Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Dua hari telah berlalu sejak Haris dirawat di rumah sakit. Atas saran dokter, Haris diizinkan pulang, tetapi dengan syarat harus mengurangi aktivitas dan menghindari tekanan pekerjaan.
Kini, ruang kerja di rumah lebih sering menjadi tempatnya beristirahat daripada mengurus perusahaan. Sementara itu, hampir seluruh tanggung jawab perusahaan mulai beralih kepada Indri.
Pagi itu, Indri mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. "Pa, boleh masuk?"
"Masuklah." Haris menutup berkas yang sedang dibacanya. "Duduk."
Indri duduk di hadapan ayahnya. "Bagaimana kondisi Papa?"
"Jauh lebih baik." Haris tersenyum. "Jangan terlalu mengkhawatirkan Papa. Justru Papa yang khawatir padamu."
Indri mengernyit. "Padaku?"
"Kamu sekarang memikul tanggung jawab yang tidak ringan," ujar Haris.
"Aku akan berusaha, Pa."
Haris mengangguk bangga. "Itulah yang membuat Papa percaya."
Indri tak banyak bicara lagi, ia hanya menanggapi dengan senyuman. Dan tak lama kemudian segera berpamitan ke kantor.
Sesampainya di kantor, Nisa segera menghampiri. "Bu Indri."
"Ada apa?"
"Pak Evan menghubungi tadi pagi. Beliau ingin mengundang Ibu makan malam untuk membahas perkembangan proyek."
"Makan malam?"
"Iya, Bu."
Indri berpikir sejenak. Pertemuan di luar kantor sebenarnya bukan hal yang aneh dalam dunia bisnis. Namun, entah mengapa, ia kembali merasakan kegelisahan yang sama. "Baik. Konfirmasi saja," ujarnya kemudian.
Di sisi lain...
Rio sedang menyetir mobil menuju kantor. "Pak, kenapa Bapak memilih makan malam?"
Evan menatap jalan di depan. "Karena di kantor terlalu banyak mata."
Rio menoleh sekilas. "Bapak ingin membicarakan proyek?"
Evan tersenyum tipis. "Sebagian, dan sebagian lagi ... Aku ingin melihat seperti apa Indri di luar lingkungan kerjanya."
Rio tidak bertanya lagi.
Malam pun tiba. Restoran yang dipilih Evan berada di lantai paling atas sebuah hotel. Suasananya tenang. Tidak terlalu ramai.
Indri datang tepat waktu. Ia mengenakan blus putih sederhana dipadukan rok hitam. "Maaf menunggu."
Evan berdiri menyambutnya.
"Tidak apa-apa. Saya juga belum lama sampai."
Mereka duduk saling berhadapan.
Pelayan datang menawarkan menu. Setelah memesan makanan, suasana kembali hening.
Kemudian Evan yang membuka pembicaraan lebih dulu. "Saya dengar kondisi Pak Haris sudah membaik. Syukurlah. Beliau orang yang baik."
Indri tersenyum. "Papa saya memang selalu memikirkan orang lain. Itulah sebabnya saya ingin segera menyelesaikan proyek ini. Supaya Papa saya bisa lebih banyak beristirahat."
Evan memperhatikan wajah Indri.
Tidak ada kepura-puraan.
Perempuan itu benar-benar mencemaskan papanya.
Tak lama kemudian makanan datang. Di tengah makan malam, Evan tiba-tiba bertanya.
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Apakah Anda pernah menyesali keputusan terbesar dalam hidup?"
Sendok di tangan Indri berhenti bergerak. Beberapa detik ia hanya menatap piringnya. "Lebih dari menyesal. Dan Saya berharap waktu bisa diputar."
Evan tidak mengalihkan pandangan. "Kalau waktu benar-benar bisa diputar?Apa yang akan Anda ubah?"
Indri menarik napas panjang.
"Aku..." Kalimatnya terjeda. Hampir saja ia memakai kata ganti yang lebih akrab, ia lalu segera meralatnya dengan bahasa yang lebih formal. "Saya tidak akan menuruti pikiran saya untuk menghalalkan segala cara hanya demi mencapai apa yang saya inginkan. Karena satu tindakan bodoh bisa menghancurkan hidup banyak orang."
Evan mengepalkan jemarinya di bawah meja. Ia tahu.
Indri sedang berbicara tentang masa lalunya. Namun perempuan itu sama sekali tidak tahu bahwa orang yang duduk di depannya adalah kakak dari korban yang ia maksud.
Makan malam selesai. Evan mengantar Indri sampai ke lobi hotel.
"Terima kasih atas waktunya."
"Saya yang berterima kasih." Indri tersenyum sopan. "Saya belajar banyak malam ini."
Sebelum berpisah, ponsel Indri berdering. Layar menunjukkan nama Papa. Indri segera mengangkatnya.
"Halo, Pa?"
Suara Haris terdengar lemah. "Indri... Papa tiba-tiba sesak napas."
Wajah Indri langsung pucat. "Pa, jangan tutup teleponnya!"
Tanpa berpikir panjang, Indri berlari menuju pintu keluar hotel.
Evan yang melihat perubahan ekspresinya segera mengejar.
"Ada apa?"
"Papa... Papa saya sesak napas. Aku harus segera pulang."
Evan langsung membuka pintu mobilnya. "Saya antar."
"Tapi..."
"Tidak ada waktu."
Indri akhirnya mengangguk.
Sepanjang perjalanan, ia terus mencoba menghubungi Cinta.
Tangannya gemetar. Air matanya mulai jatuh.
Melihat kepanikan itu, Evan tanpa sadar menambah kecepatan mobil. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran.
Haris tidak boleh meninggal.
