NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : Kelompok Sejarah dan Taruhan Kecil

​Pagi hari di SMA Cahaya Permata menyambut para murid dengan hawa dingin sisa hujan deras semalam. Matahari yang membayang tipis di balik awan tak cukup hangat untuk mengusir rasa kantuk yang menggelayuti penghuni kelas XI IPS 2. Suasana kelas yang tadinya riuh oleh suara gelak tawa dan bunyi meja yang dipukul-pukul asal-asalan seketika mendadak senyap begitu pintu depan terdorong kasar.

​Bu Dewi—guru mata pelajaran Sejarah Indonesia yang sekaligus menjabat sebagai wali kelas XI IPS 2—melangkah masuk dengan gaya khasnya. Sepatu hak tingginya berketuk nyaring di atas lantai keramik, sementara tangannya mengapit map batik tebal dan setumpuk kertas evaluasi.

​"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Dewi seraya meletakkan mapnya di atas meja guru dengan bunyi yang cukup keras.

​"Pagi, Buuu..." sahut seisi kelas serempak, terdengar agak lemas.

​"Hari ini kita akan mulai proyek kelompok semester untuk materi Kerajaan Nusantara," suara Bu Dewi bergema di seisi ruangan, seketika disusul oleh helaan napas berat dan erangan malas dari barisan belakang.

​Neona yang duduk di samping Kiara langsung menyenggol lengan temannya itu pelan. Pipi bulatnya mengembung gusar. "Duh, Ra, semoga kita sekelompok ya. Gue malas banget kalau dapet teman sekelompok yang mageran, apalagi kalau dapet spesies yang cuma menyetor nama di sampul depan."

​Kiara tersenyum tipis seraya merapikan letak alat tulisnya di atas meja. "Gue sih ikut aja, Na, asal kerjaannya dibagi adil dan pada mau beres."

​"Nggak bisa gitu, Ra! Di kelas ini tuh populasinya banyak yang ajaib!" bisik Neona panik.

​Sementara itu, Bu Dewi sudah berdiri tegap sambil membetulkan letak kacamata minusnya. Ia mengetukkan penggaris kayu ke papan tulis kayu di sampingnya.

TAK! TAK!

​"Perhatikan baik-baik! Karena Saya ini wali kelas kalian, Saya tahu persis kelakuan masing-masing dari kalian kalau disuruh pilih kelompok sendiri. Yang pinter numpuk sama yang pinter, yang tukang mabal ngumpul sama yang tukang mabal," potong Bu Dewi tegas sebelum ada yang sempat memotong. "Jadi, kelompok ini sudah Ibu bagi secara acak berdasarkan nilai formatif minggu lalu. Tidak ada protes, tidak ada tukar-tukaran anggota, dan tidak ada alasan 'rumah saya jauh', mengerti?"

​Gelombang desahan kecewa makin membahana di kelas. Ferdi yang duduk di pojok belakang langsung menyahut dengan gaya suaranya yang ceplas-ceplos. "Waduh, Bu! Diskriminasi tempat tinggal ini namanya! Rumah saya kan di ujung jalan, Bu!"

​"Alasan kamu saja, Ferdi! Rumah kamu cuma beda dua gang dari sekolah!" tembak Bu Dewi cepat tanpa memandang Ferdi, membuat seisi kelas meledak dalam tawa.

​"Lagian lo gaya banget sok-sokan jauh, Ferdi!" celetuk Kevin dari sampingnya seraya menepuk bahu Ferdi keras-keras.

​Bu Dewi mulai membacakan daftar nama dari lembaran kertas di tangannya. Satu per satu nama dipanggil. Beberapa murid bersorak lega saat mendapatkan teman sefrekuensi, sementara yang lain hanya bisa meratapi nasib.

​Hingga akhirnya, Bu Dewi sampai pada barisan nama berikutnya. ​"Kelompok Empat yaitu Neona, Ferdi, Kiara, dan Khafi."

​Deg.

