NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Jalan Penjebakan

Mobil melaju pelan membelah jalanan kota yang sunyi senyap, hanya deru mesin halus yang memecah kesunyian malam. Lampu kendaraan dimatikan total, hanya mengandalkan cahaya remang bulan yang sesekali muncul di sela awan kelabu. Natalia menyetir dengan tangan yang sedikit berkeringat, matanya tak lepas memindai setiap sudut jalan yang penuh puing-puing dan kendaraan yang terbengkalai. Di sebelahnya, Mega tetap waspada, senjata siap digenggam sambil terus mengawasi lewat kaca jendela belakang.

Di mobil lain yang mengikuti, Danu memimpin barisan. Sesekali ia mengirim pesan lewat radio genggam yang masih menyala lemah, memberi isyarat agar tetap menjaga jarak dan keheningan. Namun jauh di lubuk hati, keraguan masih membayangi setiap orang di dalamnya—apakah mereka benar-benar aman bersama, atau justru sedang berjalan menuju perangkap lain?

Tiba-tiba mobil di depan mengerem mendadak. Natalia segera menginjak rem hingga kendaraannya berhenti tepat di belakangnya.

"Ada apa?" tanya Mega lewat radio.

"Jalan utama tertutup total oleh tumpukan beton dan kendaraan yang terbakar," jawab suara Danu terdengar tegang. "Kita harus lewat jalan alternatif—jalan pasar yang sempit di sebelah kiri."

Natalia menghela napas berat. "Jalan itu gelap dan sempit sekali. Jika ada apa-apa, kita tidak punya ruang untuk berputar."

"Tidak ada pilihan lain," sahut Aldo. "Jalan tol sudah penuh mereka, jalan utama tertutup. Hanya itu satu-satunya celah."

Dengan hati-hati, mereka memutar arah menuju jalan pasar tua itu. Suasana semakin mencekam. Toko-toko yang dulu ramai kini tertutup rapat, kaca pecah berantakan, dan aroma anyir darah masih tertinggal di udara. Suara langkah kaki berat mulai terdengar samar dari kejauhan, semakin lama semakin jelas mendekat.

"Siap-siap!" bisik Danu lewat radio.

Belum sempat mereka bergerak lebih jauh, gerombolan mayat hidup tiba-tiba muncul dari sela-sela toko dan gang sempit. Jumlahnya tak terhitung banyaknya, berkerumun menutupi seluruh jalan di depan dan belakang. Mereka terjebak di tengah lorong sempit tanpa jalan keluar.

"Mundur! Cobalah putar balik!" teriak dokter Rizal.

Namun terlambat. Bagian belakang pun sudah dipenuhi makhluk-makhluk itu.

"Keluar kendaraan! Bertahan di sini hanya akan membuat kita terkunci mati!" perintah Danu tegas.

Satu per satu mereka turun dengan sigap, membentuk barisan pertahanan saling membelakangi. Peluru bersahut-sahutan memecah malam, menumbangkan mereka yang paling depan, namun jumlah gerombolan itu tak kunjung berkurang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh, napas memburu, tenaga perlahan terkuras.

Saat senapan Natalia nyaris kehabisan peluru, ia melihat sebuah gerbang besi tua yang sedikit terbuka di samping salah satu ruko.

"Di sana! Ada gang samping!" serunya lantang.

Mereka segera mundur perlahan, menembak sambil melangkah mundur, hingga berhasil menyelinap masuk dan menutup rapat gerbang besi itu. Di baliknya, terdengar suara benturan keras dan geraman marah yang tak henti-henti, namun gerbang itu cukup kokoh menahan mereka sementara waktu.

Mereka kini berada di sebuah halaman belakang yang sempit, terengah-engah, saling berpandangan dengan wajah pucat.

"Kita... kita tidak bisa terus seperti ini," ucap salah satu warga yang mereka selamatkan, suaranya gemetar. "Setiap jalan keluar selalu dipenuhi mereka. Seolah-olah... seolah-olah kita diarahkan ke sini."

Kalimat itu menusuk hati semua orang. Natalia menatap Danu sekilas, dan untuk pertama kalinya, ia melihat keraguan yang sama di mata pria itu. Apakah mereka benar-benar sekadar beruntung bertemu? Atau ada tangan tak terlihat yang mengatur langkah mereka sedari awal?

Malam itu belum usai, dan bahaya sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!