NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Pesta Topeng

"Ritsletingnya macet."

Keira berdiri membelakangi Kai di ruang tamu, memegangi bagian depan gaun hitamnya agar tidak melorot. Undangan malam penyambutan manajemen baru NusAir tergeletak di sofa.

"Tarik pelan," katanya. "Jangan sampai kainnya rusak. Gaun ini pinjaman Vera."

Kai memegang ritsleting di tengah punggungnya. Ujung jarinya menyentuh kulit Keira tanpa sengaja.

Keira menahan napas.

"Dingin," keluhnya.

"Tanganku atau ritsletingnya?"

"Selesaikan saja."

Kai menarik sampai ke atas, lalu mundur. "Sudah."

Keira berbalik. Gaun itu sederhana, menutup bahu, tetapi potongannya mengikuti tubuh dengan elegan. Liontin awan murah dari Meilin tergantung di lehernya.

Tatapan Kai berhenti terlalu lama.

"Jelek?"

"Kalau aku bilang bagus, kamu akan menuduhku punya niat lain."

"Berarti jelek."

"Kamu cantik."

Jawaban lurus itu membuat Keira kehilangan balasan.

Dia mengambil tas kecil. "Kamu sendiri mau ke mana?"

Kai sudah mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Setelan lengkapnya disimpan di mobil yang menunggu dua blok dari apartemen.

"Ada pekerjaan malam."

"Akhirnya dapat kerja?"

"Bisa dibilang begitu."

Keira menepuk bahunya. "Semoga bosmu tidak sekejam Pak Kaizan."

Kai menahan senyum. "Aku rasa dia lumayan."

Mereka turun bersama, lalu berpisah di depan gedung. Keira naik mobil online. Kai berjalan ke arah berlawanan, masuk ke sedan yang dikirim Moreno, dan berganti jas di kursi belakang.

Empat puluh menit kemudian, ballroom sebuah hotel di SCBD dipenuhi cahaya emas dan dekorasi berbentuk sayap. Kamera resmi NusAir bergerak di antara meja. Acara disiarkan langsung melalui portal internal dan akun perusahaan agar karyawan cabang lain dapat menonton.

Keira berdiri bersama kru penerbangan di dekat panggung. Sejak tiba, dia mencari satu sosok.

"Katanya Pak Kaizan akan membuka acara sendiri," bisik seorang rekan.

"Yang mana orangnya?" tanya Keira.

"Mungkin pria dekat komisaris itu."

Seorang eksekutif tinggi dengan jas gelap sedang menerima salam dari banyak orang. Dari samping, rambut dan garis rahangnya mirip foto buram di portal perusahaan.

Keira maju sebelum kehilangan kesempatan.

"Pak Kaizan?"

Pria itu menoleh. Usianya hampir lima puluh tahun.

"Maaf?"

Wajah Keira panas. "Saya kira Bapak... maaf, salah orang."

Pria itu tertawa ramah. "Saya berharap punya setengah saham Pak Kaizan, tapi sayangnya bukan."

Beberapa orang di belakang Keira terkikik. Dia ingin menghilang di balik meja bunga.

Dari sisi lain ballroom, Kaizan melihat semuanya. Kacamata hitam menutupi matanya, sementara masker sudah dilepas karena alasan perawatan gigi dianggap cukup untuk menghindari sesi foto dekat. Namun pencahayaan panggung membuat hanya sisi wajahnya yang terlihat dari tempat Keira berdiri.

Moreno mendekat. "Kalau Bos tertawa, semua orang akan menoleh."

"Aku tidak tertawa."

"Tentu."

Kaizan menerima salam dari komisaris dan berjalan menuju area tunggu panggung. Keira melihat kerumunan bergerak, tetapi seorang fotografer menutup pandangannya. Ketika dia bergeser, Kaizan hanya tampak dari belakang.

Punggung yang sama lagi.

Keira mengangkat ponsel, berniat mengambil foto untuk dibandingkan dengan Kai nanti. Namun pembawa acara meminta semua tamu menghadap panggung.

Kaizan naik melalui tangga samping. Kacamata gelapnya memantulkan cahaya ballroom, sementara bagian wajah lain terlihat cukup jelas dari layar samping tetapi tetap sulit dikenali dari baris tengah. Setiap kamera berusaha menangkap sudut terbaik. Kaizan berdiri sedikit menyamping, seperti sudah terbiasa menghindari lensa.

