SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Sang Jenderal
Bab 23: Pengakuan Sang Jenderal
Keheningan menyelimuti alun-alun kota kuno.
Tidak seorang pun bergerak.
Puluhan prajurit berzirah kuno berdiri berjajar di depan gerbang istana, tombak mereka menancap ke tanah dengan posisi tegak. Api biru di rongga mata mereka berdenyut pelan, seolah menunggu sebuah perintah yang telah tertunda selama ribuan tahun.
Di depan mereka, sang jenderal tetap berlutut.
Helm berbentuk kepala naga menutupi sebagian wajahnya yang telah membatu oleh waktu. Tombak hitam di tangannya menyentuh tanah dengan hormat.
"Yang Mulia..."
"...akhirnya Anda datang."
Tatapan semua orang tertuju pada Ethan.
Lina memandangnya dengan napas tertahan. Pria tua berjubah abu bahkan tampak kehilangan kemampuan berbicara.
Hanya Ethan yang tetap tenang.
Namun di balik ketenangannya, pikirannya bekerja cepat.
"Bukan kepadaku."
"Mereka mengenali sesuatu yang kubawa."
Tatapannya turun sesaat ke cincin penyimpanan di jarinya.
Kristal Warisan Raja Laut Kabut.
Atau...
Ada sesuatu yang lebih tua dari itu?
Gao Ren adalah orang pertama yang memecahkan keheningan.
"Bangun!"
Suara qi memenuhi alun-alun.
"Apa kau buta?"
"Dia hanya manusia!"
Jenderal itu tidak menoleh.
Seolah suara Gao Ren sama sekali tidak layak didengar.
Hal itu membuat wajah Gao Ren berubah muram.
Seumur hidupnya, belum pernah ada roh penjaga yang mengabaikannya.
"Kalau begitu..."
"Aku akan menghancurkan kalian semua!"
Pedang Pemutus Jiwa terangkat.
Qi Alam Pendirian Fondasi Bintang 2 meledak tanpa ditahan.
Udara bergetar.
Lantai batu retak memanjang.
Anggota Gerbang Hitam segera mundur memberi ruang.
Mereka tahu...
Begitu komandan mereka menyerang dengan sungguh-sungguh, siapa pun yang terlalu dekat hanya akan menjadi korban.
Namun sebelum Gao Ren sempat bergerak...
Jenderal itu perlahan berdiri.
Suara gesekan zirah kunonya bergema berat.
Ia mengangkat kepala.
Api biru di matanya berubah semakin terang.
"Aku..."
"...tidak mengizinkan."
Hanya empat kata.
Tetapi seluruh kota berguncang.
Tekanan spiritual yang luar biasa menyebar dari tubuhnya.
Bahkan Ethan sedikit menyipitkan mata.
"Jiwa yang tersisa ini..."
"Setidaknya pernah berada di Alam Transformasi Dewa."
Kini kekuatannya jelas jauh menurun.
Namun aura yang tersisa masih cukup untuk membuat kultivator Alam Pendirian Fondasi merasakan ancaman.
Gao Ren memaksa dirinya tetap tegak.
"Kau hanyalah roh sisa!"
"Tidak mungkin masih memiliki kekuatan sebesar itu!"
Jenderal itu mengangkat tombaknya.
"Tugas..."
"...lebih kuat daripada kematian."
Tanpa aba-aba...
Gao Ren menyerang lebih dulu.
Pedangnya berubah menjadi bayangan hitam yang membelah udara.
Teknik Pedang Pemutus Jiwa!
Satu tebasan.
Tiga bayangan pedang muncul bersamaan.
Masing-masing mengarah ke kepala, dada, dan pinggang sang jenderal.
Namun...
Jenderal hanya menusukkan tombaknya ke depan.
Sederhana.
Tidak cepat.
Tidak rumit.
Dentang!
Tiga bayangan pedang langsung pecah seperti kaca.
Gelombang kejut menyapu seluruh alun-alun.
BUM!
Tanah amblas beberapa meter.
Gao Ren terdorong mundur tujuh langkah.
Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Mata seluruh anggota Gerbang Hitam membelalak.
Komandan mereka...
Terdesak hanya dengan satu gerakan?
Di atas atap bangunan tua...
Pria bertopeng putih akhirnya mengubah ekspresinya.
"Menarik."
Wanita bertopeng di sampingnya bertanya pelan.
"Apa kita tetap menunggu?"
"Tidak."
Pria itu menggeleng.
"Roh itu terlalu kuat."
"Kalau Gerbang Hitam kalah sekarang..."
"...kesempatan kita ikut hilang."
Namun ia tetap belum bergerak.
Ia menunggu.
Menunggu saat terbaik.
Ethan tidak ikut campur.
Sebaliknya, ia justru mengamati jenderal itu.
Setiap gerakan tombaknya.
Setiap aliran qi.
Dan...
Retakan-retakan halus pada zirahnya.
"Dia memaksakan dirinya."
"Jiwanya hampir habis."
Ia tidak sedang melindungi Ethan karena mengenal dirinya.
Ia hanya mempertahankan sumpah terakhir.
Sumpah kepada pewaris Raja Laut Kabut.
Dan itu berarti...
Selama warisan berada di tangan Ethan, jenderal itu akan terus bertarung sampai jiwanya benar-benar lenyap.
Benar saja.
Setelah satu benturan tadi...
Api biru di mata jenderal sedikit meredup.
Hanya Ethan yang menyadarinya.
