Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Tyrant Owes Me a Favor
Aroma kayu cendana dan obat-obatan herbal menyelimuti Aula Zichen, kediaman pribadi Kaisar yang paling ketat dijaga di seluruh kompleks istana. Di atas ranjang ukir kekaisaran yang dilapisi sprai sutra emas, Ye Xinyue berbaring menyandar pada tumpukan bantal empuk.
Tabib Istana Zhang baru saja selesai mengoleskan salep dingin beraroma teratai putih pada luka bakar ringan di bagian atas dadanya akibat sengatan uap racun sianida organik yang merusak gaunnya kemarin sore.
"Luka bakar di kulit Nona tidak parah, beruntung kain sutra tebal itu menahan sebagian besar cairan beracun," tutur Tabib Zhang seraya membungkuk hormat. "Namun, uap racun itu sedikit mengiritasi saluran pernapasan. Nona harus beristirahat total selama tiga hari."
"Terima kasih, Tabib Zhang," sahut Xinyue tipis.
Begitu Tabib Zhang mundur dan menghilang di balik tirai sutra, pintu berat Aula Zichen terbuka perlahan. Zhao Fengting melangkah masuk tanpa jubah kebesarannya. Ia hanya mengenakan pakaian dalam sutra putih yang longgar, memancarkan aura yang jauh lebih manusiawi meski tatapan matanya tetap tajam dan dominan.
Kaisar tiran itu berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, persis di samping Xinyue.
Di tangannya, Zhao Fengting memegang sebuah gulungan kertas beras tebal berstempel segel naga merah yang masih basah oleh tinta emas.
"Bagaimana lukamu?" tanya Zhao Fengting, suaranya terdengar rendah, tanpa nada dingin yang biasa ia pakai di depan para pejabat.
"Hamba baik-baik saja, Yang Mulia. Hanya sedikit perih, tidak sebanding dengan nyawa seorang penguasa kekaisaran," jawab Xinyue diplomatis, meski otaknya yang jeli sudah mulai berhitung.
Saatnya menagih utang.
Zhao Fengting terkekeh pelan, meletakkan gulungan kertas beras berstempel emas itu tepat di atas pangkuan Xinyue. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan, Ye Xinyue. Ini adalah apa yang kau minta kemarin sebelum kau bertindak nekat."
Xinyue membuka gulungan tersebut dengan jemarinya yang ramping. Matanya menyipit, membaca tiap baris kaligrafi tegas yang ditulis tangan oleh Zhao Fengting sendiri:
Surat Dekrit Kekaisaran: Memberikan perlindungan hukum penuh dan kekebalan mutlak bagi Ye Xinyue, Selir ke-20. Dilarang bagi siapapun termasuk faksi istana dalam, pejabat militer, maupun keluarga kekaisaran untuk mengadili, memenjarakan, atau merenggut nyawanya tanpa persetujuan tertulis dari Kaisar. Ye Xinyue diberi wewenang penuh bertindak sebagai Pengawas Forensik dan Hukum Kerajaan.
Xinyue menyunggingkan senyum puas yang tak mampu ia sembunyikan. "Surat jaminan perlindungan hukum yang sangat sempurna. Terima kasih, Yang Mulia."
"Sempurna?" Zhao Fengting mendekatkan wajahnya, mengunci pandangan Xinyue. "Kau menyelamatkan nyawaku dari racun mematikan klan Liang. Kau mencegah perang saudara yang bisa meruntuhkan takhtaku sebelum waktunya. Menurutmu, hanya dengan selembar kertas ini utang nyawaku padamu sudah lunas?"
Xinyue menaikkan satu alisnya. "Lalu, menurut Yang Mulia, berapa nilai nyawa seorang Kaisar?"
"Tidak ternilai," bisik Zhao Fengting, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Xinyue, mengangkatnya perlahan. "Maka dari itu, selembar dekrit ini hanyalah pembayaran uang muka. Mulai detik ini, Sang Tiran berutang satu janji besar padamu. Apapun yang kau minta di masa depan kekayaan, posisi, bahkan kepala musuhmu aku akan mengabulkannya."
Sifat dasar mantan pengacara senior dalam diri Xinyue langsung membara. Seorang kaisar tiran memegang janji terbuka padaku tanpa batasan klausa? Ini adalah kontrak paling menguntungkan yang pernah kubuat dalam dua kehidupan!
