Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 Restoran Mewah
Grace menoleh kepada Lily.
"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja."
Lily menyadari tatapan kekhawatiran Grace.
"Aku akan pergi. Kamu akan pergi bersama ku bukan?" Lily menoleh kepada Grace yang tampak ragu.
"Ayolah. Kamu tidak akan membiarkan ku sendiri bukan?"Ujar Lily kembali menatap penuh harap kepada Grace.
Grace terdiam sejenak. Tangannya sedikit gemetar. Wajahnya sedikit pucat.
Di matanya ada ketakutan yang terlihat.
Lily mendekat.
"Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?"
Amber tertawa..
"Kamu takut Grace? Di mana perlawanan mu tadi? Bukannya kamu yang paling depan membela Lily? Mengapa sekarang nyalimu menciut?" Ejek Amber.
Lily menoleh kepada Grace. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi satu hal yang pasti. Grace terlihat ketakutan.
"Mungkin dia trauma. Bukankah kekasihnya memutuskannya di depan semua karyawan?"Timpal Jane.
Amber dan Jane kembali tertawa.
Ana mendekat.
"Ada apa?" Ana bertanya sedikit lembut.
Seperti yang selalu ia tunjukkan di depan semua orang.
"Grace di putuskan oleh kekasihnya dan memilih Jane."Ujar Amber.
Tangan Grace semakin gemetar. Baginya, perbuatan mantan kekasihnya itu sangat keterlaluan.
Dia dipermainkan selama bertahun-tahun.
"Aku pulang Lily. Maaf, aku tidak bisa menemanimu." Lirih Grace dengan suara bergetar.
Grace meraih tas miliknya dan meninggalkan ruangan itu begitu saja. Bahkan Lily belum sempat bertanya apa yang terjadi.
Lily menatap kepergian Grace dengan penuh kebingungan. Dia sedikit penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kamu tidak berubah pikiran kan Lily?"Ana kembali bertanya.
Lily tersenyum kecil.
"Tidak, aku tidak berubah pikiran. Ayo pergi. Pilihlah restoran yang kalian inginkan."Ujar Ana tersenyum kecil.
Ana tersenyum licik.
"Itu katamu Lily. Jangan pernah takut ketika kami tiba di sana."
Lily menoleh.
"Tidak akan. Kabari aku alamatnya."
"Tentu saja. Ayo guys, kita pergi sekarang."
Ana dan para karyawan lain melenggang pergi.
Melihat mereka semua pergi. Lily menghembuskan nafas kasar. Dia sedikit muak menghadapi mereka.
Lily meninggalkan ruangan itu ke arah yang berbeda. Lily menemui sang suami di dalam ruangannya.
Kedatangannya tentu saja membuat Eldrick terkejut.Tapi satu hal yang pasti jika pria itu senang dengan kedatangannya.
"Tidak biasanya sayang."Ujar Eldrick segera menghentikan pekerjaannya.
"Aku dan tim ku akan makan malam di restoran. Karena sedikit kesal. Aku bilang aku yang akan membayar semuanya. "
Lily sedikit cemberut.
Eldrick tersenyum kecil.
Dia langsung mengeluarkan kartu black cardnya.
"Ambillah sayang."
Lily tersenyum dan segera meraihnya.
Suaminya memang sangat pengertian. Dia belum memintanya tapi suaminya sudah memberikannya.
"Terimah kasih sayang. Aku pergi."
Lily mengecup pipi suaminya.
"Ini tidak gratis sayang. Nanti malam kamu akan membayarnya."
Lily hanya menoleh dan tersenyum.
Lily kemudian melenggang pergi. Baru saja tiba di depan perusahaan. Ana sudah mengirimkan alamatnya.
"Sudah ku duga."Gumam Lily.
Lily melangkah masuk ke dalam mobil taksi.
Tiga puluh menit berlalu.
Lily sudah berada di dalam sebuah ruangan.
Ana memandangnya sambil tersenyum kecil. Lily membalas senyuman sepupunya.
Mereka memilih restoran paling mewah. Bahkan harga makanan di sini mencapai jutaan dollar.
Lily duduk di samping Ana.
Hanya kursi itu yang kosong.
Ana menoleh kepada Lily sambil tersenyum mengejek.
"Persiapkan dirimu. Mungkin saja kita akan menghabiskan seluruh tabungan mu selama bertahun-tahun."Bisik Ana.
Lily menoleh sambil tersenyum.
"Tenang saja Ana. Aku tidak semiskin apa yang kamu pikirkan. Mungkin saja kamu akan terkejut bagaimana aku hidup selama ini."Balas Lily tersenyum.
Tangan Ana mengepal kuat. Wajahnya terlihat menahan kesal.
