Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Perhatian Wang chunniang sepenuhnya tertuju pada ibu Jiang Ting. Meskipun A Bao dan Zhao Xuan sudah membantu merawat luka di kepala dan kaki Jiang Ting, namun masih banyak luka lain di tubuhnya. Bekas luka akibat besi panas di punggungnya juga berdarah. Karena Zhao Heng tidak bisa melihat, kedua anak itulah yang harus merawat luka-luka ini dengan hati-hati.
"Tidak udah repot-repot," ucap Jiang Ting sambil mengerutkan tubuhnya, suaranya serak.
"Tidak repot kok. Kalau ibumu bangun dan melihat luka-lukamu sudah di perban rapi, dia pasti senang." ujar Zhao Xuan.
Begitu mendengar ucapan itu, Jiang Ting yang awalnya agak menolak langsung menurut. A Bao juga berjongkok di sampingnya, dengan serius menumbuk obat.
Hanya saja, dahi kedua anak itu penuh dengan butiran keringat.
Saat Lin Xiang keluar setelah menyalakan api di tungku, pemandangan inilah yang dilihatnya.
Ia ragu beberapa kali. Namun, melihat anak laki-laki kurus itu akhirnya ia melangkah mendekati ketiga anak tersebut.
"Bibi Xiang, disini berantakan, bibi duduk saja di samping." kata Zhao Xuan sambil menyeka keringat di dahinya.
A Bao juga menyeringai lebar pada Lin Xiang," Bibi"
Lin Xiang tersenyum canggung, lalu berjongkok di samping Zhao Xuan. Perlahan ia mengambil alih kain lap dari tangan Zhao Xuan. "biarkan aku saja, dulu... Saat kakak ku terluka, aku yang selalu membalut lukanya."
Zhao Xuan melirik Jiang Ting, lalu akhirnya memberikan tempat nya pada Lin Xiang.
Lin Xiang memang jauh lebih ahli menangani luka di banding kedua anak itu. Penampilannya terlihat lembut dan anggun seperti gadis rumahan, namun saat mengobati luka, gerakannya cepat, tepat dan tegas. Zhao Xuan merasa mungkin ibunya pun tidak secekatan bibi Xiang.
Maklum, ibunya adalah orang yang serampangan. Hal itu bisa dilihat dari"sepatu jelek" yang dipakai A Bao.
A Bao mengenakan rok luaran kecil bersulam kupu-kupu yang cantik, tapi begitu kakinya terlihat, yang tampak adalah sepasang sepatu anak laki-laki berwarna abu-abu kusam. Perbedaan gaya berpakaian ini juga mencerminkan karakter antara Wang chunniang dan Lin Xiang.
"Ada yang menyiksa mu ..." saat melihat punggung Jiang Ting yang penuh bekas luka besi panas, serta cap huruf, "Budak" yang besar disana, tangan Lin Xiang tak kuasa gemetar.
Jiang Ting tidak menjawab.
Lin Xiang tak tahan lagi. Ia mengulurkan tangan, mengusap pelan kepala Jiang Ting, dan berbisik lirih, "anak baik."
***
Keluarga Zhao sibuk sepanjang malam. Mereka baru bisa beristirahat sekitar tengah malam ( jam 23.00-01.00 ) setelah demam ibu Jiang Ting turun. Napas wanita itu juga sedikit lebih stabil,meski wajah dan bibirnya masih sangat pucat.
Jiang Ting bersujud tiga kali dengan sungguh-sungguh kepada keluarga Zhao.
"Jiang Ting kecil,kamu harus siap mental. Ibumu...mungkin tidak akan bertahan lama," kata Wang chunniang. Sifatnya memang blak-blakan. Setelah berfikir sejenak,ia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya agar anak itu punya persiapan.
"Aku tahu," Jiang Ting mengangguk. Ia hanya mengucapkan dua kata itu,tak lebih. Sebenarnya ia sudah tahu sejak lama bahwa ibunya tidak akan bertahan lama. Sebab...ayah kandungnya yang bejat itu sudah memerintahkan orang untuk meracuni ibunya bahkan sebelum mengirim mereka berdua ke tempat penampungan budak. Sudah sekian lama,pasti racun itu sudah semakin menyebar ke seluruh organ tubuhnya.
Ibunya bisa bertahan sampai membawanya kembali kesini saja sudah merupakan keajaiban yang luar biasa....
Mungkin inilah kekuatan seorang ibu.
"Sudah larut malam, cepatlah tidur. Saat bangun nanti, ibumu pasti sudah baik-baik saja." kata Wang chunniang sambil mengusap kepala Jiang Ting. Lin Xiang yang berdiri di samping juga tak tahan untuk ikut mengusap kepala anak itu.