"Hamba akan mengingat janji itu dengan sangat baik, Yang Mulia," sahut Xinyue, matanya berbinar cerdik. "Namun untuk saat ini, ada hal yang jauh lebih mendesak daripada menagih utang nyawa."
"Sebutkan."
Xinyue menepuk pelan gulungan bukti korupsi logistik barat yang tergeletak di samping meja ranjang. "Penangkapan tiga utusan kemarin hanyalah letupan kecil. Selir Liang dan ayahnya, Jenderal Liang, pasti sudah tahu bahwa rencana racun mereka gagal total. Mereka tidak akan tinggal diam menunggu eksekusi."
Raut wajah Zhao Fengting berubah tegang dan berbahaya. "Pasukan pengawal kekaisaran sudah mengepung Kediaman Fenghua milik Selir Liang sejak semalam."
"Itu tidak cukup, Yang Mulia," potong Xinyue cepat, membedah situasi politik dengan analisis dinginnya. "Selir Liang hanyalah bidak di dalam istana. Kekuatan sejati klan Liang ada pada lima puluh ribu prajurit garis depan di perbatasan barat. Jika Jenderal Liang mendengar anaknya ditangkap atas tuduhan pengkhianatan, ia akan mengibarkan bendera pemberontakan sebelum surat eksekusi Yang Mulia tiba di perbatasan."
Zhao Fengting menatap Xinyue dengan binar kagum yang semakin membakar. Gadis di hadapannya ini bukan sekadar wanita cantik yang pandai bersolek; otaknya bekerja bak seorang strategist militer kelas wahid.
"Lalu apa rencanamu, Pengawas Ye?" tanya Zhao Fengting seraya bersedekap.
"Kita tidak boleh menghabisi klan Liang dengan kekerasan militer secara langsung," urai Xinyue seraya mengetukkan jarinya di atas ranjang. "Kita harus membunuh mereka dari dalam menggunakan hukum dan finansial. Potong jalur pasokan dana mereka terlebih dahulu menggunakan bukti pembukuan ganda ini. Bekukan aset klan Liang di ibu kota. Buat para prajurit di barat menyadari bahwa Jenderal Liang telah memotong gaji dan pasokan gandum mereka demi mengaya diri sendiri."
Xinyue menatap Zhao Fengting tajam. "Ketika para prajurit tahu bahwa jenderal mereka membiarkan mereka kelaparan, Jenderal Liang tidak akan memiliki pasukan untuk memimpin pemberontakan."
Ruangan hening sejenak. Zhao Fengting mencerna setiap kata yang diucapkan Xinyue. Trik hukum dan manipulasi opini publik yang ditawarkan gadis ini sungguh sangat kejam, efisien, dan tidak menumpahkan darah prajurit yang tidak bersalah.
"Luar biasa," gumam Zhao Fengting, bibirnya melengkung membentuk senyuman miring yang penuh pesona berbahaya. "Kau tidak hanya menyelamatkan nyawaku, tetapi kau juga memberikan pedang paling tajam untuk menghancurkan musuhku tanpa perlu mengayunkannya."
Zhao Fengting menggenggam tangan Xinyue, meremasnya lembut namun posesif.
"Mulai malam ini, kau tidak lagi tinggal di Kediaman Fenghua yang terpencil itu," ujar Zhao Fengting tegas. "Kau akan tinggal di Paviliun Bayangan Salju, tepat di samping kediamanku. Semua fasilitas, pengawal, dan juru masak terbaik di istana ini akan melayanimu."
Xinyue berkedip. "Yang Mulia, bukankah itu akan membuat para selir lain makin cemburu?"
"Biarkan mereka cemburu," kekeh Zhao Fengting dingin. "Siapapun yang berani menyentuhmu sekarang, sama saja dengan menantangku secara langsung. Lagipula... aku membutuhkan ahli hukum terhebatku berada dekat denganku setiap saat."
Kaisar tiran itu membungkuk, mendaratkan ciuman singkat namun hangat di punggung tangan Xinyue.
Saat Zhao Fengting bangkit dan melangkah keluar untuk memberikan perintah pembekuan aset klan Liang, Xinyue menyandarkan punggungnya kembali ke tumpukan bantal. Ia menatap surat dekrit kekaisaran di tangannya dengan helaan napas lega.
Perang politik di Istana Dalam baru saja dimulai, dan kali ini, sang tiran berada tepat di dalam genggamannya.