​Kiara seketika mematung di tempatnya. Senyum tipis yang sempat terukir di wajahnya mendadak luntur seketika. Pensil yang sedang ia genggam hampir saja terlepas dari jemarinya. Ia memutar kepalanya perlahan ke barisan belakang dan langsung beradu pandang dengan Khafi.

​Cowok jangkung itu sedang menyandarkan punggungnya di dinding kelas dengan santai, kemeja putihnya yang dibuka satu kancing teratas memperlihatkan kaos hitam dalamnya.

Saat menyadari Kiara menatapnya, Khafi menaikkan sebelah alisnya seraya menyunggingkan senyum miring yang sangat tipis—sebuah tatapan yang sukses memancing kekesalan Kiara kembali membumbung tinggi.

​"Bu Dewi! Nggak bisa diganti aja, Bu? Tolonglah, Bu!" Neona mengacungkan tangannya heboh tinggi-tinggi, mencoba menyelamatkan situasi. "Saya sama Kiara udah klop banget, Bu. Tapi kalau digabung sama dua anak pojok itu... aduh, Bu, yang ada proyek Sejarah kita berubah jadi makalah turnamen Game Online!"

​Ferdi langsung memutar badannya ke arah Neona seraya mengeluh heboh. "Dih, Neng Neona menghina amat! Gini-gini gue kalau udah kepepet bisa hafal silsilah Raja Hayam Wuruk sampai ke cucu-cucunya ya!"

​"Hafal dari mana? Orang tiap jam Sejarah kerjaan lo cuma tidur gaya sujud di kolong meja!" tembak Neona tak mau kalah, membuat anak-anak cewek di barisan depan tertawa geli.

​"Itu namanya menyerap ilmu secara supranatural, Na!" timpal Kevin ikut memprovokasi, yang langsung dibalas sorakan hush-hush dari anak-anak kelas.

​Bu Dewi menepuk mejanya sekali lagi dengan penggaris.

BRAK!

​"Sudah! Tidak ada protes, Neona! Keputusan Ibu sudah bulat," tegas Bu Dewi. "Tugas ini dikumpulkan dua minggu lagi dalam bentuk naskah makalah tebal dan presentasi slide. Ibu harap kalian bisa bekerja sama secara dewasa. Khafi! Jangan cuma ngikut nama ya!"

​Khafi yang ditunjuk langsung menaikkan pandangannya dari ponsel, menyunggingkan senyum santai. "Siap, Ibuu. Saya mah anak rajin."

​"Rajin mabalnya!" celetuk Rian si Ketua Murid yang langsung dihadiahi tawa riuh seisi kelas XI IPS 2.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Saat bel istirahat berbunyi nyaring, suasana kelas mendadak cair. Sebagian murid mulai berhamburan keluar untuk berburu jajanan kantin. Namun, meja tempat Kiara dan Neona duduk langsung dikerubungi oleh Ferdi dan Khafi.

​Ferdi tanpa rasa canggung menarik kursi dari meja sebelah dan mendudukinya secara terbalik, menyandarkan dadanya di sandaran kursi.

Sementara itu, Khafi memilih berjalan santai dan bersedekap di samping meja Kiara. Postur tubuhnya yang jangkung berdiri menjulang tepat di sebelah kursi Kiara, menghadirkan bayangan tinggi yang menutupi sebagian meja gadis itu.

​"Jadi gimana, Para Cewek Anggun?" Ferdi membuka suara dengan nada ceplas-ceplos khasnya. "Mau ngerjain di mana nih? Rumah siapa? Rumah Khafi aja tuh! Rumah dia kan luas, adem, terus ada PS5-nya juga. Sekalian ntar kita dipesenin Pizza sama Khafi."

​Neona menunjuk wajah Ferdi dengan pulpen hitamnya seraya memelototkan mata bulatnya. "Gue tegasin ya, Ferdi! Kita ini mau kerja kelompok bikin makalah Sejarah, bukan mau mabal sambil syukuran main game! Lagian ini ada Kiara, dia anak baru, kasihan kalau harus bolak-balik ke rumah cowok!"

​"Dih, galak amat Neng Neona. Kan sekalian silaturahmi," kekeh Ferdi seraya mengacak rambutnya sendiri.

