NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 — Sang Maestro Muda Diakui

Pengasuhan sementara dapat ditinjau kapan saja. Karena itu, selama dua belas hari berikutnya Raka memperlakukan setiap aturan seolah keselamatan Sasa bergantung padanya.

Ia mencatat jam makan, hasil pemeriksaan kesehatan, biaya obat, dan jadwal kunjungan Dinas Sosial. Saat bekerja, pintu kontrakan dibiarkan terbuka agar Bu Nani dapat melihat Sasa menggambar di meja kecil. Bila Raka harus pergi lebih dari satu jam, ia melapor kepada pekerja sosial dan menggunakan penitipan komunitas yang telah disetujui, bukan meninggalkan anak itu kepada tetangga tanpa catatan.

Di sela semua itu, Studio Nusa Karya terus bergerak.

Potongan siaran tentang relief kawung dibagikan ratusan kali. Pengikut bertambah dari enam puluh dua menjadi seribu tiga ratus—cukup untuk membuka percakapan bisnis, belum cukup untuk menyebutnya terkenal. Sampel Graha Utama lolos penilaian awal, tetapi keputusan proyek masih menunggu anggaran.

Lalu sebuah nama dari masa lalu muncul di kotak pesan.

Raka, datang ke forum kritik karya FSRD hari Sabtu. Bawa panelmu. Kalau tanganmu masih sebaik dulu, jangan sembunyi di balik layar ponsel.

Prof. Damar.

Raka membaca pesan itu tiga kali.

Di depan pintu, Nindya yang baru mengantar bubur untuk Sasa melihat perubahan wajahnya. "Kabar buruk?"

"Dosen lama saya menemukan akun Studio Nusa Karya."

"Dosen yang galak atau yang baik?"

"Keduanya orang yang sama."

Sasa mengangkat kepala dari buku gambar. "Ayah dimarahi?"

"Belum. Sabtu nanti mungkin."

"Kalau Ayah takut, pegang ini." Sasa menyodorkan pensil ungu pendek—warna matahari pada gambar pertama mereka.

Raka menerimanya dengan khidmat. "Senjata yang kuat."

Nindya tersenyum, tetapi diam-diam membuka ponsel setelah kembali ke kontrakannya. Dua malam sebelumnya, ia memang membagikan tautan siaran Raka ke forum alumni seni menggunakan akun netral. Ia tidak menulis pujian dan tidak meminta siapa pun memberi proyek. Satu-satunya kalimat yang ia sertakan adalah: Apakah teknik relief seperti ini masih diajarkan?

Prof. Damar menemukan jawabannya sendiri.

Sabtu pagi, aula studio yang terhubung dengan lingkungan FSRD dipenuhi mahasiswa, alumni, kurator, dan calon pengguna jasa. Forum itu terbuka untuk kritik portofolio. Setiap peserta mendapat sepuluh menit mempresentasikan karya, lalu lima menit menerima pertanyaan.

Raka datang membawa panel relief kawung, dokumentasi proses, serta potongan giok yang kini sudah dipotong mengikuti bentuk daun. Kemejanya sederhana. Sepatunya satu-satunya pasang yang layak untuk pertemuan.

Beberapa peserta mengenal wajahnya dari potongan video Graha Utama.

"Itu mantu yang ribut dengan keluarga Prawira."

"Katanya pernah kuliah seni."

"Sertifikat lama gampang dipamerkan. Proyek barunya mana?"

Raka mendengar semuanya dan tetap memasang panel pada penyangga.

Seorang seniman dekorasi yang baru selesai presentasi berhenti di dekat mejanya. "Mas membuat ini di kontrakan?"

"Ya."

"Panel sampel tidak membuktikan bisa menangani satu gedung. Banyak kreator konten pandai memilih sudut kamera."

"Benar," jawab Raka. "Karena itu saya membawa potongan uji, formula bahan, dan dokumentasi tiap tahap. Silakan periksa bagian belakangnya juga."

Pria tersebut tidak menyangka Raka akan membuka kelemahan karya untuk diuji. Ia membalik panel. Permukaan belakang rata, penguat serat terpasang konsisten, dan tidak ada retak rambut pada titik pengeringan.

"Siapa yang mengajari campuran ini?"

"Kegagalan panel ketiga saya waktu kuliah."

Suara tongkat kayu mengetuk lantai.

Prof. Damar masuk dengan kemeja batik gelap dan kacamata bertengger rendah. Rambutnya sudah lebih putih daripada yang Raka ingat, tetapi tatapannya masih dapat membungkam satu studio.

