NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - TERIMA KASIH TELAH MEMBAWAKU PADA CINTA SEJATI

Pagi itu Kirana terbangun dengan kepala sedikit berat, sisa-sisa kejadian semalam masih menempel di ingatannya. Ia menatap langit-langit kamar dan menghela napas panjang — semalam ia sempat bersitegang dengan Danendra, lalu tanpa sengaja bersuara kasar kepada Panglima Kabut sendiri. Bagaimana bisa suara yang datar itu terdengar begitu menyesakkan, padahal ia hanya ingin menjelaskan keadaan.

Kunang, roh pendamping kecil yang berdiam di Gelang Lentera, hinggap di tepi bantal dan menyapa ceria: "Selamat pagi, Nyonya! Tadi pagi ada pesan yang masuk dari Tuan."

Kirana mengerutkan kening. "Tuan?" Ia mengulang kata itu dalam hati beberapa kali, merasa aneh mendengar sebutan itu menunjuk pada orang yang sama yang tadi malam menutup panggilan dengan nada dingin.

"Iya, Tuan Panglima. Gelang Lentera beliau memanggil Nyonya sebagai istri sahnya. Tentu saja aku menyebut beliau 'Tuan'. Itu panggilan yang diatur otomatis oleh Arsip Agung, tidak akan pernah salah."

"Ganti!" kata Kirana tegas. "Ganti menjadi 'Panglima'!"

"Baiklah, Nyonya."

Kirana menatap Gelang Lentera yang hening itu lama sekali, seolah berharap ada sesuatu yang muncul dengan sendirinya dari balik permukaannya yang berkilau redup. Setelah menghela napas berkali-kali, akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk menuliskan sepatah pesan. Ia menulis, menghapus, lalu menulis lagi — tiga kali berturut-turut sebelum akhirnya membiarkan pesan itu berangkat.

"Panglima, aku minta maaf atas apa yang terjadi semalam. Lagipula, kau telah membantuku, dan aku pun telah membantumu. Kita sudah setara."

"Jadi, apa pilihanmu?"

Waktu berlalu. Lama sekali, jauh lebih lama dari yang Kirana bayangkan, sebelum akhirnya balasan itu datang menyelinap melalui denyut gema. Ia hampir menyerah dan beralih mengerjakan ramuan, ketika sebuah cahaya kecil berkedip di gelangnya.

"Kita bertemu dan mengobrol."

Kirana mengerjap beberapa kali, jari-jarinya menggantung di udara tanpa tahu harus membalas apa.

"Sekarang Era Kekaisaran Cakrawala, dan jaringan Gema sudah sedemikian maju. Pesan bisa dikirim, panggilan bisa disambungkan, bahkan cermin gema dapat memperlihatkan wajah lawan bicara dari jarak jauh. Mengapa harus bertemu dan mengobrol?" Namun Panglima Kabut adalah pria yang berbeda; tentu saja ia memilih cara yang paling menyulitkan hatinya.

Sejuta kali dalam hati Kirana, ia tidak ingin bertemu dengan Rangga! Bayangan wajah serius pria itu, topeng naga yang menutupi parasnya, serta kabut yang selalu menyelubungi langkahnya — semuanya membuat jantungnya berdegup tak karuan.

Tetapi setelah itu, berapa pun pesan yang ia kirimkan, semuanya jatuh ke dalam kekosongan. Pihak lain bertekad bulat untuk tidak membalas sepatah kata pun.

Kirana mengangkat kepala dan menatap langit-langit kamar, merasa seolah ada pedang yang tergantung tepat di atas ubun-ubunnya, siap jatuh kapan saja.

"Sudahlah," hiburnya pada diri sendiri, "mungkin Panglima memang sedang sibuk dan tidak sempat berbicara denganku sekarang."

---

Rumah keluarga Wijaya tak pernah benar-benar sunyi. Sejak pagi, para pelayan sibuk menyiapkan segalanya, dan aroma ramuan serta bumbu dari dapur utama menyebar hingga ke halaman.

Setelah pernikahan usai, Pandhu sudah kembali ke Akademi Militer Kekaisaran, dan Pradipta pun berangkat — kabarnya ia tengah menyiapkan konsernya sendiri di kota lain.

Di rumah besar keluarga Wijaya, suasana kembali lengang. Namun tak lama kemudian, Sekar, yang selama beberapa hari dirawat di balai pengobatan karena luka kakinya, akhirnya pulang. Kabar kepulangannya membuat seluruh rumah sigap; pelayan berlalu-lalang, dan dapur langsung ramai menyiapkan jamu.

