"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
"Emang bener, Kak Kayla mau jadi Bundanya aku sama Aqil?" tanya Akbar polos, menatap Kayla lurus tanpa dosa.
Darah terasa berdesir cepat ke wajah Kayla. Pipinya seketika memerah padam. Jantungnya berdegup kencang, benar-benar kaget mendengar pertanyaan tak terduga dari mulut bocah kecil itu.
"E-eh... s-siapa yang bilang gitu, Mas Akbar?" tanyanya terbata-bata, berusaha meredam rasa gugup yang mendadak menyerang seraya meletakkan pisaunya perlahan.
"Ayah!" sahut Akbar dan Aqil kompak tanpa ragu sedikit pun.
"Iya, Ayah tadi bilang pas di sungai!" timpal Aqil mengangguk-angguk mantap, makin memperjelas tuduhan itu.
Kayla tergagap, salah tingkah setengah mati sampai bingung harus merespons bagaimana. Kepalanya langsung membayangkan wajah Abi yang selalu bersikap tenang namun ternyata memendam ucapan sejauh itu di depan anak-anaknya.
Kayla memegangi dadanya yang berdegup makin tak beraturan. Pipinya benar-benar terasa panas seperti terbakar. Pria yang biasanya irit bicara dan terkesan tenang itu... bisa-bisanya bicara begitu di depan anak-anaknya?
"A-Ayah bilang gitu...?" bisik Kayla pelan, menyembunyikan wajah meronanya sambil kembali berpura-pura sibuk memotong ubi, meski jemarinya agak gemetar.
"Iya! Ayah tanya mau ndak Kak Kayla jadi Bunda. Aqil bilang mau banget!" cerocos Aqil polos dengan suara nyaring, sama sekali tidak sadar kalau calon bundanya itu sudah salah tingkah setengah mati.
"Mas Akbar juga setuju!" tambah sang kakak mantap. "Soalnya Kak Kayla baik, ndak galak."
Kayla hanya bisa mengulum senyum menahan rasa membuncah di dadanya. Ada perasaan hangat dan asing yang tiba-tiba melingkupi hatinya mendengar kepolosan serta penerimaan penuh dari kedua anak Abi.
"Ehem!" suara dehaman pelan dari balik pintu dapur membuat Kayla mendongak kaget.
Bu Sulastri berjalan keluar sambil membawa wadah baskom besar, berusaha keras menahan tawa gembiranya melihat ekspresi Kayla yang sudah merah padam.
"Walah, Neng Kayla... kalau dua jagoan ini sudah kasih lampu hijau, berarti tinggal nunggu Ayahnya datang melamar itu," goda Bu Sulastri jenaka seraya mengedipkan mata.
"I-Ibu... ndak usah ikut-ikutan godain Kayla, toh," cicit Kayla malu-malu, makin menundukkan kepalanya dalam-dalam, membuat kedua bocah itu kebingungan melihat Kak Kayla mereka yang mendadak jadi sangat pemalu.
Satu jam berlalu, bau harum ubi yang dikukus dan diolah menjadi *cheesecake* lumer buatan Kayla mulai menguar dari dapur, menggugah selera siapa saja yang menciumnya.
Kayla membawa nampan berisi beberapa piring kecil *ubi cheesecake* yang sudah dipotong rapi, lengkap dengan sendok-sendok kecilnya. Wajahnya masih menyisakan sedikit rona merah tiap kali teringat ucapan anak-anak tadi, tapi ia berusaha tetap bersikap tenang.
"Nah, ini sudah jadi. Ayo dimakan," ujar Kayla lembut seraya menata piring-piring itu di atas meja kayu lincak.
"Wah! Bau harum banget, Kak Kayla!" pekik Aqil bersemangat, langsung duduk tegap.
"Sendoknya pegang yang betul ya, Qil," ujar Akbar seperti biasa, bertindak sebagai kakak yang penuh perhatian.
Kayla tersenyum manis melihat kedua bocah itu mulai melahap *cheesecake* buatannya. Aqil menyendok potongan besar lalu memasukkannya ke dalam mulut, sampai-sampai krim ubi manisnya tersisa di pinggir bibirnya.
"Enak banget, Kak! Manis, empuk!" seru Aqil dengan mulut agak penuh sambil mengacungkan jempolnya.
Akbar pun manggut-manggut menikmati setiap gigitan. "Iya, enak betul. Beda sama kue yang dijual di toko depan."
