NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Surat Lama dan Rahasia Kebangkrutan yang Sebenarnya

Keesokan paginya, suasana di rumah Erlan terasa berbeda. Tidak ada lagi kecemasan yang menyelimuti setiap sudut ruangan, tidak ada lagi dering telepon yang memecah keheningan. Namun ketenangan ini justru membuatku merasa gelisah seperti badai besar yang sedang berkumpul di balik awan gelap, menunggu waktu yang tepat untuk meledak.

Aku duduk di teras samping, membiarkan sinar matahari pagi menyentuh kulitku sambil menyisir rambut panjangku perlahan dengan jari. Pikiran tak henti-henti melayang pada satu hal yang belum terungkap: bagaimana mungkin perusahaan ayahku yang dulu berdiri kokoh selama belasan tahun, bisa runtuh dalam waktu kurang dari dua bulan? Di kehidupan dulu, aku hanya mendengar kabar bahwa itu karena kesalahan manajemen dan utang yang menumpuk. Tapi kini, setelah melihat betapa liciknya Rian dan Sari, aku yakin ada tangan jahat yang bekerja di balik kehancuran itu.

"Kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat," suara Erlan terdengar dari belakangku. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di sampingku di bangku kayu yang sama. Aroma wangi khasnya—campuran kayu cendana dan hujan—tercium samar, membuat detak jantungku sedikit lebih tenang.

"Aku bertanya-tanya," jawabku pelan tanpa menoleh. "Apakah benar perusahaan ayahku bangkrut karena kesalahan sendiri? Atau ada orang lain yang merencanakannya dari jauh, bahkan sebelum aku menyadari niat jahat mereka?"

Erlan diam sejenak. Dia menatap pemandangan taman yang hijau di depan kami, rahangnya sedikit mengeras seolah menahan sesuatu yang berat. "Aku sudah lama menyelidiki hal ini, Dian. Tapi buktinya selalu hilang atau rusak sebelum aku bisa memegangnya. Seolah ada kekuatan besar yang melindungi pelakunya."

"Kekuatan besar?" aku berbalik menatapnya, rambutku beralun mengikuti gerakanku. "Maksudmu bukan hanya Rian dan Sari?"

"Belum tentu mereka yang memimpin," jawabnya serius. "Mereka mungkin hanya alat. Alat yang mudah dikendalikan dengan janji harta dan jabatan."

Siang itu, aku memutuskan pulang sebentar ke rumah lamaku—rumah yang sekarang sudah hampir kosong, menunggu proses penyitaan yang batal setelah Erlan melunasi semua utang. Ayah dan Ibu sudah pindah ke sebuah apartemen kecil sementara, tapi aku meminta izin untuk mengambil beberapa barang pribadi yang tertinggal. Erlan mengantar dan menemaniku, tidak ingin aku pergi sendirian ke tempat yang menyimpan banyak kenangan menyakitkan.

Rumah itu terasa sepi dan berdebu. Langkah kakiku bergema di lantai keramik yang dulu selalu bersih. Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang pintunya sedikit terbuka. Di sana, di sudut lemari arsip yang terkunci, aku melihat laci kecil yang pernah ayah larang aku buka.

"Kunci laci ini ada di mana ya?" gumamku pelan.

Erlan mendekat, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku jasnya. "Aku menemukannya di saku jaket ayahmu saat pertama kali bertemu dengannya untuk membicarakan pernikahan kita. Dia tampak sangat gelisah memegang kunci ini, seolah takut kehilangannya."

Tanganku sedikit gemetar saat menerima kunci itu. Saat pintu laci terbuka, tidak ada harta berharga di sana—hanya tumpukan surat-surat lama, buku catatan, dan sebuah amplop cokelat besar yang tertulis nama ayah dengan tulisan tangan yang gemetar.

Aku membuka amplop itu. Isinya adalah surat peringatan yang dikirimkan tiga bulan sebelum perusahaan bangkrut. Surat itu menyatakan bahwa ada transaksi mencurigakan yang dilakukan oleh seorang direktur baru—orang yang direkomendasikan oleh kerabat jauh keluarga kami. Dan di bagian bawah surat itu, ada tanda tangan yang membuat darahku berdesir hebat.

Tanda tangan itu mirip persis dengan tanda tangan di dokumen perjanjian kerja sama yang pernah kulihat di meja kerja... ayah kandung Sari. Paman Dika.

"Paman Dika?" bisikku tak percaya. "Dia yang selama ini selalu membantu kami, yang bilang menganggapku seperti anak sendiri... ternyata dia yang merusak perusahaan ayahku?"

Erlan mengambil surat itu, membacanya saksama, lalu mengangguk berat. "Dia bekerja sama dengan kelompok bisnis yang ingin menguasai aset daerah ini. Rian dan Sari hanya anak buah yang dia manfaatkan untuk masuk ke dalam lingkaran keluargamu dengan lebih mudah."

Belum sempat aku mencerna kenyataan pahit itu, ponsel Erlan berdering dengan nada darurat. Wajahnya berubah pucat saat mendengar laporan dari pengawalnya.

