Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Batuk Asti 8
Dani duduk sendirian di ruang makan, tetapi makanan di hadapannya hampir tidak disentuh. Garpu masih berada di antara jarinya, sesekali digerakkan tanpa benar-benar menyuap makanan ke mulut.
Mamanya yang baru saja turun dari lantai atas memperhatikannya dari jauh, mereka akan makan bersama, tapi mamanya terlambat turun mengurus satu dan lain hal, papanya belum pulang karena masih bekerja.
Biasanya Dani akan makan dengan tenang. Bahkan ketika sedang tidak berselera, ia tetap menjaga sikap di meja makan. Namun hari ini berbeda.
Wajahnya muram.
“Dan.”
Dani tidak menjawab. Ibunya menarik kursi di hadapannya lalu duduk.
“Kau kenapa?”
Dani mengangkat wajah. Matanya terlihat lelah. “Rani dan Lira.”
Ibunya mengerutkan kening.
“Kenapa dengan mereka?”
“Mereka diisolasi.”
“Karena menjenguk Asti?”
Dani mengangguk pelan.
“Aku sudah bilang jangan jenguk.” Nada suaranya terdengar kesal, tetapi bukan kemarahan seperti biasanya.
“Aku sudah bilang berkali-kali. Asti sakit, penyakitnya tidak jelas dan sekarang orang-orang mulai takut. Tapi mereka tetap pergi.”
Ibunya diam sejenak.
“Bukankah Rani dan Lira hanya ingin menjenguk teman?”
“Iya.” Dani menunduk.
“Itulah masalahnya.” Ia meletakkan garpu, “mereka cuma ingin berbuat baik.”
Ibunya memperhatikan wajah anaknya. Ada sesuatu yang berbeda dari Dani. Biasanya ia akan menyalahkan orang lain tanpa ragu, tetapi kali ini ia justru terlihat seperti sedang menyalahkan dirinya sendiri.
“Kau merasa bersalah?”
Dani langsung menggeleng. “Tidak.” Jawabannya terlalu cepat. Ibunya tersenyum tipis.
“Kau boleh bilang tidak, tapi wajahmu berkata lain.”
Dani terdiam.
Ia mengingat kembali percakapannya dengan Rani dan Lira sebelum mereka pergi. Ia sudah memperingatkan mereka. Jangan mendekati rumah Asti. Jangan menyentuh apa pun. Jangan terlalu dekat.
Tetapi mereka tetap pergi.
Sekarang Rani dan Lira ikut dipulangkan.
Dan yang membuat Dani semakin tidak nyaman adalah satu hal, Asti meninggal dunia, kemarin dia mendapat kabar di sekolah, lalu sekarang bagaimana nasib kedua sahabatnya, terus terang, di kepalanya Liralah yang paling dia khawatirkan, entah karena apa, tapi dia ingin bertemu Lira lagi.
Dani mengangkat wajah.
“Ma.”
“Iya?”
“Menurut mama, kenapa penyakit Asti aneh?”
Ibunya terdiam.
“Aneh bagaimana?”
“Batuknya, tidak sembuh-sembuh, lalu sekarang sudah meninggal dunia.” Dani menarik napas, "lalu Rani dan Lira malah diisolasi.”
Ibunya tidak langsung menjawab.
“Dan …”
Dani menatap meja. “Aku takut mereka kenapa-kenapa.”
Untuk pertama kalinya, suara Dani terdengar begitu kecil, dan ibunya mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala anaknya.
“Kau sudah memperingatkan mereka. Kau sudah melakukan yang kau bisa.”
“Tapi mereka tetap pergi.”
“Karena mereka teman Asti.”
Dani kembali diam. Ia tahu ibunya benar. Namun tetap saja, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Seharusnya dia lebih keras memperingatkan Lira dan juga Rani, menakuti mereka misalnya atau apa sajalah, juga seharusnya mungkin dia juga tidak mengadukan mereka pada guru dan akhirnya mereka diisolasi.
Ya, Dani sangat marah karena mereka benar-benar menjenguk makanya Dani langsung mengadu pada guru agar mereka diberi pelajaran, tapi Dani tidak tahu kalau ini akan bergulir sejauh ini.
Mereka sudah tidak masuk tiga hari karena diisolasi.
“Kau mau menjenguk teman-temanmu? Kau rindu pada mereka?”
“Tidaklah! Aku takut tertular, lagi pula, aku takut juga kita diisolasi kayak mereka, karena kebodohanku perkara sok perhatian.”
