NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008: Cakra Capital, CEO Dinda Permata

Empat hari setelah video pahlawan bank memenuhi media sosial, sebuah nama baru masuk ke percakapan SCBD.

Cakra Capital.

Nama itu muncul pertama kali lewat undangan konferensi pers yang dikirim ke redaksi bisnis, investor institusi, dan beberapa analis pasar modal. Lokasinya berada di lantai tertinggi Menara Cakra, gedung baru di koridor Sudirman yang selama berbulan-bulan ditutup renovasi.

Pagi itu, lobi Menara Cakra penuh kamera.

Logo Cakra Capital terpampang di dinding marmer hitam, sederhana, tanpa ornamen berlebihan. Di bawahnya tertulis kalimat pendek:

Capital with Discipline.

Para reporter berbisik sebelum acara dimulai.

"Ini fund baru atau pindahan dari Singapura?"

"Katanya aset kelolaannya ratusan triliun."

"Ratusan triliun? Jangan bercanda."

"Yang jadi CEO Dinda Permata. LSE. Pernah di London, pernah handle sovereign mandate."

"Lalu pemiliknya siapa?"

Tidak ada yang bisa menjawab.

Pukul sepuluh tepat, Dinda Permata naik ke panggung.

Ia mengenakan setelan putih gading, rambut pendeknya disisir rapi, tanpa perhiasan mencolok selain jam tipis di pergelangan tangan. Senyumnya tenang, milik orang yang tahu ruangan ini akan menghitung setiap kata yang ia ucapkan.

"Selamat pagi," katanya. "Saya Dinda Permata, CEO Cakra Capital."

Lampu kamera menyala beruntun.

Dinda tidak berkedip.

"Mulai hari ini, Cakra Capital resmi membuka kantor operasional Jakarta. Fokus kami sederhana: real estate strategis, consumer ecosystem, financial technology, dan special situations yang membutuhkan modal disiplin."

Di layar belakangnya, angka muncul.

Assets under management: Rp 150 triliun lebih.

Ruangan itu bergerak seperti ditarik arus listrik.

Beberapa reporter langsung mengangkat ponsel. Analis di barisan kedua saling menoleh. Angka itu bukan angka perusahaan rintisan. Itu angka yang bisa mengubah arah saham, menyelamatkan perusahaan sekarat, atau menelan satu blok kota tanpa menaikkan suara.

Dinda melanjutkan, "Kami tidak mengejar sorotan. Kami mengejar struktur yang sehat, arus kas yang dapat diaudit, dan partner yang mengerti disiplin."

Seorang reporter mengangkat tangan sebelum sesi tanya jawab resmi dibuka.

"Bu Dinda, apakah benar Cakra Capital sudah terlibat dalam beberapa transaksi properti besar minggu ini?"

Dinda tersenyum tipis. "Kami tidak mengomentari transaksi yang belum diumumkan oleh pihak terkait."

"Apakah salah satunya kawasan Rusunawa Harapan?"

Senyumnya tidak berubah. "Seperti saya bilang, kami menghormati proses dan kerahasiaan partner."

Reporter lain masuk. "Ada rumor Cakra Capital mempunyai pendiri anonim yang selama ini dikenal di forum investasi sebagai Acrux. Apakah orang itu nyata?"

Untuk pertama kalinya, ruangan benar-benar diam.

Dinda mengambil air minum, meneguk sedikit, lalu meletakkan gelasnya.

"Dalam industri ini," katanya, "beberapa mitra memilih bekerja di depan layar, beberapa memilih menjaga privasi. Kami menghormati privasi mitra kami."

"Jadi Acrux nyata?"

"Saya bilang, kami menghormati privasi mitra kami."

Jawaban itu tidak mengonfirmasi.

Justru karena itu, semua orang merasa mendapat konfirmasi.

Di ruang kerja pribadi di lantai yang sama, Arga Pratama menonton siaran internal melalui tablet.

Ia tidak mengenakan jas. Hanya kemeja hitam dengan lengan digulung. Di meja, ada laporan pembelian Cakra Properti, draft struktur escrow, dan ringkasan video pahlawan bank yang masih diturunkan perlahan dari beberapa akun besar oleh tim komunikasi.

Ponselnya bergetar.

Dinda.

Mulai hari ini, kita secara resmi punya uang.

Arga membaca pesan itu dua kali.

Ia membalas dengan satu emotikon senyum.

Lalu menambahkan:

Jangan sampai keluarga Hartono tahu terlalu cepat.

Balasan Dinda datang kurang dari sepuluh detik.

