NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN DARI SEORANG KAKAK LELAKI (1)

Dua hari melewati akhir pekan di sabtu dan minggu, Nara merasakan waktu berjalan sangat lamban. Hal yang biasa ia isi dengan bersantai sambil belajar dan menikmati keheningan di rumahnya yang luas, kini semuanya terasa membosankan sejak Naya mulai memasuki sisi yang tak pernah terpikirkan akan ada seseorang yang mengisi. Ditatapnya langit-langit rumahnya dari posisi tiduran di sofa panjang ruangan keluarga. Tampak tinggi dengan gaya arsitektur minimalis perpaduan tema modern pada eksteriornya. Ia hanya ditemani butler setianya, Pak Andi yang menemani perjalanan tumbuh kembang kehidupannya. Entah mengapa rasanya ingin lekas hari Senin sehingga dapat bertemu dengan Naya. Gadis perpaduan yang imut namun cantik sekaligus. Ia baru menyadari benar kata Ekky, rupanya ia memang menyukai tipe seperti Naya.

Ditatapnya layar ponsel berchasing hitam miliknya. Ia ingin mengirimkan pesan melalui instant message kepada Naya namun teringat bahwa ia belum meminta nomor ponsel gadis itu. Hubungan mereka belum seserius itu untuk dapat berkomunikasi intens. Ia tak boleh gegabah. Strategi dalam urusan percintaan itu berbeda dengan strategi dalam urusan perbasketan. Pengalamannya dalam urusan cinta benar-benar nol besar meskipun memiliki banyak pengagum lawan jenis. Dunianya selama ini hanyalah tentang pendidikan, persahabatan, dan basket. Ah, sepertinya dia sudah gila karena intensitas memikirkan gadis itu semakin tinggi akhir-akhir ini. Sepertinya ia harus segera meminta nomor ponsel gadis itu jika tidak mau kegilaan dan overthinking-nya semakin menjadi-jadi membuat beberapa skenario di otak cerdasnya terlalu berlebihan membuat imajinasi yang membuatnya menjadi tak terkendali.

Saat ini ia hanya bisa memandang akun media sosial gadis itu yang diam-diam dicarinya untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Naya. Seperti dugaannya, meskipun tidak di-private, akun gadis itu hanya berisi postingan buku-buku yang dibacanya sekaligus caption quote yang menggambarkan isi buku tersebut. Sekalinya ada foto gadis itu, hanyalah ada di profile picture-nya itupun diambil dari jauh. Sungguh bertolak belakang dengan akun media sosial miliknya yang berisi tentang foto-fotonya pada saat bertanding dengan Like dan Direct Message yang banyak namun tak digubrisnya. Dulu ia menyukai hal tersebut, namun semakin mengenal Naya ia sadar bahwa hal itu semua hanyalah popularitas semu jika di dunia nyatanya ia tak memiliki banyak orang didekatnya yang mengerti siapa sejatinya dirinya.

“Ayolah lekas hari Senin, aku ingin segera bertemu Naya.” Nara meletakkan ponselnya di bawah sofa dan memeluk bantal sofa dengan erat.

Tanpa disadari Nara, Pak Andi sang butler memperhatikan gerak-gerik tuan mudanya yang sedang memasuki masa puber yang untuk seusianya termasuk terlambat. Tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali kan?

***

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Nara tiba. Hari Senin adalah hari yang biasanya malas untuk Nara hadapi. Dulu rasanya ia ingin hari Senin lekas berakhir karena hawanya yang terlalu berat untuk memulai minggu. Namun sekarang dirinya punya alasan untuk bersemangat menyambut hari pertama disetiap minggu itu.

“Tunggu-tunggu Tuan Pewaris,” Ekky berusaha menahan Nara untuk pergi dari gedung olahraga setelah latihan basket. “Aku masih belum selesai meminta penjelasan setelah pertandingan minggu lalu. Aku masih penasaran kok bisa? Aku kira kamu kesembet hantu kolam renang lho.”

“Oh ayolah Ky, aku kan sudah menjelaskan di telepon kemarin, ya seperti itu. Masa’ belum belum jelas juga?” Nara kesal karena dihalang-halangi Ekky untuk pergi ke perpustakaan lebih cepat. Kapan lagi ia mendapatkan kesempatan seperti ini setelah mendapatkan info dari pelatihnya bahwa hari ini latihan dipercepat selesainya karena beliau ada rapat penting dengan kepala sekolah bersama guru lainnya. “Makasih lho atas sumpah serapahmu dulu, susah dapatin cewek yang benar-benar kusukai. Sekarang bola basket berwarna oranye itu punya saingan berat.”