Berbeda dengan Kirana yang manis dan menentramkan, Sekar memiliki alis yang ramping dan mata yang panjang. Ia tampak seperti pribadi yang lembut, tetapi tatapan matanya tajam dan tegas — tipe orang yang pantang menyerah untuk meraih apa yang diinginkannya. Setiap orang yang baru mengenalnya akan menilainya halus dan sopan, tanpa sadar bahwa di balik itu tersimpan perhitungan yang cermat.

Ia tahan menderita; apa pun yang diinginkannya, pasti ia perjuangkan dengan susah payah sampai berhasil. Tak heran, setiap langkah yang ia ambil selalu penuh pertimbangan dan tujuan.

Pendeknya, wajah Sekar tidak secantik wajah Kirana.

Tetapi ia sangat pandai bermain perasaan. Begitu menginjakkan kaki di rumah keluarga Wijaya, ia berjalan pelan sambil menahan sakit pada kaki pincangnya, menyeret langkahnya hingga sampai di depan pintu kamar Kirana, lalu mulai menyeka air mata yang tidak henti-hentinya jatuh. Ia sengaja tidak menyapa siapa pun lebih dulu, agar seluruh rumah sempat menyaksikan betapa hancurnya dirinya.

"Kak, maafkan aku, ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kakang Danendra pasti masih sempat menghadiri pernikahan!"

"Aku pantas mati."

"Kak, aku tidak memintamu untuk memaafkanku. Aku hanya berharap kau bisa berbaikan dengan Kakang Danendra."

"Kalau kalian berpisah karena aku, aku akan berdosa seumur hidup!"

Bau kepura-puraan yang kental itu membuat Kirana terbatuk dua kali. Ia segera menolong Sekar, yang masih menangis tersedu-sedu sambil menahan kaki pincangnya, untuk berdiri dengan tegak.

Kirana berkata dengan sungguh-sungguh: "Sekar, bicara soal ini, aku justru harus berterima kasih kepadamu karena telah membawaku menemukan cinta sejati." Suaranya datar namun yakin, seperti orang yang mengucapkan kebenaran yang sudah lama ia simpan.

Sekar membeku: "Cinta sejati?"

"Benar. Karena Danendra tidak bisa kembali tepat waktu, aku tidak punya pilihan selain mencari orang untuk dinikahi. Lalu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan kami pun menikah." Kirana memperlihatkan senyum malu-malu di wajahnya.

Sementara itu, di dalam hati, Kirana menangis dalam diam. Cinta pada pandangan pertama itu memang benar adanya — hanya saja, cinta sejati ini takdirnya tidak akan bertahan lama. Tetapi selama masa itu, ia bersyukur bisa berjalan berdampingan dengan pria yang selalu membela kelemahannya.

Sekar menatap wajah Kirana yang sama sekali tidak menunjukkan kepalsuan, dan langsung tertegun di tempat. Ia menelusuri setiap sudut ekspresi itu, mencari-cari celah, tetapi tidak menemukan apa pun.

Bukankah ia melakoni drama pilu ini untuk merebut segalanya dari tangan Kirana?

Tetapi sekarang... bagaimana bisa tiba-tiba ada cinta pada pandangan pertama?

Sekar berseru dengan terkejut: "Kak, apa yang kau bicarakan? Bukankah kau menyukai Kakang Danendra? Kalian adalah tunangan masa kecil, teman sepermainan sejak kecil!" Seruan itu keluar setengah histeris, seolah Kirana baru saja menjawab soal yang jauh dari perkiraannya.

"Melihatmu menyerah semudah ini, membuatku merasa tidak puas!"

Kirana mengangguk, mengingat-ingat kejadian malam itu dengan saksama: "Dia sangat tampan. Aku belum pernah melihat pria setampan itu seumur hidupku. Lagipula, dia sangat mencintaiku dan menyayangiku. Eh, tapi kau sendiri belum menikah, kenapa kau menanyakan hal semacam itu?" Kirana menatap Sekar dengan senyum yang entah bagaimana membuat gadis itu semakin tidak nyaman.

Sekar: "..." Tiba-tiba, kaki pincangnya terasa lebih sakit. Bukan hanya kakinya yang perih, wajahnya pun ikut terasa panas. Ia tersenyum kering: "Kak, apa kau benar-benar tidak bersama Kakang Danendra? Kau tahu, pernikahan antara dua keluarga kita menguntungkan rumah makan keluarga Wijaya. Kalau kau bersikap begini, apakah usaha kita akan terpengaruh? Hah?"

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!