Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Stock opname bahan sirup sama kopi saset udah beres belum, Pak?"
Helga melepaskan jaket jinsnya, meletakkannya begitu saja di atas kursi kayu belakang dapur Kafe Seduh.
Bau harum biji kopi roaster hangat beradu dengan aroma lembap dari sisa air cuci piring di sudut ruangan.
Pak Yudi melangkah mendekat, mengibaskan kertas nota tebal di tangannya.
Plak, plak.
"Itu dia masalahnya, Ga! Kasir yang ijin sakit kemarin belum sempet input laporan penjualan dua hari lalu! Kalau bos lihat ada selisih stok sama uang kas di mesin, bisa dipotong gaji gua bulan ini!"
Helga menarik celemek kain hitam dari paku dinding.
Tangannya sigap melingkarkan tali celemek ke pinggang, mengikatnya dengan simpul simetris.
"Selisihnya berapa?"
"Belum tau! Ini gua lagi nyocokin nota manual sama laporan di sistem," Pak Yudi menyodorkan map plastik berisi lembaran kertas kasir yang agak kusut.
"Lu pegang mesin kasir depan dulu. Kalau bos datang jam dua, pura-pura semuanya udah rapi. Gua mau beresin gudang belakang."
Helga menerima map itu, mengetukkan pinggirannya ke telapak tangan.
Tuk.
"Uang kasbon gua kemarin gimana, Pak? Bisa ditarik hari ini?"
Pak Yudi menahan langkahnya di ambang pintu gudang.
Ia berbalik sebentar, menatap Helga dengan wajah kusam.
"Duh, Ga... Nanti liat mood bos dulu deh. Kalau auditnya aman, gua usahain cairin lima ratus ribu sore ini. Tapi kalau bos ngamuk, jangan harap."
Helga berkedip sekali.
Jarinya yang memiliki luka gores tipis memegang erat map plastik di tangannya.
"Yaudah. Gua jaga depan."
"Makasih ya, Ga. Lu emang andalan," kata Pak Yudi sebelum menghilang di balik pintu tripleks gudang.
Brak.
Helga berjalan ke meja kasir di area depan kafe.
Udara dingin dari pendingin ruangan menyapa wajahnya.
Suara denting mesin kopi dan kucuran air mengalir dari bar espresso—Ssssshhhh—menciptakan suasana tenang yang bertolak belakang dengan keriuhan di kepalanya.
Helga menyalakan komputer kasir.
Layar monitor memancarkan cahaya biru terang.
Sambil menunggu sistem memuat data, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Pesan dari ibunda Regina masih terpampang di layar kunci.
Mama Regina: "Helga, ini mamanya Regina. Mama mau titip belikan kue basah di dekat stasiun kalau kamu lewat sana..."
Helga mengusap layar ponselnya, lalu mengetikkan balasan dengan satu tangan.
Balasan: "Iya Tante, nanti sekitar jam 5 sore Helga jalan ke stasiun. Nanti Helga beliin kue basahnya."
Belum sampai lima detik setelah tombol kirim ditekan, ponsel di tangannya bergetar kembali.
Bzzzt!
Bukan balasan dari Mama Regina, melainkan nama Regina Anatasya yang tertera di notifikasi SMS.
Pesan Regina: "Elo beneran gak ikut rapat evaluasi? Shinta nanyain berkas sewa lapangan yang kemarin elo pegang."
Helga memiringkan kepala. Ia memutar pulpen kasir di sela-sela jarinya.
Balasan Helga: "Berkasnya ada di dalam folder kuning di meja sekre OSIS. Gua udah tumpuk di bawah lembaran absensi kemarin."
Pesan Regina: "Terus elo sekarang di mana?"
Helga menatap layar monitor komputer kasir yang sudah menampilkan menu input nota.
Jarinya tertahan di atas papan ketik ponsel, melirik jam digital di sudut layar kasir yang menunjukkan pukul 13.25 WIB.
