Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Semakin Cantik
Sore itu, Nayla benar-benar pergi sendirian. Setelah memesan ojek daring, dia duduk di kursi belakang sambil terus memandangi alamat yang tersimpan di ponselnya. Semakin dekat kendaraan itu menuju kawasan tempat tinggal Tristan, semakin kuat pula perasaan aneh yang memenuhi dadanya.
Nayla sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dia lakukan. Dia hanya ingin melihat. Melihat kehidupan Roy setelah meninggalkan keluarganya. Melihat seperti apa kehidupan Jihan dan Olivia sekarang. Mungkin setelah itu rasa penasarannya akan hilang dan dia bisa kembali menjalani kehidupannya seperti biasa.
Namun ketika ojek yang ditumpanginya berhenti tidak jauh dari sebuah kompleks perumahan mewah, Nayla meminta pengemudi menurunkannya di pinggir jalan. Dia tidak berani mendekati rumah itu.
Nayla hanya berdiri di seberang jalan, memperhatikan sebuah rumah besar dari kejauhan. Rumah itu jauh lebih megah daripada apa pun yang pernah dia miliki.
Pagar tinggi mengelilingi halaman luas. Taman yang tertata rapi terlihat dari balik pagar. Beberapa pohon tumbuh dengan indah di sepanjang halaman, sementara suara tawa terdengar samar dari dalam.
Nayla menatap ke arah sana. Kemudian dia melihat seorang anak laki-laki berlari di taman.
"Denis..."
Nayla langsung mengenalinya. Anak itu adalah putra Tristan dan Olivia. Bocah yang pernah dia temui sebelumnya. Denis sedang bermain bersama Roy.
Nayla membeku. Roy tertawa ketika Denis berlari mengelilinginya. Sesekali pria itu mencoba menangkap cucunya, membuat Denis tertawa semakin keras.
Tidak jauh dari sana, Jihan duduk sambil memperhatikan mereka. Olivia juga berada di taman. Wanita itu tersenyum lebar, sesekali berbicara dengan Tristan yang berdiri di dekatnya. Tristan terlihat jauh lebih santai dibandingkan ketika berada di kantor. Dia bahkan beberapa kali tersenyum melihat tingkah Denis.
Pemandangan itu terasa seperti sebuah keluarga sempurna. Semuanya tampak lengkap.
Nayla menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Dadanya terasa sesak.
Selama bertahun-tahun, dia berusaha menerima kenyataan bahwa ayahnya telah meninggalkan keluarganya. Dia berusaha mengubur semua kenangan tentang Roy dan menjalani hidup tanpa sosok ayah.
Namun sekarang, hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, Nayla melihat ayahnya tertawa bersama cucunya. Ayah yang dulu menggendongnya. Ayah yang dulu menemaninya belajar. Ayah yang dulu membuatnya merasa aman.
Kini pria itu terlihat begitu bahagia bersama keluarga barunya. Air mata perlahan menggenang di mata Nayla.
"Jadi... selama ini kau hidup seperti ini?"
Suaranya bergetar..Nayla segera mengusap air matanya sebelum ada orang yang melihat. Dia tidak ingin menangis. Tidak seharusnya dia menangis.
Namun semakin lama melihat pemandangan tersebut, semakin sulit baginya menahan perasaan yang muncul.
Olivia mendapatkan keluarga. Roy mendapatkan kehidupan baru. Bahkan Denis tumbuh dalam keluarga yang lengkap dan berkecukupan.
Sementara dirinya dan keluarganya masih berjuang dari hari ke hari. Ibunya sakit. Rianti dan Zaki masih bergantung kepada keluarga, dan Nayla harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Semua terasa begitu tidak adil.
"Apa kau benar-benar tidak pernah menyesal?"
Nayla menatap Roy. Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak akan ada. Roy bahkan tidak tahu bahwa putrinya sedang berdiri di luar sana.
Nayla akhirnya memalingkan wajah. Dia tidak sanggup melihat lebih lama. Perempuan itu berjalan menjauh dari rumah tersebut dengan langkah cepat. Begitu sampai di tempat yang agak sepi, air matanya kembali jatuh.
Namun kali ini, kesedihan perlahan berubah menjadi kemarahan. Nayla berhenti. Tangannya mengepal.
"Kalau kau bisa mengambil ayahku dari keluargaku..." Dia mengangkat wajahnya. "...kenapa aku tidak boleh mengambil kebahagiaanmu?"
Pikiran itu muncul begitu saja. Awalnya Nayla sendiri merasa terkejut dengan pemikirannya. Tetapi semakin dipikirkan, semakin sulit dia menghilangkannya.
