NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Rencana yang Tersembunyi

Matahari semakin meninggi.

Di salah satu taman rumah sakit, Rania tengah bersandar di sebuah kursi sambil menatap layar ponselnya.

Berbagai berita mengenai dirinya, Brian, dan Daffa masih berseliweran di media. Namun, berita-berita tersebut perlahan mulai tertutupi oleh pemberitaan lain yang dianggap lebih menarik oleh publik.

Rania mengembuskan napas panjang.

Sepertinya Brian memang telah mengatur semuanya.

Meskipun pria itu tidak pernah memberikan klarifikasi mengenai kehamilannya ataupun membenarkan bahwa bayi yang dikandungnya merupakan buah dari pernikahan mereka dahulu, Brian tetap berhasil mengalihkan perhatian media ke berbagai isu lainnya.

Rania mematikan layar ponselnya.

Namun, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di kepalanya.

"Oh, iya." Rania menepuk dahinya pelan.

Bukankah sebelumnya Tuan Zoul meminta bantuannya untuk memeriksa kondisi ibunya?

Tanpa membuang waktu, Rania segera membuka pesan dan menghubungi Zoul.

'Selamat siang, Tuan Zoul. Apakah saya bisa memeriksa kondisi kesehatan ibu Anda hari ini?'

Tak lama kemudian, balasan masuk.

Beberapa saat kemudian, pesan balasan muncul.

'Silakan. Saya senang mendengar kabar ini. Namun, maaf, saya tidak bisa menemani Anda. Datang saja ke ruang VIP rumah sakit Pratama, nomor 3. Nama beliau Marta.'

Rania mengangguk kecil setelah membaca pesan tersebut. Ia segera bangkit dari kursinya.

"Brian," panggil Rania.

Pria yang sejak tadi berada tidak jauh darinya tengah membolak-balik beberapa obat yang diresepkan dokter kandungan untuk Rania.

Brian mengangkat pandangannya.

"Aku mau bertemu dengan Mona sebentar untuk berpamitan."

Brian memperhatikan Rania beberapa detik. "Sepuluh menit."

Rania mengernyit. "Apa?"

"Aku tunggu di sini selama sepuluh menit. Kalau lebih dari itu, aku akan menyusulmu."

Rania mendengus. "Terima kasih." Ia berbalik hendak pergi. "Dasar sok mengatur," celetuknya pelan.

Brian hanya tersenyum melihat punggung Rania yang semakin menjauh.

Setelah Rania menghilang di balik pintu gedung rumah sakit, Brian kembali menyandarkan punggungnya pada kursi taman.

Tatapannya beralih ke sekitar.

Seorang ibu sedang menggendong bayinya. Di sisi lain, seorang bayi tertidur di dalam stroller.

Beberapa anak kecil bahkan sudah mulai berjalan dengan langkah-langkah mungil mereka.

Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat Brian terdiam.

Tangannya menggenggam paper bag kecil berisi obat dan vitamin milik Rania.

"Semoga anakku lahir dengan sehat dan sempurna."

Tatapannya kemudian jatuh pada paper bag tersebut.

"Bantu Ayah meluluhkan hati Ibu, ya, Nak." Brian tersenyum tipis.

Kemudian pandangannya kembali mengarah ke pintu gedung tempat Rania menghilang.

Senyumnya perlahan berubah menjadi tatapan penuh keyakinan.

"Urusan Daffa sudah selesai." Jemarinya mengetuk pelan paper bag di tangannya.

"Sekarang, aku harus fokus membuat Rania jatuh cinta kepadaku lagi." Brian terdiam sejenak.

Kemudian sebuah rencana muncul di kepalanya.

"Aku tahu, bukannya paman Rania sudah meninggal." Tatapan Brian berubah serius. "Dan aku tahu Rania masih belum pernah mengunjungi pemakamannya."

Sudut bibirnya terangkat. "Aku akan mengajaknya mengunjungi pemakaman pamannya."

Brian yakin Rania tidak akan menolak.

Bagaimanapun juga, itu adalah kesempatan baginya untuk berada lebih dekat dengan Rania tanpa membuat wanita itu merasa sedang dikejar.

"Kalau semuanya berjalan sesuai rencana..." Brian mengambil ponselnya. "...mungkin hati Rania akan sedikit melunak."

Ia segera menghubungi Rio. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.

"Rio."

"Ya, Tuan?"

"Apa besok jadwalku padat?" tanya Brian.

Rio terdengar membolak-balik sesuatu dari seberang telepon. "Justru hari ini yang padat, Tuan."

Brian mengangkat alis. "Ah... baguslah."

Rio terdiam. "Bagus bagaimana, Tuan?"

Brian tersenyum kecil. "Besok kosongkan waktuku."

"Untuk apa?" tanya Rio.

"Aku akan menemani Rania pergi ke Gunung Pulo."

"Gunung Pulo?" Rio mengernyit. ketika mendengar Gunung Pulo, entah kenapa buku kuduknya sedikit merinding, karena di sanalah kejadian Brian mengalami kecelakaan di motor sportnya satu bulan lalu.

"Ya." Brian menatap ke arah gedung rumah sakit. "Aku akan mengajak Rania ke pemakaman pamannya."

Rio langsung memahami maksud atasannya. "Baik, Tuan."

Brian kembali berbicara. "Awasi PT. Herbalife besok. Aku tidak ingin urusan perusahaan mengganggu perjalanan kami."

"Siap, Tuan."

"Dan siapkan mobil yang nyaman." Brian berhenti sebentar. "Jangan lupa siapkan semua kebutuhan Rania."

Rio terkekeh kecil. "Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya. Termasuk hotel."

"Hotel juga, betul." Brian tersenyum.

"Tentu. Baik, Tuan. Saya mengerti."

Rio segera mencatat semua kebutuhan perjalanan tersebut.

Sementara itu, Brian masih duduk sendirian di taman rumah sakit.

Ia menatap langit yang cerah. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.

"Bagus." Brian kembali melihat paper bag kecil di tangannya. "Kau sangat peka, Rio."

Dari seberang telepon, Rio terkekeh. "Tentu saja, Tuan."

Tut! Panggilan berakhir.

Detik itu Rio angsung memesan sebuah kamar hotel di kawasan Gunung Pulo untuk Brian dan mempersiapkan berbagai keperluan perjalanan mereka untuk esok pagi.

Dan Brian, ia kembali menyimpan ponselnya. Ia sama sekali tidak tahu apakah rencananya akan berhasil.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Brian merasa memiliki kesempatan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang pernah ia sia-siakan.

Rania.

Dan kali ini, ia tidak berniat melepaskannya lagi.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!