​Kiara yang sejak tadi berusaha tetap tenang seraya mencatat poin-poin petunjuk tugas dari Bu Dewi akhirnya mendongak pelan. Pandangannya langsung menabrak wajah Khafi yang sedang menunduk menatapnya dari atas.

​"Gue ikut kesepakatan kelompok aja," suara Kiara mengalir pelan namun terdengar begitu tegas di tengah keriuhan kelas. "Tapi gue mau dari awal semuanya jelas. Semuanya harus ikut nyari materi dan ngetik. Nggak ada yang cuma numpang nulis nama di halaman depan terus ngilang."

​Khafi terkekeh samar. Suara tawa pelannya terdengar berat. Cowok itu menurunkan tangannya dan menopang sebelah telapak tangannya di tepi meja Kiara, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga Kiara bisa mencium wangi aroma parfum citrus bercampur angin sore dari seragam Khafi.

​"Tenang aja, Kuntil. Otak gue masih berfungsi sangat baik kok kalau cuma buat materi Sejarah," bisik Khafi dengan nada datar menyebalkan yang sengaja diatur agar hanya terdengar di sekitar meja mereka.

​Kiara memutar bola matanya malas, menatap tajam ke dalam mata Khafi. "Nama gue Kiara. Punya telinga kan buat dengar?"

​Ferdi yang melihat ketegangan di antara mereka berdua langsung memotong seraya menepuk tangannya kencang. "Oke! Daripada kalian baku hantam lagi kayak minggu lalu sampai rambut si Khafi rontok, gimana kalau kita ambil jalan tengah? Sabtu ini jam satu siang kita kumpul di Kopi Sentral dekat alun-alun! Kafe situ kan adem, ada Wi-Fi kencang, terus tengah-tengah dari rumah kita semua."

​Neona tampak berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. "Nah, itu ide bagus. Sabtu jam satu siang ya! Ingat, jam satu pas! Jangan ada yang ngaret, terutama lo berdua wahai anak pojok!"

​"Siap, Kanjeng Ratu Neona!" sahut Ferdi seraya memberi hormat asal-asalan.

​Khafi hanya bergumam pelan seraya menegakkan kembali tubuhnya. Sebelum berbalik melangkah pergi menyusul Kevin yang memanggilnya di pintu keluar, mata tajam Khafi sempat melirik ke arah buku catatan Kiara sekali lagi seraya tersenyum tipis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Hari Sabtu yang dijanjikan pun tiba. Udara siang di area alun-alun kota terasa cukup menyengat, membuat kedai Kopi Sentral menjadi tempat favorit anak-anak muda untuk berteduh. Suasana kafe bernuansa kayu itu cukup ramai, diiringi alunan musik indie yang memutar santai dari pengeras suara.

​Kiara dan Neona sudah duduk di area indoor yang ber-AC sejak pukul dua belas lima puluh. Dua gelas es kopi susu dan beberapa buku rujukan Sejarah tebal sudah tertata rapi di atas meja kayu berukuran sedang.

​Pukul satu lebih sepuluh menit, pintu kaca kafe berdenting. Ferdi muncul dengan kemeja flanel longgar dan celana jeans, melangkah terburu-buru menghampiri meja mereka.

​"Punten pisan ini mah! Tadi jalanan dekat lampu merah macet parah ada razia!" seru Ferdi seraya langsung mendaratkan bokongnya di kursi kayu dan meminum es kopi milik Neona tanpa izin.

​"Heh! main minum aja lo!" omel Neona seraya menggebuk lengan Ferdi pakai penggaris plastik yang ia bawa. "Terus si Khafi mana? Kok lo nggak barengan?"

​Ferdi meringis seraya mengusap lengannya.

"Si Khafi tadi ada jadwal latihan tambahan basket dari jam sepuluh pagi. Katanya kelar jam dua belasan, terus dia balik dulu mau mandi. Harusnya sih udah di jalan."

