Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
Sinar jingga senja perlahan meredup, berganti menjadi malam yang tenang di kediaman megah keluarga Sanjaya.
Lampu-lampu kristal di dalam area ruang keluarga lantai dua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat dan elegan. Suasana rumah yang luas itu terasa sangat nyaman dengan alunan instrumen musik lembut yang mengalun samar dari radio ruangan.
Malam itu, Clara Adelin baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan sutra merah muda yang lembut. Wajah cantiknya masih tampak ditekuk sedikit, sisa-sisa kejengkolan akibat kekalahan tim basket kelasnya serta selebrasi mengejek sang Ketua OSIS tadi siang masih membayang di benaknya.
Dengan langkah lesu, Clara mengayunkan kakinya menuju sofa empuk di area ruang keluarga. Di sana, Fania Sanjaya—tantenya yang cantik dan berusia muda—sedang duduk santai seraya menikmati secangkir teh chamomile hangat.
Fania yang mendengar suara langkah kaki langsung mendongak. Mengingat insiden di mall tadi siang yang sempat membuatnya cemas, Fania sengaja menyambut keponakan kesayangannya itu dengan nada suara yang sangat halus dan hangat.
"Selamat malam, keponakan Tante yang paling cantik... Baru selesai mandi ya? Gimana perjalanan dan kegiatan sekolah kamu hari ini, Sayang?" sapa Tante Fania dengan senyuman lembut yang menghiasi bibirnya.
Clara langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping Fania, menyandarkan kepalanya di bahu sang tante dengan helaan napas panjang yang sangat berat.
"Aduh, Tante Fania sayang... Hari ini aku bener-bener bete dan kesal banget!" aduh Clara seraya memanyunkan bibirnya maksimal. "Aku benci banget, benci sampai ke ubun-ubun sama si Ketos jahat di sekolah aku itu!"
Fania terkekeh pelan, meletakkan cangkir tehnya ke atas meja glass lalu mengelus rambut panjang Clara dengan penuh kasih sayang. "Aduh, kasihan banget keponakan Tante ini...
Memangnya si Ketua OSIS itu bikin ulah apa lagi sih sampai bikin kamu kesal setengah mati dari siang tadi? Coba cerita sama Tante."
Mendapat ruang untuk menumpahkan seluruh isi hatinya, Clara langsung menggebu-gebu. Tanpa disadarinya sendiri, mulutnya terus mengalir menceritakan setiap detail kejadian yang terjadi di sekolah sepanjang hari itu—mulai dari insiden razia boneka Barbie, panggilan "gadis manja" di gerbang, hingga laga pertandingan basket yang sangat menegangkan di siang hari tadi.
"Tante tahu nggak sih?!" celoteh Clara dengan gerakan tangan yang sangat heboh. "Tadi siang itu ada pertandingan basket antara kelas 10 lawan kelas 12. Aku udah heboh banget dukung tim kelas aku biar bisa mengalahkan dia. Eh, tiba-tiba di babak kedua, si Ketos jahat itu malah mainnya makin gila-gilaan!"
Fania menyandarkan punggungnya ke sofa, menyimak dengan senyum mengembang. "Makin gila-gilaan gimana maksudnya, Clara?"
Tanpa disadari oleh Clara sendiri, arah pembicaraannya yang tadinya diniatkan untuk mengkritik dan mencaci-maki diriku, justru berubah total menjadi deretan pujian yang meluncur begitu polos dari bibirnya.
"Ya dia itu... pergerakannya lincah banget di lapangan, Tante!" cerocos Clara dengan mata berbinar-binar tanpa sadar. "Bentuk tubuhnya itu tinggi, tegap, terus lentur banget pas melompat merebut bola! Dia bisa lari cepat meliuk-liuk melewati tiga pemain bertahan sekaligus tanpa kehilangan keseimbangan. Terus pas detik-detik terakhir, dia melompat tinggi banget buat bikin tembakan dunk! Maksud aku... gaya mainnya itu emang kelihatan keren dan lincah banget sih, tapi tetap aja aku kesal karena dia malah selebrasi mengejek di depan muka aku pas di lorong!"
