Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
“Kau ... kenapa kau tidak langsung cerita pada papamu ini jika Maxime selingkuh?” tanyanya dengan suara tercekat.
Helena sudah tidak bisa berbicara. Rasa malunya karena suaminya memiliki wanita lain membuatnya tak bisa mengangkat kepalanya. Selama ini, ia lah yang selalu mengalahkan wanita di luar sana, membuat mereka menangis karena kehilangan kekasih. Tapi, kenapa semuanya berubah saat ia menikah?
“Siapa .... siapa wanita itu?” tanya Samuel tak bisa menahan diri untuk tidak penasaran dengan wanita yang bisa mengalahkan putrinya itu.
Helena yang mendengar itu mendongak. Matanya menatap papanya yang tampak benar benar penasaran.
“Untuk apa? Untuk apa mengetahuinya?” tanyanya dengan suara serak.
Semuel melotot. “Bodoh! Jika kita mengetahuinya, kita hanya perlu memberinya banyak uang dan memintanya pergi. Semua wanita di luar sana yang mau menjadi simpanan pasti karena uang. Jika wanita itu pergi meninggalkan Maxime, dia pasti tidak akan menceraikanmu!”
Namun, kalimat itu membuat Helena tertawa histeris. Angel yang tahu dengan jelas siapa selingkuhan menantunya itu bahkan tak bisa mengangkat kepalanya.
Samuel yang tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan menatap istrinya dengan tatapan menyelidik.
“Kau tahu siapa wanita itu?” tanyanya dengan nada menuduh.
Angel membuang muka. Bibirnya terasa kaku.
“Kau juga mau diam saja? Apa kau benar benar ingin melihat perusahaan ini hancur.”
Angel yang mendengar itu sedikit ragu. Namun, saat ia ingin mengatakan yang sebenarnya, Helena lebih dulu berteriak dan menatapnya penuh permohonan.
“MA!”
Angel menutup mata. Tangannya mengepal.
Samuel yang semakin yakin jika istrinya mengetahuinya menggertakkan gigi. Matanya menatap putrinya dengan tatapan tak puas.
“Apa yang kau teriakan? Papamu sedang membantumu mempertahankan rumah tanggamu!” kesalnya yang bahkan ingin menendang putrinya.
Jika tidak mengingat kasih sayang yang sudah mereka jalin selama bertahun tahun, ia tidak hanya ingin menendang putrinya itu sendiri, tapi juga menghajarnya, dan mengatakan betapa gagalnya ia menjaga suaminya sendiri.
“Dan kau, kau benar benar akan diam? Oh, baiklah, jika kau memang ingin hidup miskin, bahkan tak sanggup membeli pakaian baru, tidak apa apa,” ucapnya tenang namun kata kata itu tepat menyentuh titik yang paling ditakuti Angel.
“Aku ... aku akan mengatakannya.”
Samuel Menyeringai. Ia juga tahu, istrinya itu materialistis.
“Katakan!”
“Dia .... Selina,” jawabnya dengan suara sedikit lebih kecil diakhir.
Samuel yang mendengar itu tertegun. “Selina? Kenapa nama itu tidak asing,” gumamnya yang jelas di dengar oleh semua orang.
Helena menggertakkan gigi. Ia membenci mendengar nama itu. Ia juga benci, Mamanya menyebutkannya di depan papa. Karena ia sudah bisa menebak, apa yang akan papa lakukan jika mengetahui simpanan Maxime adalah anak kandungnya juga.
“Bukankah itu nama anak terakhir kita?” tanya Samuel kemudian teringat jika ia masih memiliki anak bungsu yang tak pernah ia sukai sejak kecil.
Angel menunduk. Pelan, ia menganggukkan kepala. Anggukan yang membuat Samuel terbelalak.
“Jadi, simpanan menantuku putri bungsuku sendiri?” tanyanya lagi seolah memastikan.
Angel mengangguk. Ia tak berani bersuara. Air matanya pun berjatuhan. Benar benar tak menyangka keluarganya akan berakhir seperti ini.
Samuel yang mendengar itu benar benar terdiam. Diingatannya, Selina hanya memiliki wajah cantik. Sekalipun kecantikannya mengalahkan Helena, tapi kepribadiannya sangat membosankan. Ia bahkan tak memiliki setengah pesona dari Helena.
Namun, wanita seperi itu lah yang bisa mengalahkan putrinya yang selalu ia banggakan sejak kecil?
