Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Jarum jam telah melewati pukul sepuluh malam. Rumah yang sejak sore dipenuhi suara percakapan, lantunan doa, dan hiruk pikuk para tamu kini kembali hening. Rumah kediaman Sonia kembali tenggelam dalam dalam kesunyian, meski sebenarnya beberapa tamu belum pulang termasuk Abimanyu dan kedua orang tuanya karena menunggu Amara.
Deretan kursi yang belum sempat dirapikan menjadi saksi bisu sebuah hari yang begitu panjang. Gelas-gelas yang masih tersisa di atas meja, bunga-bunga yang mulai layu, dan sisa-sisa hidangan yang tak lagi tersentuh menghadirkan pemandangan yang terasa ganjil.
Baru tiga hari lalu, rumah ini dipenuhi tangis kehilangan karena kepergian sang kepala keluarga. Namun malam ini, rumah yang sama justru menjadi saksi sebuah akad nikah yang berlangsung begitu cepat seolah tak memberi kesempatan bagi luka untuk mengering.
Angin malam berembus perlahan menerobos pintu utama yang masih terbuka, menyapu wajah Abimanyu yang datar tanpa ekspresi. Dari arah ruang tengah Sonia muncul dengan pakaian yang masih sama saat acara akad tadi.
Perempuan itu duduk berhadapan dengan Abimanyu dengan meja menjadi pembatasnya. Sonia menarik napas dalam-dalam, lalu ia menatap Abimanyu. "Sorry..." Ucapnya pelan, seolah kata yang baru saja terlontar dari bibirnya adalah sebuah beban yang sangat berat.
"Aku tahu kamu pasti kecewa dengan ku, aku tidak bermaksud menjerumuskan mu ataupun Amara. Aku melakukan ini demi kebaikan Amara, dia akan aman dan terjamin hidup denganmu." Ucap Sonia terus bersuara tanpa mempedulikan raut datar sahabatnya yang sama sekali tak bergeming.
"Demi persahabatan kita..." Sonia menjeda ucapannya, ia menatap Abimanyu dalam-dalam. "Anggap saja saat ini kamu tengah membantuku. Tolong jaga dan sayangi Amara, jangan sakiti dia." Lirih Sonia, suaranya tercekat di tenggorokan.
Di saat yang sama pula, sudut bibir Abimanyu terangkat. Bujang matang yang baru satu jam lalu melepas masa lajangnya tersenyum sinis sembari mengubah duduknya. Ia menatap Sonia dengan sorot yang tajam.
"Kamu bilang, aku harus menyayangi dan jangan menyakiti dia?" Desis Abimanyu, matanya tak lepas dari wajah Sonia dengan sorot penuh tanya. "Kamu sehat kan Sonia? Memintaku jangan menyakiti anakmu, padahal saat ini kamu sendiri yang menyakiti dan merusak mentalnya dengan memaksa menikahkannya denganku yang bukan siapa-siapa nya!"
"Abi! Kamu enggak ngerti posisi dan perasaanku! Coba kamu jadi aku... Aku harus menyembuhkan luka, membesarkan anakku sendiri di saat orang lain tidak tahu seberapa besar lukaku. Aku cinta mati sama suamiku yang sangat sempurna di mataku, tapi kenyataan telah menusukku Abi!"
"Terus, dengan kamu menyingkirkan Amara apa masalah dan sakit hatimu akan selesai dan sembuh?" Abimanyu menggelengkan kepala, "tidak akan Sonia, ingat itu!"
"Tapi setidaknya mental dia aman, enggak melihat kebencian di mataku."
"Justru mental dia hancur! Dan bukan hanya itu, tapi persahabatan dan kepercayaanku juga hancur." Tohok Abimanyu bersamaan dengan suara langkah kaki yang berderap menuruni tangga. Pria itu segera menoleh ke arah dimana tiga sosok tengah beriringan, dengan laki-laki paruh baya melangkah paling belakang dengan koper di tangannya.
Melihat itu, Abimanyu segera berdiri meninggalkan Sonia. Ia keluar dari rumah hendak menyalakan mobil, namun belum sempat melewati pintu suara sang mama terdengar nyaring memanggilnya.
"Abi... Bawakan pakaian istrimu! Jangan hanya duduk enak-enakan saja."
Abimanyu menghela napas, lalu memutar tubuh dan melangkahkan kakinya melewati Sonia. Ia meraih tas yang lumayan besar dari tangan Amara, dan membiarkan remaja itu hanya membawa ransel yang di gendong di punggungnya.
Amara memelankan langkahnya, ia berdiri di samping sofa yang di duduki Sonia. Tanpa mengangkat wajah ia berpamitan pada Sonia. "Ma.. Aku pamit dulu, maaf kalau selama ini aku selalu buat mama kecewa. Aku sayang mama, assalamualaikum." Dengan cepat Amara meraih tangan Sonia kemudian menciumnya dengan takzim, tanpa menunggu jawaban ia langsung membalikkan badan dan melangkah keluar meninggalkan suami dan kedua mertuanya.
Sonia duduk memaku. Ia tak mengeluarkan suara sepatah katapun, namun air matanya seketika berjatuhan membasahi kedua pipinya.