"Tidak bisa berlangsung lama."
Kalau pertarungan terus berlanjut...
Jenderal akan musnah.
Dan setelah itu...
Semua musuh akan mengincarnya lagi.
Ia harus memanfaatkan waktu yang ada.
"Ethan!"
Lina berhasil mendekat.
"Apa yang harus kita lakukan?"
Ethan tidak langsung menjawab.
Ia memandang pintu istana yang masih terbuka.
Aura dari dalam jauh lebih kuat dibandingkan seluruh kota.
Di sanalah tujuan sebenarnya.
"Masuk ke istana."
Lina terkejut.
"Sekarang?"
"Ya."
"Tapi mereka..."
"Jenderal itu sedang membeli waktu."
Tatapan Ethan tetap tenang.
"Kita tidak boleh menyia-nyiakannya."
Pria tua berjubah abu mengangguk.
"Benar."
"Kalau warisan utama masih berada di dalam..."
"...kita harus mendapatkannya sebelum semua organisasi besar datang."
Mereka bertiga segera bergerak menuju tangga istana.
Namun langkah mereka tidak luput dari perhatian Gao Ren.
"Jangan biarkan mereka masuk!"
Delapan anggota Gerbang Hitam langsung mengejar.
Belum sempat mendekat...
Puluhan tombak kuno melesat.
WHOOSH!
Enam orang langsung tertancap di tanah.
Dua lainnya berhasil menghindar, tetapi lengan mereka robek.
Pasukan Pengawal Raja membentuk dinding hidup.
Tidak satu pun musuh dapat melewati mereka.
Di sisi lain...
Jenderal kembali mengangkat tombaknya.
"Aku..."
"...masih berdiri."
Gao Ren menghapus darah di bibirnya.
Ekspresinya berubah dingin.
"Kalau begitu..."
"...aku akan menghancurkan jiwamu."
Ia menggigit ujung jarinya.
Darah menetes ke Pedang Pemutus Jiwa.
Rune-rune merah mulai menyala.
Pria tua berjubah abu yang melihat dari kejauhan langsung membeku.
"Itu..."
"Teknik Pengorbanan Darah?"
Ethan pun menoleh.
Tatapannya menjadi serius.
Teknik semacam itu meningkatkan kekuatan sementara dengan mengorbankan umur dan esensi darah.
Pengguna memang menjadi jauh lebih kuat.
Tetapi setelahnya...
Tubuh akan mengalami kerusakan permanen.
Gao Ren benar-benar putus asa.
Ledakan qi hitam membubung ke langit.
Aura Gao Ren melonjak.
Hampir menyentuh Alam Pendirian Fondasi Bintang 4.
Tanah di bawah kakinya meleleh.
Ia menghilang.
Kecepatannya meningkat hampir dua kali lipat.
Jenderal mengangkat tombak.
Namun kali ini...
Pedang hitam berhasil menembus pertahanannya.
CRAAAK!
Retakan besar muncul pada zirah dada sang jenderal.
Api biru di matanya berkedip.
Untuk pertama kalinya...
Ia mundur satu langkah.
Gao Ren tertawa.
"Jadi kau juga bisa terluka!"
Sementara itu...
Ethan telah mencapai aula utama istana.
Pintu batu raksasa terbuka perlahan.
Ruangan di dalamnya sangat luas.
Pilar-pilar hitam menopang langit-langit yang dipenuhi lukisan naga dan ombak.
Di tengah aula berdiri sebuah singgasana batu biru.
Di atas singgasana...
Mengambang sebuah bola air sebening kristal.
Di dalam bola itu...
Terlihat sebuah kompas kuno dengan jarum emas.
Begitu Ethan melangkah masuk...
Kompas itu mulai berputar sendiri.
Suara tua bergema di seluruh aula.
"Selamat datang..."
"...Penerus."
Lina menahan napas.
Namun Ethan justru mengerutkan dahi.
Suara itu...
Berbeda.
Bukan Raja Laut Kabut.
Lebih tua.
Lebih dalam.
Lebih... asing.
---
Tiba-tiba seluruh dinding aula berubah menjadi lautan cahaya.
Peta dunia muncul.
Namun peta itu bukan bumi modern.
Melainkan dunia yang jauh lebih luas.
Benua-benua raksasa.
Lautan qi.
Gunung yang menjulang menembus langit.
Lina berbisik lirih.
"Itu..."
"Dunia apa?"
Ethan tidak menjawab.
Matanya membeku.
Ia mengenali peta itu.
Meski sudah lima ratus tahun berlalu...
Ia tidak mungkin lupa.
Itu adalah...
Dunia kultivasi tempat ia pernah menjadi Kaisar Bayangan.
Jantung Ethan berdegup lebih keras untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi.
"Mustahil..."
"Mengapa peta dunia itu berada di sini?"
Lalu sebuah titik cahaya muncul di tengah peta.
Perlahan membesar.
Berubah menjadi sosok berjubah putih yang wajahnya masih tertutup kabut.
Sosok itu mengangkat tangan.
Dan mengucapkan satu kalimat yang membuat darah Ethan terasa membeku.
"Akhirnya..."
"...aku menemukanmu lagi, Kaisar Bayangan."
Ethan belum sempat bereaksi.
Karena pada saat yang sama...
Seluruh istana bergetar hebat.
Di luar aula terdengar jeritan para prajurit kuno.
Lalu suara ledakan yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Seseorang...
Baru saja menerobos pertahanan Pasukan Pengawal Raja.