Bukan karena dendamnya telah hilang. Melainkan karena ia belum siap melihat Indri kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Sementara itu, jauh di lubuk hatinya, Evan mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. Semakin sering ia berada di dekat Indri... Semakin sulit ia mempertahankan kebencian yang selama ini menjadi alasan ia tetap hidup.
Deru mesin mobil memecah kesunyian malam. Indri menggenggam ponselnya erat. Wajahnya pucat, sementara napasnya tak beraturan.
"Papa... angkat teleponnya, Pa..." gumamnya berkali-kali. Namun, panggilan yang ia lakukan tidak lagi tersambung.
Evan melirik sekilas ke arah Indri sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan. "Tenang."
Suara pria itu terdengar datar, tetapi cukup membuat Indri menoleh. "Kita sudah hampir sampai."
Indri mengangguk pelan, meski air matanya terus mengalir.
Sesampainya di rumah Haris, halaman sudah dipenuhi beberapa mobil.
Cinta dan Vano sedang membantu Haris keluar dari rumah dengan kursi roda.
"Papa!" seru Indri sambil berlari.
Haris tersenyum lemah. "Papa tidak apa-apa."
"Jangan bicara dulu." Indri berlutut di depan papanya. "Tadi Papa membuatku takut."
Cinta menggenggam bahu adiknya. "Dokter keluarga sudah datang. Beliau menyarankan Papa dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan."
Vano yang baru menyadari Evan berdiri beberapa langkah di belakang Indri lantas menyapa. "Pak Evan?"
Evan mengangguk sopan. "Kebetulan saya bersama Bu Indri saat Pak Haris menelepon." Wajahnya datar, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang membuat ekspresi Vano berubah.
"Terima kasih sudah mengantar."
"Tidak perlu sungkan."
Di rumah sakit.
Dokter segera melakukan serangkaian pemeriksaan. Kali ini semua anggota keluarga menunggu dengan cemas.
Laura kecil, yang duduk di samping Cinta, memandang sekeliling dengan wajah bingung.
"Mama..."
"Iya, Sayang?"
"Kenapa Kakek sakit terus?"
Cinta tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. "Kakek hanya perlu banyak istirahat."
Laura mengangguk, meski tampak belum mengerti.
Indri yang mendengar percakapan itu menundukkan kepala. Jika bukan karena dirinya yang kini mengambil alih pekerjaan perusahaan, mungkin Haris tidak akan terus memikirkan banyak hal. Rasa bersalah itu kembali datang.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Pak Haris hanya mengalami kelelahan."
Semua mengembuskan napas lega.
"Namun kondisi jantung beliau memang lemah. Saya sarankan beliau mengurangi aktivitas secara drastis."
Indri mengangguk pelan. "Saya mengerti, Dok."
Dokter menatap Indri.
"Mulai sekarang, jangan biarkan beliau terlalu banyak bekerja."
Indri mengangguk mantap. "Saya akan menjaganya."
Mereka pun masuk ke ruangan menjenguk Haris. Setelah beberapa saat berbincang bincang, Evan pun berpamitan pulang.
"Pak Evan." Suara Haris menghentikan langkahnya.
"Terima kasih sudah membantu keluarga kami."
Evan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang justru sarat akan makna dimata Haris. "Sudah seharusnya."
Haris terdiam sesaat. "Lain kali... makan malam di rumah kami. Pak Evan sudah banyak membantu."
Evan memandang wajah Haris, lalu beralih kepada Indri yang tampak canggung. "Kalau kondisi Bapak sudah membaik, saya akan datang."
"Saya senang mendengarnya."
Dalam perjalanan pulang, Rio akhirnya bertanya. "Bapak benar-benar akan datang?"
"Iya."
"Bukankah itu justru membuat Bapak semakin dekat dengan mereka?"
Evan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Itulah tujuannya."
Rio mengernyit.
"Semakin dekat seseorang, semakin mudah mengetahui kelemahannya."
Jawaban itu terdengar meyakinkan. Namun bahkan Evan sendiri tidak yakin apakah itu alasan yang sebenarnya.
Keesokan harinya...
Indri kembali bekerja seperti biasa. Saat memasuki ruang kerjanya, ia menemukan sebuah pot kecil berisi bunga lili putih di atas meja.
Nisa tersenyum. "Indah, ya, Bu?"
"Siapa yang mengirim?" tanya Indri.
"Tidak ada kartu, Bu."
Indri memperhatikan bunga itu. Lili putih. Bunga yang sering dikaitkan dengan ketulusan dan duka. Hatinya tiba-tiba terasa tidak nyaman. "Buang saja."
Nisa tampak heran. "Dibuang?"
"Iya. Saya tidak suka menerima kiriman tanpa nama."
"Baik, Bu."
Saat Nisa membawa pot bunga itu keluar, tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan dari seberang jalan menggunakan teropong kecil.
Rio menurunkan teropongnya perlahan. "Bunganya dibuang, Pak."
Evan yang duduk di kursi belakang hanya mengangguk. "Tidak apa-apa. Dia pasti mulai bertanya-tanya."
Rio melirik atasannya. "Langkah berikutnya, Pak?"
Evan menatap gedung Haris Group. "Kita tidak perlu terburu-buru. Karena cepat atau lambat... Indri sendiri yang akan datang mencari jawaban."
Di dalam ruang kerjanya, Indri berdiri memandang jendela.
Entah mengapa, ia kembali merasakan perasaan yang sama seperti beberapa hari terakhir.
Seolah ada sepasang mata yang tidak pernah berhenti mengawasinya.
Ia belum mengetahui siapa orang itu. Namun ia mulai yakin... Semua kejadian aneh yang menimpanya bukanlah kebetulan.
Seseorang sedang menyusun sebuah permainan. Dan tanpa sadar, ia telah menjadi bidak utama dalam permainan tersebut.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