“Tapi…”

Belum selesai Ekky berucap, Nara sudah berlari menghilang dari pandangan Ekky.

“Anak itu benar-benar deh.” Ekky menghela napas dan menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.

“Kak Nara kenapa Kak Ekky?” Tanya seorang gadis tomboy yang tiba-tiba muncul di belakang Ekky.

“Kimi? Kamu mengejutkanku!” Tolehnya.

“Kakak jadi mengajakku jalan kan?”

“Ya jadilah, apa lagi latihan hari ini selesai cepat.” Ekky menggandeng tangan kiri Kimi dan berjalan menuju gerbang sekolah. “Lagipula kalaupun latihan kita lebih lama selesainya kita tetap jalan.”

“Kita mau jalan kemana Kak?”

“Nonton, ada film bagus tentang superhero. Kamu bawa baju ganti kan?”

“Tentu saja. Kan sudah janji jalan sama Kak Ekky.”

Ekky dan Nara benar-benar sama saja! Ternyata Ekky sudah terlebih dahulu menikung sahabat dari Naya yang diyakini Naya sendiri belum tahu bahwa sahabat dari SD-nya itu ternyata berpacaran dengan sahabat Nara. Rupanya dunia terlalu sempit untuk mereka.

***

Nara datang ke perpustakaan dua puluh menit lebih awal setelah latihan basket hari itu berakhir. Hal itu merupakan pencapaian yang nyaris mustahil bagi seseorang yang biasanya menganggap datang tepat waktu sebagai bentuk pengorbanan besar. Bahkan ketika pertandingan basket penting akan dimulai, Nara sering muncul beberapa menit sebelum pemanasan dengan alasan bahwa seorang pemain hebat tidak membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkan diri, Padahal sebenarnya di dalam perjalanan menuju tempat pertandingan diam-diam ia sudah melakukan pemanasan duluan dibandingkan teman-temannya. Sungguh menyebalkan!

Pukul setengah empat sore itu ia sudah duduk di meja dekat jendela ketika perpustakaan masih cukup sepi. Di hadapannya tergeletak sebuah buku tebal yang belum lama ia pinjam. Buku itu terbuka pada halaman keempat, meskipun selama hampir sepuluh menit Nara tidak benar-benar membaca satu kalimat pun.

Nara berusaha terlihat santai. Ia menyandarkan punggung ke kursi, membalik halaman secara sembarangan, Tatapannya berulang kali mengarah ke pintu masuk. Sesekali ia melihat jam di dinding. Lalu kembali melihat pintu. lalu kembali berpura-pura membaca. Namun, ketika pintu perpustakaan terbuka, kepalanya langsung terangkat.

Bukan Naya.

Hanya dua siswa kelas sepuluh yang datang sambil membawa tumpukan tugas.

Nara mengembuskan napas pelan menampilkan wajah sedikit kecewa. “Katanya tidak akan terlambat…”

“Siapa bilang aku terlambat?”

Suara itu membuat Nara menoleh. Naya berdiri di samping meja sambil membawa tas renang di bahu kanan dan beberapa buku di tangannya. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin karena baru selesai latihan. Ujung-ujung rambutnya menempel pada leher, sementara aroma sabun yang lembut vanilla terasa samar ketika ia menarik kursi di hadapan Nara.

Nara segera mengubah ekspresi menjadi seolah tidak menunggunya sejak tadi. “Aku tidak terlambat,” katanya.

Naya melirik jam dinding. “Aku bicara tentang diriku.”

“Aku juga tidak mengatakan kamu terlambat.”

“Tapi wajah Kakak mengatakan begitu.”

“Wajahku tidak mengatakan apa-apa.”

Naya duduk, lalu menatap buku yang terbuka di hadapan Nara. “Sudah sampai halaman berapa?”

Nara menjawab dengan percaya diri, “Halaman delapan belas.”

Naya mengulurkan tangan dan mengambil buku tersebut. Penanda bukunya masih terselip di halaman empat. Ia mengangkat alis.

“Halaman delapan belas?”

Nara tidak terlihat malu. “Aku membaca cepat.”

“Penandanya masih di halaman empat, jangan bohong deh.”

“Aku tidak membutuhkan penanda.”

“Lalu kenapa bukunya terbuka di halaman empat?”

Nara terdiam sebentar sebelum menjawab, “Aku sedang mengulang bagian penting.”

Naya menahan senyum. “Bagian pentingnya bahkan belum dimulai.”

“Kalau begitu, jelaskan kepadaku.”