Plak!
“Pa?” mata Helena tercengang karena lagi lagi papanya menamparnya. Kali ini, penampilannya benar benar terlihat berantakan sekaligus memprihatinkan.
“Bodoh!” kesal Samuel.
Angel menatapnya bingung.
“Jika itu adik kandungmu sendiri, kenap kau harus membuat drama. Bukankah itu lebih baik.”
“Apa maksud papa?”
“karena itu adikmu, kalian bisa melayani Max secara bersama sama. Itu lebih baik dibanding wanita liar di luar sana,” ucapnya benar benar tak bermoral.
Helena yang mendengar itu tercengang.
“Sekarang, katakan pada max, kau akan tetap membiarkan max menjalin hubungan dengan Selina. Sementara kau, kau tetap menjadi istri sahnya. Ini benar benar jauh lebih baik dibanding apa pun,” perintah Samuel yang sama sekali tak memperhatikan wajah Helena yang pucat pasi.
“Sam, kau ... bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu. Mereka_”
“Tutup mulutmu! Apa yang bisa dipahami oleh wanita yang hanya tahu cara menghambur hamburkan uang.” Mata samuel melotot.
Angel yang dicemooh seperti itu benar benar terdiam. Tangannya mengepal sempurna di kedua sisi tubuhnya.
Helena sendiri yang tidak tahu papanya akan mengambil keputusan yang menginjak injak harga dirinya benar benar tak bisa bertahan lebih lama. Tubuhnya limbung ke belakang. Namun, tak ada satu pun orang yang memperhatikannya.
***
“Maaf, aku terlalau kasar semalam,” bisik Maxim saat meliha luka lebam di sekujur tubuh selina yang masih terlelap.
Merasa kasihan dengan kekasihnya itu yang harus menanggung akibat obat yan mamanya berikan semalam, rasa bencinya terhada sang Mama dan Helena memuncak.
Ia pandangi kakinya yang sudah diperban. Mengingat kembali bagaimana Helena yang benar benar bertingkah sebagai p3lacur, ia benar benar ingin menghancurkan wanita itu.
Drt ... Drt ....
Melihat nama pengacara yang ia utus untuk mengurus perceraian antara Helena dan dirinya, ia langsung mengangkatnya tanpa ragu.
“Bagaimana? Apa surat cerainya sudah kau susun?”
[“Sudah, tuan. Saya sudah mengirim surat gugatan ini ke pengadilan. Saya juga sudah meminta pihak sana untuk mempercepat hari sidangnya agar anda bisa segera menceraikan Nona Helena.”
Maxime mengangguk puas. “Bagus. Kau urus semuanya. Aku tidak ingin menghadiri sidang itu.”
Ia benar benar tak ingin melihat wajah munafik wanita itu. Ia takut jika ia melihatnya, tangannya tak akan bisa ia hentikan untuk membunuhnya.
[“Jangan khawatir, tuan. Anda bisa menyerahkan semuanya pada saya. Tapi tuan, akan lebih baik jika anda memiliki bukti lain yang memberatkan Nona helena. Agar proses persidangan semakin lancar.”]
Mata Maxime menajam. “kau jangan khawatir. Aku pasti mendapatkan bobroknya wanita itu. Kalau pun tidak ada, aku tidak akan ragu membuatnya,” ucapnya dingin.
Bukankah Helena suka menjebak orang, dan selalu haus akan sentuhan pria? Maka, ia akan memberikannya secara cuma cuma.
Sang pengacara yang mendengar itu seikit tertegun. Namun, ia hanya bisa mengangguk dan memutuskan panggilan itu karena ingin segera menyelesaikan tugasnya.
Maxime yang memiliki tatapan tajam itu menggertakkan gigi setiap mengingat detail malam saat Helena berusaha melecehkannya.
“Kau ... aku tidak akan melepasmu. Kau tidak ingin aku ceraikan secara baik baik, maka jangan salahkan aku jika kejam,” gumanya penuh tekat.
Drt ... Drt ...
Suara getaran ponsel kembali menarik perhatian Maxime. Kali ini, dari nomer detektif swasta yang ia sewa. Tanpa ragu, ia mengangkatnya.
“Apa kau mendapatkan berita yang aku inginkan?”
[“Tuan, saya mendapatkannya. Tapi ... ini benar benar mengejutkan.”]