"Lagi di kafe. Jaga kasir," ketik Helga singkat, lalu menaruh ponselnya telungkup di sebelah mesin pencetak struk.
Pukul 14.00 WIB.
Mobil SUV hitam berkilat berhenti di halaman depan Kafe Seduh.
Pria paruh baya bertubuh tegap dengan kemeja batik lengan panjang melangkah masuk.
Pintu kaca kafe berdentang halus saat didorong.
Ting-ling.
Pak Yudi setengah berlari keluar dari area dapur dengan wajah tegang, menyambut bos pemilik kafe itu di dekat meja bar.
"Siang, Pak Roni," panggil Pak Yudi sambil menunduk sedikit.
Pak Roni hanya mengangguk pendek.
Matanya menyapu sekeliling area kafe yang mulai diisi beberapa pengunjung.
"Mana berkas pembukuan minggu ini? Saya cuma punya waktu empat puluh menit sebelum ada meeting di luar."
"Ini, Pak. Sudah disiapin sama Helga di meja kasir," jawab Pak Yudi tergesa.
Pak Roni melangkah mendekati meja kasir tempat Helga berdiri kaku.
Pria berbatik itu menumpukan kedua tangannya di atas meja bar, menatap Helga dari atas ke bawah.
"Kamu anak SMA yang shift part-time itu?" tanya Pak Roni.
"Iya, Pak. Helga," sahut Helga netral.
Tangannya menyodorkan tumpukan lembaran nota manual yang sudah disusun rapi berdasarkan urutan tanggal.
Pak Roni membalik lembaran kertas itu satu per satu dengan ketelitian tinggi.
Suara gesekan kertas beradu di tengah keheningan bar kasir—Sret, sret.
"Ini nota tanggal 22 mana?" tegur Pak Roni tiba-tiba.
Jarinya menunjuk celah tanggal yang lompat.
"Nota manualnya ada, tapi kenapa belum di-input ke kasir utama?"
Pak Yudi di sebelah Pak Roni mendadak pucat.
Tenggorokannya bergerak menelan ludah.
"Anu, Pak... Kasir yang shift kemarin sore..."
"Kemarin kasirnya mendadak sakit, Pak," potong Helga tenang.
Tangannya meraih folder kecil di bawah meja kasir.
"Tapi nota fisiknya udah saya cocokkan sama uang kas di laci. Selisihnya nol. Ini rekapitulasi manual yang saya tulis tadi sebelum jam satu."
Helga menyodorkan selembar kertas bergaris yang berisi deretan angka dengan tulisan tangan rapi khasnya.
Pak Roni meraih kertas itu.
Ia menatap deretan angka tulisan Helga, lalu beralih menatap wajah anak SMA di depannya.
"Tulisan kamu rapi," komentar Pak Roni pendek. Suaranya melunak dua tingkat. "Uang kasnya sesuai?"
"Sesuai, Pak. Tidak ada yang kurang," sahut Helga datar.
Pak Roni mengangguk-angguk kecil, membalik kertas itu sekali lagi sebelum mengembalikannya ke tumpukan berkas.
"Bagus. Yudi, anak ini pertahankan. Bekerja tuh yang sigap begini, gak usah banyak alasan."
Pak Yudi menghela napas lega yang sangat panjang, bahunya yang menegang perlahan turun. "Iya, Pak Roni. Siap."
Pak Roni berbalik menuju meja sudut kafe untuk menikmati secangkir kopi yang disajikan barista.
Pak Yudi menyenggol lengan Helga pelan begitu bos mereka sudah duduk jauh di sudut ruangan.
Bruk.
"Selamet gua, Ga!" bisik Pak Yudi dengan wajah cerah.
"Nanti jam lima pas lu pulang, kasbon lima ratus ribu lu langsung gua cairin dari uang petty cash kasir. Gua yang tanggung jawab!"
Helga menghembuskan napas tipis lewat hidung.