Kamu sadar kamu baru saja membeli setengah blok di dekat apartemen istrimu dan muncul di video melumpuhkan perampok, kan?

Arga mengetik:

Mantan istri.

Dinda:

Belum ada akta cerai. Jangan sok rapi di depan aku.

Arga hampir tertawa.

Hampir.

Di panggung bawah, sesi tanya jawab semakin panas.

"Bu Dinda, apakah Cakra Capital akan masuk ke perusahaan publik Indonesia?"

"Jika ada peluang yang sehat."

"Apakah Cakra akan menyelamatkan perusahaan yang sedang mengalami tekanan, seperti kasus PT Kusuma Group?"

"Kami bukan rumah sakit. Kami investor."

Beberapa reporter tertawa.

Dinda menunggu suara itu reda, lalu menambahkan, "Tetapi perusahaan dengan governance buruk memang sering memberi pelajaran mahal kepada pasar."

Kalimat itu masuk headline dalam enam menit.

Sementara konferensi berlangsung, artikel pertama naik di portal bisnis.

Cakra Capital Resmi Hadir di Jakarta, Kelola Dana Lebih dari Rp 150 Triliun.

Artikel kedua menyusul.

Siapa Acrux, Sosok Misterius di Balik Cakra Capital?

Artikel ketiga lebih berani.

Setelah Kusuma Tumbang, Raksasa Baru Muncul dari SCBD.

Di grup analis, beberapa orang mulai membongkar dokumen publik. Akta perusahaan bersih. Struktur direksi jelas. Tidak ada nama Arga Pratama di mana pun. Yang muncul hanya Dinda Permata, beberapa partner institusional, dan kantor hukum yang cukup mahal untuk membuat orang berhenti bertanya terlalu keras.

"Legalnya rapi," tulis seorang analis.

"Terlalu rapi," balas yang lain.

Di dunia uang besar, terlalu rapi sering kali lebih menakutkan daripada berantakan.

Nama Acrux mulai bergerak seperti bayangan di antara para broker.

Jejak digitalnya kosong: foto, profil LinkedIn, dan wawancara lama sama sekali tidak muncul.

Hanya jejak transaksi yang terlalu bersih dan rumor tentang seorang investor yang selalu masuk sebelum pasar sadar ada api.

Menjelang siang, klip konferensi pers itu muncul di televisi ruang keluarga Rumah Anggrek.

Hendra Hartono, kakak Bimo, sedang duduk sambil membaca koran. Ia jarang ikut ribut keluarga kecil Bimo, tetapi cukup rajin muncul ketika ada peluang bisnis baru.

Di layar, Dinda Permata berdiri di depan logo Cakra Capital.

Pembawa berita berkata, "Dengan aset kelolaan lebih dari Rp 150 triliun, Cakra Capital diprediksi menjadi pemain baru paling agresif di sektor properti dan consumer market Indonesia."

Hendra menurunkan koran.

"Cakra Capital..." gumamnya.

Bambang Hartono yang duduk di sebelahnya melirik layar. "Belum pernah dengar."

Hendra mendengus. "Tiba-tiba muncul bawa uang segunung. Pasti uang kotor."

Di tangga, Kiara yang baru turun berhenti.

Ia melihat logo itu.

Cakra Capital.

Entah kenapa, nama itu membuatnya teringat video bank. Gerakan tangan yang bersih. Wajah Arga yang selalu terlalu tenang. Kalimat yang ia ucapkan sebelum pergi.

Lebih baik jangan.

Kiara tidak tahu hubungan semua itu.

Belum.

Di Menara Cakra, Dinda selesai konferensi dan masuk ke ruang kerja Arga tanpa mengetuk.

"Selamat," katanya. "Sekarang seluruh SCBD penasaran siapa kamu."

Arga menutup tablet. "Bagus. Biar mereka penasaran."

"Dan keluarga Hartono?"

"Biar mereka meremehkan dulu."

Dinda menatapnya beberapa detik.

"Kamu tahu mereka akan datang pada kita cepat atau lambat."

Arga berdiri di depan kaca, melihat Sudirman membentang di bawah sana.

"Aku tahu."

Di layar televisi Rumah Anggrek, Hendra masih mencibir.

"Cakra Capital," katanya sekali lagi. "Nama baru begini biasanya cuma berisik di awal."

Kiara tidak ikut bicara.

Ia hanya mengingat folder kecil di ponselnya.

?

Dan untuk alasan yang belum bisa ia jelaskan, ia menyimpan nama Cakra Capital di kepalanya.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!