Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Ryden membawa Elira kembali ke tempat kapal kecilnya berlabuh, menyalakan api unggun kecil di tepi teluk saat senja mulai turun. Gadis itu duduk memeluk lututnya, masih gemetar meski ancaman sudah berlalu. Ryden menyodorkan sepotong roti kering dari perbekalannya, yang diterima Elira dengan tangan gemetar.
"Terima kasih," gumam Elira pelan, matanya menatap api unggun dengan pandangan kosong. "Aku... aku benar-benar mengira akan mati tadi."
"Bagaimana kau bisa sampai di pulau ini sendirian?" tanya Ryden akhirnya, duduk di seberangnya sambil mengamati gadis itu dengan saksama. Sesuatu terasa aneh—pakaiannya, meski compang-camping, memiliki jahitan yang terlalu rapi untuk seorang tahanan biasa.
Dan yang lebih mengganggunya, ia sama sekali tidak bisa merasakan aura Haki apa pun dari tubuh Elira, seolah gadis itu adalah kekosongan di tengah keramaian getaran kehidupan yang biasa ia rasakan.
Elira terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Aku... melarikan diri. Dari kapal bajak laut yang menawanku beberapa hari lalu. Mereka menyerangku begitu aku hampir tenggelam mencoba kabur berenang ke pulau ini."
Jawaban itu terdengar wajar, namun insting Ryden—hasil enam tahun bertahan hidup di lautan berbahaya—mengatakan sebaliknya. Ada jeda terlalu lama sebelum ia menjawab, dan matanya sempat melirik ke arah lain sebelum kembali menatap Ryden, seolah sedang menyusun kalimat yang tepat.
Dia berbohong, pikir Ryden, meski ia memilih untuk tidak menunjukkan kecurigaannya secara terang-terangan. Tapi untuk apa? Dan kenapa aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadirannya dengan Haki?
"Kau mau kuantar ke pulau terdekat yang berpenghuni?" tawar Ryden, mengubah topik sambil tetap mengamati reaksinya.
Wajah Elira sedikit tegang sebelum akhirnya mengangguk. "I-iya, tolong. Aku ingin secepatnya kembali ke... rumah."
Malam itu, saat Elira akhirnya tertidur di dekat api unggun, Ryden tetap terjaga, menatap langit malam sambil berpikir keras. Ia membuka layar Sistemnya, iseng mencoba fitur yang belum pernah ia gunakan sebelumnya—sebuah opsi kecil bertuliskan "Analisis Kehadiran" yang muncul di sudut layar transparannya.
[ ANALISIS KEHADIRAN]
SUBJEK : ELIRA
STATUS : TIDAK TERDETEKSI SEPENUHNYA
PERINGATAN : ENTITAS ANOMALI -- KEMUNGKINAN BUKAN PENDUDUK ASLI DUNIA INI
Mata Ryden membelalak, jantungnya berdegup lebih kencang. Bukan penduduk asli dunia ini? Apa maksudnya? Apakah dia juga... seperti aku?
Ia menoleh ke arah Elira yang masih tertidur lelap, wajahnya tampak begitu tenang dan tak berdosa dalam cahaya bulan. Namun di balik ketenangan itu, Ryden kini yakin sepenuhnya—gadis ini menyimpan rahasia besar, mungkin sebesar rahasia yang ia simpan sendiri tentang asal-usulnya.
Apakah dia juga bertransmigrasi ke dunia ini? Atau jangan-jangan... dia punya tujuan lain yang jauh lebih berbahaya?
Ryden menutup layar Sistemnya perlahan, memutuskan untuk tidak langsung mengonfrontasi Elira malam ini. Ia butuh waktu untuk mengamati lebih jauh, memastikan apakah gadis misterius ini adalah sekutu potensial, atau justru ancaman tersembunyi yang mengintai di balik topeng kepolosannya.
Angin malam berhembus pelan, membawa suara ombak yang menenangkan. Namun di balik ketenangan itu, Ryden merasakan firasat kuat bahwa pertemuannya dengan Elira baru saja membuka babak baru yang jauh lebih rumit dari sekadar petualangan biasa di lautan luas ini.
Ia menambahkan kayu ke dalam api unggun, memastikan nyalanya tetap hangat sepanjang malam. Sesekali matanya melirik ke arah Elira, mengamati setiap gerakan kecil dalam tidurnya—napasnya yang teratur, jemarinya yang sesekali mengepal seolah bermimpi buruk, dan sebuah gumaman lirih dalam bahasa yang tak sepenuhnya ia kenali, meski terdengar familier di suatu tempat jauh dalam ingatannya.
"Bahasa itu... rasanya seperti pernah kudengar, tapi di mana?," pikir Ryden, mengernyitkan dahi. Ia menyimpan pertanyaan itu dalam benaknya, menambah daftar panjang misteri yang harus ia pecahkan.
Menjelang fajar, Ryden akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak, namun tidurnya tidak nyenyak—pikirannya terus berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang siapa sebenarnya Elira, dan apa artinya bagi perjalanannya ke depan.
Satu hal yang pasti dalam benaknya: dunia yang ia kira sudah cukup ia pahami, ternyata masih menyimpan lapisan misteri yang jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.