"Beneran ya, Pak? Soalnya gua butuh banget sore ini buat tebus obat."
"Iya, tenang aja! Lu bantuin gua, gua gak bakalan lupa," kata Pak Yudi sambil menepuk-nepuk bahu Helga.
Helga kembali ke meja kasir. Ia meraih ponselnya yang tergeletak telungkup.
Di layar, ada dua pesan SMS masuk yang belum dibaca.
Pesan 1 (Regina - 14.15 WIB): "Nanti kalau selesai kerja jam berapa? Jangan lupa janji beli buku bekas yang kemarin elo omongin ke Papa."
Pesan 2 (Shinta - 14.30 WIB): "Regina dari tadi nungguin di sekre tau, Ga. Walaupun dia bilangnya gak nungguin elo, tapi tiap ada suara motor lewat depan koridor dia nengok terus tuh wkwk."
Helga membaca pesan dari Shinta dua kali. Ibu jarinya berhenti berjarak satu milimeter di atas tombol balasan.
"Gua emang orangnya gak jelas," gumam Helga pelan pada diri sendiri.
Tangannya menurunkan ponsel tanpa membalas pesan Shinta, lalu beralih membalas pesan Regina.
Balasan ke Regina: "Selesai jam lima sore. Nanti gua mampir stasiun dulu beli titipan Mama lu."
Layar ponsel dimatikannya kembali. Klek.
Pukul 16.50 WIB.
Sinar matahari sore mulai membiaskan warna jingga di sepanjang Jalan Arcamanik.
Suara deru kendaraan yang melintas di depan Kafe Seduh makin padat oleh arus warga yang pulang bekerja.
Helga menyelesaikan shift kerjanya.
Ia melepas celemek hitam, melipatnya rapi, lalu menggantungnya kembali di paku dapur.
Pak Yudi berjalan mendekat sambil menyerahkan amplop cokelat kecil berisi lima lembar uang seratus ribuan.
"Nih, Ga. Kasbon lu. Pas lima ratus ribu," kata Pak Yudi.
"Makasih ya, Pak," Helga menerima amplop itu, menghitung jumlahnya dengan membeberkan sudut uang di dalam amplop secara cepat sebelum memasukkannya ke dalam saku celana.
Helga berjalan ke luar kafe, meraih jaket jeansnya dan memakai helm bogo hitam.
Sepeda motor matic hitamnya dihidupkan. Brum... brum...
Ia mengendarai motornya menembus kemacetan sore menuju kawasan stasiun kereta api.
Di sana, terdapat toko kue tradisional langganan yang menjual kue basah kesukaan ibunda Regina.
Pukul 17.20 WIB, Helga berdiri di depan kios pasar kaget stasiun yang penuh aroma parutan kelapa dan gula merah.
Ia membeli satu kotak kue lupis dan onde-onde hangat sesuai pesanan Mama Regina lewat SMS.
Kring-kring!
Suara sirene perlintasan kereta api di dekat stasiun mulai memekik nyaring.
Palang pintu otomatis turun perlahan.
Helga menggantungkan kantong plastik berisi kue basah itu di kait stang motornya.
Sebelum memutar gas menuju rumah Regina, Helga merogoh saku jaket jeansnya untuk memastikan kertas resep obat dari RSUD kemarin malam tidak hilang.
Tangannya meraba lipatan kertas lusuh itu.
Saat jari tangannya menarik kertas resep tersebut keluar untuk diperiksa, selembar foto kecil berukuran pasfoto jatuh dari selipan kertas resep dan mendarat di atas permukaan lantai trotoar yang basah oleh sisa oli motor.
Helga membungkuk, mengambil foto berukuran 3x4 yang sudutnya sudah agak terkelupas itu.
Foto itu memperlihatkan gambar seorang wanita muda berambut panjang dengan senyum tipis—foto ibunya sewaktu masih sehat lima belas tahun yang lalu, bersanding dengan seorang pria berwajah tegas yang wajahnya sudah dicoret dengan spidol hitam hingga tak mengenali bentuknya.