​Namun, waktu terus bergulir. Jarum jam dinding di kafe terus bergerak melewati pukul satu tiga puluh, lalu pukul satu empat puluh lima, hingga akhirnya mendekati pukul dua siang. Sosok kapten basket itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

​Neona sudah berulang kali menekan tombol telepon di ponselnya dengan raut wajah makin menekuk. "Mana sih si Khafi?! Kebiasaan banget ngaretnya! Dihubungi dari tadi cuma centang satu! Ini orang niat kerja kelompok nggak sih?!"

​"Sabar, Na, sabar... Anak basket mah biasa, urusan otot dulu baru urusan otak," sahut Ferdi mencoba mencairkan suasana, meski ia sendiri mulai merasa enak hati pada Kiara dan Neona.

​Kiara menyandarkan punggungnya di kursi kayu. Jemari tangannya terlipat di atas meja. Pendiriannya yang sangat menghargai ketepatan waktu dan komitmen membuat amarahnya yang sempat mereda sejak kemarin kini merambat naik kembali.

Setinggi apa sih rasa sok penting di diri tuh anak sampai janji kelompok sepele gini aja diabaikan? batin Kiara sengit.

​Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul dua pas, pintu kaca kafe berdenting kencang.

​Sosok jangkung yang ditunggu-tunggu akhirnya melangkah masuk. Khafi berjalan dengan santai tanpa raut terburu-buru sedikit pun. Cowok itu mengenakan kaos polos hitam dipadu jaket denim longgar yang lengannya digulung hingga siku. Rambut hitamnya yang basah usai mandi tampak sedikit acak-acakan alami.

​Tanpa mengutarakan kata maaf, Khafi menarik kursi kosong di sebelah Kiara, menggesernya sedikit, lalu mendudukinya dengan gaya santai. Ia menebarkan aroma wangi sabun maskulin yang segar ke udara sekitar.

​"Mbak, es americano satu ya," panggil Khafi santai pada pelayan kafe yang melintas di dekat meja mereka.

​Kiara memutar tubuhnya perlahan, menatap Khafi dari samping dengan tatapan mata yang luar biasa dingin. Neona dan Ferdi seketika menghentikan perdebatan mereka, merasa aura di meja mendadak mencekam.

​"Macet lagi?" sindir Kiara dengan suara tenang namun menusuk.

​Khafi menoleh, menyunggingkan senyum miring yang terkesan mengabaikan ketegangan. "Bukan macet. Tadi habis latihan basket gue ketiduran sebentar."

​"Ketiduran?" Kiara mengulang kata itu seraya terkekeh sinis. "Kita bertiga udah nunggu lo satu jam lebih di sini, Khafi. Neona udah nyiapin kerangka naskah dari jam satu, Ferdi udah datang dari tadi, dan lo cuma bisa ngomong ketiduran tanpa merasa bersalah sama sekali?"

​Khafi bersedekap, menyandarkan punggungnya seraya menatap Kiara santai. "Tapi gue datang, kan? Lagian naskah makalahnya kan belum selesai diketik. Kenapa harus panik banget sih?"

​"Ini bukan masalah naskahnya udah selesai atau belum," potong Kiara tegas, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Khafi tanpa ada keraguan sedikit pun. "Ini masalah tanggung jawab dan cara lo menghargai orang lain. Kalau dari awal lo emang malas, ngerasa paling pinter, atau cuma mau terima beres, bilang dari awal! Biar nama lo sekalian nggak perlu gue masukin di lembar tugas!"

​Neona dan Ferdi seketika saling pandang dengan mata membelalak. Ferdi bahkan perlahan menggeser kursinya agak menjauh, menahan napas melihat keberanian cewek baru itu menembak Khafi tepat di depannya.

​Tatap mata Kiara yang tajam dan tak gentar sedikit pun membuat seringai santai di wajah Khafi perlahan memudar. Rasa gengsi dan sifat tidak mau kalah di dalam diri kapten basket itu seketika tersenggol keras. Khafi bukan cowok yang suka dipojokkan, apalagi oleh seorang cewek bertubuh mungil yang baru dua minggu dikenalnya.

​Khafi mengikis jarak di antara mereka, memajukan tubuhnya ke depan meja hingga wajahnya berhadapan hanya selisih beberapa sentimeter dari wajah Kiara.

