"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 #Kurir Istimewa
Mobil sedan mewah seharga miliaran rupiah milik Gibran Aditama merayap pelan di jalanan area perumahan lokasi pelanggan Bening . Gibran Aditama, seorang CEO ternama yang biasa mengendalikan rapat berharga ratusan miliar, kini duduk kaku di kursi penumpang belakang dengan sebuah catatan kertas kecil di genggamannya. Catatan itu berisi daftar alamat pelanggan dan jenis pesanan kue yang ditulis tangan oleh Bening yang ditinggalkan di atas meja dapur.
Didampingi Reno, Gibran memenuhi semua perkataannya. Ia sendiri yang turun tangan menghampiri satu per satu rumah pemesan untuk mengantarkan kotak-kotak kue basah buatan mantan istrinya.
Untuk pesanan yang sudah rampung, Gibran menyerahkannya dengan penuh kesopanan. Namun, untuk pesanan yang masih kurang akibat Bening keburu pingsan, Gibran mengambil langkah tegas, ia mengembalikan uang muka pelanggan secara utuh, menambahkannya dengan ganti rugi sebesar tiga kali lipat dari dompetnya sendiri, serta menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas ketidaknyamanan tersebut.
Di rumah pemesan terakhir, sebuah rumah dengan halaman luas tempat syukuran warga sedang berlangsung, seorang ibu-ibu paruh baya berdaster merah menyambut mereka dengan mata melotot tak percaya.
"Aduh, Mas... ini beneran diganti rugi tiga kali lipat?!" seru wanita paruh baya bernama Irma sambil memandangi lembaran uang kertas merah gress yang disodorkan Gibran. Wajahnya berseri-seri penuh kemenangan. "Aduh, tidak apa-apa banget, Mas! Tolong sampaikan sama Mbak Bening ya, semoga cepat sembuh. Saya mah bakal tetap langganan kue di tempat Mbak Bening, soalnya kuenya enak banget, bersih, terus murah lagi!"
Gibran mengangguk tipis dengan sopan. "Terima kasih atas pengertiannya, Bu. Sekali lagi saya memohon maaf atas kekurangan pesanannya."
Saat Gibran berbalik hendak melangkah kembali ke mobil, ibu-ibu itu tiba-tiba menahan langkahnya dengan raut wajah kepo yang amat pekat. Matanya bergantian menatap setelan kemeja mahal Gibran, jam tangan mewahnya, dan mobil sedan mengkilap yang terparkir di depan pagar. Penampilan yang teramat sangat tidak cocok untuk seorang kurir kue pasar.
"Eh, sebentar, Mas... Tapi, maaf banget ya, Masnya ini sebenarnya siapanya Mbak Bening, ya?" tanya Bu Irma seraya menyipitkan mata selidik.
Gibran tertegun sejenak di tempatnya. Belum sempat ia memberi jawaban, ibu-ibu itu sudah menepuk tangannya sendiri dengan heboh.
"Oalah! Mas ini suaminya Mbak Bening, ya?!" celetuknya dengan suara lantang yang membuat beberapa tetangga ikut menoleh. "Duh, padahal gossip di kampung sini bilangnya Mbak Bening itu janda kasihan yang ditinggal suaminya! Eh, tahu-tahunya punya suami seganteng dan sekeren ini! Mobilnya saja kinclong banget!"
Gibran terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kaku. Kalimat janda kasihan menusuk ulu hatinya dengan rasa bersalah yang amat dalam.
"Makanya ya, Mas... Masnya jangan pergi-pergi kerja jauh lagi ninggalin istrinya!" lanjut Bu Irma dengan nada menasihati yang bergebu-gebu, sama sekali tidak ragu. "Mbak Bening itu masih muda dan cantik, padahal anaknya sudah segede gitu. Nanti kalau ditinggal lama-lama, keburu diambil orang lain! Apalagi saya sering lihat mas mas ganteng yang suka datang ngambil kue ke rumahnya. Kelihatan akrab lagi. Duh, bahaya itu!"
Deg.
Kata-kata terakhir itu bagai bensin yang disiramkan langsung ke dalam kobaran api di dada Gibran. Rahang sang CEO seketika mengeras kaku. Iris matanya memancarkan kilatan panas yang tak mampu ia sembunyikan.
Dokter Arfan... nama itu langsung terlintas secara otomatis di benaknya.
Bayangan saat Bening tersenyum ramah dan bicara dengan nada sehalus sutra pada Arfan kemarin siang mendadak berputar liar di dalam kepalanya. Rasa cemburu yang teramat sangat menyengat dan membakar seluruh kesadarannya.
Ego laki-lakinya memberontak hebat. Terlepas dari kebenaran peristiwa kelam tujuh tahun lalu yang belum terungkap, satu hal yang kini disadari Gibran dengan sangat jelas, ia tidak akan pernah rela sama sekali tidak akan sudi melihat Bening bersanding dengan pria lain.
