NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Membuat Jantungku Berdebar

Setahun sudah aku berada di kelas 7, dan tanpa terasa akhirnya tiba juga hari yang sejak beberapa waktu lalu selalu kutunggu-tunggu. Pagi ini adalah hari pengambilan rapor untuk menentukan kenaikan kelas 8. Sejak membuka mata, pikiranku sudah dipenuhi berbagai pertanyaan tentang hasil belajarku selama setahun terakhir. Aku ingin mendapatkan nilai yang bagus, bahkan diam-diam berharap namaku masuk dalam daftar siswa yang mendapatkan rangking, tetapi semakin memikirkan hal itu, rasa gugup justru semakin kuat memenuhi dadaku.

Aku bersiap sejak pagi, kemudian berdiri di depan cermin besar sambil memperhatikan diriku yang sudah berpakaian rapi. Beberapa menit aku hanya memandangi bayanganku sendiri hingga tanpa sadar tersenyum kecil.

“Lucu juga, ya, Hitas,” gumamku sambil memperhatikan wajahku sendiri.

Aku masih tersenyum ketika tiba-tiba teringat bahwa hari ini adalah pengambilan rapor. Rasa gugup yang sempat terlupakan kembali muncul begitu saja.

“Aduh, Hitas, jangan lupa. Hari ini kamu pengambilan rapor.”

Aku menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya beranjak dari depan cermin. Bagaimanapun juga, hari ini aku akan mengetahui hasil kerja kerasku selama satu tahun.

Sebelum berangkat, aku menuju kamar Mama yang sedang bersandar dengan bantal di belakang tubuhnya, tepat di dinding. Aku menghampirinya sambil tersenyum, lalu berkata, “Mama, hari ini pengambilan rapor. Mama doakan, ya, semoga Hitas mendapatkan nilai yang bagus.”

Mama menatapku dan tersenyum kecil. Meskipun tubuhnya masih terlihat lemah, ucapan yang keluar dari mulutnya selalu berhasil membuatku merasa lebih tenang.

“Iya, Hitas. Mama percaya Hitas pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus.”

Mendengar ucapan itu, aku merasa sedikit lebih percaya diri. Aku kemudian meraih tangan Mama bersama Kak Ucaluna dan berpamitan untuk berangkat.

“Aku pergi, ya, Ma.”

“Iya, hati-hati, ya.”

Aku mengangguk, kemudian berjalan bersama Kak Ucaluna menuju sekolah. Namun, sepanjang perjalanan pikiranku masih terus tertuju pada hasil rapor yang sebentar lagi akan dibagikan. Sebenarnya aku berharap bisa mendapatkan rangking, tetapi semakin dekat dengan sekolah, rasa percaya diriku justru semakin berkurang karena aku tidak tahu seperti apa hasil yang akan kudapatkan.

“Kak Ucaluna, menurut Kakak aku bisa dapat rangking nggak, ya?” tanyaku sambil menoleh kepadanya.

Kak Ucaluna yang sejak tadi juga terlihat sedang memikirkan sesuatu langsung menoleh kepadaku.

“Nggak tahu. Kamu kan yang lebih tahu sama dirimu sendiri, masa bertanya padaku?”

Aku hanya tersenyum kecil mendengar jawabannya. “Iya deh, aku cuma bertanya.”

Kami kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di sekolah. Suasana sekolah terlihat sangat ramai. Seragam Pramuka dengan nuansa warna cokelat menghiasi setiap sudut sekolah, sementara para siswa sudah berkumpul bersama teman-temannya. Ada yang terlihat santai, tetapi sebagian lainnya justru tampak tegang karena sebentar lagi mereka akan mengetahui hasil belajar selama setahun.

“Wah, ramai banget,” gumamku sambil melihat keadaan sekitar.

Aku kemudian menoleh kepada Kak Ucaluna. “Baik, Kak Ucaluna, aku langsung ke kelas, ya.”

“Iya, Hitas. Semoga berhasil, ya.”

Aku langsung mengangkat tangan dan memberikan hormat dengan gaya bercanda. “Siappp!”