***
A Bao tidak sanggup begadang sampai selarut itu semalam, jadi pagi ini ia bangun cukup awal. Semalam ia tidur bersama Lin Xiang. Saat ia membuka mata, Lin Xiang sudah sibuk menyalakan api di dapur.
Dengan rambut acak-acakan, A Bao memakai sepatu jeleknya dan pergi mencari Zhao Xuan.
Tumben sekali, Zhao Xuan ternyata sudah bangun. Sepertinya kemarin ia benar-benar kelelahan.
A Bao tidak punya pilihan lain. Ia berfikir sejenak, lalu memutuskan pergi ke kamar sayap untuk mencari adik barunya.
Dengan pelan ia mendorong pintu. A Bao memiringkan kepala kecilnya dan mengintip ke dalam. Ia melihat Jiang Ting sedang telungkup di meja, menulis sesuatu menggunakan kuas milik kakak. Matanya merah dan bengkak sebesar buah kenari.
"Adik, kamu kenapa? Apa kamu menangis?" tanya A Bao penasaran sambil mendekat dan menyodorkan sapu tangannya.
Jiang Ting melirik si gendut kecil yang berdiri di sampingnya. Ia tidak menjawab, berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara serak, "aku lima tahun, lebih besar darimu."
A Bao menghitung dengan jari-jarinya. Ibu bilang, dia sekarang tiga tahun!
Lima lebih besar dari tiga. Berarti dia bukan adik, tapi kakak kecil.
"Kamu sedang menulis apa? Kok aku tidak kenal satupun hurufnya?" A Bao belum banyak belajar membaca, hanya tahu nama-nama anggota keluarga selebihnya ia buta huruf.
Mungkin karena melihat Jiang Ting menulis itu membosankan, ia berbalik dan dengan susah payah memanjat naik ke atas kang. Melihat A Bao memanjat dengan lincah, Jiang Ting panik. Ia melempar kuas nya dan mengikuti di belakang A Bao, berniat mencegahnya.
" Apa bibi ini, hari ini sudah lebih baik?" A Bao mengulurkan tangan kecilnya memegang tangan ibu Jiang Ting.
Jiang Ting baru saja hendak melarang, namun ia melihat si kecil yang tadinya ceria itu tiba-tiba terdiam.
" tangan bibi dingin sekali, pasti karena selimutnya tidak rapi," gumam A Bao. Ia menarik selimut di samping dan menyelimuti wanita itu dengan benar. Selain itu, dengan gerakan lincah ia meluncur turun dari kang dan berlari keluar kamar.
Wang chunniang baru saja keluar dari kamar,jelas baru bangun tidur. Ia hendak menengok keadaan Jiang Ting beserta ibunya, namun malah berpapasan dengan A Bao yang berlari keluar dari kamar sayap. Mata si kecil itu merah, air matanya berjatuhan tes, tes, tes.
"A Bao kenapa? Kenapa A Bao menangis?" Wang chunniang segera menggendong A Bao. A Bao memeluk leher Wang chunniang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher ibunya.
Merasakan kesedihan si kecil, Wang chunniang bertanya sambil berjalan, "apa kamu mengkhawatirkan kakak kecil? Jangan khawatir, mereka pasti akan sembuh..."
Belum selesai Wang chunniang berbicara, ia merasakan lehernya basah oleh air mata.
Kemudian, suara manja si kecil terdengar lirih dan sedih, "ibu, ibunya kakak kecil... Sudah pergi ke langit."
Langkah Wang chunniang terhenti, detak jantungnya mencelos seketika.
"Suamiku!" teriak Wang chunniang memanggil Zhao Heng. Lin Xiang yang mendengar keributan juga berlari keluar dari dapur.
A Bao menangis semakin sedih. Ia memeluk leher Wang chunniang erat-erat. Dalam hati ini berpikir, bagaimana jika ia kehilangan ibunya seperti kakak kecil? Apa yang harus ia lakukan?
***
Wang chunniang memeriksa keadaan. Ibu Jiang Ting memang sudah tidak bernapas.
"Xuan'er,pergilah cari kepala desa jiao. Dalam situasi seperti ini,mereka tidak mungkin tidak membantu." perintah Wang chunniang pada Zhao Xuan. Bagaimanapun,pemakaman harus segera di urus.
Lin Xiang terus mengikuti di belakang Wang chunniang. Melihat Jiang Ting duduk meringkuk memeluk lutut di kursi,ia berjalan perlahan dan memeluk anak laki-laki itu.
"Bibi Wang,ini surat utang," ucap Jiang Ting setelah menenangkan diri. Tiba-tiba ia menyodorkan kertas yang tintanya belum kering itu kepada Wang chunniang.
"setelah pemakaman ibuku selesai,aku akan pergi. Budi baik bibi,akan selalu di ingat oleh Jiang Ting."
" Pergi? Kau mau cari mati?"terdengar suara tongkat diketuk, Zhao Heng tiba-tiba bersuara.