Helga menatap coretan spidol hitam pada wajah ayahnya di foto itu selama sepuluh detik tanpa ekspresi.
Ibu jarinya mengusap noda oli tipis di sudut foto, lalu memasukkannya kembali rapat-rapat ke balik lipatan kertas resep obat RSUD.
Pukul 17.50 WIB.
Motor matic hitam Helga berhenti di depan pagar rumah ber cat putih milik keluarga Regina.
Suasana sore yang mulai remang membuat lampu teras rumah itu sudah menyala, memancarkan cahaya kuning hangat ke arah pot-pot tanaman hias di halaman.
Helga mematikan mesin motor. Klek.
Ia melepas helm bogo hitamnya, menggantungkannya di spion, lalu melangkah mendekati pagar besi yang setengah terbuka.
Kantong plastik berisi kue basah di genggaman tangan kirinya agak mengayun.
Dari dalam rumah, pintu utama terbuka.
Regina melangkah keluar mengenakan kaos polos warna krem dan celana kain panjang.
Rambutnya yang biasa diikat rapi kini dibiarkan terurai di bahu.
Gadis itu berhenti di anak tangga teras paling bawah, menatap Helga yang berdiri di balik pagar.
"Mama ada?" tanya Helga pelan. Suaranya agak serak setelah menembus debu jalanan sore.
Regina melipat kedua tangannya di dada. "Mama lagi mandi di dalam. Titipannya mana?"
Helga maju dua langkah, mengulurkan kantong plastik putih melewati pagar besi.
"Ini. Masih hangat kuenya."
Regina menerima kantong plastik itu. Jarinya sempat menyentuh sekilas kulit tangan Helga yang dingin.
Kedua remaja itu saling berhadapan di batas pintu pagar tanpa ada yang bersuara selama beberapa detik.
Hawa dingin angin sore berhembus pelan menggerakkan ujung rambut Regina.
"Elo gak mampir dulu?" tanya Regina akhirnya.
Matanya melirik ke arah amplop cokelat kasbon yang agak menyembul dari saku celana Helga.
"Gak usah," sahut Helga netral. "Gua mesti ke rumah sakit tebus obat sebelum jam tujuh."
Regina berkedip pelan. Alisnya bertaut tipis. "Obat siapa?"
Helga menatap mata Regina sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lampu jalan yang baru saja menyala di seberang rumah.
"Obat Nyokap," jawab Helga pendek.
Regina menahan napasnya sejenak.
Tangannya yang memegang kantong kue sedikit mengencang.
"Nyokap elo... sakit apa?"
Helga mengusap rambutnya yang agak lepek ke belakang dengan telapak tangan.
"Sakit biasa. Udah sebulan di IGD."
Gadis itu terdiam.
Suasana di antara mereka mendadak berubah hening, hanya terdengar suara jangkrik pertama yang mulai bersahut-sahutan dari balik rumput taman.
"Kemarin malam pas hujan..." bisik Regina pelan. "Elo dari rumah sakit?"
"Iya," sahut Helga datar. "Gua balik dulu ya. Nanti keburu kasir farmasinya tutup."
Helga berbalik menuju motornya.
"Helga," panggil Regina setengah tergesa.
Helga menoleh dengan sebelah tangan sudah memegang stang motor. "Kenapa?"
Regina melangkah mendekati pagar besi, menatap laki-laki berseragam lusuh di depannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sebelum Helga sempat menyalakan mesin motornya, Regina mengeluarkan sebuah amplop surat berwarna biru pucat dari dalam saku celananya dan mengulurkannya melewati celah pagar.
"Ini dari Surat Kaleng di kotak OSIS tadi siang," kata Regina dengan nada suara yang mendadak serius. "Ada nama elo sama nama bokap elo tertulis di lembaran belakangnya."