Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Kamu Milikku
Tiga hari setelah gala amal, Ningsih menyerahkan sebuah map tipis kepada Sekar di area parkir RS Medika Prima.
"Ini baru rancangan awal," katanya. "Pengacara yang dihubungi Pak Djoyo menyarankan Mbak tidak menandatangani apa pun dari keluarga Danuwijaya. Kalau mau mengajukan cerai gugat, semua berkas harus diserahkan langsung melalui jalur resmi."
Sekar membuka halaman pertama. Nama dirinya tertera sebagai penggugat. Membaca kata itu membuat jantungnya berdenyut keras, tetapi tidak ada keinginan untuk mundur.
"Aku akan bicara kepada Rendra malam ini."
Ningsih tampak khawatir. "Sendirian?"
"Aku harus melihat reaksinya. Kamu simpan salinan digital dan tunggu kabarku sampai tengah malam. Kalau aku tidak menghubungi, telepon Mama."
"Lebih baik saya ikut masuk."
"Kalau mereka menahanmu, kita kehilangan orang yang membawa bukti keluar."
Ningsih akhirnya mengangguk. Sebelum Sekar pergi, ia menahan pintu mobil. "Mbak tidak perlu meminta izin untuk selamat."
Kalimat itu menemani Sekar sepanjang perjalanan pulang.
***
Rendra berada di ruang kerja ketika Sekar mengetuk pintu. Ia sedang membaca beberapa pesan di ponsel dan langsung mematikan layar saat istrinya masuk.
"Kita perlu bicara," kata Sekar.
"Kalau tentang gala, aku tidak ingin mendengarnya lagi. Kamu mempermalukan Kirana di depan banyak orang."
Sekar meletakkan map di meja. "Aku ingin bercerai."
Rendra tidak bergerak.
Jam dinding berdetak tiga kali sebelum ia tertawa pendek. "Jangan bicara sembarangan."
"Aku sudah memikirkannya. Aku akan mengajukan cerai gugat ke Pengadilan Agama. Aku tidak menuntut bagian dari aset keluargamu. Harta yang berasal dari keluargaku tetap milikku. Kita selesaikan harta bersama melalui prosedur hukum."
Rendra membuka map, membaca dua halaman, lalu melemparkannya kembali.
"Tidak."
"Ini pemberitahuan, bukan permintaan izin."
"Kamu istriku."
"Kamu juga suami Kirana secara siri, menurut pengakuanmu sendiri."
"Itu tidak mengubah kedudukanmu."
"Justru itu mengubah semuanya."
Rendra berdiri. "Apa yang kamu mau? Rumah lain? Uang lebih banyak? Aku bisa mengatur supaya kamu tidak perlu bertemu Kirana."
"Aku ingin pergi."
"Tidak bisa."
Sekar memandangnya dengan tenang. "Kenapa? Kamu sudah memilih perempuan yang katanya mengandung anakmu. Mengapa menahan istri yang selama ini kalian sebut tidak berguna?"
Rendra berjalan mengitari meja. "Karena kamu milikku."
"Aku bukan benda."
"Kamu istriku sejak enam tahun lalu. Seluruh hidupmu ada di rumah ini."
"Seluruh hidupku justru habis di rumah ini."
Otot rahang Rendra menegang. "Jangan membuat keputusan karena marah."
"Aku mengatakannya tanpa berteriak. Aku membawa syarat yang jelas. Siapa di antara kita yang tidak tenang?"
Rendra meraih map lagi. "Kalau kamu mengajukan gugatan, aku akan menolaknya. Mediasi bisa berlangsung berbulan-bulan. Pengacara keluarga mengenal banyak orang."
"Koneksi keluargamu tidak menghapus hakku mengajukan gugatan."
"Aku bisa menghentikan aksesmu ke rekening bersama. Mobil atas nama keluarga akan ditarik. Kamu mau tinggal di mana? Bambang bahkan memintamu kembali kepadaku."
Sekar tidak terkejut. Ayahnya pasti sudah bicara.
"Ancaman keuangan tidak membuat pernikahan ini utuh."
"Aku sedang menjelaskan kenyataan."
"Kenyataannya, kamu berselingkuh, menikah siri, lalu membiarkan keluargamu menuduhku."
"Aku tetap tidak menceraikanmu!"
Suara Rendra menghantam dinding. Dari luar ruang kerja, langkah seseorang berhenti. Aroma parfum Wida menyelinap melalui celah pintu.
Sekar menurunkan suaranya. "Kamu tidak menceraikanku karena keluargamu masih menginginkan aset Reksonegoro."
Wajah Rendra berubah sesaat.
"Siapa yang mengisi kepalamu dengan omong kosong itu?"
"Jadi aku salah?"
"Kamu bagian dari keluarga. Wajar kalau sumber daya dipakai untuk kepentingan bersama."
"Bersama siapa? Aku tidak pernah melihat laporan, tidak pernah diminta menyetujui pemindahan saham, dan tidak tahu ke mana penghasilan Astarasa dialihkan."
"Kamu tidak memahami bisnis sebesar itu."
"Cobalah aku."
Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Rendra tampak bukan hanya marah, melainkan terancam.
"Sudah cukup," katanya. "Lupakan cerai. Tandatangani surat persetujuan poligami. Setelah Kirana melahirkan, semuanya akan tenang."
"Tidak ada kata tenang setelah pengkhianatan."
"Kirana tidak akan mengambil tempatmu," desak Rendra. "Kamu tetap mengurus rumah ini. Kamu tetap mendampingiku di acara resmi. Anak Kirana bisa tinggal di paviliunnya. Tidak ada yang perlu berubah."
Sekar hampir tidak percaya. "Kamu ingin aku tersenyum di sampingmu di depan kamera, sementara perempuan lain membesarkan anakmu di kamar sebelah?"
"Banyak keluarga menjalani keadaan seperti ini."
"Karena banyak orang melukai istrinya, bukan berarti aku wajib menerima luka yang sama."
Rendra berjalan semakin dekat. "Aku mengenalmu sejak kecil. Kamu tidak akan sanggup hidup sendiri. Kamu bahkan tidak tahu bagaimana membayar tagihan rumah karena semuanya diurus staf."
"Aku mengurus rekening rumah tangga enam tahun terakhir. Aku membayar obat Eyang, acara Mama, dan renovasi kantor yayasanmu dari hasil aset yang kau bilang tidak kupahami."
"Itu berbeda."
"Berbeda karena selama ini kamu menganggap semua kemampuanku milik keluarga, sementara semua kebutuhanku dianggap beban."
Rendra meraih bahunya, tetapi Sekar mundur sebelum disentuh.
"Sekar, dengarkan aku. Aku tahu cara dunia bekerja. Di luar rumah ini, orang akan terus menyebut foto hotel itu. Keluarga lain tidak akan menerimamu. Kamu pikir ada laki-laki yang mau menikahi perempuan yang dicap mandul dan tidak setia?"
Setiap kata dipilih untuk menakutinya. Dulu mungkin berhasil. Malam ini Sekar justru melihat betapa Rendra membutuhkan dirinya tetap takut.
"Lebih baik hidup sendiri daripada tinggal dengan lelaki yang memakai hinaan orang lain sebagai rantai."
"Kamu tidak sungguh-sungguh."
"Aku tidak pernah sesungguh ini."
Sekar mengambil map dan berbalik.
Rendra merebutnya dari belakang. Kertas-kertas terlepas, lalu ia merobeknya menjadi dua. Sekar menatap sobekan nama mereka jatuh ke lantai.
"Kamu pikir merobek kertas membatalkan keputusanku?"
Rendra merobeknya sekali lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
"Aku bisa mencetak ulang."
"Cobalah mengajukan gugatan. Aku akan memastikan kamu tidak punya uang, kendaraan, atau akses ke satu pun kantor hukum. Kamu akan kembali ke rumah ini dan berhenti mempermalukanku."
"Mempermalukanmu? Aku yang difoto dalam keadaan dibius."
"Kamu istriku. Apa pun yang kamu lakukan melekat pada namaku."
Sekar melangkah menuju pintu. Rendra menangkap pergelangan tangannya.
Rasa sakit menjalar sampai siku. Sekar mencoba menarik diri, tetapi genggaman itu justru menguat.
"Kamu cuma boleh jadi milikku," kata Rendra. Napasnya panas di dekat pelipis Sekar. "Aku tidak peduli berapa kali kamu mengucapkan cerai."
Langkah Wida kembali terdengar di lorong, semakin dekat. Bayangan kakinya berhenti di bawah celah pintu.
Sekar menatap jari-jari yang mengunci kulitnya. Tangan itu pernah kotor oleh lumpur ketika menanam pohon delima. Dulu ia mengira tangan tersebut akan menjadi tempat berlindung.
Sekarang, tangan yang sama berubah menjadi jeruji.
Ia mengangkat wajah dan menatap Rendra tanpa berkedip.
"Lepaskan."
Rendra tidak melepaskan.
Jemarinya malah mencengkeram lebih kuat.