Kak Ucaluna hanya tersenyum kecil melihat tingkahku sebelum kami berpisah menuju kelas masing-masing.

Sesampainya di depan kelas, aku melihat Vita yang sudah berada di sana. Begitu melihatku, Vita langsung berlari menghampiri dan memelukku seolah-olah kami sudah lama tidak bertemu.

“Aduh, lebay banget anak ini, kayak tidak pernah ketemu seabad saja,” kataku sambil tertawa.

“Hhhh, iya haruslah. Kita harus mengapresiasi diri kita karena kita sudah bertahan sejauh ini,” jawab Vita dengan santainya.

Aku ikut tersenyum kemudian mengajaknya masuk ke kelas. “Dasar Vita, ayo masuk. Lihat teman-teman pada tegang tuh.”

Ketika masuk ke dalam kelas, aku memperhatikan teman-teman yang ternyata memang terlihat berbeda dari biasanya. Beberapa dari mereka sibuk membicarakan kemungkinan nilai yang akan diperoleh, sedangkan yang lainnya hanya duduk menunggu dengan wajah tegang. Melihat keadaan itu, aku baru menyadari bahwa ternyata bukan hanya aku yang merasa gugup.

“Kirain cuma aku yang tegang. Ternyata semua sama tegangnya seperti aku.”

Vita langsung tertawa kecil mendengar ucapanku. “Iyalah, emang hanya kamu manusia? Mereka juga manusia kali.”

“Iya, iya,” jawabku sambil ikut tertawa.

Tidak lama kemudian, Vita mengajakku pergi ke kantin karena pengambilan rapor masih cukup lama.

“Hitas, kamu mau ke kantin tidak? Beli makanan. Pengambilan rapor agak lama, kita beli makan, yuk.”

Aku pun mengikuti Vita yang sudah lebih dahulu berjalan keluar dari kelas. Kami melewati lapangan menuju kantin sambil membicarakan hal-hal kecil untuk mengalihkan rasa gugup yang sejak tadi kurasakan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah lapangan.

“Cewek-cewek mau ke mana?”

Aku langsung mengenali suara itu tanpa perlu menoleh. Dari suaranya saja aku sudah tahu bahwa itu pasti Kenan. Aku memilih tetap berjalan bersama Vita dan tidak mengeluarkan satu kata pun karena tidak ingin meladeni keisengannya.

“Sombong!” teriak Kenan dari belakang.

Aku hanya menahan senyum sambil terus berjalan. Dasar Kenan, masih saja menggangguku, gerutuku dalam hati, meskipun sebenarnya aku tahu dia hanya sedang bercanda seperti biasanya.

Setelah membeli beberapa makanan dan minuman, aku dan Vita segera kembali ke ruang kelas. Kami makan sambil menunggu waktu pengambilan rapor yang terasa cukup lama. Meskipun berusaha mengobrol seperti biasa, pikiranku tetap kembali kepada hasil raporku. Semakin lama menunggu, semakin besar pula rasa penasaran yang muncul dalam diriku.

Beberapa jam kemudian, akhirnya terdengar suara dari mikrofon yang membuat seluruh siswa mulai memperhatikan.

“Disampaikan kepada seluruh siswa untuk segera berkumpul di depan kelas masing-masing untuk mendengarkan hasil kerja kerasnya selama satu tahun ini.”

Kami pun segera berbondong-bondong keluar dari kelas sambil membawa kursi untuk duduk di depan kelas masing-masing. Aku berusaha terlihat tenang, tetapi sebenarnya jantungku sudah berdegup sangat kencang. Sejak pagi aku terus membayangkan bagaimana jika namaku tidak disebut, sementara di sisi lain ada harapan kecil bahwa aku bisa mendapatkan rangking.

Seorang ibu guru kemudian berdiri di depan para siswa.

“Selamat pagi, anak-anak. Ibu guru akan membacakan nilai dan mengumumkan kejuaraan setiap kelas. Ibu harap kalian mendengarkan nilai kalian dengan baik.”