"Kita harus segera pergi," ucapnya tegas sambil menggenggam tanganku erat. "Ada sekelompok orang asing yang mendekati rumah ini. Mereka membawa alat pemecah pintu, seolah tahu kita sedang di sini."

Kami segera bergegas keluar, tapi terlambat. Di halaman depan sudah berdiri lima orang berbadan tegap dengan wajah tertutup sebagian. Di belakang mereka, Paman Dika muncul perlahan sambil tersenyum sinis—senyum yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng keramahan.

"Terima kasih sudah membuka kuncinya untukku, Dian," ucapnya dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Surat itu adalah bukti terakhir yang aku cari. Selama ini aku tidak berani masuk karena ayahmu menyembunyikannya dengan baik. Tapi kau... kau terlalu polos untuk menyadari bahayanya."

"Kau yang merencanakan semuanya!" bentakku berani, meski kakiku terasa lemas. "Kau yang membuat ayahku bangkrut, kau yang menyuruh Rian dan Sari menghancurkan hidupku!"

"Tentu saja," jawabnya santai. "Harta keluargamu sebenarnya milik kami. Kakekmu dulu merebutnya dari keluarga kami dengan cara curang. Sekarang aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku."

Dia memberi isyarat, dan orang-orang itu melangkah maju. Erlan segera menarikku ke belakang tubuhnya, membentengi aku dengan badannya sendiri.

"Jangan bergerak," ancam Erlan dengan suara menggelegar. "Aku sudah mengirim lokasi ini ke tim keamanan dan polisi. Jika kalian menyentuh kami sedikit saja, kalian tidak akan bisa lari ke mana pun."

Paman Dika tertawa mengejek. "Kau pikir aku takut? Aku sudah menyiapkan segalanya. Jika aku tertangkap, rahasia terbesarmu pun akan terungkap, Erlan Pratama. Rahasia tentang siapa kau sebenarnya, dan mengapa kau bisa kembali ke masa lalu bersama gadis ini."

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada pukulan apa pun. Aku menatap punggung Erlan yang tiba-tiba menegang kaku. Bahunya bergetar pelan, seolah kata-kata itu merobek dinding pertahanan yang dia bangun selama bertahun-tahun.

"Apa maksudnya?" tanyaku nyaris berbisik. "Mas Erlan... apa yang dia katakan? Kembali ke masa lalu... bersama?"

Erlan berbalik perlahan menatapku. Matanya yang biasanya tajam dan tenang kini penuh dengan kepedihan dan ketakutan. Dia ingin bicara, tapi suaranya terhenti di kerongkongan.

Saat itu terdengar suara sirine polisi dari kejauhan. Paman Dika mengumpat kesal, lalu memberi perintah untuk mundur cepat sebelum tertangkap. Mereka menghilang di balik pagar samping, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang penuh teka-teki.

Perjalanan pulang berjalan tanpa sepatah kata pun. Aku menatap ke luar jendela, tapi pikiranku buntu. Selama ini aku berpikir hanya aku satu-satunya yang terlahir kembali. Tapi ternyata Erlan juga? Dan dia sudah tahu dari awal? Mengapa dia menyembunyikannya dariku? Apa rahasia besar yang membuatnya takut untuk mengaku?

Sesampainya di rumah, Erlan tidak langsung masuk. Dia berdiri di beranda, menatap langit yang mulai mendung. Aku mendekat perlahan, menyentuh lengannya dengan lembut.

"Kau tidak perlu berbohong lagi," ucapku pelan. "Aku siap mendengar semuanya. Apa pun itu."

Erlan menarik napas panjang, lalu menatapku dengan tatapan yang memilukan. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajahku dengan penuh rasa rindu yang mendalam seolah dia sudah merindukanku selama berabad-abad.

"Kita berdua pernah mati di hari yang sama, Dian," bisiknya parau. "Di kehidupan yang lalu, aku mati mencoba menyelamatkanmu. Dan saat aku terbangun, aku kembali ke masa tiga tahun lalu... tepat saat kau juga mulai melangkah menuju takdirmu yang kelam. Aku berjanji pada diriku sendiri kali ini aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku akan melindungimu, sekalipun aku harus menyembunyikan identitas asliku, sekalipun aku harus menanggung semua beban ini sendirian."

Air mata perlahan mengalir di pipiku. Bukan karena sedih, tapi karena aku akhirnya mengerti segalanya mengapa dia selalu tahu segalanya, mengapa dia begitu menjagaku, mengapa tatapannya selalu terasa begitu akrab dan menyakitkan.

Tapi baru aku menyadari satu hal lain yang lebih menakutkan jika Paman Dika tahu rahasia ini, berarti dia juga mengetahui hal yang tidak seharusnya diketahui manusia biasa. Dan itu berarti bahaya yang menanti kami bukan lagi sekadar urusan harta atau dendam duniawi.

Di ujung lorong, pintu sayap timur yang dilarang Erlan itu kini terbuka sedikit. Cahaya samar berwarna keemasan memancar dari balik celah pintu itu, seolah memanggil kami untuk masuk dan mengetahui kebenaran terakhir yang selama ini tersimpan rapat di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!