Fania memperhatikan ekspresi wajah kepolakannya dengan cermat. Alis cantiknya terangkat sedikit. Dia menangkap ada sesuatu yang sangat menggelitik dari cara Clara menceritakan sosok Arkan sang Ketua OSIS—sebuah ekspresi ketertarikan yang coba ditutupi rapat-rapt oleh gengsi tinggi sang nona muda.
Timbul rasa iseng di dalam dada Fania untuk memancing dan menggodai keponakannya itu.
"Hmm... gitu ya cerita basketnya," goda Tante Fania dengan senyuman penuh arti. "Clara Sayang... Tante jadi penasaran deh dari cerita kamu. Ketos di sekolah kamu yang namanya Arkan itu... orangnya ganteng enggak sih?"
Tanpa berpikir panjang dan tanpa sempat menyaring kata-katanya, Clara menjawab pertanyaan itu dengan sangat refleks dan super cepat!
"Ganteng banget, Tante!" balas Clara spontan dengan mata memelotot polos.
Deg!
Satu detik kemudian, Clara mendadak sadar akan apa yang baru saja meluncur dari mulutnya sendiri! Pipi cantiknya seketika merona merah padam bagaikan buah tomat yang matang! Kedua tangannya dengan cepat menutupi mulutnya sendiri karena terkejut setengah mati.
"Eh! M-maksud aku... maksud aku bukan gitu, Tante!" gagap Clara dengan kepanikan luar biasa, matanya bergerilya ke mana-mana menahan malu yang amat sangat. "Dia emang lumayan sih... tapi dia itu jahat! Menyebalkan! Pokoknya dia itu Ketos paling buruk di dunia!"
Fania tak sanggup lagi menahan tawanya. Gelak tawa renyah pecah di dalam ruang keluarga tersebut melihat tingkah salah tingkah keponakannya yang sangat menggemaskan itu.
"Hahaha! Tante kan cuma tanya ganteng atau enggak, kok kamu jawabnya cepat banget terus panik gitu, Hayo?" goda Fania seraya mencubit lembut pipi merona Clara. "Awas loh ya... kata orang tua dulu, beda tipis antara benci banget sama suka banget!"
"Ih Tante Fania! Enggak akan pernah aku suka sama cowok menyebalkan kayak dia!" sergah Clara dengan rengekan manja seraya menutupi wajahnya menggunakan bantal sofa.
Setelah berhasil menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang akibat rasa malu, Clara melepaskan bantal sofanya lalu berdeham pelan untuk mengalihkan topik pembicaraan yang sangat menyudutkannya itu.
"Lagian ya, Tante... Ada satu hal lagi yang bikin aku makin heran sama si Ketos jahat itu," gumam Clara dengan nada suara yang kembali serius.
"Hal apa lagi, Sayang?" tanya Fania seraya merapikan rambutnya.
"Ternyata... si Ketos jahat Arkan itu bersahabat dekat banget sama pengawal pribadi Tante Fania yang baru itu, si Egi!" ungkap Clara jujur. "malam pas makan malam di restoran, Arkan sendiri yang bilang kalau dia udah nganggap Egi kayak saudara kandungnya sendiri. Jadi mereka berdua itu lengket banget kayak perangko."
Fania tertegun sejenak mendengarnya. Bayangan sosok Egi—pengawal pribadinya yang bertubuh tegap, berwajah dingin, namun memiliki ketangguhan luar biasa saat menghancurkan empat berandalan di mall tadi siang—langsung melintas di pikirannya.
"Oh ya? Jadi Egi itu sahabat dekatnya si Ketua OSIS ganteng kamu itu?" gumam Fania pelan seraya mangut-mangut penuh pemahaman.
"Iya, Tante! Makanya aku makin sebel, kok bisa-bisanya mereka berdua itu ada di sekitar keluarga kita terus!" gerutu Clara seraya menyandarkan badannya kembali.
Fania menyunggingkan senyuman tipis yang sangat misterius, menatap langit-langit ruangan seraya memikirkan kombinasi unik antara sang Ketua OSIS yang lincah dan sang Pengawal Pribadi yang tangguh. Dunia ternyata terasa sangat sempit bagi keluarga Sanjaya.
Tinggalkan komentar kamu ya gan