Olivia pernah mengambil sesuatu yang paling berharga dari keluarganya. Sekarang Nayla ingin mengambil sesuatu dari Olivia.
Tristan, pria yang selama ini menjadi suami Olivia. Nayla tahu pemikiran itu salah. Dia tahu Tristan bukan benda yang bisa direbut begitu saja. Namun luka lama membuat pertimbangannya menjadi kacau.
"Kalau kau pernah menghancurkan keluargaku..." gumamnya, "aku juga akan membuatmu merasakan kehilangan."
Nayla kemudian memesan kendaraan untuk pergi ke pusat perbelanjaan terdekat. Dia tidak ingin pulang.
Beberapa jam kemudian, Nayla keluar dari sebuah toko pakaian dengan beberapa kantong belanja di tangannya. Uang yang digunakan berasal dari sebagian uang yang masih tersisa dari bantuan Tristan sebelumnya. Dia membeli beberapa pakaian kerja baru.
Tidak ada lagi pakaian sederhana seperti yang biasa dia gunakan. Nayla memilih pakaian yang tetap pantas untuk lingkungan kantor, tetapi memiliki potongan lebih modern, warna yang lebih berani, dan kesan feminin yang membuatnya terlihat jauh lebih percaya diri. Dia juga membeli beberapa aksesori sederhana..Semua itu bukan sekadar untuk mengubah penampilan.
Nayla ingin mengubah dirinya. Dia ingin Tristan melihatnya sebagai seorang perempuan yang berbeda dari Nayla yang selama ini dia kenal. Namun jauh di dalam hati, ada alasan lain..Nayla ingin membuktikan bahwa dirinya tidak selalu harus menjadi perempuan yang kalah.
Keesokan paginya, suasana di kantor Nebula Fashion Group berjalan seperti biasa. Para karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Namun keadaan berubah ketika pintu lift terbuka. Nayla keluar. Beberapa kepala langsung menoleh. Dia mengenakan pakaian kerja yang jauh lebih modis daripada biasanya. Rambutnya ditata rapi, riasannya terlihat natural, dan aksesori yang dipakainya sederhana tetapi membuat penampilannya tampak lebih profesional. Namun cukup untuk membuat orang-orang menyadari perubahan tersebut.
Bisik-bisik kecil terdengar.
"Itu si sekretaris baru?"
"Serius? Aku hampir enggak mengenalinya."
"Dia kelihatan berbeda."
Nayla mendengar sebagian percakapan tersebut, tetapi memilih tidak memperdulikannya. Dia berjalan menuju meja sekretaris dengan tenang.
Zay yang kebetulan baru keluar dari ruangannya bahkan sempat berhenti.
"Nayla?"
Nayla tersenyum. "Pagi, Pak Zay."
Zay mengamati penampilannya sekilas. "Penampilan baru?"
Nayla mengangguk. "Saya pikir saya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja di sini. Apalagi ini kan perusahaan fashion."
Zay tersenyum kecil. "Bagus. Selama tetap profesional."
"Tentu."
Nayla kemudian duduk dan mulai memeriksa dokumen. Dia berusaha terlihat tenang. Padahal jantungnya berdebar. Dia tahu Tristan tidak lama lagi akan keluar dari ruangannya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan CEO terbuka. Tristan keluar sambil membawa beberapa dokumen. Langkahnya terhenti. Matanya langsung menemukan Nayla.
Untuk sesaat, Tristan tidak mengatakan apa pun. Dia benar-benar terkejut. Nayla yang selama ini selalu tampil sederhana kini terlihat jauh lebih percaya diri. Bukan hanya pakaian dan riasannya yang berubah, tetapi juga sikapnya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara perempuan itu berjalan dan menatap orang lain. Tristan tidak sadar bahwa dirinya terus memperhatikan.
Puncaknya terjadi saat Nayla mengetuk pintu ruangan kerja Tristan lalu melangkah masuk. Di balik meja besar itu, Tristan semula hendak menegur atau sekadar melanjutkan pembicaraan biasa. Namun saat matanya jatuh tepat pada sosok yang berdiri tegap dan bersinar di hadapannya itu, napasnya terhenti sesaat. Dia terpaku. Gaya baru Nayla bukan sekadar perubahan pakaian, melainkan sebuah penampilan yang menyadarkan lelaki itu betapa luar biasanya kecantikan wanita ini. Setiap lengkungan tubuhnya terbingkai indah, tatapannya lebih tajam dan berani, serta wibawanya seolah menuntut perhatian penuh. Jantung Tristan yang sempat tenang kembali berpacu cepat, dihantui kembali oleh kenangan malam itu dan dihidupkan lagi oleh pemandangan nyata yang ada di depan matanya. Dia merasa tergoda lebih kuat dari sebelumnya.