NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di dalam rumah kecil di kaki gunung, Yunche akhirnya tertidur lelap setelah melalui pertarungan yang menguras tenaga. Gu Qingli duduk bergeming di sisinya, mengamati raut wajah pemuda itu yang tampak begitu tenang saat terlelap.

Perlahan, tangannya terangkat. Jemarinya dengan lembut mengusap helaian rambut Yunche.

"Dasar idiot..." bisiknya lirih. "Kenapa kau selalu saja membuatku khawatir?"

Yunche tak menyahut, terlelap dalam tidurnya. Gu Qingli menyunggingkan senyum tipis yang teduh.

Namun, Yunche mendadak bergerak pelan. Sontak, Gu Qingli menarik kembali tangannya dengan panik.

Kelopak mata Yunche perlahan terbuka. "Qingli...?"

"Hm?"

"Kenapa kau masih di sini?" gumam Yunche dengan suara khas bangun tidur.

"Aku sedang menjaga."

"Menjaga apa?"

"Menjagamu," sahut Qingli jujur.

Yunche tersenyum tipis. "Kenapa dijaga?"

Gu Qingli memalingkan wajahnya yang mendadak hangat. "Karena... aku takut kau diam-diam pergi lagi."

Yunche tertegun, menatap gadis di hadapannya.

Gu Qingli kembali menatapnya lurus. "Jadi... jangan pernah pergi lagi, ya?"

Yunche mengulas senyum paling tulus. "Baiklah."

Gu Qingli mengangguk puas, lalu beranjak berdiri. "Kalau begitu, sekarang aku mau tidur."

"Di mana?"

Gu Qingli menunjuk area kosong di sebelah tempat tidur Yunche. "Di situ."

Yunche seketika membeku. "Kau... mau tidur di dekat sini?"

Gu Qingli memicingkan mata. "Memangnya kenapa? Tidak boleh?"

"Bukan begitu..."

"Baguslah kalau begitu." Gu Qingli tanpa ragu langsung berbaring di tempat tersebut.

Yunche ikut merebahkan tubuhnya kembali. Namun, dia secara refleks memberi jarak yang cukup jauh di antara mereka. Keheningan canggung menyergap selama beberapa saat.

Gu Qingli menatap langit-langit kayu yang berselimut temaram cahaya lilin. "Yunche."

"Hm?"

"Besok..."

"Ya?"

"Kita harus pulang."

Yunche terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. "Ya, kita pulang."

"Dan setelah sampai nanti..." Gu Qingli perlahan memejamkan matanya, "...kau harus menjawab pertanyaanku."

Kening Yunche berkerut bingung. "Pertanyaan apa?"

Gu Qingli mengulas senyum misterius di balik kegelapan. "Kenapa selama ini kau selalu menatapku dengan cara seperti itu?"

Yunche mendadak kaku, wajahnya terasa panas. "A-aku tidak pernah menatapmu seperti itu!"

"Pembohong."

"Qingli!"

"Hm?"

"Jangan tidur dulu!" panggil Yunche cepat.

Gu Qingli kembali membuka matanya. "Apa lagi?"

Yunche menatapnya rapat-raptat. Wajahnya perlahan memerah padam sampai ke ujung telinga. "Jika aku... mengatakan bahwa aku benar-benar menyukaimu..."

Gu Qingli membeku seketika.

Keheningan melingkupi ruangan itu—begitu panjang dan pekat. Yunche menanti sahutan dengan degupan dada yang tak beraturan, sementara Gu Qingli tetap mematung menatapnya.

Tiba-tiba, Gu Qingli menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh wajah dan kepalanya. "Jawabannya besok saja!" serunya dari balik kain.

Tawa Yunche menyembur seketika. "Kenapa harus besok?!"

"Tutup mulutmu dan diam!" pangkas Qingli dengan suara teredam.

"Qingli!"

"Kubilang besok, ya besok!"

Yunche tertawa kian lepas, membuat Gu Qingli memukul armadanya dari dalam selimut dengan gemas. "Berisik, Yunche!"

"Baik, baik!" kekeh Yunche menahan tawa.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah menempuh perjalanan panjang yang penuh marabahaya, Yunche dapat tertidur dengan sangat tenang. Begitu pula dengan Gu Qingli di sampingnya.

Di antara benang merah takdir mereka, sebuah pertanyaan mungkin belum terjawab dan sebuah perasaan belum sepenuhnya terucap. Namun, janji yang terikat perlahan bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar ikatan masa lalu.

Pagi berikutnya, mereka bersiap untuk kembali ke Kota Qinghe. Namun, sebelum beranjak, Yunche sempat menatap ke arah Gunung Tianyuan. Ia sadar, masih banyak rahasia yang tersimpan di sana—tentang ayah dan ibunya, tentang Gu Tianming, bahkan tentang dirinya sendiri.

Yunche menggenggam tangan Gu Qingli. Gadis itu menoleh, "Kenapa?"

Yunche tersenyum tipis. "Enggak, cuma memastikan kau benar-benar ada di sini."

Gu Qingli terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Aku di sini."

"Bagus," jawab Yunche, dan mereka pun mulai melangkah.

Namun, di puncak Gunung Tianyuan, sosok misterius berdiri memperhatikan kepergian mereka. Ia mengeluarkan sebuah potret lama berisi gambar Shen Tianyu, seorang wanita, dan seorang bayi. Pria itu menatap bayi dalam potret tersebut dengan senyuman.

"Shen Yunche... anak dari darah Langit," bisiknya. Tatapannya beralih ke wanita dalam potret itu, "Dan putra dari Ratu Langit."

