"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
happy reading
Bab 11: Ancaman dari Pesisir Utara
Limosin putih milik Anastasia Wijaya melaju laksana anak panah yang lepas dari busurnya, membelah jalur alternatif pesisir utara setelah berhasil keluar dari jebakan kemacetan tabrakan beruntun di jalan tol.
Di belakangnya, dua mobil SUV hitam pengawal Wijaya Corps terus menempel ketat, lampu trotor darurat mereka memantulkan pendaran merah dan biru yang membelah keheningan malam.
Anastasia duduk di kursi belakang dengan napas yang memburu satu-satu.
Sepasang netra indahnya yang masih terasa sedikit perih akibat sisa gas pelumpuh kini menatap tajam ke arah layar gawai di genggamannya.
Di sampingnya, Sekretaris Hendra terus memantau pergerakan titik merah pada peta digital.
Sinyal GPS dari jam tangan pintar Alta menunjukkan bahwa minibus para penculik bergerak kian dekat menuju kawasan dermaga tua yang terbengkalai.
"Nona, unit taktis kita dari sektor utara sudah mulai menyebar di sekitar perimeter dermaga," lapor Hendra dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin demi menjaga ketenangan batin atasannya.
"Namun, medan di sana sangat gelap dan dipenuhi banyak gudang tua kontainer. Kita harus bergerak senyap begitu tiba di lokasi agar para pelaku tidak panik."
Bzzz... Bzzz...
Gawai di genggaman Anastasia mendadak bergetar hebat, memutus kalimat Hendra.
Sebuah panggilan video dari nomor tak dikenal masuk ke dalam sistem terenkripsi miliknya.
Jantung Anastasia seketika berdegup kencang, firasat buruk langsung mencengkeram ulu hatinya.
Ia segera menggeser tombol hijau. Layar gawai Anastasia seketika menampilkan sebuah rekaman video beresolusi rendah dengan latar belakang ruangan yang remang dan pengap.
Di sana, Alta tampak terikat kuat di atas sebuah kursi kayu, mulutnya masih ditutup rapat oleh plester hitam tebal.
Di belakang bocah itu, berdiri siluet seorang pria bertato kalajengking yang sedang mengacungkan sebilah pisau lipat taktis tepat di depan leher mungil Alta.
"Alta...!"
pekik Anastasia histeris, suaranya melengking tinggi menembus keheningan kabin mobil, sepasang matanya melebar sempurna menyaksikan putra sulungnya berada di ujung tanduk kematian.
Detik berikutnya, visual video tersebut beralih menampilkan wajah seorang wanita yang sebagian besar tertutup oleh kegelapan kamar apartemen, namun Anastasia langsung mengenali suara cempreng nan licik yang terdengar dari pengeras suara.
"Bagaimana, Anastasia Wijaya? Apa kamu menyukai kejutan kecil di malam hari ini?"
suara Siska Amalia terdengar tertawa getir, sarat akan kepuasan yang teramat kejam.
"Jangan mengira karena sekarang kamu memiliki kekuasaan Wijaya Corps, kamu bisa menginjak-injak harga diriku begitu saja! Hari ini Devan memecatku karena kamu! Dan sekarang, nyawa putra sulungmu berada di dalam genggaman tanganku!"
Anastasia mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga kuku jarinya memutih, mencoba sekuat tenaga menekan gemuruh amarahnya agar akal sehatnya tidak runtuh.
"Siska... berani sekali kamu menyentuh putraku! Katakan apa yang kamu mau, bajingan!" raung Anastasia dengan nada suara yang merendah penuh ancaman pembunuhan yang pekat.
"Mudah saja," desis Siska dari seberang telepon.
"Saya ingin kamu mengirimkan surat pembatalan resmi atas penarikan modal Wijaya Corps ke bursa efek sekarang juga! Tandatangani kembali draf investasi dua triliun rupiah untuk Mahendra Group, dan transfer uang tunai sebesar lima puluh miliar rupiah ke rekening lepas pantai yang akan saya kirimkan setelah ini! Jika dalam waktu tiga puluh menit tuntutan ini tidak dipenuhi, orang-orangku akan memastikan bocah genius ini tidur selamanya di dasar laut pesisir utara!"
Klik.
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Siska, meninggalkan layar gawai Anastasia yang kembali gelap.
Kamar limosin itu seketika diliputi oleh atmosfer ketakutan yang mencekam.
"Nona, jangan terpancing," Hendra segera memegang pundak Anastasia yang mulai gemetar hebat.
"Tim siber kita sudah berhasil melacak IP address dari panggilan video tadi saat sambungan terputus. Siska Amalia saat ini tidak berada di dermaga utara. Wanita itu bersembunyi di apartemen pribadinya di pusat kota, sementara para eksekutornya yang berada di dermaga bersama Den Alta."
Anastasia menyeka air mata keputusasaannya dengan kasar.
