VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 24 : Kejutan Mengerikan
Masih Flashback
Kalimat yang diucapkan Devian terdengar seperti petir di siang bolong. Tatapannya yang tajam seolah sedang menghakimi Ice akan sikap pengecutnya. Anehnya detik kemudian bukan ekspresi marah atau kekecewaan atau kemarahan yang Ice lihat di wajah Devian, yang ada malah senyuman penuh makna yang membuat Ice kebingungan.
"Apa Kak Ice sadar, huh? Aku dari dulu selalu menyukai Kakak, tapi bodohnya Kakak tidak peka dan tidak pernah peduli padaku. Gadis-gadis yang Kakak kencani, mereka tidak pernah mencintaimu dengan tulus! Tidak seperti perasaanku padamu!"
"Omong kosong! Kau ini bicara apa?" Ketus Ice yang ingin segera menyudahi percakapan ini. Apa yang diucapkan Devian membuatnya kembali teringat pada hubungan percintaannya yang selalu kandas. Pikiran Ice jadi mulai menerka-nerka, mungkinkah alasan para wanita itu selalu menolak cintanya adalah karena ulah Devian. Jikapun itu benar Ice sendiri sudah tidak peduli, baginya semua itu sudah menjadi masa lalu.
"HEY, TUNGGU! Jangan menghindariku lagi, Kak Ice!" Panggil Devian saat melihat Ice hendak beranjak naik ke tepi kolam.
"DEG!" Jantung Ice serasa copot saat merasakan tubuh Devian yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Sampai kapan Kakak akan terus mengacuhkanku, huh?! Kenapa? Apa kakak takut padaku?" Pertanyaan Devian dan pelukannya yang erat membuat Ice tak nyaman, terlebih menyadari pemuda ini tengah telanjang bulat.
"Kakak tahu, Aku bisa memuaskan Ayah, karena itu aku yakin aku juga bisa memuaskanmu!" Ucap Devian setengah berbisik. Kalimat itu sukses membuat Ice panik.
"HEY! APA-APAAN INI! MENYINGKIRLAH! Kau dan Ayah sama-sama menjijikan!" Bentak Ice saat melepaskan diri dari pelukan Devian. Dia sengaja membalikkan keadaan dengan mencengkeram dan memelintir tangan kurus Devian hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Arrghhh! JIKA AKU MENJIJIKAN KAU SENDIRI BAGAIMANA, HUH?!" Devian menggeram hebat debelum melanjutkan kalimatnya.
"KAU DAN AYAH! Hiks... Kalian! KALIAN KEJAM! BAJINGAN! BIADAB!"
Untuk pertama kalinya Devian meluapkan amarahnya setelah begitu lama dia selalu bersikap menjadi anak cengeng dan lemah. Ledakan emosi yang dia simpan begitu lama akhirnya membuncah. Matanya yang merah kini menatap Ice penuh kebencian, air mata membasahi pipinya dan dia mulai menangis tersedu.
Melihat perubahan emosi Devian yang tiba-tiba itu, Ice hanya bisa terdiam dan menelan ludah kasar. Dia bukan manusia jika tidak mengerti rasa sakit yang diderita oleh batin pemuda ini. Tapi Ice tak bisa bicara apa-apa, tenggorokannya terasa kering, dan dadanya sesak oleh perasaan bersalah. Dia sadar betapa pengecut dan kejam dirinya selama ini yang hanya berpura-pura buta. Dia membiarkan Ayahnya yang pedofil bejat menyiksa Devian baik fisik dan juga mental tanpa berusaha menolong ataupun menghentikannya. Entah berapa lama perbuatan biadab itu berlangsung hingga Ice sendiri bisa menilai ada sesuatu yang salah dengan pribadi dan kejiwaan Devian. Saudara tirinya ini sudah bukan bocah polos biasa, Devian bukan pemuda normal.
...----------------...
"Ezra, apa kau melihat Devian?" Terdengar suara sang Ayah memanggil dari dalam rumah.
"T-tidak tahu... Yah!" Ice menjawab suara tercekat. Panggilan dari Ayahnya spontan membuatnya gugup. Beruntung pria itu tampak tak curiga dan tak bertanya apapun lagi saat melihat punggung Ice yang tengah bersandar pada kolam renang. Satu tangannya mendarat di tembok sisi kolam renang sedangkan yang satunya lagi sibuk memegangi kepala Devian yang tengah bersembunyi di sela kakinya.
Ice tidak siapakah yang sebenarnya iblis diantara mereka. Apakah Ayahnya, dirinya atau Devian. Satu hal yang dia tahu apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Bisikan setan yang merasuki dirinya membuatnya terperosok ke lubang yang sama.
"Hmph!" Ice menggigit bibir bawahnya berharap tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia hanya bisa menganga saat mulut dan tangan Devian bekerja di bawah sana.
Ice menengadahkan kepalanya menatap langit. Tanpa terasa warna jingga sore hari sudah berubah menjadi malam kelam tanpa bintang. Namun tidak perlu lama dia bisa melihat cahaya putih dan bintang berkilauan. Kenikmatan sesaat yang detik kemudian meninggalkan penyesalan yang mendalam.
"Hhaaah..." Setelah menahan nafas begitu lama di dalam air, Devian baru bisa bernafas lega.
"Apa kau suka, Kak Ice?" Senyumnya sambil menyeka cairan putih lengket dari sudut mulutnya. Dia kembali mengalungkan lengannya ke pundak Ice dengan manja.
"Aku menginginkanmu... Kumohon jadilah milikku, Kak Ice! Aku sangat mencintaimu... aku rela melakukan apapun untukmu..."
