NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — RAHASIA KECIL

Hari Minggu pagi menyelimuti kompleks Pesantren Al-Faruqi dalam ketenangan yang teduh. Suara cericit burung gereja bersahut-sahutan dari dahan pohon mahoni di halaman samping, beradu dengan alunan hafalan Al-Qur'an anak-anak santri dari aula utama madrasah.

Di lantai dua kediaman Faruqi, Aurel sedang membersihkan kamar tidur mereka.

Setelah pertengkaran kecil mengenai pesan singkat dan jam pulang pekan lalu, hubungan Aurel dan Rasyid melangkah ke babak baru yang jauh lebih hangat. Keheningan di antara mereka tak lagi terasa kaku atau dipaksakan. Ada rasa saling menghargai yang perlahan menjelma menjadi kebiasaan-kebiasaan kecil yang manis: Aurel yang mulai rutin menyeduhkan teh hangat untuk Rasyid, atau Rasyid yang tanpa diminta selalu menyisakan porsi buah segar favorit Aurel di kulkas.

Rasyid sedang turun ke aula bawah untuk menghadiri rapat pengurus harian pesantren sejak jam delapan pagi tadi, meninggalkan Aurel sendirian yang memutuskan untuk mengisi waktu dengan merapikan lemari buku dan rak kayu di kamar mereka.

Aurel mengenakan kaus katun santai berwarna krem dan celana panjang hitam, rambut bergelombangnya diikat tinggi dengan jepitan kain. Ia menyapu debu tipis di atas rak buku jati, menata deretan kitab-kitab berpenjilid kulit milik Rasyid agar lebih simetris.

Saat menggeser deretan kitab tua di bagian paling bawah lemari kayu jati, ujung jemari Aurel menyentuh sebuah benda keras di sudut tersembunyi.

"Eh, apa ini?" gumam Aurel pelan.

Aurel berjongkok, menarik benda itu keluar.

Itu adalah sebuah kotak kayu berukir Jepara berukuran sedang dengan selot kuningan yang agak kusam. Benda ini terasa familiar—Aurel teringat pernah melihat kotak berukir serupa di meja kerja Rasyid tengah malam beberapa pekan lalu, saat ia melihat suaminya menatap selembar kertas tua dengan raut sedih.

Aurel memandangi kotak kayu itu di atas pangkuannya. Ada dorongan rasa ingin tahu yang kuat bergetar di dalam dadanya, namun naluri sopan santunnya membisikkan agar ia segera mengembalikannya ke tempat semula. Ini adalah milik pribadi Rasyid, area rahasia yang mungkin tak ingin diganggu oleh siapa pun.

"Nanti kalau dibuka, dia marah lagi..." bisik Aurel ragu.

Aurel menghela napas, memutuskan untuk meletakkan kembali kotak itu ke dalam rak. Namun, saat ia hendak mendorongnya masuk, engsel selot kuningan yang sudah melonggar itu terlepas secara tak terduga. Kotak kayu itu miring dan sedikit mendarat kasar di atas lantai kayu.

Prak!

Aurel tersentak pelan. "Aduh!"

Penutup kotak itu terbuka. Beberapa lembar kertas tua bergaris, perangko bekas, dan pembatas buku dari daun kering yang diawetkan berhamburan keluar ke atas lantai.

Aurel buru-buru berjongkok untuk memungut kertas-kertas tersebut sebelum Rasyid kembali. "Aduh, gara-gara engselnya kusam nih..."

Namun, gerakan jemari Aurel terhenti ketika matanya menangkap selembar cetakan foto berukuran empat inci yang tergeletak telungkup di dekat kaki meja.

Aurel mengambil foto itu, membaliknya perlahan.

Foto itu tampak diambil sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, terlihat dari sudut pencahayaan alami kamera film tua. Di dalam foto tersebut, seorang remaja laki-laki berdiri di tepi telaga dengan latar belakang pepohonan pinus yang hijau membentang.

Laki-laki itu adalah Rasyid saat masih berusia awal belasan tahun—terlihat dari garis rahangnya yang belum sejelas sekarang, mengenakan kemeja putih sederhana dan peci hitam. Wajah Rasyid muda di foto itu tersenyum lepas—sebuah senyuman sangat bebas dan ceria yang amat jarang terlihat dari sosok Rasyid dewasa yang selalu tenang dan menjaga sikap.

Namun, bukan wajah Rasyid muda yang membuat dada Aurel mendadak terasa berdesir dingin.

Melainkan sosok perempuan muda yang berdiri di samping Rasyid.

Perempuan itu mengenakan gamis sederhana warna merah muda dan kerudung putih yang membingkai wajah cantiknya yang begitu lembut. Pipi perempuannya merona, matanya bulat jernih, dan ia tertawa renyah ke arah kamera seraya memegang sebuah buku bersama Rasyid. Tangan mereka tidak bersentuhan, namun jarak berdiri mereka yang rapat serta aura kehangatan di antara keduanya memancarkan sebuah kedekatan yang teramat dalam dan istimewa.

Aurel menatap foto itu tanpa berkedip. Ibu jarinya mengusap permukaan foto yang agak berdebu.

Ada perasaan ganjil yang mendadak menancap di ulu hatinya—sebuah kombinasi antara rasa ingin tahu yang membakar dan rasa nyeri asing yang tak terelakkan.

Siapa wanita ini? Kenapa senyuman Rasyid di foto ini terasa begitu leluasa, seolah wanita di sampingnya adalah pusat dari dunianya saat itu?

Tiba-tiba, suara derit pintu kamar yang terbuka memecah keheningan.