​"Lo se-enggak percaya itu sama kapasitas otak gue, Kuntil?" bisik Khafi dengan suara berat penuh provokasi.

​Kiara tidak mundur sedikit pun. Ia menatap mata Khafi dengan ketegasan yang sama tingginya. "Gue nggak pernah peduli seberapa pinter otak lo. Yang gue tau, gue nggak bisa kerja sama orang yang nggak punya rasa hormat sama waktu orang lain."

​Khafi menatap Kiara lekat-lekat selama beberapa detik. Tatapan anggun namun keras kepala dari Kiara membuat sebuah ide terlintas di kepala Khafi. Sisi tantangan di dalam dirinya menyala hebat.

​Khafi terkekeh pelan, lalu mengetukkan jemarinya di atas buku Sejarah tebal milik Kiara. "Oke. Karena lo meragukan keberadaan gue di kelompok ini... gimana kalau kita bikin taruhan?"

​Neona yang sedang meminum es tehnya seketika tersedak pelan. "Eh, eh! Kok malah jadi taruhan sih?! Ini tugas sekolah wahai anak-anak!"

​"Diem dulu, Na, biarkan para titan ini bertarung," sela Ferdi berbisik heboh seraya menonton dengan mata berbinar penasaran.

​Kiara menaikkan sebelah alisnya. "Taruhan apa?"

​Khafi menyunggingkan senyum penuh percaya diri. "Kalau tugas kelompok kita ini berhasil dapet nilai A plus sempurna dari Bu Dewi..." Khafi menatap mata Kiara tanpa berkedip, "...lo harus ngakuin di depan anak-anak Sebelas IPS Dua kalau gue adalah cowok paling ganteng dan paling keren di kelas kita. Dan satu lagi... lo harus mau nurutin satu permintaan gue."

​"Dih! Ogah banget!" celetuk Neona spontan menyela. "Taruhan apaan tuh! Itu mah modus namanya!"

sedangkan ​Kiara menatap Khafi curiga seraya mengerutkan dahi tidak setuju. "Terus kalau nilainya di bawah A?"

​Seringai kemenangan terukir di wajah tampan Khafi. "Kalau nilainya cuma dapet B atau di bawah itu... gue janji nggak akan pernah panggil lo dengan sebutan 'Kuntil' lagi. Gue bakal panggil lo nama asli lo, Kiara. Gue juga bakal minta maaf seperti yang lo mau dari awal waktu kita ketemu."

Neona melongo mendengar poin taruhan Khafi yang begitu dramatis, sementara Ferdi sudah menahan tawa sampai bahunya berguncang keras di ujung meja.

​Namun Kiara, menimbang-nimbang tawaran Khafi dalam pikirannya. ​Menghentikan julukan 'Kuntil' yang amat sangat menyebalkan itu adalah hal yang paling ia harapkan sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah ini. Ditambah lagi, Kiara sangat yakin dengan kemampuan akademisnya, riset materi yang sudah ia kumpulkan, serta komitmennya sendiri. Bagi Kiara, mendapatkan nilai A dari Bu Dewi bukanlah hal yang mustahil jika mereka benar-benar bekerja keras.

​Kiara menyunggingkan senyum miring, membalas tatapan percaya diri Khafi dengan ketegasan yang tak kalah kuat.

​"Oke. Deal," sahut Kiara mantap.

​Gadis bertubuh mungil itu tanpa ragu mengulurkan tangan kanannya ke tengah meja.

​Khafi tertawa pelan, menyambut uluran tangan mungil Kiara. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam erat jemari Kiara, memberikan remasan mantap seraya memamerkan senyum menantang.

​"We'll see, Kiara Zefanya. Jangan nangis kalau seminggu penuh harus kebayang-bayang sama tingkah gue," bisik Khafi santai.

​"Dalam mimpi lo!" balasan tajam Kiara seketika menutup kesepakatan taruhan tersebut, membiarkan Neona menggeleng-gelengkan kepala dan Ferdi menepuk tangan heboh merayakan drama baru di kelompok mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!