Bisik Devian tepat dibibir Ice sebelum dia mendaratkan ciuman yang lembut. Entah karena masih syok atau bingung, Ice hanya terdiam mematung. Dia tak membalas ciuman itu tapi juga tidak menghindar atau menghentikannya. Malam semakin gelap begitu pula dengan hati dan pikiran Ice saat itu. Dia larut dalam kehangatan pelukan dan ciuman Devian atau tepatnya sudah terperangkap dalam jebakan saudara tirinya.
...----------------...
Itulah ingatan Ice tentang Devian. Ice tahu jika di belahan dunia lain hubungan mereka itu adalah dosa dan tabu. Ice sendiri tidak mengerti mengapa dia membiarkan hal itu terjadi. Apakah yang dia lakukan itu hanya karena sekedar nafsu, rasa bersalah atau cinta. Satu hal yang Ice sadari, pesona Devian memang memikat dan juga berbahaya.
Flashback Tamat
...----------------...
Setelah hampir satu jam menghindari kejaran Polisi dan juga melawan kemacetan, akhirnya Ice tiba juga di rumahnya. Mansion yang luas nan megah berasitektur modern yang sudah lama tidak dia kunjungi. Semua itu sengaja karena dia menghindari Ayahnya sendiri dan juga Devian.
Melihat kedekatan Devian dengan Ayahnya sehari-hari yang akrab seperti Ayah dan anak membuat Ice muak. Bukan lagi karena perasaan cemburu karena di anak tirikan melainkan karena kebencian yang mendalam. Karena itulah perlahan sikap Ice mulai berubah, dia menjadi anak pembangkang. Dia sering bolos sekolah dan membuat masalah dengan gurunya. Dia sering berkelahi dan juga mabuk-mabukkan di klub malam. Semua dia lakukan untuk membuat Ayahnya murka hingga di satu titik pria tua itu menyerah memutuskan hubungan keluarga dengannya.
...----------------...
"Kreekkk..."
Suara pintu terbuka. Dengan langkah gontai Ice memasuki rumahnya yang entah kenapa saat ini begitu sepi. Biasanya jikapun Ayahnya sedang tidak ada di rumah masih ada pelayan lain dan juga sekuriti yang berjaga.
"Hmph! Apa ini!" Ice mengernyitkan hidungnya. Bau busuk menyengat yang menyambut kedatangannya membuat Ice curiga, ada sesuatu yang salah dirumah ini. Lampu ruangan dibiarkan dalam keadaan redup Ice tak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.
"Ayah!" Ice memanggil sosok familiar yang tengah duduk memunggunginya di sofa. Tidak ada jawaban. Pria tua itu tampak sedang fokus menonton televisi.
"Sialan! Apa dia sedang tidur atau sudah tuli?" Gerutu Ice sambil menghampirinya.
Dia sebenarnya malas berbincang dengan Ayahnya tapi kali ini firasat buruk membuatnya terpaksa melakukan ini. Perhatian Ice kemudian teralih pada layar TV yang sedang memutar sebuah video. Senyuman kecil tersungging tanpa sadar di bibirnya saat menyadari isi video itu, sebuah kenangan indah terakhirnya di rumah ini saat berulang tahun yang ke-10 bersama Ayah dan Ibu kandungnya. Hari dimana dirinya masih menjadi anak tunggal kesayangan keluarga ini. Jika saja wanita simpanan itu beserta anak lelakinya Devian tidak datang ke rumah ini. Ice pikir kebahagiaannya akan terus berlangsung hingga saat ini.
"Tapi kenapa Ayah menonton video lama ini? Apa dia ingin bernostalgia?" Ice mengkerutkan keningnya penasaran.
Dia melihat Ayahnya sedang memegangi sesuatu seperti remote control. Ice bermaksud meraihnya untuk mematikan televisi namun sesuatu yang dia temukan membuat matanya terbelalak horor.
"OH TUHAAN! AYAH! AYAH!!!!" Ice berteriak histeris. Bukan remote control yang dia ambil dari tangan Sang Ayah melainkan sepucuk pistol yang serta merta jatuh ke lantai.
"Blergh!" Ice tak sanggup lagi menahan diri untuk muntah. Bau busuk yang pekat tadi ternyata berasal dari tubuh ayahnya yang sudah menjelma jadi seonggok mayat. Ice sendiri baru sadar dirinya tengah berdiri di tengah genangan darah.
Darah merah yang mengalir dari lubang di tengah kepala Ayahnya sudah tampak mengering, belatung dan serangga menggeliat keluar dari rongga matanya. Lebih tragisnya lagi jasad Ayahnya itu Ice temukan dalam kondisi sedang tak memakai celana. Dari situ saja Ice bisa menebak aktivitas apa yang terjadi sebelum pria tua ini meninggal.
"Brengsek! Di akhir hidupmu pun kau masih saja berperilaku bejat! Kau sungguh menjijikan dan memalukan, Ayah! Neraka sudah menantimu!"
Kutuk Ice dalam batinnya. Tangan dan sekujur tubuhnya gemetar karena emosi. Ice tidak tahu apakah dirinya harus bersedih dan meratapi kematian Ayahnya atau tidak. Di lubuk hatinya dia tahu, Ayahnya memang pantas berakhir seperti ini. Belum tuntas dengan trauma yang baru saja dia alami karena kenyataan mengerikan ini. Perhatian Ice teralih pada kalimat yang tersusun dari bercak dan genangan darah di lantai.
"Selamat datang, Kak Ice❤! Apa Kakak senang dengan kejutanku?"
TBC
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh