Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 - Toko Kain di Pasar
Nadia menemukan peluang itu dari kain lap.
Awalnya ia hanya ingin membeli tambahan kain untuk dapur. Raka mengantarnya ke pasar karena ia juga perlu mengambil obat di apotek dekat sana. Mereka masuk ke toko kain kecil milik Bu Wening, seorang perempuan kurus dengan kacamata turun di ujung hidung.
Toko itu penuh gulungan kain: batik cap, katun polos, brokat murah, bahan gamis, kain sisa potongan pabrik. Warnanya bertumpuk seperti pelangi yang kelelahan.
Nadia menyentuh selembar katun hijau sage.
Tangannya berhenti.
Warna ini belum banyak dipakai orang kampung. Terlalu lembut untuk selera hajatan biasa, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Jika dipadukan dengan renda tipis dan potongan longgar, bisa menjadi gamis sederhana yang terlihat mahal.
Bu Wening memperhatikan.
"Mbak suka kain itu?"
"Berapa semeter?"
Bu Wening menyebut harga.
Nadia mengangkat alis.
"Untuk kain sisa pabrik, Bu Wening berani juga."
Bu Wening tertawa.
"Lho, baru datang sudah menawar tajam."
"Saya menghormati kain, Bu. Karena itu saya tidak mau harganya pura-pura jadi kain butik."
Raka yang berdiri di belakang menahan senyum.
Bu Wening tampak makin tertarik.
"Mbak bisa jahit?"
"Sedikit."
"Kalau bisa jahit, harusnya tahu kain ini bagus."
"Bagus, tapi warnanya belum tentu cepat laku di sini. Ibu butuh pembeli yang tahu cara membuatnya terlihat hidup."
Bu Wening meletakkan gunting.
"Kamu bicara seperti pedagang."
"Saya sedang belajar."
Nadia memilih beberapa kain. Bukan hanya untuk lap dapur. Ada katun sage, krem susu, cokelat muda, dan batik motif kecil warna biru. Ia menghitung cepat di kepala.
Di kehidupan lalu, setelah menikah dengan Arman, ia pernah membantu tetangga menjahit baju anak untuk menambah uang. Dari sana ia belajar bahwa orang sering tidak membeli kain, tapi bayangan diri mereka saat memakai kain itu.
Sekarang ia melihat pasar yang sama dengan mata berbeda.
Raka mendekat.
"Kamu ingin membuat baju?"
"Mungkin."
"Untuk sendiri?"
"Awalnya."
"Lalu?"
Nadia menatap gulungan kain.
"Kalau hasilnya bagus, untuk dijual."
Raka tidak tampak terkejut.
"Butuh modal berapa?"
Nadia menoleh.
"Mas Raka langsung bicara modal?"
"Kamu sedang melihat kain seperti orang melihat jalan keluar."
Nadia terdiam.
Bu Wening menyela, "Suami peka begitu jangan disia-siakan, Mbak."
Nadia tersenyum.
"Saya sedang memastikan dulu, Bu."
Raka berkata, "Kamu bisa pakai tabungan pribadimu, atau kita anggap ini usaha rumah dan catat bersama."
"Mas Raka tidak takut rugi?"
"Takut. Tapi takut bukan alasan untuk tidak menghitung."
Bu Wening mengangguk kagum.
"Wah, pasangan baru tapi bicaranya seperti orang mau buka toko."
Nadia melihat kain lagi.
Mungkin memang begitu.
Ia tidak ingin hanya bertahan dari keluarga. Ia ingin punya uang sendiri, pijakan sendiri, dan jalan yang tidak bisa ditutup Bu Ratna, Eyang Marni, atau keluarga Wiratmaja.
Di luar toko, dua perempuan muda masuk sambil membicarakan lamaran Bella. Mereka tidak sadar Nadia ada di balik gulungan kain.
"Katanya Bella nangis terus."
"Ya malu lah. Tapi aku dengar Arman sekarang kerja bengkel."
"Serius? Bukannya keluarga Wiratmaja terpandang?"
"Makanya. Mungkin karena kasus itu."
"Kalau aku jadi Nadia, aku puas."
Nadia tidak keluar.
Raka melihat wajahnya.
"Kamu terganggu?"
"Tidak."
"Yakin?"
"Aku hanya berpikir gosip bisa bergerak lebih cepat daripada barang dagangan."
Raka menunggu.
"Kalau suatu hari aku jual baju, kita harus membuat orang membicarakan bajunya secepat mereka membicarakan aib Bella."
Raka tertawa pelan.
"Strategi pemasaran dari gosip keluarga."
"Ilmu bisa datang dari mana saja."
Mereka membeli kain secukupnya. Raka membawa belanjaan meski Nadia hanya mengizinkan yang ringan. Setelah dari pasar, mereka mampir ke rumah Sari. Sari sedang menata gorengan di etalase warung.
"Kain sebanyak itu untuk apa?" tanya Sari.
"Mbak masih punya mesin jahit?"
Sari terkejut.
"Ada. Tapi sudah lama tidak dipakai."
"Boleh kupinjam?"
"Boleh, tapi untuk apa?"
Nadia membuka salah satu kain.
"Aku ingin coba buat gamis sederhana. Kalau bagus, kita jual di warungmu dulu."
Sari membelalakkan mata.
"Jual baju di warung gorengan?"
"Kenapa tidak? Ibu-ibu yang beli gorengan juga pakai baju."