Wajahnya yang semula pias mendadak berubah menjadi sedingin es kutub.
"Arahkan sebagian pengawal untuk mengepung apartemen Siska sekarang juga! Jangan biarkan wanita ular itu melarikan diri! Dan untuk Alta... percepat laju mobil! Kita tidak punya waktu tiga puluh menit!"
Limosin mewah itu pun semakin melesat membabi buta, melompati gundukan jalanan aspal pesisir yang rusak dengan kecepatan di atas batas kewajaran.
Sementara itu, di sebuah sudut dermaga tua pesisir utara yang sepi, minibus hitam para penculik akhirnya berhenti di dekat sebuah jembatan kayu yang menjorok langsung ke laut lepas.
Udara malam di sana terasa sangat dingin, berbau garam, dan gemuruh ombak laut yang menghantam tiang-tiang dermaga menciptakan suasana yang kian mencekam.
Pria bertato kalajengking turun dari pintu kemudi, lalu membuka pintu belakang dan menarik kasar tubuh Alta keluar dari kabin mobil.
"Cepat jalan, Bocah sialan!"
umpat pria bertato kalajengking itu sembari mendorong punggung Alta menuju ujung dermaga di mana sebuah kapal cepat (speedboat) kecil sudah bersiap dengan mesin yang menyala pelan.
Alta tertatih-tatih di atas papan kayu yang licin, namun sepasang netra elangnya sama sekali tidak memancarkan ketakutan khas anak kecil.
Otak geniusnya yang memiliki kondisi gifted terus bekerja melakukan kalkulasi visual.
Ia melirik ke arah pergelangan tangan kirinya yang masih mengenakan jam tangan pintar merah.
Sinyal lampu indikatornya berkedip cepat, menandakan bahwa maminya sudah berada dalam radius kurang dari satu kilometer dari posisinya saat ini.
‘Mami sudah dekat... aku harus mengulur waktu,’ batin Alta dengan ketetapan hati yang dingin.
Saat tiba di tengah jembatan kayu, Alta sengaja menjatuhkan tubuh mungilnya ke samping, pura-pura tersandung paku berkarat di atas papan dermaga hingga tubuhnya terguling.
"Agh!"
Alta melenguh tertahan di balik plester mulutnya, membuat proses pemindahannya terhambat.
"Sialan! Bangun kamu!"
pria bertato kalajengking itu memaki kasar sembari membungkuk untuk merenggut paksa kerah baju Alta.
Namun, tepat di detik yang sama, suara deru mesin mobil yang menggelegar keras mendadak memecah kesunyian malam di dermaga tua tersebut.
Lampu sorot tinggi dari tiga mobil SUV hitam dan satu limosin putih milik Wijaya Corps mendadak menembus kegelapan, menerangi seluruh area jembatan dermaga dengan cahaya yang sangat terang benderang.
Ckiiiiieeeeekkkk!
Ban-ban mobil berdecit keras di atas tanah berpasir saat barikade mobil Anastasia berhenti mengepung posisi minibus pelaku.
Belasan pengawal berjas hitam langsung melompat keluar dengan senjata api otomatis yang sudah terkokang sempurna, mengarah lurus ke arah kedua penculik.
"Angkat tangan kalian! Lepaskan anak itu atau kami tembak di tempat!" raung kepala pengawal Wijaya Corps dengan otoritas yang mutlak.
Anastasia membuka pintu limosin dengan terburu-buru. Air matanya kembali mengalir saat melihat Alta yang tergeletak di atas papan kayu dermaga dengan tangan terikat.
"ALTA!!!"
jerit Anastasia penuh kerinduan dan ketakutan yang mendalam.
Melihat kepungan ketat yang tidak menyisakan celah untuk meloloskan diri, pria bertato kalajengking itu menyunggingkan senyuman licik yang teramat kejam.
Dengan gerakan kilat, ia merenggut tubuh Alta dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, tepat di atas tepi pagar pembatas dermaga yang langsung menghadap ke gulungan ombak laut malam yang hitam dan berarus deras.
"Mundur kalian semua! Turunkan senjata kalian!"
teriak pria bertato kalajengking itu dengan emosi yang kalap.
"Satu kali saja kalian memicu pelatuk senjata itu, saya bersumpah akan langsung melemparkan anak ini ke dalam gulungan ombak laut utara! Biarkan dia tenggelam bersama arus pasang malam ini!"
Anastasia menghentikan langkah kakinya seketika, seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku laksana membeku.
Jantungnya berdenyut menyatukan rasa sakit yang luar biasa melihat putranya dijadikan sandera di atas maut lautan.
Di tengah kegelapan badai malam pesisir ini, benang takdir mereka benar-benar tergantung di ujung tanduk yang mematikan,
menyisakan ketegangan maksimal tentang apakah Alta akan berhasil diselamatkan atau justru tenggelam ke dasar laut utara sebelum fajar menyingsing.
Bersambung