NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Pengantin yang Kabur

Petugas keamanan akhirnya mencapai panggung, tetapi Rakai masih sempat mendaratkan satu pukulan lagi sebelum dua orang memisahkannya dari Radit.

"Jangan sentuh kakakku!" bentaknya.

Sudut bibir Radit berdarah. Ia berusaha melepaskan pegangan petugas sambil tetap memanggil Laras. Di tengah kekacauan itu, Eyang Sudibyo bertukar pandang dengan Pak Gito.

Isyaratnya sangat kecil.

Detik berikutnya, tangan Eyang mencengkeram dada. Tubuhnya merosot di kursi roda.

"Pak Sudibyo!"

Pak Gito langsung berteriak meminta ruang dan dokter. Bu Ratna meninggalkan panggung. Pak Kusumo menoleh. Kamera media yang tadi merekam perkelahian serentak beralih kepada kepala keluarga Adiwangsa yang tampak tidak sadarkan diri.

"Jangan direkam! Panggil ambulans!"

Perhatian aula pecah menjadi dua. Dalam beberapa menit, rombongan medis mendorong Eyang keluar melalui jalur utama. Pak Gito menjaga wajah panik sampai pintu tertutup, meski jari lelaki tua di bawah selimut sempat mengetuk dua kali, tanda bahwa sandiwara berjalan sesuai rencana.

Di dalam ambulans, petugas medis yang sudah mengenal riwayatnya tetap memasang monitor dan memeriksa tekanan darah. Pak Gito tidak membiarkan sandiwara mengabaikan keselamatan. Eyang membuka satu mata ketika pintu belakang tertutup.

"Anak itu sudah keluar?"

Pak Gito melihat pesan petugas di jalur servis. "Non Laras menuju taman."

"Bagus."

"Tuan Muda Rakai masih berkelahi."

"Biar dia belajar satu pukulan cukup."

Monitor menunjukkan irama stabil. Eyang menutup mata lagi saat ambulans mulai bergerak, kali ini tersenyum sangat tipis.

Di sisi lain gedung, Laras sudah melewati pintu servis.

Udara taman menghantam wajahnya. Ia melepas sepatu hak dan mengangkat rok agar bisa berlari di atas batu. Veil panjang tersangkut pada semak, terlepas dari rambut, lalu terbang ke belakang.

Seseorang menangkap ujungnya.

Bram berdiri di bawah pohon besar dengan rokok menyala di antara jari. Dasi sampanyenya sudah dilonggarkan. Ia tampak seperti lelaki yang datang ke pernikahan untuk menyaksikan kekalahannya sendiri.

Tatapan mereka bertemu.

"Lepaskan," kata Laras.

Bram melihat veil di tangannya, lalu layar ponsel yang menampilkan berita langsung dari aula. "Kamu jadi kabur."

"Bukan dengan kamu."

Laras mengambil veil, tetapi Bram berjalan mengikutinya.

Di kejauhan, dua anggota keamanan keluar dari gedung. Laras menarik Bram masuk ke sisi gelap jalur taman. Veil putih di tangannya terlalu terang, maka ia menggulung kain itu dan menyelipkannya di balik bangku batu.

"Kalau mereka melihatmu, mereka akan mengira kamu membantu saya."

"Memang."

"Kamu tidak melakukan apa-apa."

"Itu bagian paling sulit malam ini."

Jawaban tersebut membuat langkah Laras tersendat. Bram bisa saja menariknya ke mobil pagi tadi. Ia bisa membuka rahasia mereka dan menghancurkan narasi Radit. Namun setelah Laras meminta dihormati, lelaki itu benar-benar membiarkannya menjalankan pilihan sendiri, meski harus berdiri di taman sebagai pihak yang tidak dipilih.

"Jangan ikut."

"Jalan ini punya Eyang."

"Cari jalan lain."

"Aku tersesat."

Dalam keadaan lain, alasan itu mungkin membuat Laras tertawa. Sekarang ia mempercepat langkah. Bram tetap berada beberapa meter di belakang, tidak mendekat, tidak juga berhenti.

"Bram."

"Hm?"

"Kalau orang melihat kita, seluruh berita akan berubah."