Angin berembus, membuat potret itu berkibar dan memperlihatkan sebuah nama yang tertulis di baliknya: Bai Yuexin. Nama ibu dari Shen Yunche, wanita yang selama tujuh belas tahun ini dianggap telah tiada.

Namun, di sebuah tempat yang jauh dan tak terjamah siapa pun, seorang wanita dengan rambut putih tergerai tiba-tiba membuka mata. Ia menatap langit, lalu berbisik dengan air mata yang menitik di sudut matanya, "Yunche... maafkan Ibu."

Wanita itu bangkit berdiri. Tepat di belakangnya, sebuah gerbang raksasa perlahan terbuka. Di atas gerbang itu terukir tiga kata: Istana Langit.

Untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun, Bai Yuexin mulai berjalan pulang.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi. Bukan karena mereka kehabisan bahan perbincangan, melainkan karena kepala ketiganya terlalu penuh oleh beban pikiran yang berat. Shen Yunche melangkah di garis terdepan, disusul Gu Qingli beberapa langkah di belakangnya

Sementara Shen Mo mengekor paling buncit dengan kedua tangan bersidekap di belakang kepala. Sejak meninggalkan pegunungan, benak Yunche tak henti berkecamuk memikirkan bayangan sang ayah, misteri sosok wanita berambut putih, pria berjubah hitam, bisikan tentang "darah Langit", dan yang paling menyita ruang di hatinya—gadis di belakangnya.

Yunche melirik ke belakang. Qingli tampak berjalan sambil menundukkan pandangannya ke tanah.

"Qingli," panggil Yunche pelan.

"Hm?"

"Kau lelah?"

"Tidak."

"Yakin?"

"Yakin."

Yunche kembali membuang pandangannya ke depan. Namun, beberapa langkah kemudian, ia bersuara lagi. "Qingli."

"Apa lagi?"

"Kau lapar?"

"Tidak."

"Haus?"

"Tidak."

Langkah Yunche terhenti seketika, membuat Qingli nyaris menabrak punggungnya. "Apa?"

Yunche menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ah, tidak jadi."

Gu Qingli menatapnya penuh curiga. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

Yunche terdiam sejenak, memalingkan wajah ke samping. "Aku... tidak tahu."

Kening Qingli berkerut tajam. "Kalau tidak tahu, jangan panggil aku."

Yunche mendengus pelan dan kembali melangkah. "Baiklah."

Qingli menatap punggung pemuda itu dengan sebal, namun beberapa detik kemudian ia kembali mempercepat langkahnya untuk menyusul. "Yunche."

"Hm?"

"Kau marah?"

"Tidak."

"Yakin?"

"Yakin."

"Lalu kenapa sejak tadi kau diam saja?"

Yunche menoleh sekilas. "Bukankah tadi kau sendiri yang bilang jangan memanggilmu?"

Gu Qingli langsung terbungkam, kehabisan kata-kata.

Di belakang mereka, Shen Mo yang mendengar perdebatan kecil itu tak kuasa menahan tawa. "Kalian berdua ini..."

Seketika, Yunche dan Qingli menoleh bersamaan dan membentak kompak, "Diam!"

Shen Mo mengangkat kedua tangannya menyerah, meski senyum di sudut bibirnya kian melebar.

Menjelang sore, bayangan gerbang Kota Qinghe akhirnya tampak di ujung cakrawala. Langkah Yunche melambat, diliputi kelegaan yang samar. Namun, Gu Qingli justru menghentikan langkahnya secara mendadak.

Yunche menoleh bingung. "Kenapa?"

Pandangan Qingli terpaku kosong pada gerbang kota. "Rumah..." bisiknya lirih.

"Hm?"

"Aku... belum siap untuk pulang."

Yunche mengerti sepenuhnya. Di balik tembok kota itu ada Gu Tianming—ayahnya sendiri, pria yang telah merenggut nyawa Shen Tianyu.

Yunche berbalik, melangkah mendekati gadis itu. "Kalau begitu, jangan pulang."

Gu Qingli mendongak menatapnya. "Lalu?"

"Ikut aku."

"Ke mana?"

"Ke rumah penginapan."

Wajah Gu Qingli memerah padam dalam sekejap. "Idiot!" serunya sambil melayangkan pukulan telak ke lengan Yunche.

"Aduh! Sakit, Qingli!"

"Siapa juga yang mau tinggal berdua di penginapan denganmu?!"

"Kan aku cuma bilang ikut ke penginapan," bela Yunche tanpa dosa.

"Tadi kau bilang ikut kau!"

"Ya, ke penginapan maksudnya!"

"Kenapa tidak perjelas dari awal?!"

Yunche menatapnya usil. "Karena kau sendiri yang langsung berpikir ke mana-mana."

"Mana ada aku berpikir aneh-aneh!"

"Kalau tidak, kenapa wajahmu mendadak merah seperti kepiting rebus?"

Gu Qingli langsung memalingkan wajahnya dengan gusar. "Karena cuacanya sedang panas!"

Yunche mendongak menatap langit sore yang berawan kelabu. "Mendung, lho."

"Diam!"

Di belakang mereka, tawa Shen Mo kembali meledak. Kali ini, Gu Qingli tanpa buang waktu langsung menghunus pedangnya setengah inci dari sarung. "Jika kau berani tertawa sekali lagi—"

Shen Mo buru-buru menutup mulutnya rapat-raptat sambil mengangkat tangan. "Baiklah, aku diam."

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!