Pengumuman dimulai dari kelas 9, kemudian dilanjutkan dengan kelas 8. Aku terus menyimak sampai akhirnya tiba giliran kelas 7. Saat itu jantungku terasa semakin berdebar karena sebentar lagi aku akan mengetahui hasil belajarku.

“Kelas 7A...”

Kemudian dilanjutkan dengan kelas 7B hingga kelas 7 C. Aku mendengarkan dengan saksama karena itu adalah kelas Kenan.

“Juara tiga atas nama Kenan.”

Aku spontan terdiam.

Hah, Kenan juara tiga?

Tanpa sadar aku tersenyum kecil. Kenan pintar juga, ya, ternyata.

Namun, setelah kelas Kenan selesai diumumkan, rasa senang itu segera bercampur dengan gugup karena setelah ini giliran kelasku yang akan disebutkan. Aku kembali memusatkan perhatian kepada ibu guru ketika beliau mulai membacakan hasil kelas 7D.

“Sekarang kelas 7D, dengarkan baik-baik. Juara satu atas nama Nadira.”

Suara tepuk tangan langsung terdengar.

“Juara dua atas nama Melind.”

Kembali terdengar tepuk tangan dan beberapa teriakan dari teman-teman.

Aku semakin menahan napas karena tinggal satu nama lagi yang akan disebutkan. Dalam hati aku terus berharap semoga namaku termasuk di dalamnya.

“Juara tiga atas nama Hitas Nursyah.”

“Hah?”

Tanganku spontan menutup mulut. Untuk beberapa saat aku hanya diam karena seperti tidak percaya bahwa nama yang baru saja disebut benar-benar namaku. Setelah menyadari bahwa aku mendapatkan juara tiga, rasa lega dan bahagia langsung memenuhi dadaku.

Memang bukan juara pertama seperti yang kuharapkan, tetapi setidaknya aku berhasil mendapatkan rangking. Semua rasa takut yang sejak pagi memenuhi pikiranku perlahan berubah menjadi rasa bangga karena usaha belajarku selama setahun ternyata tidak sia-sia.

Namun, ada alasan lain yang sejak awal membuatku ingin mendapatkan rangking. Aku ingin mendapatkan juara bukan hanya karena ingin membuktikan sesuatu kepada diriku sendiri, tetapi juga karena aku tidak ingin dibilang bodoh oleh Kenan. Selama ini dia sering menggodaku dan membuatku kesal dengan ucapan-ucapannya, sehingga diam-diam aku selalu ingin menunjukkan bahwa aku juga bisa.

Walaupun juara tiga, setidaknya aku bisa imbang sama Kenan, gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil.

Setelah pengambilan rapor selesai, kami pun bersiap untuk pulang. Perasaanku jauh lebih ringan dibandingkan ketika berangkat tadi pagi karena akhirnya aku sudah mengetahui hasil kerja kerasku selama setahun. Sepanjang perjalanan, aku masih memikirkan pengumuman tadi, terutama ketika nama Kenan dan namaku sama-sama disebut sebagai juara tiga di kelas masing-masing.

Tidak lama kemudian, suara Kenan terdengar dari arah belakang.

“Hitas, kita sama. Kamu pintar juga, ya, Hitas.”

Aku menoleh kepadanya sambil menahan senyum. Entah mengapa, mendengar Kenan mengatakan bahwa kami mendapatkan hasil yang sama membuat hatiku sedikit senang, meskipun aku berusaha untuk tidak menunjukkannya di hadapannya.

Emang aku pintar? pikirku sambil kembali berjalan. Dalam hati aku masih ingin membalas ucapannya, tetapi melihat senyum kecil di wajahnya membuatku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan senyum sendiri.

Hari itu, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa usaha kecil yang kulakukan selama setahun ternyata benar-benar membawaku pada sesuatu yang bisa kubanggakan. Mungkin hanya juara tiga, tetapi bagiku hasil itu cukup untuk membuatku berjalan pulang dengan perasaan bangga—terlebih karena untuk pertama kalinya, aku merasa tidak kalah dari Kenan.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!