"Aku cuma jalan."

"Kamu baru mencoba membawa saya kabur pagi ini."

"Tawaran masih berlaku."

Laras berhenti di balik pagar tanaman. Ia memeriksa sekeliling. Tidak ada kamera, tamu, atau petugas. Suara aula hanya terdengar sebagai gema jauh.

"Mendekat," katanya.

Bram menurut, mungkin mengira Laras akhirnya akan menerima tawaran. Laras mencengkeram dasinya, berjinjit, dan mengecup bibirnya sangat singkat.

Rokok jatuh dari jari Bram ke tanah basah.

"Jangan ikut," ulang Laras lebih lembut.

Bram diam.

Laras menyentuh pipinya sekali, menganggap kesunyian itu sebagai persetujuan, lalu berlari lagi. Di belakangnya, Bram tidak bergerak. Jemarinya naik menyentuh bibir seolah satu ciuman kecil telah menghapus semua kata penolakan di ruang rias.

Kirana sudah menunggu di dekat gerbang servis dalam mobil sport merah muda terang. Begitu Laras masuk, ia menyerahkan sepatu datar dan jaket panjang.

"Rakai?" tanya Laras.

"Masih hidup. Mungkin sedang ditahan tiga petugas."

"Kita tidak bisa meninggalkannya."

"Yudha sudah masuk untuk mengeluarkan dia. Kalau kamu tetap di sini, semua orang akan mengejar kamu."

Kirana menginjak gas. Mobil meluncur keluar saat petugas gerbang baru menerima perintah menutup akses. Di jalan menurun, ban berdecit pada tikungan pertama.

Sebuah SUV keluarga muncul dari arah berlawanan dan hampir memblokir jalur. Kirana menurunkan kaca hanya cukup untuk menunjukkan kartu vendor, lalu berkata ia membawa kostum yang harus dikembalikan. Pengemudi SUV masih ragu. Laras menunduk di balik jaket sambil menahan napas sampai palang dibuka.

Begitu mereka melewati tikungan berikutnya, tiga panggilan dari Bu Widuri masuk berturut-turut. Disusul Pak Broto, Radit, dan nomor tidak dikenal. Laras mematikan suara tanpa memblokir siapa pun. Semua panggilan itu akan berguna sebagai bukti bahwa ia tidak menghilang sebelum acara meledak. Ia pergi sesudah pengkhianatan ditampilkan, bukan sebelum itu.

"Pelan!"

"Kamu mau dikejar?"

"Saya mau tetap hidup setelah batal akad."

Kirana menurunkan sedikit kecepatan, tetapi senyumnya lebar. "Kamu berhasil, Ras."

Laras menatap pakaian putihnya sendiri. Berhasil terasa terlalu sederhana untuk menggambarkan kehancuran yang baru ditinggalkan. Namun satu fakta membuat dadanya akhirnya terbuka.

Ia tidak menikah.

Tidak ada ijab. Tidak ada kabul. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada satu detik pun ketika ia sah menjadi istri Radit.

Setelah mobil mencapai jalan utama, Mbak Ranti menelepon. Ia sudah menahan semua wawancara dan mengirim pernyataan singkat bahwa Laras terpukul, membutuhkan privasi, serta tidak akan melanjutkan agenda hari itu.

"Jangan pakai kata perceraian," kata Laras. "Akad belum berlangsung. Tegaskan acara dihentikan sebelum ijab kabul."

"Sudah. Tim media juga menyimpan rekaman waktu penghulu masih di ruang tunggu."

"Bagus."

Rencana berikutnya tersusun selama perjalanan. Laras akan tinggal di rumah beberapa hari untuk tampil terpukul, lalu berangkat ke luar negeri dengan alasan memulihkan diri. Ia dapat melewati sisa musim liburan jauh dari tekanan dua keluarga. Setelah kembali, syuting Harmoni Nusantara dimulai dan ia punya pekerjaan publik yang tidak bisa mudah dibatalkan orang tuanya.