"Guys, pilihlah makanan yang paling mahal. Kali ini Lily akan membayar semuanya. Jangan lupa berterimah kasih."Ujar Ana.
"Lily, mungkin tidak seharusnya kami pilih restoran ini."Timpal Amber.
"Amber benar. Apa perlu kita pindah?"Jane menoleh kepada Lily.
"Kami tidak keberatan Lily. Bukankah suami mu hanya seorang sopir?"Ujar Ana.
Dia jelas sengaja mengatakan semua ini. Secara tidak langsung, Ana ingin memberitahu siapa Lily sebenarnya di hadapan para karyawan.
Lily menahan kesal di dalam hatinya. Dia benar-benar muak dengan mereka bertiga.
Dia tahu jika Ana sengaja ingin memojokkan dirinya di depan para karyawan lainnya. Bahkan Lily tahu jika sepupunya itu sedang berusaha menghancurkannya.
"Pesanlah makanan yang kalian inginkan. Jangan pernah takut. Aku akan membayar semuanya."Ujar Lily tersenyum kecil.
Dia tidak akan membiarkan Ana mempermalukan dirinya.
Ana yang mendengar hal itu segera memanggil pelayan. Dengam perasaan kesal.
Ana memesan beberapa menu dengan harga yang cukup mahal. Melihat Ana mulai memesan makanan. Karyawan lain juga tidak mau kalah.
Mereka memesan makanan. Lily terlihat begitu santai. Dia sama sekali tidak merasa takut.
Mereka tidak tahu jika suami Lily adalah orang terkaya di kota ini dan atasan mereka. Bahkan mereka juga tidak tahu jika setiap kali Lily makan bersama dengan Eldrick. Mereka akan datang ke restoran itu.
Lily juga memesan makanan. Makanan yang dia pesan bahkan lebih mahal dari mereka semua. Hal itu jelas membuat Ana terkejut.
Selesai menyantap makanannya. Pelayan membawa bill.
Ana tersenyum kecil.
Dia sangat yakin jika Lily tidak akan sanggup membayarnya.
"Lily, apa kamu sanggup membayarnya? Jika tidak bisa aku akan membayarnya untuk mu."
"Tidak perlu. Aku bisa membayarnya."Ujar Lily.
"Pelayan, mana bil nya?"
Pelayan itu menoleh kepada Lily. Raut wajahnya tampak terkejut tapi dengan cepat Lily segera memberi kode.
Untung saja pelayan itu dengan cepat mengerti.
"Ini kartuku. Rahasiakan."Bisik Lily.
"Baik nyonya."
Pelayan itu pergi dan membawa kartu Lily.
Beberapa menit kemudian.
Pelayan itu kembali dan memberikan kartu Lily.
Ana menoleh kepada Lily. Wajahnya terlihat kesal.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Lily mampu membayarnya. Bahkan dia sendiri akan membayarnya dengan uang jajan dari kedua orang tuanya selama dua bulan.
Tanpa pamit, Ana pergi terlebih dahulu. Lily hanya memandang kepergian sepupunya itu dengan senyum kemenangan.
"Kamu salah orang Ana. Aku tidak akan membiarkan mu memperlakukan seperti saat kita masih kuliah. Aku sudah sadar. Selama ini aku begitu bodoh."Batin Lily pamit kepada karyawan lain.
Di mansion, Eldick berdiri di depan. Pria itu sudah berada di sana sekitar lima belas menit lamanya.
Tentu saja dia menunggu kedatangan sang istri.
"Tuan tidak masuk? Hawa dingin begitu menusuk."Ujar kepala pelayan.
Wanita paruh baya itu berdiri di belakang Eldrick.
"Tidak apa bibi. Kembalilah masuk."Jawab Eldrick dengan tenang.
Wanita paruh baya itu melangkah masuk ke dalam. Sementara Eldrick masih berdiri di depan mansion.
Tiga puluh menit berlalu.
Eldrick mulai khawatir. Dia mulai mondar-mandir di depan mansion.
"Apa yang kamu lakukan di sini sayang?"
Eldrick menoleh.
Raut wajahnya terlihat begitu lega.
"Semuanya baik-baik saja sayang?" Eldrick mendekat dan meraih kedua tangan sang istri.
Lily tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak akan menjadi orang bodoh lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menindas ku."Ujar Lily berusaha menenangkan suaminya.
Eldrick tersenyum kecil
Dia menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam mansion. Keduanya melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
Di sisi lain, Ana sudah tiba di mansion miliknya. Dia melempar tasnya ke sembarang arah.
"Brengsek kamu Lily. Aku pasti akan menghancurkan mu."Gumam Ana dengan penuh amarah yang begitu besar di dalam dadanya.