Ia berhenti di depan Raka.

"Lima tahun menghilang," katanya. "Lalu kembali membawa panel kecil. Kau ingin saya memuji apa?"

Raka menundukkan kepala hormat. "Jangan puji, Prof. Periksa."

Sudut bibir Damar bergerak sedikit.

Forum dimulai. Ketika giliran Raka tiba, ia tidak menceritakan perceraian, penghinaan, atau kontrakan. Ia menjelaskan masalah yang hendak ia pecahkan: relief anak sering menarik secara visual tetapi memiliki ujung tajam, lapisan mudah mengelupas, dan bahan berbau yang dipakai sebelum benar-benar mengering.

Ia meletakkan panel kawung di bawah lampu miring.

"Motif ini dibuat cukup rendah agar tidak menjadi pijakan, semua ujung dibulatkan, dan tidak ada bagian kecil yang bisa dicabut anak. Pigmen berbasis air. Setelah pemasangan, ruangan harus dikosongkan selama masa curing dan ventilasi, lalu kualitas udara diperiksa sebelum digunakan."

Seorang peserta mengangkat tangan. "Kalau aman menjadi prioritas, kenapa harus relief? Lukisan datar lebih murah."

"Karena anak belajar dengan menyentuh," jawab Raka. "Solusinya bukan menghilangkan pengalaman taktil. Solusinya merancang pengalaman itu agar aman."

Ia mengundang tiga peserta memeriksa permukaan dan bagian belakang panel. Kemudian ia memutar video proses tanpa potongan pada tahap penting, lengkap dengan cap waktu. Tak ada musik dramatis atau filter yang menyembunyikan tekstur.

Seniman dekorasi yang tadi meremehkannya bertanya, "Bagaimana Anda memastikan pola tidak berubah saat diperbesar ke dua puluh meter?"

Raka membuka grid rancangan. "Titik kontrol setiap satu meter, templat modular untuk pengulangan, dan satu garis horizon tetap. Bagian yang disentuh anak berada di zona bawah dengan proyeksi maksimal yang berbeda dari zona atas."

Pertanyaan berikutnya datang lebih teknis.

Raka menjawab semuanya.

Ketika waktunya habis, Prof. Damar belum memberi komentar. Ia hanya berjalan ke panel, mengeluarkan koin, lalu mengetuk beberapa titik untuk mendengar kepadatan lapisan. Setelah itu ia mengambil pensil dan meminta Raka menggambar ulang satu bentuk pada kertas tanpa grid.

Raka menggunakan pensil ungu milik Sasa.

Dalam kurang dari satu menit, pola kawung berubah menjadi empat wajah anak yang saling menghadap, tetap simetris tanpa kehilangan aliran garis.

Ruangan sunyi.

Prof. Damar mengangkat kertas tersebut. "Kalian bertanya proyek barunya di mana. Kalian bertanya apakah kamera membuatnya terlihat lebih baik."

Ia menunjuk tangan Raka.

"Saya mengenal tangan itu. Raka adalah mahasiswa FSRD yang dulu memenangkan penilaian lintas studio tiga tahun berturut-turut. Ia bisa membaca ruang sebelum orang lain selesai mengukur dinding. Lima tahun lalu, beberapa galeri menunggu karya akhirnya. Lalu ia menghilang."

Damar menatap seluruh aula.

"Yang berdiri di depan kalian bukan tukang live yang kebetulan pandai menggambar. Ia seniman berbakat yang dikubur Jakarta selama lima tahun—dan baru menggali dirinya sendiri keluar."

Bisik-bisik meledak.

Ponsel terangkat. Kali ini bukan untuk merekam menantu yang dipermalukan, melainkan pengakuan seorang profesor yang reputasinya tak dapat dibeli oleh satu video viral.

Raka menelan sesuatu yang berat di tenggorokan. "Prof, saya belum membuktikan bisa kembali."

"Bagus. Berarti kau belum menjadi bodoh." Damar menyerahkan kertas itu. "Buktikan lewat pekerjaan berikutnya."

Seseorang di baris depan berdiri. Perempuan sekitar empat puluh tahun dengan blazer biru membawa map berlogo TK Bintang Cemerlang.

"Nama saya Rina," katanya. "Kami sedang merenovasi koridor utama dan ruang bermain. Vendor lama memberi desain cantik, tetapi tidak bisa menjawab soal keamanan bahan. Saya ingin melihat proposal Pak Raka."

Mereka berpindah ke ruang rapat kecil setelah forum.

