NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seutas Pita Kain

"Ke mana lipstik merah meronamu, Kara? Akhir-akhir ini aku tidak pernah lagi melihat bibirmu semerah biasanya."

Suri menatap adiknya dengan penuh rasa ingin tahu. Penampilan Nandikara hari ini memang jauh berbeda. Gadis itu mengenakan gaun santai berwarna biru muda dengan riasan tipis. Bibirnya hanya dipoles lipstik merah muda yang lembut, memberi kesan manis dan alami. Menurut Suri, penampilan seperti ini justru jauh lebih cocok untuk adiknya. Kecantikannya terlihat lebih menonjol tanpa riasan yang berlebihan.

"Aku sudah membuangnya," jawab Elisa sambil tersenyum kecil."Warna itu ternyata sama sekali tidak cocok dengan wajah manisku."

Suri terkekeh pelan mendengar jawaban percaya diri itu."Apa kau tahu kenapa kita diajak menghadiri pameran seni ini?"

"Bukannya untuk melihat karya seni?" Elisa mengalihkan pandangannya dari jendela kereta kuda, lalu menoleh menghadap Suri. Sejak tadi ia menikmati pemandangan di luar. Kereta yang mereka tumpangi melaju menyusuri jalan utama menuju tempat pameran. Suri dan Nandikara berada di kereta yang sama, sedangkan tuan Winter dan istrinya menaiki kereta lainnya.

"Untuk saat ini masih menjadi rahasia," ujar Suri pelan. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Kabarnya Pangeran Erlan sedang berada di wilayah timur untuk membantu para ksatria melakukan ekspedisi ke daerah yang menjadi sarang goblin."

Elisa hanya mengangguk pelan.

Pantas saja, tetapi di novel tidak ada adegan begini? Apa sebelum kejadian utama?

"Dan sebelum berangkat menjalankan ekspedisi, beliau menerima undangan Baron Mates untuk mengunjungi pameran seni ini terlebih dahulu."

Wajah Suri langsung berubah masam."Itulah alasan Ayah memaksaku berdandan seperti ini."

Elisa langsung menghela napas panjang."Pantas saja kau terlihat begitu anggun hari ini, Suri. Ibuku juga sama saja. Bahkan Cani dilarang ikut bersamaku. Katanya supaya aku tidak terus menempel pada pelayanku selama acara. Memangnya apa hubungannya?"

Keluhannya membuat Suri tersenyum tipis."Percayalah, sebagian besar tamu wanita datang bukan untuk menikmati karya seni." Nada suaranya terdengar datar."Mereka datang untuk memamerkan diri. Semua berharap bisa menarik perhatian Pangeran Erlan."

"Padahal kita kan bangsawan kelas rendah Suri, kenapa orang tua kita memiliki mimpi yang begitu tinggi? Mana mungkin pangeran Erlan melirik kita?" Celoteh Elisa, yang mengeluhkan sifat kedua orangtuanya.

"Entahlah, Jasmine Snow saja tidak pernah dilirik, apalagi kita?"

Elisa mengangguk pelan."Suri..."

"Hm?"

"Apa kau pernah melihat wajah Pangeran Erlan?"

Suri menggeleng."Meskipun beliau sering berkunjung ke wilayah timur, Pangeran Erlan hampir tidak pernah memperlihatkan diri di hadapan masyarakat." Ia kemudian menambahkan,"Lagipula, jika kita bertemu dengan beliau, kita tidak boleh menatap wajahnya. Kita harus menundukkan kepala. Kata Ayah, beliau tidak suka ditatap."

Elisa langsung terdiam. Alisnya berkerut tipis.

Tidak suka ditatap?

Kalau begitu kenapa semalam pria itu justru marah saat dirinya terus menundukkan kepala?

***

"Yang Mulia, semua perlengkapan sudah siap. Kita hanya tinggal berangkat," lapor Colin dengan sikap tegap.

Erlan mengalihkan pandangannya sekilas ke arah sang ajudan. Wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan emosi sedikit pun.

"Kita akan langsung berangkat. Semakin cepat, semakin baik." Suaranya terdengar datar, namun tegas."Sampaikan kepada Baron Mates bahwa aku tidak akan singgah ke kediamannya, ataupun ke pameran seni. Katakan padanya aku akan langsung menuju kawasan ekspedisi."

"Baik, Yang Mulia." Colin segera membungkukkan badan memberi hormat sebelum bergegas meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu.

Beberapa saat kemudian, Erlan memasukkan tangan ke dalam saku mantel hitamnya. Jemarinya menyentuh sesuatu yang lembut. Perlahan ia mengeluarkannya.

Seutas pita panjang berwarna biru muda.

Pita sederhana itu tergeletak di telapak tangannya. Tidak dihiasi emas, tidak pula bertatahkan permata. Hanya sehelai kain biasa yang bahkan tak memiliki nilai.

Tatapan mata Erlan jatuh pada benda itu cukup lama. Raut wajahnya masih sama, datar, tenang, sulit ditebak. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang bahkan tidak mampu ia jawab sendiri.

Kenapa dia meminta benda yang sama sekali tidak berharga ini dari gadis itu? Dan mengapa semalam dia memanggil gadis itu untuk menemuinya?

Selama hampir dua puluh tiga tahun hidupnya, Erlan tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu.

Sejak kecil, apa pun yang dibutuhkannya selalu tersedia. Pendidikan terbaik, pedang terbaik, guru terbaik, bahkan jalan hidupnya pun telah ditentukan sejak ia dilahirkan sebagai putra mahkota. Karena itu, ia tidak pernah merasa perlu mengejar apa pun. Dia hanya menjalani setiap kewajibannya. Sebagai seorang putra, sebagai calon raja, dan sebagai seorang ksatria.

Hidupnya mengalir lurus seperti sungai yang telah memiliki jalurnya sendiri. Tanpa kejutan, tanpa penyimpangan, tanpa pilihan. Hari demi hari dipenuhi latihan, strategi, dan tanggung jawab yang terus berulang.

Monoton.

Membosankan.

Namun entah mengapa, kejadian semalam menjadi sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, tanpa perhitungan dan tanpa alasan yang jelas, ia melakukan sesuatu hanya karena dorongan sesaat. Ia meminta pita itu. Sebuah benda yang bahkan tidak memiliki kegunaan apa pun baginya.

"Nandikara Winter..." Nama itu meluncur pelan dari bibirnya, hampir seperti bisikan yang terbawa angin. Tatapannya kembali jatuh pada pita biru muda di tangannya.

Sesaat kemudian, ia menggenggamnya perlahan sebelum menyelipkannya kembali ke dalam saku mantel. Gerakannya begitu hati-hati, seolah benda sederhana itu adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas atau permata.

Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Pangeran Erlan melangkah keluar.

Ekspedisi telah menunggunya.

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!