"Selamat malam," katanya.

Tepuk tangan memenuhi ballroom.

Keira menatap layar. Bentuk bibirnya terasa asing, tetapi suaranya kembali mengusik ingatan. Bukan hanya Kai. Suara itu juga mengingatkannya pada pria di parkiran, orang yang menyuruhnya bernapas dan tetap marah.

Tiga sosok berbeda dengan ritme bicara serupa.

Tidak masuk akal.

"Perusahaan ini tidak dibangun oleh satu nama di atas panggung," lanjut Kaizan. "NusAir berdiri karena pilot, teknisi, kru kabin, petugas darat, dan ribuan orang yang bekerja bahkan ketika tidak ada kamera. Mulai malam ini, hasil kerja kalian harus lebih kuat daripada hubungan pribadi, dan keselamatan harus lebih tinggi daripada jabatan."

Tepuk tangan kedua terdengar lebih lama.

Kaizan memandang ke arah meja kru. Kali ini Keira yakin mata di balik kacamata itu berhenti padanya.

"Kita tidak bisa memperbaiki masa lalu dengan menyembunyikannya," kata Kaizan. "Kita hanya bisa memastikan kesalahan yang sama mendapat konsekuensi."

Moreno menerima mikrofon setelahnya. Kaizan turun dari panggung dan kembali dikelilingi komisaris. Keira mencoba bergerak mendekat, tetapi jarak segera tertutup oleh para tamu.

"Selamat malam, keluarga besar NusAir. Sebelum kita menyambut pimpinan baru, mari melihat perjalanan perusahaan kita melalui siaran langsung dari seluruh area acara."

Layar LED raksasa menampilkan lobi, meja registrasi, kru cabang Surabaya, lalu area foto resmi di samping ballroom.

Revan berdiri di sana bersama Wenny.

Awalnya tidak ada yang aneh. Wenny merapikan dasi Revan, gerakan yang bisa dianggap bantuan antarrekan. Lalu dia menoleh memastikan koridor sepi, melingkarkan tangan ke leher Revan, dan mencium pipinya dekat sudut bibir.

Revan memegang pinggangnya.

Mereka tidak tahu kamera area foto sudah masuk ke siaran langsung.

Wajah keduanya memenuhi layar sebesar dinding.

Ballroom membeku.

Seseorang menjatuhkan sendok. Lalu bisikan pecah dari setiap meja.

"Bukankah Revan pacarnya Keira?"

"Itu Bu Wenny."

"Jadi rumor mereka benar?"

Keira berdiri tanpa bergerak. Dia sudah tahu tentang hubungan itu. Sudah memutuskan Revan. Namun melihat pengkhianatan mereka terbentang di depan ratusan orang tetap membuat bekas luka di dadanya seperti dibuka lagi.

Kamera mendadak berganti ke panggung, terlambat beberapa detik.

Revan dan Wenny masuk dari pintu samping. Mereka baru menyadari apa yang terjadi ketika semua kepala menoleh.

Wenny kehilangan warna. "Kenapa kalian melihat kami?"

Seorang staf menunjukkan ponselnya. Potongan siaran sudah direkam dan beredar di grup WhatsApp perusahaan.

"Ini editan," kata Wenny cepat. "Seseorang sengaja menjebak kami."

"Kamera resmi tidak mengedit siaran langsung," sahut suara dari meja belakang.

Revan mencari Keira. "Ini bukan seperti yang terlihat."

Keira tertawa pendek, tanpa rasa lucu. "Kamu masih punya kalimat lain?"

"Kita sudah putus saat itu terjadi."

"Malam ini, iya. Tiga bulan lalu, belum."

Keira membuka foto yang dikirim kepadanya setelah pertemuan di resto. Tanggal dan lokasi apartemen terlihat jelas. Dia mengangkat layar agar orang terdekat dapat melihat.

"Kami masih bersama ketika foto ini diambil. Dan hubungan kalian bukan satu-satunya masalah. Kalian bekerja sama membawa aku ke ruang pribadi Pak Teguh setelah minumanku dicampur zat asing."

Bisik-bisik berubah menjadi seruan kaget.

Revan maju. "Jangan membuat tuduhan tanpa bukti!"

"Laporan hotel, hasil laboratorium, pesanmu, dan rekaman parkiran sudah diserahkan kepada tim kepatuhan. Kalau kamu merasa itu fitnah, jawab melalui proses resmi."