"Bening itu istri saya, Bu," potong Gibran dengan suara rendah, tajam, dan sarat akan kepemilikan yang tak bisa diganggu gugat. "Dan tidak akan ada satu pria pun yang bisa mengambilnya dari saya."
Tanpa menunggu balasan dari ibu-ibu yang kini terkaget-kaget itu, Gibran berbalik dengan langkah lebar dan dingin menuju mobilnya, meninggalkan keheningan yang mencekam di belakangnya.
***
Suasana di dalam kamar rawat Bening terasa tenang. Kaivandra duduk manis di sofa empuk, jemari mungilnya sibuk menggeser layar Tablet yang diberikan oleh Gibran. Sementara itu, Bening bersandar lemah di kepala ranjang, matanya tak lepas menatap wajah polos putranya.
Pintu kamar perlahan terdorong. Gibran melangkah masuk membawa dua kantung kertas berisi aroma makanan segar yang sangat menggugah selera. Pria itu tampak sedikit lelah, namun sorot matanya begitu tajam dan hangat. Sebelum kembali ke rumah sakit, Gibran bahkan sempat mengurus surat izin ketidakhadiran sekolah untuk Kaivandra, memastikan putranya bisa fokus menemani sang ibu tanpa beban.
Melihat kehadiran Gibran kembali, atmosfer ruangan seketika berubah. Bening mendadak merasa canggung dan kaku. Beruntung, suara riang Kai langsung memecah keheningan yang membeku itu.
"Papa...! Papa bawa apa itu?" tanya Kai berbinar, meletakkan tabletnya di atas meja sofa.
Gibran tersenyum tipis, mengusap puncak kepala anaknya. "Ini makan siang untuk Kai... dan juga untuk Mama."
Gibran melangkah mendekati ranjang, meletakkan salah satu wadah makanan beraroma sup ayam yang gurih di atas meja lipat Bening.
Bening menatap makanan mewah itu dengan perasaan serba salah. "Mas... tidak perlu repot-repot begini. Di sini kan sudah disediakan makanan, aku makan ini saja..."
"Jangan keras kepala, Bening," potong Gibran cepat, suaranya terdengar tegas namun menyimpan perhatian yang amat dalam. Ia menatap Bening lurus-lurus. "Dokter bilang kamu kelelahan ekstrem dan tubuhmu sangat lemah. Makanan rumah sakit yang hambar itu tidak akan cukup untuk mengisi kembali energimu. Makanlah ini sampai habis. Dan Soal Kai, kamu tidak usah khawatir... aku yang akan menyuapinya."
Perhatian dan perlakuan manis Gibran yang begitu nyata mendadak membuat dada Bening berdesir hebat perasaan yang bercampur antara takut, bingung, dan rindu yang tertahan. Harusnya Gibran tidak sepeduli ini padanya. Harusnya pria itu membencinya sesuai dengan skenario fitnah masa lalu. Kebaikannya saat ini terasa bagai ancaman yang sangat berbahaya bagi pertahanan hati Bening, namun ia sama sekali tak punya alasan untuk menolaknya.
Bening memegang sendoknya dengan jemari yang bergetar tipis. Sebelum menyuap makanan itu, Bening memberanikan diri mendongak menatap Gibran yang sedang membukakan wadah makanan untuk Kai.
"Mas... terima kasih banyak ya," bisik Bening tulus, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku baru saja membaca pesan dari Bu Irma. Katanya kamu mengantarkan sendiri kuenya dan memberi ganti rugi tiga kali lipat untuk pesanan yang kurang..."
Gibran hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan tangannya.
"Dan... aku juga minta maaf, Mas," lanjut Bening dengan nada cemas yang teramat sangat. "Karena kamu harus berbohong pada Bu Irma dan tetangga di sana soal hubungan kita. Nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan menjelaskan pada Bu Irma dan warga kalau kita ini sebenarnya sudah..."
"Tidak perlu," potong Gibran dingin, menghentikan kalimat Bening di udara.
Bening tertegun, menahan napasnya.
Gibran menegakkan tubuhnya, memutar posisi hingga matanya terkunci tepat pada manik mata Bening. Sorot matanya begitu dalam, sarat akan ketegasan dan kepemilikan yang tak tergoyahkan.
"Itu sama sekali tidak penting, Bening," ujar Gibran dengan suara rendah yang berat, membuat dada Bening bergemuruh hebat. "Lagi pula... nyatanya kita memang pernah menjadi suami istri. Dan di lubuk hatiku yang terdalam, kamu masih istriku."
Deg.
Jantung Bening seolah berhenti berdetak seketika. Kalimat singkat yang diucapkan Gibran dengan begitu tenang itu menyengat seluruh kesadarannya, membuat dadanya berdesir nyeri dan memicu hembusan napasnya menjadi tidak teratur.
Meski ikatan itu terasa sudah mati akibat perceraian dan fitnah tujuh tahun lalu, tatapan mata Gibran saat ini membuktikan satu hal, pria itu tidak pernah benar-benar melepaskannya.
ga bakal ketauan ortu sendiri