu. Nanti laptopmu jatuh gara-gara terlalu semangat."

Baru ketika melewati ambang pintu, Keira menyadari ia bahkan belum memberi tahu Mama, Papa, atau Vanessa. Kesadaran itu membuat langkahnya terhenti sepersekian detik.

"Kok bengong?"

"Nggak apa-apa."

Ia buru-buru duduk di sofa. Kardigan yang tadi hanya tersampir di bahunya melorot dan jatuh ke lantai. Reynard memungutnya tanpa komentar, menggantungnya di belakang kursi, kemudian menuju dapur.

"Aku mau menunjukkan suratnya, bukan minta makan."

"Aku tahu. Minum dulu. Suaramu masih serak."

Reynard kembali membawa secangkir teh jahe hangat. Aromanya lembut, tidak terlalu tajam, dengan madu secukupnya seperti yang disukai Keira. Cangkir itu rupanya sudah disiapkan sebelum ia datang.

"Kamu tahu aku bakal ke sini?"

"Nggak. Aku cuma tahu kamu batuk dua kali tadi pagi dan tetap beli es kopi. Jadi aku bikin lebih banyak."

"Kamu menghitung batukku?"

"Aku juga menghitung berapa kali kamu mengabaikan nasihat orang. Jumlahnya lebih banyak."

Keira mendecakkan lidah, tetapi kedua tangannya tetap memeluk cangkir hangat itu. Perhatian-perhatian kecil Reynard selalu datang seperti hal biasa, seolah meletakkan obat maag di tas, mengingat jadwal kelasnya, atau membuat minuman untuk tenggorokannya tidak membutuhkan usaha.

Justru karena terlalu alami, semua itu belakangan terasa berbahaya.

Mereka duduk berdampingan di sofa. Keira membuka lampiran surat, lalu menyerahkan laptop kepada Reynard. Ia berharap laki-laki itu akan membaca sepintas dan memujinya. Sebaliknya, Reynard menyipitkan mata dengan serius.

"Di kalimat ini ada dua kali kata very."

"Itu Profesor Adrian yang menulis."

"Profesor juga bisa salah ketik."

"Kamu berani sekali mengoreksi profesor penerjemahan."

"Kalau surat ini untuk masa depanmu, aku berani mengoreksi siapa saja."

Keira terdiam. Reynard tidak menyadari dampak kalimatnya karena masih menggulir layar. Ia menunjuk tanda baca yang kurang, lalu menyarankan satu frasa yang menurutnya terdengar lebih tegas. Keira memperhatikan profil wajahnya: alis yang mengerut, rahang yang sesekali menegang saat berpikir, dan gerakan telunjuknya yang hati-hati agar tidak menyentuh layar sembarangan.

"Kamu lebih galak daripada dosen pembimbingku," godanya untuk mengusir pikiran aneh.

"Bagus. Berarti nanti kalau kamu sukses, ada sedikit jasaku."

"Sedikit? Rasanya kamu bakal minta komisi."

"Aku murah, kok. Traktir makan seumur hidup cukup."

Keira tertawa. Mereka lalu memperdebatkan satu kata hampir sepuluh menit. Reynard mencari nuansa maknanya dari tiga sumber, sedangkan Keira mempertahankan pilihan profesornya. Ketika akhirnya Reynard menyerah, ia mengangkat kedua tangan.

"Baik, Bu Penerjemah. Aku kalah."

"Memang seharusnya begitu. Ini bidangku."

"Tapi tanda komanya tetap salah."

"Reynard!"

Tawa mereka mengisi ruang tamu sampai jam di dinding menunjukkan hampir pukul sebelas. Teh jahe Keira sudah tinggal ampas. Laptop tertutup di meja, dan hujan tipis mulai memukul kaca jendela.

Keira menyandarkan kepala ke sofa. "Aku senang banget."

"Aku tahu. Matamu bersinar dari tadi."

"Bukan cuma soal suratnya." Ia memutar cangkir kosong di antara telapak tangan. "Aku senang karena akhir-akhir ini rasanya semua jadi lebih mudah."

Reynard tidak langsung menjawab.

Keira menarik napas. Kalimat itu sudah beberapa kali ingin ia ucapkan, tetapi selalu terasa terlalu serius untuk hubungan mereka yang penuh ejekan.

"Terima kasih, ya," katanya akhirnya. "Buat semua yang kamu lakukan selama ini. Masak, jemput, menemani aku waktu ada masalah, bahkan mengingat hal-hal yang aku sendiri lupa. Kamu benar-benar menjaga aku."

Ruang tamu mendadak terasa terlalu sunyi.

Reynard menoleh penuh. Tatapannya menahan wajah Keira seolah tidak ingin kehilangan satu perubahan pun. Senyum ringannya hilang. Jakunnya bergerak ketika ia menelan ludah, dan ada sesuatu yang telanjang dalam matanya, sesuatu yang selama ini selalu ia tutupi dengan candaan.

Keira merasakan denyut jantungnya naik ke tenggorokan.

"Kenapa menatapku begitu?" tanyanya, nyaris berbisik.

Bibir Reynard terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Tangannya di atas sofa bergeser sedikit, berhenti hanya beberapa sentimeter dari jemari Keira.

Satu detik lagi, pikir Keira, sesuatu akan berubah.

Ia berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur meja.

"Aku harus mandi. Sudah malam. Besok ada kelas pagi."

Alasannya bertumpuk tanpa jeda. Keira memasukkan laptop ke pelukan dan mencari kardigannya dengan gerakan kacau. Reynard bangkit, mengambil pakaian itu dari sandaran kursi, lalu memasangkannya ke bahu Keira tanpa menggoda.

Ia mengantar Keira menyeberangi koridor. Di depan unit 8B, Keira menekan kode pintu dengan jari yang entah kenapa sulit diam.

"Selamat malam," katanya cepat.

"Istirahat yang cukup, Ci Kei."

Hanya itu. Tidak ada alasan untuk masuk, tidak ada keluhan manja, tidak ada senyum nakal. Reynard mundur satu langkah dan menunggu sampai pintu tertutup.

Keira bersandar pada daun pintu dari dalam. Telapak tangannya menekan dada, seolah bisa memaksa jantungnya kembali teratur.

Di koridor, Reynard berdiri lama menatap nomor 8B. Setelah yakin tidak ada suara dari dalam, ia berbalik ke unitnya sendiri. Begitu pintu 8A tertutup, bahunya jatuh dan ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan.

Reynard menyandarkan kepala ke pintu, memejamkan mata, lalu tertawa pendek tanpa kegembiraan.

"Aku nggak akan bisa bertahan beberapa hari lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!