Beberapa karyawan yang tadinya hanya menonton mulai menjauh dari Revan dan Wenny.

Wenny menunjuk liontin Keira. "Lihat dia! Baru putus sudah memakai barang mewah dari pria lain. Siapa yang tahu apa yang dia lakukan untuk mendapat perlindungan manajemen?"

Keira memegang liontin perak berbentuk awan. "Ini dibeli Mama di bazar sekolah seharga kurang dari seratus ribu rupiah. Kalau kamu menganggapnya barang mewah, masalahmu bukan aku. Masalahmu adalah kamu terlalu sibuk menghitung harga di tubuh orang lain."

Tawa tertahan muncul dari beberapa meja.

Wenny memerah sampai leher.

Benny sudah berdiri, tetapi belum mendekat. Dia menatap putrinya seperti melihat orang yang tidak dikenal.

"Apa benar kamu menggunakan akses kantor untuk mengajukan pemecatan Keira?"

"Papa, aku hanya melindungi perusahaan."

"Jawab."

Wenny menggigit bibir. "Aku menandatangani rekomendasi, tapi itu atas persetujuan Pak Teguh."

"Kamu memakai nama Papa?"

"Semua orang tahu Papa pemegang saham. Aku hanya mengingatkan mereka agar tidak meremehkanku."

Wajah Benny berubah. Bertahun-tahun dia membuka pintu bagi putrinya, mengira Wenny hanya manja dan ambisius. Kini, di depan seluruh perusahaan, dia melihat nama keluarganya dipakai untuk menekan korban dan menutupi hubungan gelap.

"Kamu tahu apa yang sedang diselidiki dari Teguh?"

"Itu semua belum terbukti."

"Tapi kamu tetap membantunya menyingkirkan pelapor."

Wenny kehilangan jawaban.

"Cukup!"

Benny Sutanto bangkit dari meja pemegang saham. Wajahnya merah gelap. Dia berjalan cepat menuju putrinya.

"Papa, dengarkan dulu."

"Kamu bilang hubungan dengan Revan hanya urusan kerja. Kamu memakai nama Papa untuk menekan orang, lalu mempermalukan keluarga di depan seluruh perusahaan!"

"Aku tidak mempermalukan siapa pun. Keira yang sengaja—"

Tamparan Benny mengenai pipi Wenny.

Bunyi itu terdengar sampai meja terjauh.

Wenny terhuyung satu langkah dan memegangi wajah. Kamera resmi sudah dialihkan, tetapi ratusan ponsel pribadi terangkat.

"Pak Benny," kata salah satu komisaris, "jangan gunakan kekerasan. Selesaikan ini di luar ballroom."

Benny menurunkan tangan. Kemarahannya belum hilang, tetapi dia sadar seluruh ruangan merekam.

"Kamu ikut Papa sekarang."

"Tidak!" Air mata Wenny jatuh. "Semua ini salah Keira. Kalau dia tidak melapor, kalau dia tidak merebut perhatian manajemen—"

Wenny menerjang ke arah Keira.

Revan mencoba menahannya, tetapi gerakan itu justru membuat meja kecil di samping mereka terguling. Gelas pecah. Tamu berdesakan mundur. Kilatan kamera muncul dari segala arah.

Kaizan turun dari sisi panggung.

Moreno mengangkat tangan kepada tim keamanan, tetapi Kaizan sudah menembus kerumunan.

Keira mundur agar tidak terkena pecahan kaca. Tumitnya tersangkut ujung karpet. Sebelum jatuh, sebuah tangan menggenggam pergelangannya.

Genggaman itu kuat dan hangat. Familiar.

"Ikut aku."

Suara rendah itu hampir hilang di tengah keributan.

Keira menoleh, tetapi cahaya lampu sorot menyilaukan matanya. Dia hanya melihat sisi wajah pria berkacamata hitam, garis rahang, dan setelan gelap.

"Pak Kaizan?"

Pria itu tidak menjawab.

Dia menarik Keira melewati pintu staf. Mereka masuk ke koridor servis yang remang, jauh dari kamera dan pecahan kaca.

"Tunggu." Keira berusaha menyamai langkahnya. "Anda siapa?"

Pintu ballroom terbuka lagi di belakang mereka. Suara orang-orang mengejar semakin dekat.

Pria itu menggenggam tangannya lebih erat.

"Ikut aku."

Keira belum sempat melihat wajahnya ketika mereka berlari keluar menuju malam SCBD.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!