“Itu bukan sok perhatian sayang, itu adalah wujud kepedulian, namanya teman sakit, ya pasti maunya dijenguk dong yah. Tapi kan ternyata penyakitnya berat. Oh ya, mama tidak pernah melihatmu seperhatian ini pada teman, Lira dan Rani sepertinya berbeda ya?” Mamanya membawa percakapan jadi lebih jauh, itu membuat wajah Dani memerah karena malu, dia merasa dituduh suka pada Lira, padahal dua nama yang disebut. Jadi, dia takut kalau dituduh suka, atau takut ketahuan suka Lira? Hanya Dani dan Tuhan yang tahu.
“Nggak berbeda, cuma Lira kan baru pindah, trus dia tuh aneh, kan aku sudah cerita, ma. Karena itu aku mencoba untuk memeriksa saja, mana tahu dia makhluk yang kita buru. Makanya aku mendekatinya, sudah itu saja.”
“Tapi sekarang kau khawatir padanya, masih diperiksa atau apa?”
“Sudah yakin kalau bukan, dia hanya anak desa yang cukup berada, itu saja. Neneknya nyai dan kakeknya orang Belanda, dinikahi resmi katanya, jadi tak heran dia dari keluarga berada, tapi mungkin karena hidup di desa makanya dia kurang pergaulan, aku hanya membantunya itu saja.”
“Ya, ya, aku percaya, tapi ingat ya Dan, kita itu ....”
“Tidak boleh memiliki hati untuk Dekekuoi, juga manusia, kita harus bersama dengan Jagabaya Kasipin dan menjaga garis darah agar keturunan kita tetap terjaga. Aku ingat kok, lagian ngapain sih ngomong gitu seolah aku akan menikahi Lira.”
“Ih, siapa sih yang ngomongin Lira, orang jelas mama nyebutnya Lira dan Rani, kenapa dari tadi kau hanya menyebut Lira, aku jadi ingin bertemu dengannya.”
“Kan, kan, udah ah males, jadi makan nggak nafsu makan!” Dani kesal dan hendak pergi dari meja makan.
“Mau dibuatkan roti bakar sama pembantu di belakang?” Mamanya bertanya, karena takut anaknya kelaparan tengah malam.
“Ya, boleh lah, sama coklat panas yang manis, boleh?”
“Boleh dong, kan kamu nggak nafsu makan.” Mamanya lalu memanggil pembantu dan satu orang dari dapur datang, mamanya Dani menyuruhnya membuatkan roti bakar dan coklat panas untuk diantar ke kamar Dani.
Sementara Dani masuk kamar dan duduk di meja belajar, dia membuka catatan, ada gambar Lira di lembar paling belakang, disembunyikan dengan baik oleh Dani, dia tak ingin siapa pun tahu kalau Dani benar-benar merasa Lira sangat cantik, berbeda dari semua wanita yang pernah dia temui.
...
“Dengar Rani, aku tahu kamu terkejut kenapa kami di sini dan bisa masuk rumahmu tanpa ketahuan, tapi aku dan orang tuaku tak punya waktu untuk menjelaskan, aku mohon Rani, aku tak mau kehilanganmu dan karena itu, kami akan mencoba menyembuhkanmu dengan cara yang paling berbahaya bagi kami, kamu mengerti sahabatku?” Lira berkata pada Rani yang terbaring di tempat tidur, dia tak bisa bangun lagi untuk duduk dan baru beberapa hari dia sudah sangat pucat dan enggan makan.
Orang tuanya didudukkan di ruang tamu seolah sedang mengobrol, tidak ada lagi tentara memang, karena rumah mereka sudah digembok dari luar, tentara kabur dan membiarkan keluarga Rani sakit serta mungkin kelak kelaparan lalu mati seperti keluarga Lira.
Takut terlambat seperti Asti, maka Nyonya Yelak membawa anak dan suaminya untuk datang, meski mereka harus menggunakan sihir.
Lira tahu kalau itu dilakukan, kemungkinan mereka akan pindah akan besar, Lira tahu kalau mungkin dia harus kembali mengganti teman di tempat baru, tapi itu lebih baik dari pada kehilangan Rani.
Rani mengangguk dan dia memegang tangan Lira dengan kencang, dia takut.
“Kamu akan sehat, percaya pada ibuku ya, kami sudah menemukan masalahnya sahabatku, aku akan menjagamu, aku tak peduli meski kami harus pergi nanti, yang penting kau selamat sahabatku sayang.”
Lira memeluk Rani dan mamanya Lira bersiap untuk ritual penyembuhan menggunakan sihir.