Mbak Ranti menyarankan satu wawancara eksklusif, tetapi Laras menolak. Tangisan tanpa komentar akan membuat publik menuntut jawaban dari Radit, bukan membedah pilihan Laras. Ia juga meminta tim mengarsipkan semua unggahan asli dengan cap waktu sebelum pihak Grup Adiwangsa mulai menghapusnya.

"Pernyataan cukup tiga baris," katanya. "Saya datang dengan niat baik. Acara berhenti sebelum akad. Saya butuh waktu. Jangan sebut Tiara hamil sebelum dia sendiri mengaku."

"Dipahami," jawab Mbak Ranti. "Dan Ras, selamat keluar."

Ucapan itu membuat tenggorokan Laras panas. Ia menutup telepon sebelum suaranya pecah.

"Kamu terdengar seperti sedang mengatur tur," kata Kirana.

"Kalau saya berhenti berpikir, saya mungkin menangis sungguhan."

"Kamu sudah menangis sungguhan."

"Tidak untuk Radit."

Saat tiba di rumah Wirasena, penjaga terlalu sibuk menerima telepon untuk menyadari mobil Kirana masuk dari gerbang samping. Laras turun dengan jaket menutupi pakaian akad dan berjalan cepat ke kamar.

Bu Widuri serta Pak Broto masih tertahan di perkebunan. Rakai mengirim pesan singkat bahwa Yudha telah membawanya keluar, disertai foto buku-buku jari memerah dan kalimat: Layak.

Laras baru tertawa ketika melihatnya.

Ia mengganti pakaian, membersihkan riasan, lalu membuka media sosial. Berita berkembang lebih cepat daripada perkiraannya.

Video Radit dan Tiara berada di mana-mana. Potongan Rakai memukul Radit memiliki musik latar dan teks "mantap iparnya". Ada pula foto Laras berlari tanpa sepatu, veil terbang di taman, dan ambulans meninggalkan perkebunan.

Komentar publik terbelah antara kemarahan, lelucon, dan teori konspirasi. Namun untuk pertama kalinya, mayoritas tidak bertanya mengapa Laras gagal menjadi istri yang sabar. Mereka bertanya mengapa seorang lelaki yang berselingkuh masih berani berlutut di panggung dan meminta pernikahan di depan kamera.

Satu tanda pagar membuat senyumnya hilang.

#EyangDilarikanKeRumahSakit

Cuplikan memperlihatkan Eyang terkulai di kursi roda. Kali ini aktingnya lebih meyakinkan daripada saat di kamar VIP. Laras teringat bagaimana lelaki tua itu mengajaknya bermain go, lalu tanpa sengaja memberinya nasihat tentang pusat papan yang dikepung.

Ia membuka kontak V.

Eyang bagaimana?

Balasan Bram tiba tidak sampai satu menit.

Masih bisa menamparku sampai gegar otak. Kamu khawatir apa?

Laras mengembuskan napas lega.

Jadi pura-pura lagi?

Katanya jantungnya sakit lihat cucunya dipukul anak orang.

Rakai yang dipukul juga.

Makanya sekarang sudah sembuh.

Laras hampir mengetik ucapan terima kasih karena Bram tadi berhenti mengikuti. Ia menghapusnya. Sebagai gantinya, ia mengirim satu kalimat.

Rokokmu jatuh di taman. Jangan biarkan orang menemukannya.

Tiga titik muncul lama.

Yang jatuh bukan cuma rokokku.

Laras menatap balasan itu. Jantungnya berdenyut lebih cepat, tetapi ia menolak bertanya maksudnya.

Di taman perkebunan yang kini kosong, Bram masih berdiri di tempat yang sama. Puntung rokok telah ia injak padam, tetapi ibu jarinya terus mengusap bibir.

Pagi tadi, Laras menolak pergi bersamanya.

Sore ini, perempuan itu berhasil kabur sendiri, lalu memberinya satu ciuman yang terasa lebih mirip janji daripada perpisahan.

Bram akhirnya membungkuk mengambil puntung rokok dan menyimpannya di saku. Ketika ia kembali menuju aula, langkahnya tidak lagi terasa seperti milik lelaki yang kalah. Laras telah menolak dibawa pergi, tetapi ia juga memastikan Bram menjadi orang terakhir yang disentuhnya sebelum kebebasan dimulai hari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!