Naya membuka buku catatannya. “Kakak yang harus membaca. Aku hanya membantu kalau ada yang tidak dimengerti. Aku sampai sekarang masih heran bagaimana Kak Nara bisa berprestasi di dua bidang sekaligus, akademis dan non akademis sementara membaca buku  "The Courage to be Disliked: How to Free Yourself, Change Your Life and Achieve Real Happiness" karangan Ichiro kishimi dan Fumitake Koga saja tidak ada kemajuan sampai sekarang.”

“Kalau aku harus membaca sendiri, untuk apa aku datang ke sini?”

“Untuk mengembalikan buku tepat waktu dan untuk belajar mempersiapkan kelulusan Kak Nara yang sedang menghitung waktu.” Jawan Naya to the point. "Ingat Kak, Kakak sudah kelas XII."

“Bukan itu alasanku.”

Naya berhenti membuka halaman. Ia menatap Nara, tetapi lelaki itu justru terlihat sangat santai, seolah tidak baru saja mengucapkan sesuatu yang dapat membuat suasana berubah canggung.

“Apa alasan Kakak?” tanyanya.

Nara menopang dagu dengan satu tangan. “Minggu lalu sudah kukatakan.”

Naya berpura-pura tidak ingat. “Kakak mengatakan banyak hal.”

“Aku ingin punya alasan duduk bersamamu lagi.”

Jari Naya yang memegang pulpen berhenti bergerak. Ia menundukkan kepala agar Nara tidak melihat wajahnya yang mulai memanas.

“Kakak seharusnya membaca,” katanya.

“Aku sedang membaca.”

“Matanya malah melihatku.”

Nara tersenyum. “Mungkin bagian yang ingin kubaca bukan bukunya.”

Pulpen di tangan Naya hampir terlepas.

“Kak Nara.”

“Apa?”

“Kalau Kakak terus berbicara seperti itu, aku akan pindah meja.”

“Baik. Aku akan diam.”

Anehnya, kali ini Nara benar-benar menepati ucapannya. Selama beberapa menit, ia membaca buku dengan serius. Sesekali dahinya berkerut. Ketika menemukan bagian yang tidak dipahami, ia mendorong buku itu sedikit ke arah Naya dan bertanya dengan suara pelan.

Naya menjelaskan sebaik mungkin. Suasana di antara mereka perlahan menjadi nyaman. Tidak ada pertengkaran, tidak ada ejekan berlebihan, dan tidak ada kesalahpahaman seperti beberapa hari sebelumnya.

Hanya suara halaman buku yang dibalik, detak jam dinding, serta langkah pelan siswa yang berjalan di antara rak.

Naya tidak ingin mengakuinya, tetapi ia menyukai suasana tersebut. Sangat menyukainya. Hampir satu jam berlalu ketika ponsel Naya bergetar di atas meja. Sebuah pesan muncul dari Reksa.

Aku di gerbang. Cepat keluar.

Naya menghela napas.

“Ada apa?” tanya Nara.

“Kak Reksa sudah datang menjemput.”

Seketika, ekspresi Nara berubah sedikit. Tidak sedingin saat ia salah paham sebelumnya, tetapi jelas terlihat bahwa nama Reksa belum sepenuhnya menyenangkan baginya.

“Dia selalu menjemputmu?”

“Tidak selalu. Hanya pada saat orang tuaku tak dapat melakukannya.”

“Berarti cukup sering.”

Naya menutup bukunya. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kakak mulai aneh lagi.”

“Aku hanya bertanya.”

“Kakak tidak perlu khawatir. Kali ini aku tidak akan memeluk lengannya.”

Nara menatapnya tajam, sedangkan Naya tertawa kecil.

“Aku tidak khawatir.”

“Wajah Kakak mengatakan sebaliknya.”

“Wajahku memang sering disalahpahami.”

“Kakak yang sering salah paham.”

Naya memasukkan buku ke dalam tas, lalu berdiri.

Nara ikut bangkit. “Aku akan mengantarmu ke gerbang.”

“Tidak perlu.”

“Aku juga ingin pulang.”

“Kak Nara mengendarai mobil untuk pulang, sedangkan Kakakku itu membawa motor untuk menjemputku dan yang kita sudah sama-sama tahu jarak antara parkiran mobil dan motor terpisah cukup jauh.”

Nara memasukkan kedua tangan ke saku. “Aku sedang ingin berjalan lebih jauh.”

Naya mengetahui alasan itu dibuat-buat, tetapi tidak membantah. Mereka berjalan keluar dari perpustakaan bersama. Matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan warna jingga di balik gedung sekolah.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!