Bu Rina menunjukkan denah: koridor sepanjang tiga puluh meter, dua dinding ruang bermain, dan area membaca. Tema awalnya hutan Nusantara, tetapi ia tidak ingin sekadar menempelkan hewan lucu.

Raka meminta data usia murid, jam operasional, titik evakuasi, material dinding, jadwal libur, serta riwayat kelembapan. Kemudian ia membuat sketsa cepat: akar pohon menjadi jalur sentuh; burung dan daun ditempatkan di ketinggian berbeda; satu bagian relief berisi bentuk geometri yang dapat diraba anak dengan penglihatan terbatas. Jalur evakuasi dibiarkan bersih dan kontras.

"Berapa lama?" tanya Bu Rina.

"Tujuh belas hari kerja setelah dinding siap. Tiga hari terakhir khusus curing, ventilasi, pembersihan, dan pemeriksaan kualitas udara. Anak tidak boleh masuk sebelum serah-terima."

"Biaya?"

Raka menyerahkan perhitungan material, tenaga, pengamanan area, dokumentasi, dan garansi perbaikan. Totalnya Rp200.000.000.

Bu Rina menatap angka itu. "Untuk seniman yang baru kembali, ini tidak murah."

"Benar. Karena saya tidak menjual nama baru saya. Saya menjual material, desain, keselamatan, waktu kerja, dan tanggung jawab. Ibu boleh meminta pembanding."

Prof. Damar yang duduk sebagai saksi tidak membantu. Ia bahkan tidak mengangguk. Keputusan harus lahir dari proposal Raka.

Bu Rina membalik halaman demi halaman. "Empat puluh persen uang muka, sisanya berdasarkan dua tahap pemeriksaan?"

"Uang muka untuk bahan dan tenaga awal. Pembayaran kedua setelah bentuk dasar diperiksa. Pelunasan setelah hasil akhir, dokumentasi bahan, dan kualitas udara diterima."

"Kalau terlambat?"

"Denda ada di pasal enam. Kalau keterlambatan karena dinding belum diserahkan sesuai spesifikasi, jadwal bergeser melalui berita acara."

Bu Rina menutup map. "Datang ke TK sore ini. Kalau kondisi lapangan cocok dengan proposal, kita tanda tangan."

Empat jam kemudian, Raka berdiri di koridor TK Bintang Cemerlang. Ia menemukan dua titik lembap yang tidak tercantum pada denah dan menolak memulai sebelum keduanya diperbaiki. Bukannya tersinggung, Bu Rina justru memanggil kontraktor bangunan untuk membuat berita acara.

"Vendor lama tidak pernah melihat itu," katanya.

"Kalau ditutup relief, jamurnya akan kembali dan karya ikut rusak."

Bu Rina mengulurkan pena.

Kontrak ditandatangani dua pihak. Total Rp200.000.000. Uang muka empat puluh persen: Rp80.000.000. Jadwal mulai berlaku setelah perbaikan dinding diserahterimakan.

Raka memotret dokumen, menyimpan satu salinan, lalu mengirim pesan kepada Bagas bahwa utang belum akan dilunasi sebelum uang benar-benar masuk dan anggaran proyek diamankan.

Ponselnya berbunyi saat ia keluar dari gerbang TK.

Transfer masuk: Rp80.000.000.

Raka berhenti di trotoar.

Ia tidak langsung membayar utang atau membeli barang pribadi. Dari aplikasi bank, Raka membuat kantong dana proyek terpisah: material, upah tenaga tambahan, pengamanan lokasi, biaya uji, dan cadangan risiko. Uang muka adalah amanah pekerjaan, bukan hadiah kemenangan. Hanya porsi jasa yang sudah menjadi haknya kelak boleh dipakai untuk kebutuhan rumah serta nafkah anak.

Setelah seluruh pos tersimpan, barulah ia mengambil tangkapan layar mutasi untuk arsip kontrak.

Delapan puluh juta rupiah bukan kekayaan bagi keluarga Prawira, apalagi bagi perempuan yang diam-diam membaca kabar itu dari sebuah akun tanpa nama. Namun bagi lelaki yang dua minggu lalu menghitung apakah Rp786.000 cukup untuk tiga kali makan, angka itu adalah bukti pertama bahwa tangannya dapat menghidupi dirinya dan Sasa.

Pesan dari Prof. Damar masuk sesaat kemudian.

Jangan cepat puas. Jakarta baru saja mengingat nama seorang jenius yang pernah dibuangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!