"Aurel, rapatnya selesai lebih cepat dari perkiraan—"

Suara Rasyid terhenti di udara.

Pria itu berdiri kaku di ambang pintu. Rasyid masih mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitamnya. Matanya yang jernih langsung tertuju pada kotak kayu yang terbuka di lantai, lalu berpindah fokus pada selembar foto tua yang sedang dipegang erat oleh tangan Aurel.

Ketenangan alami yang biasanya terpancar dari wajah Rasyid seketika luntur, berganti menjadi hening yang membeku dan agak tegang.

Aurel perlahan mendongak, menatap Rasyid dari posisinya yang masih berjongkok di lantai. Ia mencoba mempertahankan raut wajahnya agar terlihat santai dan tidak peduli, walau jantungnya di dalam dada berdegup kencang seperti genderang perang.

Aurel mengangkat foto itu sedikit. "Siapa dia?" tanya Aurel singkat. Suaranya terdengar datar, berusaha menekan nada bergetar di tenggorokannya.

Rasyid berdiri membisu selama beberapa detik. Tatapannya tertambat pada foto di tangan Aurel dengan pendar emosi rumit yang sulit diartikan—ada duka lama, kerinduan yang telah padam, dan rasa canggung yang besar.

Rasyid melangkah mendekat seraya menundukkan pandangannya. Pria itu berjongkok di samping Aurel, lalu mengulurkan tangannya perlahan.

"Maaf, kotak itu engselnya memang sudah rusak," ujar Rasyid halus, suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya.

Jemari Rasyid mengambil foto tersebut dari genggaman Aurel dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, seolah takut merusak lembaran kertas kenangan itu.

Aurel memperhatikan setiap senti detail pergerakan tangan Rasyid. "Kamu belum jawab pertanyaanku. Siapa perempuan di foto itu?"

Rasyid menatap foto tua itu sejenak sebelum membaliknya dan memasukkannya kembali ke dasar kotak kayu bersama kertas-kertas tua lainnya. Ia merapikan penutup kotak kayu itu, lalu menguncinya perlahan.

"Teman," jawab Rasyid pendek.

"Teman?" ulang Aurel dengan nada sedikit menyindir yang tak sanggup ia tahan. "Cuma teman?"

Rasyid mendongak, menatap mata cokelat terang Aurel dengan raut wajah yang amat tenang, walau ada binar melelahkan yang tersembunyi di balik matanya.

"Iya. Teman masa kecil," balas Rasyid singkat dan jernih.

Aurel menatap Rasyid dalam-dalam selama beberapa detik. Jawaban singkat itu rasanya jauh dari kata cukup untuk memuaskan gelombang pertanyaan yang bergolak di dalam kepalanya. Tatapan Rasyid saat memegang foto itu jelas bukan tatapan seseorang yang hanya melihat teman biasa.

Namun, melihat Rasyid yang kembali memilih menutupi kisah itu rapat-rapat, benteng gengsi Aurel mendadak bangkit berdiri dengan kokoh.

Aurel berdiri tegak dari lantai, mengibaskan debu tipis di celana panjangnya. Ia mengibaskan rambutnya ke belakang seraya membuang pandangan ke arah jendela.

"Ya udah. Lagian bukan urusanku juga," kata Aurel dingin. "Aku cuma nggak sengaja nyenggol kotaknya tadi pas lagi merapikan rak."

"Aurel—" panggil Rasyid pelan, berdiri ikut menatap istrinya.

"Aku mau ke dapur dulu, mau bikin minum," potong Aurel cepat sebelum Rasyid sempat menyusun kalimat lain.

Tanpa menunggu balasan atau menoleh lagi ke belakang, Aurel berbalik dan melangkah lebar-lebar keluar dari kamar.

Rasyid berdiri sendirian di tengah kamar yang mendadak terasa dingin. Pria itu menatap kotak kayu di tangannya, menghela napas panjang yang penuh beban batin, lalu memasukkan kotak itu kembali ke bagian paling dalam dari lemari jati.

Di dapur bawah, Aurel berdiri bersandar pada tepi meja granit yang dingin.

Gelas berisi air putih di tangannya belum tersentuh sama sekali. Pandangannya menerawang menembus jendela kaca dapur yang mengarah ke taman belakang.

Teman masa kecil? batin Aurel sinis, menggigit bibir bawahnya erat-erat. Kalau cuma teman, kenapa ekspresi mukanya di foto itu beda banget? Kenapa dia nyimpen foto itu di kotak terkunci bareng surat-surat tua?

Aurel memejamkan matanya, merasakan denyut nyeri yang makin membakar dadanya.

Selama ini, ia selalu menganggap bahwa Rasyid adalah sosok pria yang sempurna, tanpa cela, dan tidak memiliki rahasia emosional. Ia mengira Rasyid hanyalah seorang ustadz muda yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk pesantren dan ajaran agama.

Namun hari ini, fakta baru menghantamnya secara telak.

Rasyid memiliki masa lalu. Rasyid memiliki kisah cinta atau kenangan mendalam yang pernah membentuk dirinya sebelum mereka berdua dijodohkan dan terikat dalam ikatan pernikahan ini.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenal sosok Muhammad Rasyid Al-Faruqi, Aurel merasakan sebuah dorongan yang teramat besar dan berbahaya di dalam hatinya:

Ia ingin tahu segalanya tentang kehidupan Rasyid sebelum mereka bertemu. Ia ingin tahu siapa perempuan berkerudung putih itu, dan mengapa bayangan perempuan itu seolah masih menyisakan jejak duka di mata suaminya hingga hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!