"Nak Sonia, kami mau pamit pulang. Dan nak Mara sekarang sudah menjadi tanggung jawab Abimanyu, suaminya. Jadi Nak Sonia tidak perlu memikirkan apa-apa lagi tentang nak Mara." Halimah menyentuh tangan Sonia kemudian memeluknya sesaat.
Seolah tersadar dari lamunannya, Sonia segera membalas pelukan Halimah. Ia menganggukkan kepala, "hati-hati di jalan bu... Saya titip Amara, harap di maklumi kalau dia banyak melakukan kekeliruan." Ucapnya pelan namun dalam, setiap katanya sarat akan permohonan dan harapan.
"Itu sudah pasti, tidak perlu khawatir. Amara sekarang bukan hanya menantu bagi kami, tapi dia sudah kami anggap anak." Ucap pak Rusdan sembari melepaskan koper yang ditarik Abimanyu.
--
Tepat jam sebelas malam, Abimanyu tiba di apartemennya. Pria itu membuka kunci kemudian membiarkan sang mama yang sedari turun dari mobil tak melepaskan tangannya dari Amara, untuk masuk duluan melewatinya.
"Alhamdulillah... Kita sampai." Halimah membawa Amara dan mengajaknya duduk di sofa. "Neng, kamu sekarang sudah jadi istrinya Abimanyu. Berarti kamu sudah jadi anak mama juga, jadi apapun yang mengganjal di pikiranmu bilang sama mama ya!" Ucapnya menyentuh bahu Amara dan mengusapnya pelan.
Amara mengangguk, gadis itu tak bersuara. Ia menundukkan kepalanya semakin dalam dan berulang kali menghela napas.
"Mau minum hm?" Halimah menyibakkan rambut Amara, ia memiringkan kepalanya menatap gadis yang saat akad tadi terlihat tenang dan santai. Melihat raut Amara yang sudah tidak memungkinkan di ajak bicara, Halimah buru-buru berdiri. "Tunggu sebentar, mama ambilkan air minum dulu." Ucapnya kemudian tergesa melangkah ke dapur.
Tak berselang lama Halimah sudah kembali membawa nampan dengan satu botol air mineral dan satu cangkir teh hangat. Abimanyu yang baru masuk sembari menyeret koper Amara hanya meliriknya sekilas, tanpa berucap ia melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya.
"Ini ada teh hangat, minum dulu. Mama juga bawa air putih takutnya kamu enggak suka teh, neng." Ucapnya seraya meletakkan nampan di atas meja kemudian meraih cangkir dan menyodorkannya pada Amara.
Dengan cepat Amara menerima cangkir teh yang di sodorkan mertuanya, namun alih-alih meminumnya gadis itu kembali meletakkan cangkir di nampan. Dan gerakan selanjutnya ia meraih tangan Halimah kemudian menangis tersedu, membawa tangan mertuanya itu ke dadanya dan di dekapnya dengan erat.
Halimah terhenyak, dengan cepat paruh baya itu duduk di samping Amara kemudian memeluknya. "Neng..." Panggilnya lembut, "menangislah kalau dengan nangis bikin hati neng lebih plong." Ucapnya seraya mencium puncak kepala Amara. "Mama disini..."
Amara tak menyahut, ia hanya menganggukkan kepala. Tangannya mengerat memeluk Halimah, sedangkan di belakangnya pak Rusdan baru saja duduk. Tangan paruh baya itu terulur mengusap punggung sang menantu penuh kasih.
Mendapat perhatian tulus dari kedua mertuanya, tangis Amara kian pecah. Selama ini ia menahan diri berpura-pura kuat dengan menebar senyum, seolah akad yang dilangsungkan tadi adalah impiannya. Ia berusaha mati-matian menahan tangis demi menenangkan keluarganya, namun perhatian sang mama mertua membuatnya runtuh. Ia seperti menemukan tempat pulang, tempat mengadu yang sesungguhnya. Bahkan perempuan yang baru dikenalnya beberapa jam lalu itu, seolah tahu isi hati dan kegundahan yang selama tiga hari ini ia sembunyikan.
Abimanyu yang baru keluar dari kamar mandi wajahnya terlihat lebih segar, pria itu seketika mengerutkan kening saat samar-samar mendengar isakan dari arah sofa. Ia segera membuka pintu yang tadi tidak di tutupnya dengan rapat, tatapannya langsung tertuju ke sofa dimana kedua orang tuanya tengah menenangkan Amara.
Gila, bisa-bisa tuh bocah besar kepala nantinya kalau tahu dia disayang sama mertua.
"Abi, kenapa koper dan tas istrimu enggak dibawa ke kamar sekalian? Masukin ke kamar sekarang!" Titah Halimah pelan namun tegas tak ingin di bantah.
Mendengar perintah sang mama, Abimanyu hanya mendelikkan mata namun ia tetap bergerak mengambil tas dan menyeret koper Amara ke kamarnya.
Okelah gak apa-apa hari ini jadi princes. Tapi besok setelah mama pulang ke Bandung, jangan harap...