Raka menunduk, jelas menahan tawa.
Sari memikirkan.
"Aku tidak tahu cara jual baju."
"Aku juga sedang belajar. Kita mulai kecil."
Sari menyentuh kain sage.
"Warnanya cantik."
"Kan?"
Rani berlari keluar.
"Tante Nadia mau buat baju untuk Rani?"
"Kalau kainnya sisa."
"Rani mau warna hijau."
"Kita lihat nanti."
Sari menatap adiknya dengan mata berbeda. Mungkin ia baru sadar Nadia tidak hanya sedang kabur dari masa lalu. Nadia sedang membangun sesuatu.
"Aku bantu," kata Sari.
Nadia mengangguk.
"Tapi jangan sampai Mas Joko protes rumah penuh kain."
Joko yang baru keluar dari belakang menjawab, "Asal tidak menghalangi jalan ke kamar mandi, saya tidak protes."
Sari menoleh, terkejut lagi.
Joko menggaruk kepala.
"Kalau bisa tambah uang, kenapa tidak?"
Nadia tersenyum.
Kemajuan kecil lain.
Sore itu, Nadia dan Sari membersihkan mesin jahit. Debunya tebal, tapi mesinnya masih berfungsi. Raka duduk di teras membantu Rani menggambar pola bunga di kertas. Beberapa pembeli warung bertanya tentang kain. Nadia tidak langsung menjual, hanya berkata sedang mencoba model baru.
Mata ibu-ibu langsung tertarik.
"Model seperti apa, Mbak?"
"Gamis sederhana untuk pengajian atau acara keluarga. Tidak terlalu ramai, tapi tetap rapi."
"Kalau sudah jadi, lihatkan, ya."
"Tentu."
Dalam satu sore, tiga orang sudah meminta diberi kabar.
Nadia mencatat nama mereka.
Saat pulang, ia membawa mesin jahit kecil pinjaman Sari ke rumah. Raka membantu meletakkannya di ruang tamu dekat jendela.
"Rumah kita jadi tempat produksi?"
"Sementara."
"Saya suka."
"Mas Raka belum lihat benang berantakan."
"Saya akan belajar menyukai benang berantakan."
Nadia tertawa.
Malam itu, setelah makan, Nadia mulai membuat pola. Ia menggambar di kertas bekas, mengukur kain, menghitung potongan. Raka duduk di seberang, mencatat pengeluaran: kain, benang, renda, ongkos transport.
"Kita belum tahu laku," kata Nadia.
"Karena itu dicatat."
"Kalau rugi?"
"Kita tahu ruginya di mana."
Nadia berhenti menggambar.
"Mas Raka pernah berdagang?"
"Tidak."
"Tapi cara berpikirmu rapi."
"Orang sakit sering menghitung tenaga. Mungkin terbawa ke uang."
Nadia menatapnya lembut.
"Tenagamu malam ini cukup?"
"Cukup untuk mencatat. Tidak cukup untuk menjahit."
"Tidak ada yang menyuruhmu menjahit."
"Bagus. Jahitan saya mungkin membuat pembeli menangis."
Nadia tertawa sampai pensilnya jatuh.
Di rumah Pak Darto, pada saat yang sama, Bella duduk melihat cincin sempit di jarinya. Bu Ratna bicara tentang undangan, biaya, dan cara membuat akad terlihat pantas meski uang terbatas.
Bella mendengar setengah.
Ia masih memikirkan Nadia di KUA. Nadia yang tenang. Nadia yang kini dipanggil istri Raka. Nadia yang mungkin tidak lagi peduli apakah Bella menang atau kalah.
Ponsel Bella berbunyi.
Pesan dari Arman.
Jangan terlalu banyak tuntutan untuk akad. Aku tidak punya uang.
Bella menatap layar lama.
Cinta, rupanya, bisa mengirim pesan sependek itu.
Di rumah kecil, mesin jahit Nadia mulai bergerak pelan.
Tak-tak-tak.
Suara itu kecil, tapi bagi Nadia terdengar seperti langkah pertama menuju hidup yang tidak bisa direbut siapa pun.
Raka duduk di lantai, memisahkan benang sesuai warna. Pekerjaan itu tampak terlalu sederhana untuk laki-laki dewasa, tapi ia melakukannya dengan serius.
"Mas Raka tidak bosan?"
"Tidak."
"Memisahkan benang?"
"Ini lebih tenang daripada rapat keluarga."
Nadia tertawa.
"Kalau usaha ini besar, Mas Raka mau jadi bagian apa?"
Raka berpikir.
"Bagian yang memastikan penjahit utama makan, tidur, dan tidak membeli semua kain cantik di pasar tanpa hitungan."
"Berarti bagian menyebalkan."
"Bagian penting."
Nadia tersenyum sambil kembali menginjak pedal. Di meja, kain hijau sage mulai berubah bentuk. Belum sempurna, tapi sudah bukan sekadar kain. Sama seperti Nadia. Belum sepenuhnya bebas dari masa lalu, tapi sudah tidak lagi berupa luka mentah.
Raka mencatat jam mulai dan jam berhenti menjahit.
"Untuk apa?"
"Agar kita tahu satu baju butuh berapa tenaga."
Nadia menatapnya.
"Mas Raka menghitung tenagaku juga?"
"Harus. Tenagamu bukan gratis."
Nadia diam, lalu menjahit lebih pelan. Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti upah pertama sebelum uang benar-benar datang.
🤣🤣🤣