"Alhamdulillah kalau pada suka," sahut Kayla lega. Ia mengambil selembar tisu, lalu berjongkok di samping Aqil untuk mengusap lembut sisa remahan kue di sudut bibir bocah kecil itu. "Makannya pelan-pelan ya, Sayang, ndak usah terburu-buru. Masih banyak kok."
Tak lama kemudian, suara deru halus mesin motor matik milik Abi terdengar berhenti di halaman rumah Pak Darno. Abi mematikan mesin, lalu melangkah menuju teras depan seraya mengusap pelan sikat di kemejanya yang sedikit berdebu habis merapikan rumah baru.
Pak Darno yang sedang duduk santai di kursi rotan depan rumah langsung menoleh dan terkekeh melihat kedatangan Abi.
"Eh, Mas Abi," sapa Pak Darno ramah, melambaikan tangan mengisyaratkan untuk mendekat. "Masuk saja, Mas! Itu lho, dua buntutmu lagi sibuk makan kue di dalam sama Kayla."
"Nggih, Pak Darno," balas Abi sopan sambil tersenyum ragu. "Maaf ya, Pak, jadi merepotkan orang rumah."
"Halah, repot dari mana, malah ramai rumahku," tanggap Pak Darno santai seraya menunjuk ke arah dapur. "Masuk sana, kebetulan ini Kayla bikin kue ubi enak betul."
Abi mengangguk, lalu melangkah perlahan menyusuri lorong rumah menuju dapur belakang. Begitu sampai di ambang pintu dapur, pemandangan hangat langsung menyambut matanya.
Di atas lincak kayu, Akbar dan Aqil tampak sangat lahap menikmati *ubi cheesecake* buatan Kayla. Sementara Kayla sendiri sedang berjongkok telaten di samping Aqil, dengan sabar mengusap sudut bibir sang bungsu yang belepotan krim ubi.
"Ayah!" jerit Aqil riang begitu menyadari kehadiran Abi di ambang pintu. "Ayah, sini! Kak Kayla bikin kue enak banget!"
Kayla yang mendengar teriakan Aqil mendadak tersentak. Ia menghentikan tangannya, lalu pelan-pelan mendongak. Pandangan matanya langsung beradu dengan tatapan Abi yang tenang dan teduh.
Abi mengulum senyum tipis melihat kebersamaan itu. Langkah kakinya mendekati lincak kayu, matanya sempat tertuju sejenak pada wajah Kayla yang sudah merah padam sebelum akhirnya beralih ke dua jagoannya.
"Makan apa ini? Kok sampai belepotan gitu mukanya Aqil," goda Abi lembut seraya mengusap puncak kepala bungsunya.
"Ini *cheesecake* ubi buatan Kak Kayla, Ayah! Enak beuuut!" sahut Aqil bersemangat, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Ayah mau coba ndak?"
Akbar ikut mengangguk cepat, menyodorkan piring kecilnya. "Iya, Yah. Manis, empuk lagi. Ayah cobain deh!"
Kayla makin salah tingkah dibuatnya. Ia refleks berdiri agak menjauh seraya meremas ujung kerudungnya, tak berani menatap lurus mata Abi.
"E-eh... i-iya, Mas Abi. Ini cuma ubi kukus dicampur keju sedikit. Kalau Mas Abi mau, tak ambilkan piring baru..." ujar Kayla gugup, suaranya pelan dan terbata.
"Ndak usah repot-repot, Dek," potong Abi halus. Suaranya yang berat dan tenang justru membuat dada Kayla kian berdebar. Abi lalu menoleh pada kedua anaknya. "Kalian sudah habis berapa piring? Jangan banyak-banyak, nanti perutnya mules."
"Baru satu piring, Ayah!" jawab Akbar jujur.
Bu Sulastri yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur sambil membawa teko teh hangat langsung menyela dengan senyum menggodanya.
"Walah, Mas Abi... ndak usah sungkan. Neng Kayla ini pinter betul kok bikin kuenya. anakmu aja pada betah, ndak mau pulang kalau belum habis," ujar Bu Sulastri sengaja memanasi suasana. "Iya kan, Le?"
"Iya, Mbah! Aqil mau tinggal di sini aja sama Kak Kayla!" celetuk Aqil tanpa beban.
"Bukan tinggal di sini, Qil," timpal Akbar membenarkan dengan polosnya. "Kan kata Ayah nanti Kak Kayla yang pindah ke rumah baru kita."
Degh!
Sekali lagi, ucapan polos Akbar membuat suasana dapur mendadak hening. Kayla rasanya ingin menghilang saat itu juga karena menahan malu yang makin menjadi-jadi, sementara Abi hanya bisa terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala melihat tingkah jujur anak-anaknya.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti